
"Mas Hanan... Isshh... "
" I-iya kenapa"
"Malah bengong, aku tanya jadi, tadi siang mas nggak ke kantor, tapi jemput mama sama papa dan Keluarga kecil mas Hendra, iya"
Hanan mengangguk.
"Ra, tadi bi Yeni sama bi Tuti mau pamit pulang"
"Iya mas, aku turun"
Zahra akan menggendong Indri. Namun di halangi oleh Hanan.
"Indri biar aku yang gendong"
Zahra mengangguk kemudian mereka berdua pun turun.
"Non Zahra, kami berdua pamit ya non" ucap Bi Tuti.
"Iya, kalian hati-hati."
"Non, kami juga nggak kerja di sini lagi, keuangan kami sudah cukup dan kami di suruh berhenti bekerja oleh suami kami" Bi Yeni berbohong
"Lahh kok begitu bi"
"Iya non, maaf ya non, kami pamit" ucap bi Tuti yang sudah tak bisa berfikir lagi.
"Sebentar bi"
Zahra berlari ke kamarnya dan mengambil 2 buah amplop coklat.
"Ini bi, sisa upah kalian, terimakasih banyak atas kerja keras kalian. "
" Tidak usah non, tidak apa"
Bi Tuti menolak uang yang akan di berikan oleh Zahra. Namun Zahra memaksa.
"Kalian harus menerima ini, aku sudah menyediakan nya sudah lama"
"Terimakasih non".
"Sama-sama bi, kalian hati-hati"
Zahra berpelukan dengan kedua asisten nya dan mengantarnya hingga ke depan pintu. Setelah itu, Zahra memutuskan untuk berkumpul dengan kakak iparnya di ruang keluarga.
"Bang Hendra, kapan ke sininya"
"Belum lama kok"
"Bang Hendra sama mas Hanan mau di bikinin kopi"
"Kamu bisa"
"Insyaallah, bentar ya bang"
Zahra menuju ke dapur, meracik kopi dan gula lalu menuangkan air mendidih. Di aduknya dengan sendok dengan perlahan hingga gulanya larut, lalu di bawanya ke ruang tamu.
"Hanan, kau sudah memberi tau adik ipar"
"Dia belum memberi tahunya, mereka berdua mau liburan, untuk sementara ini jangan ganggu mereka"
"Kalian mau honeymoon di saat seperti ini"
"Ssttt... Zahra datang, nanti aku yang jelaskan"
Zahra menyajikan kopi dan jus jeruk untuk Wina. Kemudian dia pun duduk di samping Hanan.
"Kalian sudah sekamar"
"Iya Bang"
"Syukurlah"
"Tuan, nona, makan malam sudah siap"
"Mari bang, mba, makan"
"Iya, kalian duluan ke meja makan, mba mau racik bubur dulu buat Indri"
__ADS_1
Tanpa jawaban, mereka langsung menuju ke meja makan.
"Bang Hendra, mba Wina, aku ke kamar duluan ya"
"Silahkan adik ipar, selamat beristirahat"
"Selamat beristirahat"
*****
Zahra tengah bersiap untuk menuju ke Bandara bersama kedua temannya dan tentunya bersama dengan Hanan juga.
"Ra, gue deg degan"
"Gue biasa aja, Lo sendiri Ra" tanya Alvero.
Zahra yang duduk di bangku depan hanya diam, bukan itu yang ia rasakan saat ini, tapi hal lain yang membuat nya lebih tak karuan. Hanan yang menyetir mobil tersebut pun melihat ke arah Zahra dan memegang pundak Zahra.
"Zahra, kamu di tanya tuh sama temen-temen"
"Ahh.. Kenapa"
"Kebiasaan banget si ngelamun, udah lah kaga jadi"
"Maaf ya teman-teman"
"Kenapa suasana hati ku menjadi buruk? Kenapa aku tidak tenang dan kenapa aku merasa mas Hanan menyembunyikan sesuatu yang besar dariku, namun apa itu. Ya Allah, semoga apa yang aku rasakan salah Ya Allah"
Sampailah mereka di bandara. Setelah menunggu selama kurang lebih setengah jam, mereka pun menaiki pesawat.
"Wah mas, ini pesawat nya. Aku nggak nyangka bakal segede ini"
"Memang nya kamu belum pernah liat"
"Belum lah mas, palingan cuma liat yang udah terbang waktu di desa dulu. Hehehehe"
"Kenapa kamu ketawa"
"Dulu nih mas, namanya juga orang desa. Waktu aku liat pesawat terbang aku teriak gini 'Pesawat terbang minta uangnya kalau nggak di kasih aku tusuk ekornya' gitu"
"Hahahaha... Kamu tau dari mana"
Zahra berkomat kami sambil mengingat kata-kata itu, beberapa detik kemudian.
"Aahhh.. Gini... MOTOR MABUR NJALUK DUWITE RA DI NEI SOGOK BUNTUTE"
Zahra berucap lumayan lantang, sehingga para penumpang yang tadinya berisik menjadi tenang seketika mendengar teriakan Zahra.
Zahra yang sadar dia berteriak, dia langsung bersembunyi di balik punggung Hanan.
"Hahahaha... Lain kali harus inget tempat ya kalau mau teriak"
"Maaf mas, aku kelewatan"
"Zahra, kamu malu-maluin aja" ucap Fany yang tau bahwa tadi adalah teriakan nya.
"Maaf maaf"
"Ooiya, temen kamu cowo apa cewe waktu itu"
"Cowo"
"Oohh"
"Kenapa mas"
"Nggak papa kok"
"Mas cemburu ya"
"Sssttt.. Ingat, kita nggak sendirian, udah jangan di fikir"
"Oiya, ya udah deh. Mas.. Perjalanan nya sekitar berapa jam"
"kurang lebih 2 jam"
"Oiya mas, ngga papa nih kalau nggak ijin mama papa dulu"
"Mas udah bilang kok, kamu tenang aja"
__ADS_1
"Syukurlah mas"
"Memang nya kenapa"
"Nggak papa, aku ngerasa nggak enak aja"
"Nggak papa kok, kamu tenang aja"
2 jam kemudian mereka sampai di salah satu bandara Bali. Butuh waktu satu jam untuk mereka sampai di tempat penginapan mereka.
"Mas, penginapan nya bagus banget, pasti mahal"
"Nggak mahal kok, oiya kamu tidur sama Fany, mas sama Alvero, biar nggak terlalu mahal dan nggak terlalu banyak memesan kamar"
"Iya ngga papa, kalau aku tidur sama mas, mereka pasti curiga berat. Aku di kamar nomor berapa mas"
"15, kamar mas di 16"
"Oke"
"Ini kuncinya"
"Mereka di mana si mas"
"Tuh dia"
Terlihat Fany dan Alvero yang sedang kesulitan membawa barang mereka. Zahra yang melihatnya hanya menepuk jidatnya dan Hanan hanya menggelengkan kepala nya melihat kedua teman istrinya.
"Alvero, kamu sekamar dengan saya dan Fany kamu sekamar dengan Zahra"
"Iya pak" jawab mereka kompak.
Sesampainya Zahra di kamarnya, dia langsung membersihkan dirinya dan merebahkan dirinya di atas kasur.
"Tak ku sangka aku akan melewati dunia melalui atas langit dan menuju ke tempat yang indah. Keinginan yang aku dambakan terwujud, namun aku tidak bisa menikmati nya bersama kedua orang tua ku. Apakah mereka baik di sana? Ya Allah, sekarang mereka sudah berada di tempat terindah di mana mereka dekat dengan sisi mu, semoga mereka tetap bahagia di sana."
"Ra, euy.. Bengong mulu dah kebiasaan banget, nanti tau tau kesambet gimana coba"
"Maaf Fany, ada apa"
"Ke pantai yuk"
"Nggak lah, kamu aja. Lihat pemandangan dari sini udah enak kok"
"Sekali-kali ayo"
"Gue besok aja ya... Plis jangan ganggu gue"
"Serah lah, gue mau ajak Alvero sama pak Hanan"
"Ya sono"
"Jangan ngikut loh"
"Hmm... "
Fany keluar dari kamarnya, sementara dia sendiri membuat susu coklat hangat dan meminum nya di balkon kamarnya.
" Assalamualaikum, Zahra... "
Tidak ada jawaban, akhirnya dia masuk dan mendapati Zahra sedang menikmati pemandangan pantai.
"Kamu nggak turun"
"Kenapa mas nggak turun sama Alvero dan Fany"
"Kamu nggak ikut, ya mas ngga ikut juga. Mas kan jaga kamu"
"Mereka juga masih bocah mas, mereka juga harus dalam pengawasan. Mas tenang aja, aku kan di sini"
"Kamu nggak pengin turun"
"Sebenarnya ingin, namun aku lebih milih tetap di sini"
"Bentar lagi sunset yuk turun. Mas mau buat kamu bahagia di sini. Tersenyum bareng sama mas, bukan hanya sama teman kamu aja"
"Ya udah, kita turun tapi cuma sebentar"
Hanan mengangguk dan menggandeng Zahra di setiap perjalanan.
__ADS_1
//**//