Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Liburan - 3


__ADS_3

Hanan duduk di samping Zahra, Zahra hanya membuang pandangan nya dari Hanan. Karena Zahra yang merasa muak pun mencoba meninggalkan nya, namun tangannya di pegang oleh Hanan.


"Mas Hanan lepasin"


Hanan tetap memegang nya.


"Maafin mas"


"Kita pulang sekarang"


"Pulang? Mas belum beli tiket pesawat"


"Aku nggak peduli, kita pulang sekarang"


"Zahra.. Zahra... Dengerin mas dulu"


"Nggak" bentaknya.


Bagaimana tidak marah jika kehidupan suaminya sekarang sedang krisis, di tambah lagi dengan liburan yang menurut Zahra membutuhkan pengeluaran yang banyak. Bagaimana juga seorang istri nggak marah apabila seorang suami menyembunyikan sesuatu yang menurut nya itu sangat penting. Bagaimana tidak marah jika suami nya menyembunyikan sebuah kedukaan nya sendiri tanpa membaginya dengan istri nya, tidak adil bagi Zahra jika keluarga nya sekarang tengah menghadapi masalah, tetapi dia sendiri sedang bersenang-senang di tengah kebangkrutan keluarga nya.


"Maafin mas... Maafin mas.. Mas mohon"


Zahra tengah membereskan barang nya di koper, dengan berantakan sambil menangis tanpa menghiraukan Hanan.


Tiba-tiba Hanan memeluknya dan Zahra mendorong tubuh Hanan dan memukul dadanya.


"Mas jahat.. Kenapa mas ngga beritahu Zahra, kenapa mas hanya Zahra yang bahagia di sini, sedangkan mas sendiri..."


"Maafkan mas, mas hanya tidak ingin mengganggu konsentrasi belajar kamu dan kebahagiaan kamu."


"Mas nggak adil, namanya pasangan itu harus sama sama berjuang dan sama sama bahagia, nggak ada yang namanya berat sebelah. Aku bahagia, mas juga harus bahagia, mas ada masalah Zahra harus tau masalah mas agar Zahra bisa membantu mas jika Zahra bisa, nggak kaya gini"


"Maafin mas, memang mas salah.. Mas lihat kamu bahagia juga mas merasa masalah mas itu selesai, melihat kamu tersenyum juga membuat mas tenang rasanya."


"Tapi kita ngga boleh egois mas, keluarga kita akan butuh pengeluaran yang lebih banyak dan kita malah di sini seneng-seneng, kasian orang rumah kan mas. Intinya kita pulang sekarang"


"Kita pulang besok, kamu sebaiknya duduk dan mas bawain makan malam"


"Aku nggak mau"


"Ada yang mau mas omongin sama kamu, jadi mas mohon, tadi katanya suruh berbagi"


"Iya iya terserah mas.. "


"Zahra, aku mau mandi... "


Fany masuk tanpa permisi, bajunya kotor penuh dengan pasir putih.


" Eh.. Pak Hanan di sini ternyata, loh Zahra habis nangis ya pak, kenapa pak"


"Iya tadi jatuh waktu lari ke sini"


"Biasa pak, jalan nggak liat ke bawah"


"Fany... "


" Maaf pak, saya permisi" Ucap Fany sambil berjalan menuju ke kamar mandi.


"Mas tinggal ya, Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


"Benar yang aku duga, jadi aku merasa tidak enak karena mas menyembunyikan sesuatu dariku, dan benar saja mas Hanan menyembunyikan sesuatu dariku"


Setelah makan malam, Hanan mengajak Zahra ke ruangan pribadi Thomi.


"Ini, ruangan siapa mas?"

__ADS_1


"Ruang Thomi"


"Bang Thomi? Dia pemilik hotel ini"


"Iya benar"


"Wahhh"


"Dia juga mau bicara sama kamu"


"Bicara apa?"


"Mas nggak tau"


Hanan mengetuk pintu yang ada di hadapan mereka saat ini.


"Masuk"


Zahra dan Hanan pun masuk.


"Silahkan duduk"


Mereka berdua pun duduk. Zahra melihat sekitar dengan takjub.


"Syukurlah kalau udah baikan. Emm.. Sebelumnya, saya sangat-sangat meminta maaf kepada kalian, sehingga kalian mendapat masalah. Dan Alhamdulillah kalian bisa menyelesaikan nya dengan masalah dingin"


"Alhamdulillah karena istri aku juga sangat pengertian"


"Ini sebagai hadiah dari saya untuk pernikahan kalian, semoga langgeng sampai akhir khayat kalian dan menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warahmah... Amiinn"


"Terimakasih banyak"


"Tapi bang, jangan sampai tentang pernikahan kami terumbar" ucap Zahra.


"Saya akan pastikan rahasia pernikahan kalian akan aman."


"Kamu kapan mampir ke Jakarta, pak Johan sama bi Sari pasti sudah rindu"


"Kamu akan menikah"


"Iya"


"Syukurlah"


"Oiya Zahra, mas mau ngomong penting sama kamu"


Zahra hanya mengangkat kedua alisnya.


"Tadi Thomi bilang, dia ada sebuah ide agar teman-teman kamu nggak curiga"


"Caranya"


"Geya"


"Geya? Siapa dia"


"Adik saya Geya"


"Nggak, aku nggak setuju"


" Kenapa"


"Bagaimana bisa aku setuju. Jika mas jatuh cinta sama mbak Geya gimana? Terus kalau Geya juga suka sama mas gimana"


"Jangan seudzon Zahra"


"Aku nggak seudzon mas. Tapi gini, bagaimana bisa seorang yang tanpa sengaja dekat tidak saling jatuh cinta. Contoh saja aku sama mas. Mas tau kan bagaimana aku bisa jatuh cinta sama mas, karena aku nyaman sama mas yang selalu jaga Zahra, padahal dulunya sikap aku ke mas gimana, cuek bukan. Aku juga sering sebut mas nyebelin, dingin, namun sekarang apa, semua berubah seiring berjalan nya waktu dan jika mas bicara itu aku nggak setuju"

__ADS_1


"Ehhmm.... Di sini saya ganggu ya"


"Maaf bang"


"Terus bagaimana jika kedua teman kamu tau tentang kita"


"Mas janji mau bilang waktu di Bali sama mereka. Mungkin itu waktu yang tepat"


"Tapi mas rasa, itu adalah salah"


"Maaf menyela, jika kalian mau membicarakan masalah ini, saya akan menempatkan kalian di ruangan istimewa hotel ini, mari ikut saya"


"Nggak bang, terlalu banyak biaya yang akan kami keluar kan nanti"


"Tidak, kalian jangan sungkan, saya akan memberikan gratis, mari ikut saya"


Benar, tak ada cara lain. Tak pantas juga jika membicarakan masalah pribadi di depan orang lain, hingga mereka berdua memutuskan untuk mengikuti Thomi.


"Silahkan masuk, saya akan memberikan gratis"


"Tidak Bang, terimakasih. Daripada di sini kami bisa membicarakan di luar. Saya tidak mau merepotkan orang lain, saya permisi"


Zahra meninggalkan Hanan dan Thomi.


"Maaf, dia memang seperti itu"


"Hmm.. Tak apa"


"Saya permisi"


Hanan segera berlari mengejar Zahra.


"Zahra tunggu..."


"Pasangan yang menarik" gumam Thomi.


Zahra tak merespon, Hanan berlari sekuat tenaga, dan akhirnya bisa menggapai tangan Zahra.


" Kita mau bicarakan ini di mana"


"Intinya jangan di sini"


"Tapi ini udah malam"


Zahra tak merespon dan menuju ke lift untuk turun. Hanan dengan penuh kesabaran mengikuti nya. Zahra keluar dari lift setelah sampai di lantai dasar. Hanan dengan cepat meraih tangannya.


"Mau kemana"


"Aku mau ke pantai lagi, biasanya di malam hari tuh indah"


Hanan mengangguk. Beruntung di malam itu air laut sedang tidak pasang. Zahra menghirup udara malam dan melihat ke arah langit. Sejumlah bintang dan bulan purnama yang sempurna menambah keindahan langit malam tersebut.


"Mas tadinya mau nyimpen ini dulu"


"Oiya, hadiah dari bang Tomi"


"Buka sekarang"


"Terserah mas, kalau di buka sekarang Alvero sama Fany nanya gimana"


"Kita bilang aja ini dari kak Thomi"


"Kalau nanya aneh aneh gimana"


"Kita sembunyi kan"


"Sembuyikan di mana orang gede gini"

__ADS_1


"Ya sudah kita tunda hingga besok"


//**//


__ADS_2