
"Gue kasian sama lo, tega banget suami lo membiarkan istrinya menunggu di bawah teriknya matahari ini"
Mata Zahra terbelalak tak percaya. Dia membalikkan badannya dan kembali mendekat kepadanya.
"Ma-maksud kakak apaan"
"Udah Ra jangan pura-pura nggak tau. Gue udah tau semua tentang lo dan juga hubungan lo sama pak Hanan. Dan ya, gue bersyukur karena yang ngemilikin lo sekarang adalah orang yang jauh lebih baik dari gue. Gue bisa tenang sekarang. Oiya, lo tenang aja, gue akan rahasia in ini sampai gue tiada nanti. Jadi lo nggak usah khawatir. Gue pamit. Suami lo sudah datang. Selamat atas pernikahan lo, gue yakin lo bahagia. Assalamualaikum"
"Tapi kak..kakk"
Leon memakai helmnya dan pergi menggunakan motor nya. Tak lama Hanan pun sampai.
"Zahra, ayo"
"I-iya mas"
Zahra pun masuk ke dalam mobil Hanan.
"Maaf mas telat"
"Nggak papa mas."
"Tadi siapa Ra"
"Kak Leon udah tau semuanya" ucap nya langsung To the point karena berniat untuk memberi tahunya juga.
"Maksud kamu"
"Dia udah tau kalau kita udah nikah mas"
"Bagaimana itu mungkin"
"Dia pasti memiliki mata-mata atau mungkin dia selidiki sendiri karena dia ingin tau sendiri mas tentang aku sebenarnya"
"Sudah lah biar kan saja, kamu kepanasan tadi, maafin mas ya"
"Nggak papa mas, udah ayo jalan. Mas nggak ada meeting"
"Baru aja selesai"
"Oohh"
Hanan melajukan mobilnya dam sesampainya di depan rumah, dia langsung berpamitan kembali. Zahra masuk ke rumahnya dan dia kaget sudah ada Fany sedang menunggu nya.
"Loh Fany"
"Kok kamu baru pulang, ngapel mulu si"
"Mas Hanan jemput nya telat jadi aku ikutan telat"
"Kasian sekali"
"Udah lah nggak papa, kamu ada keperluan apa ke sini"
"Emangnya main nggak boleh"
"Boleh lah"
"Oiya Ra, nih ada oleh-oleh dari mama"
"Apa ini"
"Buka aja"
"Waaahhh.. Ada kue kering coklat, kerupuk pangsit, kue nastar juga, terimakasih banyak kaya mau lebaran aja"
"Iya, mama aku iseng bikin kue jadi bikin ini"
"Makasih banyak loh ini"
"Sekalian nih ra, kado buat kamu sama pak Hanan, aku sengaja nabung buat beli ini semoga cocok"
"Ya ampun Fan, nggak perlu repot repot segala kali, ini juga pernikahan biasa, di tahun yang akan datang kami juga merencanakan pernikahan ulang kok"
"Benarkah"
"Iya Fan"
"Iya udah ini hadiah aku bawa pulang buat nanti di tahun yang akan datang ya"
__ADS_1
"Terserah kamu aja"
"Nggak lah Ra, ini buat kamu aja lagian udah di beli kan. Masa iya di tarik kembali, ini Ra, terima ya"
"Terimakasih banyak Fan"
Zahra menaruh tas yang berisi kado di sampingnya. Dia juga mengeluarkan kue yang di bawanya.
"Kamu sama siapa ke sini"
"Aku naik bajai, kasian kalau ngajak Alvero terus"
"Kalau kamu ajak juga, kan aku yang jadi nyamuknya... Hahahha"
"Ya nggak lah, memang nya aku se tega kamu"
"Aku tega apaan"
"Ya tega ninggalin aku kawin"
"Emang harus barengan, kan nggak"
"Iya si, hahahaha"
"Eh Fan, kamu tau nggak, kak Leon udah tau kalau aku udah bersuami"
"Hah.. Serius Ra"
"Iya serius, waktu aku pulang sekolah nunggu mas Hanan dia dateng terus neduhin aku pake jaket terus bilang Gue kasian sama lo, tega banget suami lo membiarkan istrinya menunggu di bawah teriknya matahari ini."
"Wah, kok bisa"
"Nggak tau lah Fan, aku sendiri aja bingung"
"Terus perkara kamu sekarang berani sama Rena itu gimana"
"Aku kan curhat sama mas Hanan, gimana nih kalau aku di rundung lagi sama Rena, terus dia bilang, ya udah lawan aja, kamu kan berani. Jangan terlalu takut sama orang yang ngerundung kamu jika kamu takut kamu malah semakin di injak sama dia, gitu kan. Terus dia bilang lagi kalau, kita juga harus menambahkan sikap cuek jika itu perlu jika kamu nggak ingin debat, udah gitu doang"
"Iya si Ra bener, kalau lo takut, bisa bisa orang kaya Rena merajalela kemana-mana"
"Iya Fan, aku ke atas dulu mau bersih-bersih"
Zahra ke kamarnya kemudian bebersih diri. Setelah itu dia pun kembali ke ruang tamu.
"Maaf Fan lama"
"Iya nggak papa kok. Aku pamit pulang ya"
"Loh, kok udahan"
"Udah semakin sore Ra"
"Di jemput Al kan"
"Iya, bentar lagi juga dateng"
"Eh tunggu bentar ya Fan"
"Iya"
Zahra menuju ke dapur dan membawakan beberapa ubi ungu hasil dari panen sawah warisan nya.
"Ini Fan buat mama kamu. Mama kamu suka kan sama ubi ungu"
"Wahhhh... Banyak banget Ra"
"Alhamdulillah Fan, ini juga karena mas Hanan yang mengurus nya. Aku nggak tau mas Hanan ngurusin sawah"
"Kenapa nggak di tanam padi Ra"
"Lagi musim panas, air juga kan lagi sedikit jadi mas Hanan mutusin buat tanam ubi ungu aja katanya"
"Banyak Ra"
"Alhamdulillah lumayan"
"Widih, pasti almarhum orang tua kamu bangga sama menantunya di bumi"
"Amiiinnn"
__ADS_1
Suara klakson dari depan rumah Zahra pun berbunyi dan mereka pun segera keluar.
"Fany, ini berikan kepada Alvero juga"
"Oohh iya"
Fany pun menuju ke motor Alvero dan memberikan bungkusan plastik hitam kepadanya
"Apa ini"
"Ubi Ungu dari Zahra"
"Zahra makasih ya"
"Sama-sama"
"Pamit ya Ra, Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Setelah Fany dan Alvero pulang rumah Zahra kembali sepi. Kini hanya ada dia dan bi Fitri.
"Bi Fitri"
"Iya kenapa non"
"Bisa buatkan saya ubi goreng bi"
"Iya non, dengan senang hati saya membuat nya"
"Saya bantu ya bi"
"Non istirahat saja"
"Yah bibi mah, aku bosen bi"
"Iya boleh non, non cuci saja ubinya biar saya buat bumbunya dulu"
"Iya bi"
Setelah kurang lebih setengah jam ubi ungu goreng siap. Zahra pun mencicipi nya. Matanya terbelalak sambil mengangguk karena rasanya.
"Bi, gurih banget enak, makasih bi"
"Iya non, sama-sama. Sudah kan non, saya mau bersih bersih yang lain dulu"
"Saya bantu ya bi"
"Nggak usah non"
"Nggak papa bi, yuk... "
"Tapi non"
Zahra mengambil sapu dan mulai membersihkan, Bi Fitri juga ikut membersihkan rumah yang sedikit kotor. Kurang lebih tiga jam akhirnya selesai. Zahra sungguh berkeringat karena harus membersihkan rumah sebesar istana hanya dua orang.
"Berat juga ngurusin rumah ini, apalagi bi Fitri sendirian, kasian dia. Aku yang ngebantu aja sampai keringetan gini apalagi bi Fitri. Sebaiknya aku minta mas Hanan buat carikan pembantu lagi."
Setelah mereka bersih-bersih mereka pun menyiapkan makan malam.
"Bi Fitri ngga papa"
"Nggak papa non, memang nya kenapa non"
"Kelihatannya bi Fitri lelah"
"Nggak kok non, bibi mah udah biasa. Kalau non lelah, non istirahat saja"
"Nggak bi"
"Udah non, nanti non sakit terus yang kena marah saya"
"Tapi bibi nggak papa kan"
"Nggak papa non"
"Ya udah makasih banyak ya bi"
"Sama-sama non"
__ADS_1
//**//