Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Alvero tak menggubrisnya dan tetap berjalan sambil menunduk. Fany yang melihatnya, langsung berlari dan memeluknya dari belakang.


"Iya, gue terima lo"


Alvero langsung melihat ke depan dengan mata berbinar lalu membalikkan badannya.


"Kamu serius"


"Iya, aku serius. Aku juga cinta sama lo udah lama, namun gue takut lo ninggalin gue."


"Kita nikah sekarang kalau lo mau"


"Al.. Gue serius"


"Gue juga serius, kan ada tuh yang nikah diem diem"


"Nggak gitu juga Al, mereka kan nikah karena alasan, lagian juga nikah tuh nggak mudah Al, butuh biaya ini itu, inget kita masih sekolah, masih punya orang tua, mana bisa orang tua kita terima kita nikah sekarang kan. Bukannya aku nggak mau, waktunya aja yang belum tepat"


"Ya udah, setelah lo lulus gue cari kerja terus nikah"


"Gue juga kerja dulu kali"


"Iya iya. Di terima nih"


"Iya isshh"


Tiba-tiba Alvero mengangkat tubuh Fany dan memutar tumbuhnya.


"Hei.. Hentikan, pusing tau...Hentikan Al... Gue mau tanya sesuatu"


Alvero menghentikan nya.


"Apa"


"Aku masih tetep boleh kan liat drakor"


"Ya tentu aja, tapi jangan lupain aku yang di sini"


"Ya nggak lah"


Dari kejauhan mereka berempat hanya tersenyum melihat mereka.


"Benar kan mas, mereka saling menyukai"


"Sudah semakin gelap, kami akan pulang dan bersiap. Kita bertemu di bandara besok pagi"


"Iya, terimakasih banyak"


Thomi menggandeng Maria dan kembali ke hotel. Sedangkan Hanan dan Zahra memandang langit sore yang masih agak jingga.


Lagi-lagi, Alvero menggendong Fany dan membawanya di pinggir pantai persis. Zahra melihatnya hanya tersenyum senang.


"Mau"


"Hmm.. "


Zahra bingung maksud Hanan, tanpa aba-aba lagi dia menggendong nya dan membawanya bersama untuk bergabung dengan Alvero dan Fany.


*****


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di rumah Hanan. Sedangkan Fany dan Alvero memutuskan untuk langsung pulang karena lelah.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam, udah pulang kalian. Bagaimana liburan nya, katanya mau seminggu"


"Kelamaan mbak, akunya yang pengen pulang juga. Mama dimana mbak"


"Di belakang lagi nyiram tanaman"


"Siapa yang dateng Win" teriak sang mama.


"Anak-anak mama udah pulang nih"


Mama Hana langsung menuju ke ruang tamu dan sudah mendapati Hanan dan Zahra tengah duduk.


"Mama" Zahra mencium tangan mama Hana.

__ADS_1


"Bagaimana liburan nya, seneng bukan"


"Alhamdulillah mah"


"Sebaiknya kalian istirahat dulu, mama sama Wina akan menyiapkan makan siang"


"Tunggu mah, akan ada tamu. Bentar lagi sampai. Pak Johan sama bi Sari mana mah" tanya Hanan.


"Ada tuh di belakang"


"Bi Sari, Pak Johan.. " teriak Hanan.


" Nggak usah teriak teriak, Hanan"


"Kok papa perhatiin Hanan banyak berubah semenjak nikah sama Zahra"


"Papa... " ucap Zahra semangat lalu bersalaman dengannya.


" Ada apa tuan, ada yang bisa saya bantu"


"Nggak kok Bi, sini duduk bareng kami. Ada tamu spesial buat kalian berdua"


"Tamu spesial buat kami tuan" tanya bi Sari.


"Iya bi, buat kalian"


"Cuma buat sari sama Johan, buat papa sama mama mana, nggak di kasih hadiah sekalian"


"Papa sama mama tenang aja, aku bawa oleh-oleh kok"


"Nanti ya setelah tamunya datang"


Tak lama bel pintu berbunyi. Mama Hana lebih dulu membuka pintu.


"Assalamualaikum Bu" ucap Thomi.


"Wa'alaikumsalam... Thomi Ya Allah, udah besar kamu... Ini Geya?"


"Calon bu"


" Terimakasih Tante"


"Ehh.. Ayo masuk, pasti orang tua kalian udah nunggu."


Mereka bertiga masuk. Betapa terkejut nya saat mereka masuk terutama pak Johan dan Bi Sari.


"Thomi"


Pak Johan dan Bi Sari segera menemui anaknya. Airmata Bi Sari tumpah seketika saat memeluknya.


"Ya Allah nak, bagaimana kabar kamu"


"Alhamdulillah sehat mak, emak sama abah sendiri"


"Alhamdulillah sehat" jawab pak Johan.


"Siapa ini Thom"


"Pacarnya Thomi mak"


"Alhamdulillah, siapa nama kamu nak"


"Maria pak bu"


"Thom, Maria, pak Johan, Bi Sari ayo duduk istirahat" ucap papa Nanda.


"Iya pak"


"Mama, papa semua, aku sama Zahra ke kamar dulu"


"Ya sudah sana"


Hanan dan Zahra menuju ke kamarnya dan berbesih diri. Setelah nya mereka turun kembali dan makan siang bersama.


"Kursinya kurang"


"Bagaimana kalau kita lesehan lagi di belakang" ucap Zahra semangat.

__ADS_1


"Boleh, yuk"


Di belakang rumah Zahra sangat ramai, mereka semua makan sambil bercakap sesekali. Sungguh bahagia hati Zahra, namun masalahnya sekarang hanya satu, kebangkrutan kantor papanya.


Sore hari pun tiba dan kini waktunya pak Johan dan Bi Sari pamit.


"Maaf ya Non, Tuan, kami harus pulang"


"Tak apa bi, terimakasih sudah membantu Zahra di rumah ini. Terimakasih atas semua yang bibi sama Pak Johan lakukan di sini"


"Iya bi, ini sisa kalian bekerja di sini"


"Nggak usah Nan, udah ada aku di sini. Aku juga berterima kasih karena udah jaga mak sama Abah"


"Iya Thom"


"Kalau begitu kami pamit ya Nan, pak, Bu, semuanya"


"Iya, kalian hati-hati"


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Setelah mereka memastikan keluarga Thomi meninggalkan pekarangan rumahnya keluarga besar Papa Nanda pun masuk dan duduk di ruang keluarga.


"Mama, papa, aku mau bicara sama kalian"


"Bicara apa nak"


Tiba-tiba Zahra memeluk mama Hana dan langsung menangis di pelukannya.


"Maaf ya, aku nggak tau kalau perusahaan papa bangkrut. Maafin Zahra udah boros karena liburan ke Bali, maafin Zahra. Maafin Zahra.. Hiks...hiks.."


"Sudah nak sudah, nggak papa kok. Yang terpenting kamu bahagia. Papa udah berusaha buat ngembaliin perusahaan papa dan sedang menyelidiki perusahaan papa."


"Iya nak, papa nggak cuma punya satu perusahaan kok. Papa masih punya lagi, kapan-kapan papa kasih tau kamu, tapi papa numpang di sini sementara karena belum beli rumah lagi"


"Ma-masih punya perusahaan lagi"


"Benar, papa masih punya 3, masing-masing buat Hanan sama Hendra nantinya, kamu jangan khawatir"


"Ma-maksud papa"


"Sudah nak, kamu jangan berfikir terlalu keras soal ini"


"Tapi kenapa bisa cuma rumah papa dan rumah bang Hendra yang kena sita"


"Kamu belum bisa memahami bisnis, jadi jangan terlalu di fikir. Sekarang kamu istirahat sana di kamar"


"Iya pa. Mama aku ke atas"


"Iya sayang"


Zahra berniat ke atas, namun mendapati Indri sedang merangkak ke arahnya.


"Indri, kenapa di sini, mama mana"


"Maa..ma..ma..ma..ma"


"Udah pinter ngomong ya Indri ya.. Yuk sama kakak ke kamar, tapi kita cari mama dulu biar nggak nyariin, kalau nyari Indri repot nanti"


"Ma..ma..maa..ma"


Zahra menggendong Indri sambil mencari kedua orang tua Indri.


"Mbak.. Mbak Wina.. Mbbaakk"


"Iya Ra, ada apa"


"Aku bawa Indri ke kamar ya, kangen nih sama dede Indri"


"Ya silahkan aja, yang penting nggak ganggu kamu. Kamu nggak cape"


"Tenang mbak, nggak kok. Ya udah ya mbak, aku sama Indri ke kamar dulu. Dada mama.. " Ucap Zahra sambil melambaikan tangan Indri.


//**//

__ADS_1


__ADS_2