
Almarhum mama Kirana pun segera di kremasikan dan segera di bawa pulang untuk dimakamkan. Tangisan terus mengalir deras di pipi Zahra. Dengan segala cara orang tua pak Hanan mencoba menenangkan nya.
"Zahra, sudah.. Ikhlas kan mama kamu, jang terus menangis seperti ini. Kasihan diri kamu. Kamu juga baru pulih nak"
Zahra hanya menangis sesegukan tanpa menjawab semua orang di sisinya saat ini.
"Zahra, ikut saya sebentar yuk" ucap pak Hanan.
Zahra menggeleng.
"Aku ingin berbicara dengan mu sebentar"
Mama Hana akhirnya melepaskan nya dan menyuruh nya untuk mengikuti Hanan, dengan paksa dia mengikuti nya. Mereka berjalan menuju ke kamar Zahra.
"Duduklah" ucap pak Hanan.
Zahra pun terduduk lalu pak Hanan memberikan nya minum.
"Minumlah agar kamu tenang"
Zahra menurut dan hanya meminum 2 teguk lalu memberikan nya lagi kepada Hanan. Hanan meletakkan nya di meja yang terdekat lalu duduk di samping nya. Zahra menggeser duduknya agar sedikit lebih jauh.
"Tenang lah, saya tidak akan melakukan apapun. Saya tau apa yang kamu rasakan saat ini. Saya tau kamu sedih namun, setidaknya tenangkan diri kamu. Kamu juga baru pulang dari rumah sakit dan semalam kamu drop. Jujur, saya khawatir. Saya khawatir tidak bisa menjaga kamu dengan benar karena sekarang kamu adalah tanggung jawab saya. Saya tidak bisa tenang jika orang tua kamu melihat anaknya tidak bahagia bersama saya. Saya akan merasa sangat bersalah Zahra. Saya juga khawatir kamu drop lagi, saya tidak tega melihat nya"
Hanan mengambil bingkai foto yang terletak di meja.
"Lihatlah Zahra, sangatlah terpancar dari wajah orang tua kamu, mereka sangat menyayangi kamu. Mereka ingin melihat kamu bahagia. Jika kamu ingin membuat mereka bahagia di syurga, setidaknya berhentilah menangis agar orang tua kamu tenang di alam sana. Dan jangan Siksa diri kamu sendiri juga. Saya tidak tega melihat nya karena kemungkinan... " ucap Hanan terhenti lalu menghela nafas panjang.
"Mungkin saya sudah jatuh cinta dengan kamu"
Zahra kaget dengan pernyataan Hanan. Hanan meletakkan foto yang di pegang nya di tempat nya kembali dan meninggalkan Zahra di dalam kamar. Di luar kamar Zahra, Hanan mengambil nafas panjang dan mengeluarkan dengan perlahan untuk menetralkan jantung dan pikirannya. Sedangkan Zahra hanya melamun mendengar kan pernyataan Hanan.
"Zahra dimana nak" tanya mama Hana.
__ADS_1
"Dia sedang istirahat sekarang, aku takut dia drop lagi karena terguncang"
"Benar, biarkan dia beristirahat, dia perlu menenangkan dirinya. Dia akan di panggil saat almarhum akan di makamkan" ucap papa Nanda.
Di dalam kamarnya Zahra mengambil minum dan langsung meneguknya. Dia memutuskan untuk mandi agar dirinya merasa lebih segar.
"Yang dikatakan pak Hanan memang benar. Aku harus berhenti menangis. Sekeras apapun aku menangis itu tidak akan bisa mengubah kenyataan pahit yang sedang aku alami saat ini. Yang terpenting adalah membuat kedua orang tua tenang di sana dan selalu membuat mereka tersenyum di syurga, walaupun sudah tidak bersama mereka tetap orang tuaku selamanya yang sudah membesarkan ku dari kecil sampai sekarang ini. Dan untuk pernyataan pak Hanan akan aku selesai kan nanti. Ayo kuat Zahra.. " gumamnya sambil mengepalkan tangan untuk menguatkan hatinya.
Setelah dia mandi dan berganti baju berwarna putih, dia langsung keluar dan mendapati keluarga barunya menunggu nya dengan cemas. Mama Hana yang melihatnya pun langsung menghampiri nya.
"Apakah kamu sudah lebih baik nak" tanya mama Hana.
"Alhamdulillah sudah mah, lagu pula Zahra ingin membuat orang tua Zahra bahagia di sana, Zahra tidak mau membuat mereka tidak tenang. Dan kali ini aku yakin, orang tua Zahra pasti sudah tenang di sana"
"Syukurlah kalau begitu"
Tampak dari kejauhan, teman-teman dan para gurunya juga datang ke rumahnya.
"Iya bu, terimakasih atas semua doa bapak ibu guru dan juga teman-teman"
"Sama-sama Zahra. Tetapi mohon maaf bu, ibu kerabat nya Zahra ya"ucap bu Ratna.
"Saya orang tua baru Zahra"
"Maaf bu, maksud ibu"
"Dia akan kami angkat sebagai anak kami, karena orang tuanya juga dekat dengan kami" ucap papa Nanda.
"Syukurlah, Zahra tidak kesepian sekarang"
"Permisi pemakaman nya akan segera dilaksanakan mohon untuk bersiap" ucap pak Ustad.
Merekapun mengangguk dan segera pergi keluar untuk mengantarkan jenazah ke pemakaman. Begitu pemakaman selesai para warga, guru dan teman-teman nya juga meminta izin untuk pulang. Namun keluarga baru Zahra masih setia menunggu Zahra.
__ADS_1
"Mama, mama yang tenang ya di syurga bersama bapak. Selalu tersenyum di sana. Walaupun aku tidak bisa melihat senyum di kalian lagi, namun Zahra bisa merasakan nya di hati Zahra. Selamat tinggal, Zahra pamit ya mah pak, insyaallah jika Zahra punya waktu luang Zahra akan sering jenguk kalian" ucap Zahra sambil mengelus papan yang tertancap di atas makam almarhum mamanya.
Zahra pun berdiri dan menggandeng tangan mama Hana.
"Ayo nan kita ke mobil"
"Kalian pergi saja dulu, aku akan menyusul"
Mereka semu pun setuju dan langsung berjalan ke luar pemakaman, sedangkan Hanan duduk di antara makam orang tua Zahra.
"Semoga kalian tenang di alam sana. Doakan selalu saya dan Zahra agar kami bisa bahagia selamanya. Dan saya akan berusaha semampu saya agar membuatnya bahagia dan tersenyum. Doakan kami, saya permisi. Assalamualaikum" ucap Hanan dan bergegas meninggalkan pemakaman.
Mereka akhirnya pergi ke rumah Zahra untuk beristirahat sejenak dan berniat membawa Zahra pulang ke rumah mereka.
"Zahra, ikutlah bersama kami. Lagipula semua teman-teman kamu dan semua guru kamu tau bahwa kamu anak kami sekarang. Dan papa minta maaf tadi mengatakan kamu anak angkat kami karena agar menutupi status kamu dan Hanan sebagai guru dan murid di sekolah. Juga karena papa tidak mau kalau kamu sampai terputus di tengah jalan." ucap papa Nanda.
"Iya nak, ayo ikut kami agar mereka tidak curiga dengan kamu dan kamu tidak perlu membayar kontrakan ini" ucap mama Hana.
"Mama, papa terimakasih banyak atas dukungan dan kebaikan kalian. Masalah itu akan aku pikirkan besok. Jika beberes sekarang akan terasa sangat lelah"
"Aku dan Mama yang akan membantu kamu berbenah" ucap ka Wina.
"Tidak, kalian juga pasti lelah, begitu juga aku. Sebaiknya kita istirahat, apa mama papa dan kakak akan menginap di sini" tanya Zahra.
"Tidak, kami akan pulang, hanya Hanan saja yang akan menginap di sini. Karena kamu adalah tanggung jawabnya sekarang dan kamu tidak bisa menolak karena sudah kewajiban suami untuk menjaga istrinya" ucap papa Nanda.
"Sekarang aku tidak bisa berkutik. Aku akan terima itu apapun risikonya" batin Zahra.
Zahra hanya mengangguk menyetujui nya.
Merekapun pulang dan Zahra pun terduduk lemas di ruang tamunya sambil bersandar di sofa.
//**//
__ADS_1