Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
S2. Acara tujuh bulan


__ADS_3

Sudah 2 bulan berlalu..


Hari ini adalah hari dimana pernikahan Fany dan Alvero di gelar. Zahra duduk di bagian paling depan bersama dengan Hanan di sebelah kanannya, sedangkan di sebelah kirinya ada mama Hana dan papa Nanda.


"Saya trima nikah dan kawinnya Fany Andriana binti Aiman Nur Rizki dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar dua juta tiga ratus ribu rupiah dibayar tunai."


Alvero mengucapkannya dengan lantang dan khitmat.


"Bagaimana para saksi."


" Saahhh.."


Pak penghulu pun mengucapkan doa. Jantung Zahra pun juga ikut dag dig dug saat Alvero mengucapkan ijab qobul, padahal bukan dirinya yang berada di sana. Dia teringat bagaimana saat Hanan mengucapkan ikrar tersebut yang membuat jantungnya ingin meledak.


Prosesi ijab qobul pun selesai dan kini mereka menjalani prosesi acara panggih setelah acara ijab qobul dilaksanakan. Mulai dari balangan gantal ( sirih yang di ikat dengan benang putih), ngidak endog (menginjak telur) hingga prosesi kitab pengantin atau pengantin meninggalkan panggung untuk berganti baju.


Selanjutnya para tamu di persilahkan untuk makan siang sambil menunggu pengantin berganti baju. Zahra pun memutuskan untuk pindah ke dalam rumah Fany dan duduk di dalam rumahnya.


Fany mencari Zahra yang tengah duduk di ruang tamu bersama suaminya yang sedang makan bersama.


"Lagi makan ternyata."


"Emm.. Kamu udah makan?"


"Iya udah. Kamu lanjut aja. Kalau cape ke kamar tamu itu."


"Kayaknya kami harus pamit lebih awal. Kami juga mau mempersiapkan acara tujuh bulanan besok. Kamu bisa datang."


"Tentu saja aku datang."


"Ya udah, kami pamit."


"Iya, kalian hati-hati"


Zahra dan Hanan pun pulang beserta dengan orang tuanya. Zahra langsung duduk di ruang tamu dan dengan sigap memberinya minum.


"Zahra, kandungan kamu semakin besar sekarang. Sering-seringlah jalan-jalan pagi, yoga. Mama juga akan sering ke sini dan menginap untuk mengajarkan kamu cara merawat bayi."


"Terimakasih mama."


Mama Hana pun mengelus perut Zahra.


"Untuk calon cucu, mama harus waspada dong, begitu juga Hanan, telepon harus tetep hidup, lagi meeting, di luar kota, jiwa harus siap siaga, istri butuh lebih banyak semangat dan kasih sayang saat hamil."


"Iya mah siap. Kalau bisa Hanan akan kerja di rumah aja, berkas kirim ke rumah."


"Sekalian aja kantornya di pindah ke rumah, karyawannya di bawa sekalian. Tapi mah, memangnya nggak papa mas Hanan kerja di rumah, nanti kantor gimana?" ucap Zahra.


"Ya nggak papa, kan ada Gavin kaki tangan Hanan."

__ADS_1


"Tapi kasihan nanti bang Gavin sendirian ngurusin kerjaan mas yang banyak."


"Nggak papa Zahra, nurut sama mama ya."


"Mama sama papa nginep aja di sini. Kan udah ada mama. Zahra nggak papa kok kalau di tinggal kerja."


"Ya sudah, mulai besok mama akan nginep di sini."


Zahra pun tersenyum begitu juga Mama Hana.


"Bi Fitri... Bi.."


"Iya nyonya."


"Besok temenin saya ke pasar, beli perlengkapan acara 7 bulanan."


"Iya nyonya. Ada lagi?"


"Tidak, bibi ke belakang saja lagi."


"Iya nyonya."


Bi Fitri pun kembali ke belakang dan melanjutkan pekerjaannya.


"Zahra, Hanan, mama pulang dulu sekalian mau beres-beres, nanti malam mama ke sini lagi."


"Tidak usah, kamu istirahat saja. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah pamit, mama Hana keluar dan setelahnya Zahra memutuskan untuk mandi dan beristirahat.


******


Keesokan harinya, acara tujuh bulan pun di gelar. Di hadiri oleh beberapa tamu undangan dan para tetangga sekitar. Hanan dan Zahra memilih menggunakan adat jawa sebagai acara tujuh bulanan, atau yang di sebut dengan mitoni / tingkepan.


Acara tingkepan dimulai dengan sungkeman. Hanan dan Zahra harus melakukan  sungkeman pada kedua orang tua masing-masing untuk memohon doa dan restu. Berhubung orang tua Zahra sudah tidak ada, orang tua Fany lah yang menjadi wakilnya.


Setelah acara itu, dilanjutkan dengan siraman. Zahra akan diguyur air bunga oleh 7 orang antara lain pemimpin ritual, suami, orang tua calon ibu, orang tua calon ayah, dan sesepuh lain.


Dilanjutkan oleh prosesi menjatuhkan telur ayam mentah dari dalam kemben. Ritual ini dilakukan oleh Hanan. Prosesi itu merupakan simbol agar kelak bayi dilahirkan dengan mudah tanpa ada halangan.


Setelah itu, ritual Pantes Pantes. Zahra berganti pakaian hingga tujuh kali, Millens.  Ketika Zahra mengenakan pakaian pertama hingga keenam, dia harus bertanya, “Sudah pantas belum?”


Kemudian para tamu akan menjawab, “Belum pantas”. Hingga pakaian ketujuh barulah akan dijawab, “Sudah pantas.”


Belum selesai sampai di sini. Hanan harus memutuskan benang lawe yang dililitkan di perut calon ibu. Itu sebagai simbol memutus ari-ari.


Masih ada lagi yang harus mereka jalankan. Prosesi angrem namanya. Zahra akan duduk di atas tumpukan kain yang tadi dia pakai. Itu menjadi simbol bahwa dia akan menjaga kehamilan dengan hati-hati dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Sementara itu, Hanan akan menyuapi istrinya dengan tumpeng dan bubur merah putih sebagai simbol kasih sayang juga.


Akhirnya, sampailah mereka pada prosesi terakhir, yaitu prosesi dodol rujak. Zahra akan membuat rujak didampingi Hanan. Sementara para tamu akan antre membeli menggunakan pecahan kereweng sebagai mata uangnya. Prosesi itu bermakna agar si anak kelak akan mendapat rezeki yang berlimpah.


Setelah semua acara selesai, para tamu pun pamit. Zahra pun segera masuk ke dalam rumah bersama keluarganya.


"Terimakasih, mama sama papa yang sudah mau menjadi wakil orang tua Zahra. Terimakasih juga untuk sahabatku."


"Sama-sama. Kamu juga anak kami, jadi jangan sungkan-sungkan jika kalian butuh bantuan."


"Iya, terimakasih sekali lagi mah."


"Sekarang kamu istirahat, mama pulang duluan ya, kalau kami ada waktu kami mampir."


"Iya mah, pah. Kalian hati-hati."


"Terimakasih Nia, atas kedatangan kalian dan menjadi wakil orang tua Zahra."


"Sama-sama, Zahra sudah kami anggap sebagai putri kami. Fany, Alvero, kalian ikut pulang."


"Kami nanti mah, mama duluan saja."


"Baiklah kalau begitu. Kami pamit. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Mama Nia dan Papa Adi pamit. Sementara itu, Fany dan Alvero memilih untuk tinggal.


"Fany, tolong bantuin aku yuk."


"Oohh.. Iya ayo."


Zahra dan Fany masuk ke kamar Zahra untuk membantu Zahra mengganti baju dan sedikit risanya, setelahnya mereka berdua kembali ke luar untuk kembali bercengkrama.


Hingga pukul 4 sore, Fany dan Alvero memutuskan untuk pamit. Dan rumah mereka pun kembali sepi seperti biasa.


"Papa ke Bali lagi?" tanya Zahra.


"Iya, papa ke Bali lagi besok pagi. Papa malam ini akan menginap di sini."


"Alhamdulillah kalau begitu pa."


"Iya sudah, sebaiknya kamu istirahat sekarang. Hanan antar istri kamu."


"Iya pah."


Hanan pun mengantar Zahra ke kamarnya dan beristirahat sambil memakan camilan dan menonton tv.


//**//

__ADS_1


__ADS_2