Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Rumah Hanan


__ADS_3

Mereka berhenti di sebuah rumah yang sedikit mewah. Zahra tercengang tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.


"Pak, ini rumah siapa"


"Rumah saya"


"Yang bener pak, bapak kan bukan pengusaha, mana bisa beli rumah gede kaya gini."


"Sudah ayo masuk, biar saya yang bawa koper"


"Lih pak, jangan masuk rumah orang sembarangan, nanti di kira maling loh"


"Terserah kamu mau bilang apa, tapi ini benar rumah saya yang saya beli dengan keringat sendiri. Sudah ayo masuk"


Zahra ternganga saat masuk ke rumah Hanan, perlengkapan yang begitu lengkap bagaikan masuk ke sebuah Vila membuat nya begitu terkesan kagum dengan apa yang ia masuki sekarang.


"Selamat datang tuan, nyonya"


"Nyonya?" gumam Zahra.


"Mari saya antar ke kamar tuan"


"Tidak bi, biarkan dia memilih kamar yang dia suka. Saya ke atas dulu"


"Iya tuan"


"Mari Nyonya"


"I-iya"


Pembantu itu pun membantunya memilih kamar. Dan masih membiarkan kopernya tergeletak di ruang tamu.


"Bi, boleh tau nama bibi"


"Saya Sari nyonya"


"Perkenalkan bi, nama saya Zahra. Bibi jangan panggil saya nyonya ya bi."


"Tapi nyonya, anda pemilik rumah ini sekarang"


"Saya tau Bi, tapi bi saya mohon bi, panggil Zahra saja"


"Saya panggil nona saja kalau begitu. Plis ya non nanti saya takut di marahi tuan"


"Nggak bi, ngga papa, panggil itu saja, kalau di panggil nyonya saya berasa udah tua bi"


"Oohh begitu alasannya, mau pilih kamar yang mana non"


"Menurut bibi, saya pilih yang mana"


"Itu terserah non, yang penting non bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman"


"Yah bi, rumah segede gini mana bisa milih, memang ada berapa kamar bu? "


"Ada 5 kamar non, itu kamar tuan, 4 lagi kamar tamu, kadang juga buat nginap kakaknya tuan Hanan dan orang tua tuan non. Nah terus yang ada di dekat dapur itu kamar para pelayan non"

__ADS_1


"Oohh begitu, aku bingung bi. Bi, bibi tidak sibuk kan"


"Tidak non, ada yang bisa saya bantu"


"Bisa bawa Zahra keliling bi"


"Nona sebaiknya istirahat, besok saja"


"Ayolah bi, saya baik kok, saya sudah terlalu lama beristirahat di rumah jadi tidak apa"


"Ya sudah mari"


Bi Sari dan Zahra berkeliling di rumah yang besar itu. Zahra cepat akrab dengan orang rumah karena orangnya yang tidak pemilih dan terbuka terhadap orang lain sehingga dia cepat akrab dengan seseorang.


Bi Sari menjelaskan setiap sudut dan tempqt-tempat di rumah tersebut dengan jelas. Setiap kali Zahra kagum dengan rumah itu, berasa seperti sedang di istana.


"Bi, besar banget bi. Saya berasa di istana bi"


"Nona belum pernah ke tempat seperti ini"


"Belum bi, Zahra rumahnya kecil, kamar juga cuma 2, ruang tamu sam tv jdi satu, dapur dan meja makan di satu ruangan, kamar mandi juga satu ruangan bu. Lagi pula itu juga bukan rumah saya itu hanya kontrakan"


"Sabar non, sekarang nona sudah punya tuan muda, jadi kebutuhan non terpenuhi dan lebih baik sekarang"


"Iya bi, namun Zahra merasa tidak nyaman saja. Saya adalah orang yang tidak punya, orang tua saya hanya petani dan saya hanya murid Badung di sekolah dan sekarang saya yatim piatu"


"Sekarang non sudah memiliki tuan. Anggap saja itu semua sebagai masa lalu. Masih banyak waktu untuk memperbaiki itu semua non"


"Namun kematian orang tua saya itu tidak dapat di ubah bi, dan pernikahan ini juga tidak bisa cegah. Mungkin ini semua hukuman untuk saya karena anak yang terlalu badung di sekolah"


"Jadikan hukuman itu sebagai pelajaran untuk memperbaiki masa depan. Masih banyak waktu luang dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Non jangan menyerah"


"Iya non mari"


Sesampainya di ruang tamu, Zahra lupa bahwa dirinya harus memilih kamar dan akhirnya terdiam duduk di sofa.


"Bi, saya bingung mau pilih kamar yang mama"


"Pilih saja yang membuat non nyaman"


Mereka terdiam sejenak.


"Bagaimana kalau begini non, non malam ini tidur di atas, besok di sana dan besoknya di sana"


"Iya baik bi. Saya akan ke kamar atas sekarang dan membawa koper ini, kalau saya betah saya akan tinggalkan koper ini di sana"


"Iya, kalau nona butuh bantuan, panggil saya saja non"


"Iya bi"


"Bibi akan menyiapkan makan malam, kamu mandi dan ganti baju"


"Ngga bi, saya mau naruh koper sama tas saja, mandinya nanti kalau mau tidur. Saya bantu bibi saja ya di dapur walaupun saya nggak bisa masak, saya bisa kok walau cuma potong bawang sama cuci sayuran. Boleh ya Bi"


"Ya sudah terserah kamu saja, sekalian kamu belajar. Bibi tunggu di dapur"

__ADS_1


"Iya bi"


Zahra menaruh kopernya di kamar tersebut dan langsung turun menuju ke dapur.


"Bibi"


"Non, potong ini non terus haluskan ya, saya nyuci ayam dulu"


"Iya bi. Bibi sendiri kerja di sini"


"Nggak non, ada Tuti dan Reni juga pak Johan, yang jaga pos itu. Dia juga jaga kadang membersihkan kebun"


"Oohh, begitu ya bi. Terus bi Tuti sama bi Reni mana"


"Mereka bekerja hanya waktu siang, kalau saya pembantu tetap di sini"


"Sudah berapa lama bibi bekerja di sini"


"Sudah hampir 2 tahun non"


"Oohh... "


Zahra menghaluskan bumbu menggunakan peralatan biasa. Di saat bi Sari kembali, dia kaget saat melihat Zahra menghaluskan itu menggunakan ulekan biasa.


" Non, pakai blender saja non, kenapa pakai itu"


"Kata mama saya kalau pakai ini lebih enak ketimbang pakai blender bi. Dan menurut saya juga begitu Bi enak pakai ulekan daripada blender. Tapi kalau misalkan bumbunya banyak baru pakai blender. Ini kan cuma dikit bi"


"Sini nona biar saya saja"


"Nggak bi, saya kan udah biasa, bibi siapin aja yang lain"


"Iya non"


Di saat Zahra dan bi Sari sibuk bersama, Hanan sendiri hanya memperhatikan dari kejauhan. Dia tersenyum saat melihat dia bisa dekat dengan begitu mudahnya dengan orang kepercayaan di rumahnya. Dia kembali ke kamarnya dan duduk sambil memegangi ponselnya. Dan menunggu makanan yang sedang di siapkan.


Tak butuh waktu lama, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu nya dan ternyata itu adalah Zahra.


"Pak, mari pak makan. Makanan sudah siap di bawah"


"Iya ayo"


Zahra mengangguk dan berjalan di belakang Hanan bagaikan seorang bodyguard. Hanan heran dan kemudian langkah nya terhenti. Zahra yang di belakangnya berjalan sambil menunduk menabrak Hanan yang ada di depannya.


"Astagfirullah" ucap keduanya bersamaan.


"Maaf pak, maaf. Saya nggak sengaja pak"


"Kenapa kamu berjalan di belakang saya. Kamu berjalan di samping saya sini biar nggak terjadi lagi."


Zahra terdiam.


"Juga jangan terlalu menunduk kalau berjalan, untung tadi nabrak saya, kalau nabrak tembok gimana"


" I-iya pak"

__ADS_1


Zahra tetap saja menunduk sambil menyatukan kedua tangannya menuruni tangga perlahan bersama pak Hanan menuju ke meja makan.


//**//


__ADS_2