Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
S2. Piknik kebahagiaan.


__ADS_3

Hari aqiqah pun tiba, semua orang yang datang berasal dari rekan kerja Hanan, Hendra dan papa Nanda serta warga sekitar. Hanya beberapa yang ikut memotong rambut Reyhan. Acara pengajian juga di gelar untuk menambahkan kemeriahan acara tersebut. Setelah acara itu selesai, mereka melakukan sesi foto bersama.


"Baby Reyhan..." ucap Zahra.


Baby Reyhan tersenyum saat mendengar suara Zahra. Dan dengan segera sang juru foto memotret nya. Hingga pukul 5 sore, keluarga Hanan akhirnya bisa beristirahat. Begitu juga baby Reyhan yang sudah tertidur sedari tadi.


"Zahra, Hanan. Kadonya ada di kamar sebelah kamu, hampir penuh tuh, sampe ke kasur." ucap mama Hana sambil duduk di sofa ruang tamu.


"Iya mah, besok aja di bukanya. Kami sudah lelah." jawab Zahra.


"Ya sudah, sebaiknya kalian lekas istirahat." saran mama Hana.


Zahra hanya mengangguk dan menggendong baby Reyhan ke kamarnya. Dia juga terkejut karena ada beberapa hadiah yang tergeletak di kamarnya.


"Ya ampun mas, ini ada banyak banget hadiah loh. Mas, siapa aja yang di undang." keluh Zahra.


"Hanya beberapa teman dan pegawai kantor mas, juga rekan kerja papa sama bang Hendra. Temen-temen kamu juga ada yang datang kan, beberapa guru kamu juga datang."


"Terlalu banyak orang, jadi nggak tau siapa aja yang datang. Tolong mas singkirkan dulu, aku sama baby Reyhan mau tidur."


Hanan pun menyingkirkan beberapa kado yang tergeletak juga di kasurnya.


"Kadonya apa si mas, kayaknya kok pada gede gede amat?"


"Ya mas nggak tau, mas kan belum buka."


Zahra menghela nafas panjangnya dan memilih melihat Reyhan sambil mengelus pipinya. Reyhan menggeliat dan membuat Zahra tersenyum.


"Kamu lucu banget si nak. Masih gini aja kamu ganteng, apalagi kalau udah gede."


"Pasti ganteng lah, kan kaya papanya."


"Sudah yuk mas tidur, aku cape banget."


Hanan mengangguk dan membenarkan posisinya. Dia memeluk baby Reyhan dan mulai menutup matanya.


*****


6 Tahun kemudian.


Langkah kaki kecil bersepatu hitam khas anak laki-laki yang diikuti oleh seorang gadis kecil dengan sepatu khas warna pink berlarian di sebuah taman bermain.


Mereka adalah Reyhan dan Gea. Gea merupakan putri dari Alvero dan Fany yang sudah tumbuh besar bersama. Mereka berdua lahir dan menjadi tuan muda karena kesuksesan kedua orang tuanya dalam dunia bisnis.


Gea terus berlari mengejar Reyhan hingga Gea terjatuh. Reyhan menengok ke belakang dan melihatnya. Gea yang hanya seorang anak perempuan menangis dengan kencang.


"Reyhan... Nakal lagi kamu ya." ucap Zahra.

__ADS_1


"Nggak mah, Gea tadi mau cubit Reyhan, jadi Reyhan lari deh."


"Reyhan, kamu kalau main jangan usil ya." nasihat Hanan.


"Jangan dimarahin lah, kasian Reyhan. Kamu juga jangan Nakal ya Gea." ucap Fany.


Gea hanya mengangguk, sedangkan Reyhan hanya melihat ke arah orang tuanya sambil menggeleng. Reyhan kembali mendongkak dan menarik baju papanya.


"Papa, duit."


"Duit? Mau beli apa?"


"Nanti papa juga tau, tapi kasih dulu."


"Papa temenin."


"Nggak usah papa, aku cuma mau beli jajan."


Hanan menggeleng dan mengeluarkan dompetnya dari sakunya dan memberinya uang 20 ribu.


"Ingat, jangan beli macam-macam."


"Iya papa."


"Reyhan, mama temenin ya."


Reyhan hanya menggeleng dan meninggalkannya sambil berlari. Zahra yang hendak mengejarnya, tangannya hanya di pegang oleh Hanan.


Zahra hanya pasrah dan menuruti kata Hanan. Mereka pun berjalan ke arah bangku yang ditempati oleh Fany dan Alvero yang tengah memberikan obat merah di lutut Gea.


Tak lama Reyhan pun datang. Di tangan kanannya dia membawa mainan masak masakan sedangkan di tangan kirinya dia membawa sebuah kantong kresek kecil. Hanan yang melihatnya langsung berjongkok dan melihat isi kantong kresek tersebut.


Hanan tidak bertanya, namun menatap Reyhan dengan penuh pertanyaan. Reyhan hanya mengedipkan matanya dan beralih ke arah Gea yang sedang menangis di pelukan Fany.


"Ini buat kamu, aku minta maaf ya."


Gea melihat ke arahnya dan mengusap airmatanya. Gea hanya berkedip, dan Reyhan memberikan mainan masak-masakan itu kepadanya. Gea lantas menerimanya dengan tatapan polos dengan masih melihat Reyhan.


Reyhan sedikit tersenyum kemudian mengambil kantung kresek yang di pegang oleh Hanan serta memberikan satu buah eskrim kepadanya.


"Ini juga buat kamu supaya kamu nggak nangis lagi."


Gea hanya bingung dan melihat orang-orang di sekitarnya. Fany mengangguk dan tersenyum sambil mengelus kepala Gea untuk mengambilnya.


"Kirain ini buat papa sama mama" ledek Hanan.


Tatapan polos Gea kini beralih kepada Hanan dan Zahra. Zahra yang melihatnya, langsung menepuk bahu Hanan.

__ADS_1


"Ambil saja Gea." ucap Zahra.


Gea melihat ke arah Reyhan dan mengambil es krim yang ada di tangan Reyhan. Reyhan tersenyum karena Gea sudah tidak menangis lagi. Mereka berdua pun membuka bungkus eskrim tersebut dan kemudian memakannya.


Hanan tersenyum melihat tingkah putranya yang begitu perhatian kepada seorang gadis walaupun di saat masih kecil. Hanan mengelus kepalanya dan Reyhan langsung melihat ke arahnya.


"Papa mau tanya, kenapa kamu beli masak - masakan itu?"


"Biar Reyhan sama Gea bisa main masak-masakan bareng-bareng. Juga biar Gea nggak lari-lari lagi ngejar Reyhan."


Hanan mencubit pipinya pelan dan tersenyum ke arah Zahra. Hanan pun berdiri dan duduk di bangku sebelahnya, begitu juga Alvero dan Fany.


Mereka berempat saling melihat putra putri mereka yang sedang bermain masak-masakan di bangku tersebut. Mereka sesekali tertawa melihat Reyhan yang mengambil rumput di bawahnya dan menaruhnya di wajah kecil mainan tersebut. Gea selalu mengaduknya seakan-akan sedang memasak.


Zahra yang melihatnya langsung mengambil foto mereka berdua yang sedang asik main bersama.


Tak lama kemudian, nenek dan kakek mereka berdua juga datang sambil membawa kotak makan siang.


"Nenek datanggg..." ucap Mama Hana dan Mama Nia bersamaan.


Reyhan dengan segera turun dari bangku dan berlari ke arah nenek masing-masing dan tak lupa mencium tangan mereka.


"Yuk, piknik nya di mulai. Nenek bawa banyak makanan." ucap mama Hana sambil menenteng makanan yang dibawanya.


"Nenek juga bawa roti kesukaan kalian. Yuk.." ucap mama Nia.


"Asiikkk..." jawab Reyhan dan Gea kompak.


Reyhan dan Gea pun menuju ke tikar yang sedang digelar oleh Hanan dan Alvero lalu langsung duduk di tengah.


"Eeeiiiittt... Jangan duduk dulu, kakek bawa kamera ini, siapa yang mau fotooo..."


"Aku.. Aku.. Aku..."


Gea berdiri sambil beejingkrak jingkrak. Papa Nanda tersenyum dan langsung menuntunnya.


"Sekarang Gea gaya ya... 1..2..3..cekrek."


Gea bergaya sebanyak mungkin, setelah merasa cukup, mereka pun memutuskan untuk berfoto bersama. Mereka bergantian berfoto, begitu juga dengan keluarga kecil Hanan.


"Tak pernah terbayangkan, cinta yang tulus, aku berikan kepada seseorang yang tak lain adalah guruku sendiri. Memiliki masa depan indah yang kami bangun bersama, dengan kekuatan cinta yang membuat perasaan kuat itu muncul dari dalam hati. Terimakasih telah hadir, sebagai pembimbing ku di masa dahulu, kini dan nanti." batin Zahra.


"Kebahagiaan yang aku rasakan saat ini, tidak ada duanya dengan seisi bumi. Tak pernah menyangka pelengkap tulang rusukku adalah dia, awal yang berasal dari kebencian seorang murid kepada gurunya, membuat gurunya jatuh hati, dan menjadikannya murid kesayangan dari seorang guru agama." batin Hanan.


Kamera kini fokus kepada Hanan dan Zahra yang saling bertatapan dan papa Nanda pun siap untuk mengambil gambarnya.


"1...2...3.. Cekrek."

__ADS_1


*Tamat*


//**//


__ADS_2