Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
S2. Part Fany dan Alvero | bagian 1


__ADS_3

Beberapa tahun yang lalu, Fany dan Alvero sedang di landa sebuah kesalahpahaman. Bagaimana tidak? Semua orang pasti sibuk bukan apalagi untuk seorang pria yang bekerja keras sendiri di saat awal masa kuliahnya.


Tak hanya kuliah, Alvero juga mengambil kerja paruh untuk membiayai hidupnya waktu itu. Walaupun biaya kuliah tak semuanya ia bayar, dia tetap harus mencari sebuah pekerjaan untuk membiayai kehidupan sehari-harinya, entah itu makan, biaya kontrakan dan lainnya.


Dia tidak membayar biaya penuh kuliah karena dia mendapatkan beasiswa dari sekolahnya. Begitu juga dengan Fany, walaupun mereka berada di urutan ke 2 dan ke 3 setelah Zahra.


Hanya masalah kabar, mereka menjadi bertengkar, sepele bukan? Tetapi berbeda dengan Zahra dan Hanan, walaupun hari-hari mereka sibuk dan hanya bertemu di rumah, tak membuat hubungan mereka meregang, malah membuat mereka semakin dekat.


Mungkin karena status mereka yang masih pacaran membuat sebuah hubungan rentan menghadapi sebuah masalah sebelum melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Mungkin begitu atau.. Entahlah..


Sebelumnya, Alvero bekerja sebagai pengantar ikan di setiap restoran, namun kini dia bekerja di perusahaan Hanan yang terletak di Bandung. Dia juga menjadi wakil perusahaan di saat Hanan tidak berada di sana.


*****


Kini, masalah baru di antara mereka tiba kembali. Rintangan, harus mereka hadapi kembali, untuk menghindari kesalahpahaman di antara mereka lagi.


Alvero dan Fany sedang berada di korea untuk liburan bersama. Tak hanya mereka berdua, Fany bersama dengan beberapa temannya yang juga membawa pasangan mereka untuk berlibur di sana. Dan Fany pun memutuskan untuk mengajak Alvero sebagai teman kencannya karena mereka benar-benar berkencan.


Kemarin malam, Fany dan beberapa temannya pergi ke konser bersama teman-temannya. Begitu juga dengan Alvero. Mereka begitu antusias dan bersenang-senang.


*****


Keesokan harinya, Fany dan teman-temannya pergi bersama ke pantai. Ada Hanan dan Zahra di sana, namun mereka tak melihat. Hanya Hanan yang melihat karena keadaan pada saat itu sedang ramai.


Namun, kesalahpahaman terjadi di antara mereka di saat seseorang datang di antara mereka.


Sore harinya mereka berdua sedang berkeliling di korea dan tiba-tiba seseorang mendatangi mereka berdua.


"Loh, Kak Al, kok di sini."


"Alexa, kok kamu juga di sini."


"Kakak apa kabar."


"Alhamdulillah, kakak sehat, kamu sendiri?"


"Iya sehat kak. Itu.. Pacar kakak ya?"


"Hmm.."


"Kenalin kak, aku Alexa."


Dia mengulurkan tangannya dan Fany pun menerima jabatan tangannya.

__ADS_1


"Fany."


"Kalau gitu. Aku tinggal dulu ya, mau ketemu sama temen-temen. Dahhh.."


Mereka berdua pun mengangguk dan kembali berjalan.


"Siapa dia?" tanyanya tiba-tiba.


"Masa lalu."


"Masa lalu?"


"Iya, karena masa depanku adalah kamu."


"Jangan sampai dia menggantikan posisi ku. Janji?"


"Iya, aku janji sayang. Ayo kita kemana sekarang?"


"Jalan saja."


Itu baru pertemuan sepele, namun ketika sore hari, Alvero kembali di pertemukan dengan Alexa. Sebenarnya dia ada janji dengan Fany untuk bertemu dengannya di sebuah restoran. Fany dan Alvero berada di hotel yang berbeda karena kebetulan hotel yang di tempati Fany sudah penuh. Huh... Nasib rintangan mereka sungguh berat, sampai-sampai mereka harus terputus beberapa kali seperti listrik yang padam dan di hidupkan kembali.


Sudah setengah jam menunggu, namun tiba-tiba pandangan teralihkan kepada seseorang yang tidak lain adalah Alexa. Alexa sedang mabuk dengan beberapa temannya. Dia mengatakan bahasa asing yang belum pernah dia dengar sebelumnya. Dan pada akhirnya dia pun membawanya keluar dari restoran tersebut. Dia menggendongnya dan membawanya ke apartemennya menggunakan mobilnya.


Dia pun pergi lalu membawanya ke hotel yang ditempatinya. Ya begitulah jalan satu-satunya, saat dia berbicara dengan Alexa yang dia katakan hanyalah basa basi yang sungguh tidak di mengerti oleh Alvero.


Setibanya dia di hotelnya, dia memesan kamar satu lagi dan letaknya berada di atas kamar Alvero. Alvero pun membawanya dan kemudian menurunkan tubuhnya di atas kasur. Di biarkannya di tempat tidur dan langsung meninggalkannya begitu saja tanpa membuka sepatu atau apapun yang sekiranya tidak membuatnya nyaman.


Dia menaruh kunci kamarnya di meja dan menutup pintunya dengan pelan dan bergegas kembali memasuki mobilnya untuk menuju ke restoran yang dia kunjungi lagi.


Begitu dia sampai, dia terkejut saat melihat Fany yang sudah berada di sana dengan ekspresi wajah yang kesal dan penuh amarah.


"Dia pasti sudah menungguku lama" batin.


Dia langsung duduk di depannya, namun yang ia dapat hanya kemarahan dari Fany.


"Maaf, kamu sudah menunggu lama di sini."


"Maksud kamu ini apa?"


Fany meletakkan handphonenya di depan Alvero. Alvero pun terkejut saat melihat fotonya yang sedang menggendong Alexa.


"Kok kamu bisa dapat ini."

__ADS_1


"Bagaimana aku nggak dapat, aku juga melihatnya dengan kepala mataku sendiri. Apa yang kamu lakukan dengannya? Dan.. Bau apa ini."


Alvero baru teringat bahwa dia tidak sempat mengganti bajunya yang sudah terkena bau dari Alexa. Alvero pun langsung memegang tangannya.


"Fany, percayalah, aku tidak melakukan apapun dengan dia. Memang benar aku menggendongnya. Namun yang kamu lihat itu baru separuh. Aku sudah menunggu mu di sini sekitar setengah jam, lalu aku melihat Alexa duduk sambil mabuk bersama dengan teman-temannya. Dan teman-temannya pun pergi bersama, namun tidak dengan Alexa yang mabuk berat, jadi aku membawanya ke hotel, tapi dia berada di lantai atas bukan di kamarku."


"Entahlah, aku merasa tidak nyaman berada di sini. Aku mending pulang aja."


Fany pun berdiri dan membawa tas nya. Namun, di cegah oleh Alvero.


"Kau tidak percaya lagi. Aku mengatakan yang sesungguhnya Fany."


"Aku lelah, bisa lepaskan aku."


Fany menyingkirkan tangan Alvero yang mencengkeram pergelangan tangannya. Dan meninggalkan Alvero begitu saja. Alvero merasa frustrasi dan kemudian duduk kembali di kursinya dengan penuh dengan kekecewaan.


Dia mengeluarkan kotak cincin yang ada di sakunya lalu mengusapnya sekilas dan memasukannya kembali ke sakunya.


"Mungkin, ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan segalanya."


Tak lama kemudian, Hanan dan Zahra datang ke restoran tersebut dan melihat Alvero. Kemudian, mereka berdua pun menghampiri yang sedang duduk sendirian di sana.


"Alvero kan?" tanya Zahra.


"Zahra, Hanan. Kok kalian di sini."


"Kalau kami si wajar, kamu ngapain di sini?" ucap Hanan.


"Aku.. Aku.. Cuma main."


Begitulah jawabannya karena dia sedang di landa panik dan kegelisahan. Serta tidak fokus dengan apa yang dia temui di tempat itu.


"Oohh main. Fany gimana?" tanya Zahra.


"Fany, di Indonesia. Memangnya kenapa?"


"Tidak mungkin aku memberi tau mereka tentang masalahku."


"Oohh, iya iya.. Sendirian kan, kami ikut gabung ya."


"Kalau kalian gabung aku yang jadi tikus. Jadi, aku pergi aja. Kalian kalau mau makan silahkan aku udah. Ya udah ya, aku tinggal. Yu Nan."


Alvero meninggalkan Hanan dan dia pun kembali ke hotelnya. Dan membanting tubuhnya kasar di kasurnya. Rasanya tak karuan, namun begitulah nasibnya. Dia pun memutuskan untuk mandi dan kemudian tidur untuk kembali besok pagi.

__ADS_1


//**//


__ADS_2