Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Di Kantor Hanan


__ADS_3

Hanan mengerjakan pekerjaannya dengan penuh semangat dan menjalankan meeting nya dengan sempurna. Setelah dia menyelesaikan meeting nya, dia ke kamar tersembunyi dan melihat Zahra sedang tertidur pulas. Hanan juga merasa lelah dan akhirnya ikut terlelap di samping Zahra.


Zahra terbangun dari tidurnya dan mendapati Hanan sedang tidur di sampingnya. Zahra ingin mandi, tetapi tak ada baju ganti jadi dia hanya mencuci mukanya. Begitu dia keluar, Hanan juga sudah bangun.


"Mas udah bangun"


"Kamu bangun ya mas juga ikut bangun"


"Mas pasti cape, udah tidur lagi aja"


"Mas tidur dari tadi, sekarang udah jam tiga lebih, ayo kita sholat ashar bersama"


"Iya mas, aku ambil wudhu sekalian."


Zahra kembali memasuki kamar mandinya dan mengambil wudhu.


Setelah mereka sholat Hanan kembali bekerja dan Zahra hanya duduk di sofa sambil melihat Hanan bekerja dengan kerasnya. Gavin kembali ke ruangan Hanan dan membawa berkasnya.


"Ini Nan berkas nya"


"Terimakasih"


"Mas Hanan mau kopi, tadi siang aku lupa mau bikinin juga karena aku tak tau dapur nya di mana"


"Aku nggak di tawarin"


"Ya bang Gavin sekalian kalau mau"


"Boleh, Gavin, antarkan Zahra ke dapur"


"Baik, mari nona Zahra"


Zahra mengangguk lalu mengikuti Gavin, hanya turun satu lantai saja dan sudah mendapat dapur yang begitu luas.


"Bang Gavin bisa tunggu Zahra sebentar"


"Dengan senang hati nona"


Zahra mulai meracik 2 gelas kopi. Dia juga menambahkan camilan yang ia temukan di lemari. Lalu dia juga membuat jus buah naga untuk dirinya.


"Sudah, terimakasih."


Mereka berdua pun kembali ke ruangan Hanan.


"Ini buat mas Hanan dan ini buat bang Gavin, selamat menikmati"


Hanan menyeruputnya dengan tenang. Gavin pun mencium aroma kopi yang Zahra berikan kepada nya dan menyeruputnya dengan perlahan. Matanya langsung berbinar saat menyeruput kopi Zahra.


"Waaaaahhhhh... Lezat sekali... Ssrruuppp. Terimakasih"


"Sama-sama"


"Mas Hanan, aku mau ke balkon boleh"


"Katanya kamu takut ketinggian, mas temenin ya"


"Nggak usah mas, mas kan sibuk"


"Gavin lanjutkan, kalau tidak kamu nggak boleh di buatkan kopi lagi sama istriku"


"Baik-baik"


"Daripada aku nggak dapat kopi seenak ini lebih baik aku nurut" batin Gavin.


"Mas nih kasar banget"


"Kalau nggak kasar, mereka akan ngelawan mas nantinya"


"Ya sudah terserah mas. Bawa kopinya"


"Iya"


Zahra dan Hanan pun ke balkon, begitu indah dan cantik pemandangan dari perusahaan Hanan.


"Subhanallah mas, ini cantik banget. Ternyata kalau di lihat dari ketinggian indah ya mas"


"Ya begitulah. Semua yang kamu takutkan, ada sesuatu yang indah di balik ketakutan mu itu."


"Iya mas"


Hanan ingin merangkul Zahra, namun Zahra dengan cepat menepis tangannya.


"Kenapa"


"Inget tempat dong mas, di dalem juga ada orang. Jomblo nggak, kalau jomblo kan kasian"


"Oiya, Gavin jomblo mas lupa. Tapi ya udah lah biarin, kan dia udah tau. Juga dia kan yang udah nyiapin semua pernikahan kita"


"Isshh, mas jan mulai, kalau yang dari bawah sana tau gimana"


"Emangnya keliatan dari bawah ini gedung tinggi loh"

__ADS_1


"Coba aja mas dadah dadah ada yang ngebales nggak"


Hanan benar-benar mencobanya, sementara Zahra tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Hanan.


"Kenapa ketawa"


"Mas kena jebakan aku. Masa iya dari gedung setinggi ini ada orang melihat mas lagi ngelambein tangan, yang ada di kira patung lampu lagi"


"Udah berani ngerjain mas ya, sini kamu"


"Jangan mass... Hahahaha... Mass ... "


Zahra berlarian ke sana ke mari, akhirnya dia mengalah dan duduk meminum jus nya.


"Nanti mas hukum di rumah"


"Hukumanya apa. Nanti mas dosa loh hukum istri sendiri kan nggak boleh. Lagipula aku cuma bercanda kan tadi"


"Iya lah, mas tau itu."


"Mas, kenapa mas ngga pake komputer aja di kantor biar mas nggak perlu repot-repot bolak balik bawa ke rumah. Di rumah biar laptop nya aja"


"Oiya ya, kamu kan kelas multimedia, mas belum beliin laptop buat kamu. Kelas 11 nanti kamu bakalan PKL pasti butuh laptop untuk buat laporan"


"PKL?"


"Praktek Kerja Lapangan. Ya udah nanti pulang dari sini kita cari sekaligus makan malam"


"Aku nggak minta laptop mas, aku kan khawatir mas butuh yang lebih besar"


"Kalau mas udah nyaman sama itu ya udah tetep itu nggak mau yang lain"


"Kalau lecet atau mati gimana mas"


"Mas cari yang sama seperti itu"


"Kalau nggak ada"


"Di perbaikin"


"Kalau cuma ada satu di dunia, nggak bisa di perbaikin, nggak bisa di apa-apain"


"Terpaksa mas cari yang baru"


"Laptop yang lama di apain"


"Di simpan"


"Apa lagi sama kamu"


"Isshh mas nih..."


"Udang rebus"


"Nggak usah mulai mas ih, kalau nggak aku pulang naik taksi"


"Iya iya, mas minta maaf"


"Maap oy, aku juga ada pekerjaan, Nan, daripada kamu bucin, ni kerjaan di urusin, biar hasilnya bisa buat di nafkahin, jangan bisanya buat iri di depan orang lain"


"Nah mas, kan udah aku bilang. Sana balik kerja"


"Iya"


Hanan pun masuk di ikuti Zahra.


"Aku pamit ke ruangan, kalau nggak di bikinin kopi lagi nggak papa. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Gavin keluar dari ruangan Hanan dengan kesal.


"Nggak tau apa, ada orang jones masih aja romantis, rasanya aku yang jadi setannya, mending aku pergi aja udah. Kelakuan murid sama guru ada aja ya, romantis banget bak parfum sama wanginya yang terus nempel di baju, heeeddeeehhh... Bikin iri tuh orang"


Zahra sendiri hanya duduk di sofa.


"Mas, lain kali kalau bilang gitu jangan di depan orang jomblo ya, kasian..."


"Memang kenapa"


"Mas nggak pernah ya di posisi bang Gavin, sakit tau mas"


"Emang kamu pernah"


"Ya pernah lah mas, liat orang gandengan di jalan aja bikin iri"


"Terus kamu bayangin kamu jalan sama siapa gitu"


"Ya nggak, tapi ya pengin di posisi itu dulu, jalan sama orang yang di cintai kan asik rasanya"


"Ya udah malam ini kita jalan"

__ADS_1


"Nggak mau, malam ini mas harus kemas barang buat ke Jepang"


"Nggak jadi"


"Lahh kenapa"


"Gavin sama CMO yang kesana sama beberapa karyawan"


"Kenapa mas nggak ikut"


"Mas masih ada pekerjaan lain yang lebih penting dari itu"


"Apa mengenai perusahaan DE"


"Iya"


"Udah ada perkembangan"


"Alhamdulillah, sudah ada jejak"


"Syukurlah, mas aku bingung di sini mau ngapain, aku ke kamar dulu ya"


"Iya"


"Selamat bekerja dan sukses selalu mas"


"Terimakasih"


"Sama-sama"


*****


Di toko elektronik.


"Mau yang mana"


"Aku nggak mau, mas aja"


"Kan kamu yang butuh"


"Bukan aku, tapi mas yang harus beli komputer"


"Mas nggak mau, mbak tolong carikan laptop yang cocok buat remaja cewe ya" ucap Hanan kepada salah satu karyawan di toko tersebut.


"Mari Tuan ikut saya"


Hanan menggandeng Zahra untuk mengikuti pegawai tersebut.


"Mau yang mana"


Zahra hanya terdiam menatap satu arah laptop berwarna merah muda dan terdapat corak hitam. Hanan memandang arah mata Zahra.


"Ambil yang itu, bungkus sekarang"


"Ja-jangan mas, nggak usah"


"Kalau mau tinggal bilang apa susahnya, bungkus mbak"


"Iya tuan"


"Tapi mas.. "


"Sstt.. Mas udah laper, kita nanti mampir ke restoran dekat sini"


"Tapi mas.. "


"Harus nurut, nggak boleh bandel"


"Iisshhh"


Setelah mereka membeli laptop, mereka pun ke restoran terdekat untuk makan malam.


"Mau pesen apa"


"Ayam bakar"


"Ikan bakar mbak dua porsi sama teh manis hangat nya dua jangan terlalu manis"


"Ayam bakar nya jadi"


"Nggak usah mbak, ikan aja"


"Baik tuan"


"Tadi kalau mau di suruh bilang, giliran dah bilang malah di beliin yang lebih, gimana si mas"


"Biar kamu tambah pinter"


"Terserah lah"


Zahra kesal, namun bagaimana pun dia tidak bisa menolak nya. Dengan senang hati dia pun menerima nya.

__ADS_1


//**//


__ADS_2