Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Lesehan


__ADS_3

"Mampir aja mama keceplosan"


"Nggak papa mah, suatu saat pasti mereka akan tau. Mama kenapa ke sini mendadak dan nggak ngabarin orang rumah"


"Mama sengaja nengok kalian mumpung hari minggu. Mama bosen di rumah"


"Mama ke sini sama siapa"


"Sama papa"


"Papa nggak ikut"


"Nggak, nanti juga ke sini jemput mama"


"Kenapa nggak sekalian di sini aja"


"Biasalah papa kamu, sibuk tapi nggak tau ngapain"


"Mama" teriak Zahra.


"Zahra, besok kamu ada ujian benar"


"Iya mah"


"Kamu harus semangat ya belajarnya hingga kamu lulus. Mama memang mertua kamu tapi karena umur kamu yang masih terlalu labil, mama akan menganggap kamu adik Hanan dan Hendra mengenai pembahasan di sekolah, namun jika sedang pribadi, kamu tetap seorang istri"


"Iya mah, Zahra tau itu. Mama bisa bicara di dalam, kenapa mama sama mas Hanan di luar"


"Ada temen temen kamu, mama takut keceplosan lagi"


"Nggak papa mah. Ayo masuk mah"


"Suami kamu nggak di ajak"


"Nanti juga ngikut mah"


"Ya udah yuk"


Mendengar percakapan mereka, Hanan memilih diam di tempat dan duduk di bawah pohon. Mama Hana mengengok ke belakang untuk memastikan Hanan mengikuti mereka atau tidak.


"Lihat Ra, dia tersinggung. Bujuk dia, suruh dia masuk"


"Tapi mah..."


"Sudah sana, mama akan menyiapkan makan siang bersama bi Sari dan yang lainnya"


"Iya mah"


Zahra berjalan pelan ke arah Hanan.


"Menyebalkan" gumamnya.


"Pak, kenapa malah di sini. Ayo masuk, gitu aja ngambek"


"Kamu masuk saja sana sama mama, lagi pula kamu bontotnya sekarang, mama sangat menyayangi kamu kali ini"


"Karena mama nggak punya anak perempuan, jadi wajar sayang menantunya. Udah ayo cepetan masuk pak, nanti di tanyain mama, terus saya yang kena"


"Kamu saja, saya masih ingin di sini"


"Bapak ini udah dingin, cuek, nyebelin banget si"


"Iya saya masuk"

__ADS_1


"Iisshh tuh kan"


"Saya harus bagaimana"


"Lah terserah bapak lah"


Zahra kesal dan meninggalkan Hanan yang masih terduduk diam.


"Cowok selalu salah di mata perempuan" gumamnya.


Hanan dengan jengah berdiri dan mengikuti Zahra dengan pasrah. Mama Hana sedang sibuk di dapur dengan cepat Zahra juga ikut membantu sebisanya. Hanan hanya memperhatikan dari jauh dan memutuskan untuk duduk di ruang tamu bersama dengan Alvero.


"Mah" panggil Zahra.


"Kenapa"


"Masak susah nggak si"


"Mudah kalau yang sudah terbiasa. Kamu belum bisa masak ya"


"Belum mah, masih sedikit ragu"


"Cepat belajar dengan bi Sari atau Bi Tuti ya, masakan mereka sangat enak"


"Bi Reni sendiri?"


"Lumayan, namun kalau di bandingin masih enakan bi Sari"


"Bi Sari sama pak Johan pasutri ya ma"


"Iya nak"


"Anaknya kemana"


"Kenapa nggak ikut ke sini"


"Pak Johan sama bi Sari kan di sini kerja, jadi anak anaknya memutuskan untuk tinggal sendiri saja"


"Oohh begitu"


"Nak, cuci daun bawang ini ya, mama mau masak martabak telur"


"Iya mah"


Di saat Mama Hana, Zahra dan Sari bergelut di dapur, Hanan, Alvero dan Fany sibuk dengan film yang mereka tonton bersama.


*****


"Makan siang sudah siap" teriak Zahra semangat.


Semua orang tertuju ke arah ruang makan. Hanan pun juga mengajak Fany dan Alvero untuk makan siang bersama.


"Yuk ikut makan"


"Nggak lah pak, ngerepotin jadinya" ucap Fany.


"Nggak kok, rezeki jamgan di tolak"


"Nggak pak, kami nanti saja" ucap Alvero.


"Assalamualaikum" ucap papa Nanda.


"Wa'alaikumsalam"

__ADS_1


"Ada tamu" ucap papa Nanda sambil menyalami mereka semua.


"Papa di sini, sekalian ikut makan siang yuk pah" ajak Zahra yang tak lupa menyalaminya juga.


"Kebetulan, papa juga belum makan siang. Mereka teman-teman kamu kan, ajak makan sekalian"


"Ehhh.. nggak usah om, nanti malah jadi ngerepotin" ucap Alvero.


"Udah ayok ikut aja, nggak usah malu malu, lagian kan sekali kali nggak setiap hari. Jangan nolak, yuk ikut. Makin rame makin enak"


"Kalau sudah begini bisa apa, ya udah yuk"


Mereka semua berkumpul menjadi satu di meja makan dan mulai mendudukan diri mereka masing masing. Tidak ada kursi utama di sana. Kursi yang tersedia juga ada delapan. Zahra bingung dan masih celingak celinguk ke sana ke kami seperti orang linglung.


"Kenapa Zahra, apa yang sedang kamu cari" ucap mama Hana.


"Kursinya kurang mah"


"Maksud kamu" ucap mama Hana sambil mengerutkan dahinya.


"Iya kurang untuk Bi Tuti dan Bi Reni, makan bareng bareng kan makin enak"


"Tidak non, kami makan nanti saja. Non makan dulu saja" ucap Bi Sari.


"Kenapa si selalu kayak gini, akunya yang nggak enak kan. Sekarang Zahra udah nggak nafsu makan" ucap Zahra kesal dan beranjak dari tempat duduknya.


Dengan cepat Hanan meraih tangannya dan menghela nafas panjang.


"Kita lesehan di belakang sekarang" ucapnya.


Semua pandangan mata tertuju ke arah Hanan begitu juga dengan Zahra.


"Bagaimana pun, rumah ini rumahnya juga. Semua peraturan dia yang atur karena dia perempuan di sini. Saya tidak mau masalah ini menjadi besar dan berujung sebuah pertikaian. Lebih baik ikuti saja Zahra" ucapnya tanpa menatap Zahra.


"Yah benar, yang dikatakan Hanan memang tepat, ya sudah kita pindahkan semua makanan ini di belakang dan biarkan kita menjalani piknik di belakang rumah" ucap papa Danu.


"Sari, Reni dan Tuti, tolong siapkan semuanya, kita juga" lanjut papa Nanda.


Zahra hanya melihatnya kagum dan tak percaya. Tanpa ia sadari tangannya juga masih di genggam oleh Hanan.


"Bagaimanapun, semua tanggung jawab di rumah ini adalah tugasmu. Aku bertanggung jawab untuk membuatmu bahagia, sesuai dengan janjiku kepada almarhum kedua orang tuamu." gumam Hanan.


"Jangan pegangan mulu kayak mau nyebrang dong" sindir mama Hana.


Hanan dan Zahra melihat tangan mereka dan melepaskannya. Mereka juga sibuk masing-masing untuk mempersiapkan acara mendadak tersebut.


Setelah persiapan selesai, mereka makan bersama sesekali bercanda tawa. Semua hubungan terjalin dengan baik berkat Zahra yang tidak suka pemilih dan tidak membeda bedakan status orang karena dirinya yang juga berasal dari keluarga sederhana.


Hanan juga sesekali tersenyum melihat Zahra tertawa ria di sampingnya.


"Bapak kenapa senyam senyum sendiri" ucap Alvero.


"Oohh.. e-enggak papa kok, silahkan lanjut saja makannya"


"Iya pak, hati-hati ke sambar geledek ya pak"


"Maksud kamu"


"Enggak pak, bapak lanjut saja makannya"


Hanan langsung fokus dengan makanan yang sedang ia makan dan melahapnya sambil sesekali melirik ke arah Zahra.


//**//

__ADS_1


__ADS_2