Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
S2. Part Fany dan Alvero | bagian 2


__ADS_3

Bagaimana keadaan Fany sekarang?


Tentu saja sedih. Bagaimana tidak? Dia melihatnya sendiri tanpa ada perantara ataupun apapun. Dia melihat Alvero saat menggendong Alexa menuju ke mobil. Walaupun dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, namun itu membuatnya sakit hati.


Dia tak tau segalanya sebelumnya dan dia hanya berfikir dengan apa yang sedang dia lihat. Mobil itu pun pergi dari pandangannya, kemudian dia berjalan lemas menuju ke restoran tempat mereka janji untuk bertemu.


Fany memilih duduk di dekat jendela sambil menunggu Alvero datang kembali ke sana atau tidak. Dan sekitar setengah jam, Alvero pun kembali dan bergegas duduk di meja dimana Fany berada.


"Maaf, kamu sudah menunggu lama di sini."


"Maksud kamu ini apa?"


Fany meletakkan handphonenya di depan Alvero. Alvero pun terkejut saat melihat fotonya yang sedang menggendong Alexa.


"Kok kamu bisa dapat ini."


"Bagaimana aku nggak dapat, aku juga melihatnya dengan kepala mataku sendiri. Apa yang kamu lakukan dengannya? Dan.. Bau apa ini."


"Fany, percayalah, aku tidak melakukan apapun dengan dia. Memang benar aku menggendongnya. Namun yang kamu lihat itu baru separuh. Aku sudah menunggu mu di sini sekitar setengah jam, lalu aku melihat Alexa duduk sambil mabuk bersama dengan teman-temannya. Dan teman-temannya pun pergi bersama, namun tidak dengan Alexa yang mabuk berat, jadi aku membawanya ke hotel, tapi dia berada di lantai atas bukan di kamarku."


"Entahlah, aku merasa tidak nyaman berada di sini. Aku mending pulang aja."


Fany pun berdiri dan membawa tas nya. Namun, di cegah oleh Alvero.


"Kau tidak percaya lagi. Aku mengatakan yang sesungguhnya Fany."


"Aku lelah, bisa lepaskan aku."


Fany menyingkirkan tangan Alvero yang mencengkeram pergelangan tangannya. Dan meninggalkan Alvero begitu saja. Alvero merasa frustrasi dan kemudian duduk kembali di kursinya dengan penuh dengan kekecewaan.


Dia keluar dari restoran dan menaiki taksi. Dia menuju ke hotelnya sambil menangis. Dia membayar taksinya dan turun dengan cepat naik menuju ke kamarnya.


"Hiks.. Apa yang harus aku lakukan... Hiks.."


Tak ada yang bisa dia lakukan selain menangis. Di sisi lain, Zahra mencoba melepon Fany hingga beberapa kali, namun tak ada satupun yang di angkat.


"Mas, kayaknya ada masalah deh diantara Fany dan Alvero."


"Nih makan akkk.." Hanan mengalihkan pembicaraan.


Dengan terpaksa Zahra menerimanya.


"Mas tuh pinteerrr banget ngalihin pembicaraan. Habis ini kita pulang ke hotel."


"Nggak mau jalan lagi."


"Nggak."


Zahra mengetikkan sesuatu di handphonenya, dan tak lama pesan itu pun sampai pada Fany. Fany melihat handphonenya dan terdapat 20 panggilan tak terjawab dan 10 pesan dari Zahra.


Zahra😋


Fan


Zahra😋


Kenapa nggak ngangkat telepon?


Zahra😋


Kenapa pesannya nggak dibalas?


Zahra😋


Dimana kamu?


Zahra😋


Hotel mana?


Zahra😋


Kamar berapa?


Zahra😋


Kamu belum balik ke Indonesia kan?


Zahra😋


Fan

__ADS_1


Zahra😋


Fan


Zahra😋


Tolong jawab ya..


^^^Fany^^^


^^^Aku ada di hotel tempat kita bertemu kemarin di lantai 5 no 15.^^^


Zahra😋


Oke baiklah, nanti aku ke kamar kamu.


^^^Fany^^^


^^^Iya^^^


Fany pun memutuskan untuk mandi sambil menyiapkan camilan yang tersedia di saat Zahra datang nanti.


Sekitar pukul 8 malam, Zahra datang sendiri ke kamar Fany. Fany pun membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Zahra duduk.


"Kamu kesini sama siapa Fan?"


"Sama siapa lagi."


"Alvero kah?"


Fany mengangangguk.


"Oohh.."


"Silahkan Ra, diminum."


Tanpa ragu Zahra pun minum dan kemudian berbicara lagi dengan Fany.


"Kau ada masalah dengan Alvero? Kenapa? Tadi aku lihat Alvero murung di restoran."


"Nggak kok, kami nggak kenapa-napa?"


"Tatap aku, dan katakan baik-baik saja."


"Ada apa? Bicaralah."


"Alvero ra.. Alvero.."


"Alvero kenapa?"


Fany melepaskan pelukannya dan mengambil ponselnya lalu memperlihatkan foto yang diambilnya.


"Ini Alvero?"


"Darimana kamu dapatkan ini?"


"Ini aku ambil saat aku melihatnya menggendong Alexa waktu aku akan ke restoran tempat Alvero berada."


"Alexa? Siapa dia?"


"Mantan Alvero."


"Tunggu.. Kamu melihatnya sendiri?"


Fany mengangguk.


"Kamu jangan berfikir macam-macam, mari kita selidiki bersama."


"Maksud kamu?"


"Kita selidiki bagaimana Alvero di luar sana, aku juga akan meminta bantuan mas Hanan."


"Sungguh.. Terimakasih Zahra.."


"Iya, kamu jangan khawatir. Jangan sedih lagi."


"Menurut kamu, dia selingkuh tidak Ra?"


"Tergantung, kalau aku ada di posisi kamu aku harus segera mencari tahu secepatnya. Kan kita juga nggak tau apakah firasat kita benar atau tidak. Dan aku pernah mengalaminya."


"Mengalaminya?"

__ADS_1


"Hmm.. Waktu itu.."


FLASHBACK ON


Pulang sekolah, Zahra selalu mampir ke kantor Hanan tanpa letih hingga kelas 12 tiba. Namun pada suatu ketika, dia datang ke kantornya dan membuka pintu ruangan Hanan pelan karena terdengar suara keributan dari luar. Dia pun membuka sedikit pintu ruangannya dan melihat seorang wanita di ruangan Hanan.


"Kenapa kau mengusirku?"


"Pergilah, orang istimewaku akan datang sebentar lagi."


"Aku mencintaimu. Bukankah kau tau itu saat kita SMA bersama?"


Perkataan itu membuat Zahra tercengang. Dia ingin masuk, namun sepertinya dia belum sanggup.


"Itu adalah masa lalu. Sekarang hatiku sudah terisi oleh orang yang aku cintai. Walaupun dia tidak sedang berada di sini. Namun, aku tau insting seorang wanita sangat kuat. Dan aku tidak mau membuat hatinya terluka. Dia juga sangat menjaga hatiku, jadi aku juga harus bisa menjaga hatinya hingga nyawaku tiada."


"Heh.. Omong kosong."


Zahra takjub dengan perkataan Hanan yang begitu menyentuh hatinya. Dan kemudian dia pun masuk.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam. Zahra... Ini.."


Hanan begitu kaget dan takut Zahra akan salah paham. Zahra melewati gadis tersebut dan langsung memeluk Hanan.


"Aku dengar semuanya. Terimakasih banyak."


"Wanita ini? Wanita ini lebih parah dariku. Beraninya dia memelukmu sebebas itu."


Zahra pun membalikkan badannya dan menepis tangannya yang hendak memegangnya.


"Jangan sembarangan berbicara, dan asal kamu tau, aku bebas memeluknya karena dia adalah suamiku. Asal kamu tau itu."


"Heh.. Hanya istri simpanan."


"Tunggulah beberapa bulan lagi. Dan aku akan mengirimkan surat undangan untukmu."


"Sebelum kau mengirimkan undangan itu, akan ku jadikan Hanan milikku."


"Kau telat. Di saat kami mengirimkan undangan kepadamu, itu hanya sebuah pernikahan dengan resepsi biasa. Karena sebelumnya, kami sudah menikah."


"Aku tak percaya begitu saja dengan omonganmu."


"Ini"


Zahra memperlihatkan cincinnya dan mengangkat tangan Hanan bersamaan. Dan wanita itu hanya diam dan tetap tak percaya.


"Itu hanya sekedar cincin. Buku nikah sekalian mana?"


"Oh.. Tunggu sebentar."


Hanan membalikkan tubuhnya dan mengambil buku nikah di lacinya dan memperlihatkannya kepada wanita itu. Dia mengambil buku nikah itu dan kemudian membolak balikkan tak percaya.


"Ini?"


"Masih belum puas?"


Wanita itu pun melihat mereka dengan penuh kemarahan. Tiba-tiba Hanan mencium pipi Zahra. Zahra terperanjat kaget lalu melihat ke arahnya.


"Sudah puas."


Wanita itu pun pergi setelah membanting buku nikah Hanan dan Zahra. Hanan kembali memeluk Zahra dengan erat.


"Wanita yang hebat."


"Kamu yang lebih hebat bisa menjaga hati ini untukku. Terimakasih."


FLASHBACK OFF


Fany yang mendengarnya juga tersenyum kepada Zahra.


"Siapa nama wanita itu?"


"Entahlah, aku tak menanyakannya. Sebenarnya mas Hanan ingin mengatakan namun aku cegah dan menyuruhnya untuk melupakannya."


"Aku salut sama kamu. Andai aja aku mengikuti mereka pasti aku tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku terlalu bodoh soal cinta."


"Sudahlah, jadikan itu pelajaran. Kita akan menyelidikinya besok. Hmm.."


"Sekali lagi terimakasih Zahra."

__ADS_1


"Iya.."


//**//


__ADS_2