
Tanpa ragu ataupun takut, Zahra memasuki ruang kelas tersebut. Walaupun sebenarnya jantungnya tidak karuan, namun dengan sekejap dia bisa mengontrol jantung nya yang tidak karuan.
"Assalamualaikum, permisi"
"Wa'alaikumsalam, masuk aja de, ada apa"
Zahra berjalan menuju ke depan papan tulis.
"Begini kak, saya ke sini mau mengantarkan tugas dari pak Hanan. Tugasnya harus di tumpuk di mejanya pak Hanan. Kalau tidak, kalian pasti tau akibatnya"
"Adik guru jadi main nyuruh seenaknya"
"Nggak kok kak, saya cuma menjalankan tugas. Itu terserah kalian mau ngerjain atau nggak, yang terpenting saya sudah menyampaikan amanah ini. Kalau begitu saya permisi" ucap Zahra sambil menaruh selembar kertas di atas meja dengan keras.
"Uuuuuuuuuuuuu" ucap seluruh siswa.
Zahra tak menghiraukan dan keluar dari kelas tersebut.
"Eh Lo" ucap kakak yang tadi pagi berdebat dengannya, namanya adalah Sella, salah satu anggota OSIS di sekolah nya.
Zahra dan Fany pun menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa kak"
"Gue heran, Lo kan anak badung, tapi kok ada yang mungut Lo ya. Lo pake dukun dimana. Lo nggak kasian sama orang tua Lo. Gimana kalau mereka di atas tau kalau Lo main dukun di dunia"
"Jaga bicara Lo ya kak. Memang gue anak badung, gue anak pemalas, namun asal kakak tau, orang tua gue nggak pernah ngajarin seperti apa yang kakak bilang. Kakak jangan main tuduh dan membuat fitnah ya kak. Oke gue tau kakak itu OSIS, namun apakah pantas jika kakak berkata seperti itu kepada saya. Kakak nggak mikir ya, kakak malah mempermalukan diri kakak sendiri di sini. Bukannya mencontohkan yang baik, ternyata sama aja kayak murid badung"
"Jaga bicara Lo, gue nggak takut, karena di sini semuanya itu benci sama Lo yang petakilan itu. Awas aja nanti"
"Terserah apa saja yang mau kakak lakuin kepada saya. Saya nggak takut. Ayo Fany kita pergi. Muak gue lama-lama di sini sama OSIS yang sombong akan derajat nya itu di sekolah ini" ucap Zahra sambil menarik pergelangan tangan Fany.
Sekarang jam terakhir pelajaran, Zahra dan Fany menuju ke kelas belakang sekolahnya menuju ke ruang bengkel dimana kelas 12 TBSM berada sekarang karena bangunan belakang sedang di renovasi.
"Assalamualaikum, kelas 12 TBSM 2 kan"
"Wa'alaikumsalam." jawab seluruh siswa yang mendengar nya.
"Leon.. Leon.. Nih ada pacar Lo" ucap salah satu siswa.
Leon yang sedang berbincang dengan temannya yang lain pun melihat pintu masuk dan segera berdiri menuju ke pintu tersebut.
"Iiihhiirrrr.... Ccciiee.. Ciiee.. Suiwit"
Kelas nya sungguh heboh karena para siswa kelas 12 itu, dengan segera Leon menggandeng tangan Zahra.
"Ada apa Lo kemari, kita bisa bertemu nanti secara pribadi"
"Dih, jangan GR dulu ya kak. Gue ke sini cuma mau nganter ini tugas dari abang gue"
"Oohh tugas dari pak Hanan. Kok bisa ada di Lo"
"Dia kan sekarang adiknya pak Hanan, kakak lupa" ucap Fany.
"Adik pak Hanan. Oiya gue lupa, kirain ada apa" ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ini kak, segera dilaksanakan ya kak. Kalau nggak nanti pak Hanan akan mengosongkan nilai kalian semua nanti, dan di KHS nilai kakak semua akan kurang dari 75. Jangan lupa, tugasnya di tumpuk di meja pak Hanan nanti"
"Iya, kami semua juga tau kalau ancaman pak Hanan tuh bener-bener di terapin, dan terjadi di kami semua"
"Syukurlah kalau kalian sadar. Ya sudah, gue pamit"
"Tunggu Zahra"
"Ada apa"
"Pulang nanti gue anterin"
"Nggak usah. Udah ada yang jemput gue nanti siang."
Zahra pun melewati Leon dan suara yang tadi pun kembali terdengar di kelas Leon. Leon pun kembali ke kelasnya dan membawa tugas pak Hanan.
"Ciiee.. Sini pajak jadian Lo" ucap sang ketua kelas.
"Gue nggak jadian. Dia cuma ngasih tugas dari pak Hanan doang"
__ADS_1
"Kirain mau di traktir"ucap temannya yang lain.
"Udah berisik. Ini selesaikan cepet"
Sementara itu Zahra dan Fany berjalan pelan setelah melalui kelas 12 itu.
"Eh Ra, Lo tadi nggak papa tuh di rundung Kak Sella. Lo nggak takut"
"Buat apa takut Fan, takut tuh sama Allah bukan sama dia. Udah lah gue muak dengar kata Sella. Btw lo ke rumah gue jam berapa"
"Jam setengah tigaan nanti"
"Oke siap. Gue tunggu di rumah ya nanti"
"Siap deh siap"
*****
Setelah mandi, Zahra menidurkan tubuhnya di kasur empuknya. Lelah nya begitu terasa dan mulai merasakan kakinya yang pegal karena harus berbolak balik ke sana ke mari mengantarkan tugas yang di perintah kan pak Hanan. Dia memainkan ponselnya dan tiba-tiba dia mendapatkan notifikasi dari pak Hanan.
Guru Menyebalkan😤
Assalamualaikum.. Apakah tugasnya semuanya sudah di berikan sesuai dengan perintah saya
^^^Zahra ^^^
^^^Sudah pak, tapi saya nggak tau mereka mengumpulkan atau tidak ^^^
Guru Menyebalkan😤
Kamu jangan khawatir, mereka sudah tau saya, kalau mereka tidak mengerjakan, nilai di rapot mereka akan di kurangi
^^^Zahra ^^^
^^^Saya nggak khawatir pak. Saya tau kok soal itu. Ngomong ngomong pak, kok bapak tega ngelakuin hal itu ^^^
Guru Menyebalkan😤
Kalau saya membiarkan mereka dengan ancaman biasa, mereka akan semena mena dengan mata pelajaran yang diberikan. Mereka akan seenaknya. Saya hanya membantu mereka agar disiplin agar mereka bisa dipermudahkan ketika mereka bekerja nanti.
^^^Zahra^^^
Guru Menyebalkan😤
Fany sudah datang
^^^Zahra ^^^
^^^Belum pak, kemungkinan sebentar lagi ^^^
Guru Menyebalkan😤
Ya sudah kalau begitu bapak lanjut lagi. Assalamualaikum.
^^^^^^Zahra ^^^^^^
^^^Wa'alaikumsalam ^^^
Zahra pun beralih ke nomor Fany untuk mengirimkan lokasinya.
^^^Zahra ^^^
^^^Gambar peta^^^
Fany 🤞
Inget juga Lo
^^^Zahra ^^^
^^^Maaf-maaf, ini juga udah inget^^^
Fany 🤞
Gue otw
__ADS_1
^^^Zahra ^^^
^^^Lo naik apa ke sini, gue tunggu di pintu gerbang, takut Lo nyasar. ^^^
Fany 🤞
Naik bajai. Rumah Lo kan jauh sekarang.
^^^Zahra^^^
^^^Iya, gue tunggu sekarang. ^^^
Zahra turun dari kamarnya dan meninggalkan rumah besar itu.
"Pak Johan, saya ke luar sebentar mau jemput temen saya"
"Tuan sudah tau non"
"Sudah kok pak. Saya pergi sebentar ya"
"Saya antar non"
"Nggak usah pak, cuma sebentar doang kok"
"Iya non, hati-hati non"
"Iya pak"
Zahra keluar dari gerbang rumah itu dan menunggu di jalan utama. Hanya sekitar 5 menit, akhirnya sahabat nya pun tiba.
"Nih bang, berapa"
"15 ribu neng"
"Ini bang, makasih ya"
"Iya neng"
Fany pun turun dari bajainya dan berjalan ke arah Zahra.
"Maaf ya lama"
"Santai aja, ini juga baru nyampe. Yuk"
"Kemana"
"Ke rumah lah, masa iya mau ke kuburan"
"Kirain ini rumahnya"
Sambil menunjuk rumah sederhana yang mereka lewati.
"Salah. Tunggu aja. Kok tas Lo gede amat"
"Nggak kok, gede gini tapi isinya sedikit"
"Oohh ya udah yuk let's go"
"Jauh? "
" Dikit lagi"
"Yang bener"
"Iya beneran"
"Nih dah sampai"
//**//
Maaf ya Author gantung, lanjut besok lagi insyaallah.
Terimakasih
Salamku
__ADS_1
Dewi M