Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Zahra, Fany dan Hanan


__ADS_3

"Oiya pak, saya punya pertanyaan. Tetapi sebelumnya saya minta maaf kalau pertanyaan saya lancang" ucap Fany sedikit ragu.


"Katakan saja"


"Bapak pengusaha 'kan? Nggak mungkin kalau bukan pengusaha rumahnya gede gini bak istana"


"Iya" jawab pak Hanan santai.


"Jadi selama ini bapak nggak di kelas karena bapak pergi ke perusahaan ya pak"


Hanan manggut-manggut.


"Tapi kenapa para siswa nggak tau pak"


"Matre" ketus Zahra.


"Maksudnya"


"Kata pak Hanan, kebanyakan wanita itu butuh uang, dan paling banyak tuh ngincer cowok yang tajir tajir"


"Elo dong Ra"


"Pengin gue baku hantam lo"


"Nggak, becanda"


"Terus Pak Hanan sama Zahra bisa deket gimana ceritanya"


"Kebetulan" jawab Hanan dengan tenang.


Sementara itu Zahra hanya diam membisu tak karuan. Pertanyaan demi pertanyaan yang begitu membuatnya tercengang, membuat seakan tubuhnya terpaku dan pikirannya yang buyar entah kemana.


"Oiya, tadi Fany tanya, bapak punya sepeda"


"Kenapa"


"Dia.."


"Kami mau main sepedaan pak besok pagi di belakang rumah bapak. Boleh kan?" lanjut Fany yang memotong omongan Zahra.


"Ada itu di gudang, tapi perhatikan dulu masih layak pakai atau nggak"


"Siap pak. Oiya pak, selama ini Zahra pernah meminta bapak buat bantu ngerjain PR nggak pak"


"Nggak"


"Rugi buanget lo Ra, kalau gue yang jadi adiknya, gue bakal minta di ajarin" gumam Fany


"Ooh begitu ya pak. Pak kami berdua nanti malam sebelum tidur mau bertanya beberapa mata pelajaran yang kami belum paham boleh pak"


"Iya boleh" jawabnya sambil manggut manggut.


Hanan sibuk berbicara dengan Fany, Zahra sendiri sibuk dengan makanannya sambil menggerutu kesal.


"Iiissshhh.. sama gue dingin, cuek, nyebelin, sama temen gue apa, di jawab ini itu.. bener bener nyebelin nih orang, pengen gue gampar .. tapi pake apa ya.. lah.. intinya pengen gue gampar tuh orang... bla..bla..blaa"


"Heiii.. nglamun mulu... di panggilin dari tadi juga" ucap Fany sambil mengetuk dahi Zahra.

__ADS_1


"Iisshh... sakit tau, main ketuk ketuk kepala orang lagi, dahi gue bukan pintu. Pintunya ada di sana tuh"


"Oohhh... kode kode buat angkat tiang ini"


"Ya udah sana angkat aja"


Zahra dan Fany sibuk berdebat. Hanan yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya dan memutuskan meninggalkan mereka berdua.


"Stop dulu stop, kok lo jadi nyolot gini. Jangan jangan lo suka sama pak Hanan"


"Jangan ngaco lo, udah lah gue males debat sama lo apa lagi nggak jelas gini"


"Pasti iya yah, lo suka kan sama Pak Hanan"


"Mana mungkin gue suka sama abang gue sendiri" ucap Zahra dan meninggalkan Fany di ruang keluarga.


"Sekarang lo adik, bisa jadi surat anak angkat papa lo sekarang bisa di cabut dan ikut masuk ke kk pak Hanan."


"Brisik lo, mending masuk kamar sana, ngomelnya sama dinding aja jangan sama gue"


Zahra meneruskan langkahnya ke kamarnya dengan cepat dan menutup pintunya dengan keras.


"*Lo suka kan sama pak Hanan"


"Lo suka kan sama pak Hanan*"


Kata kata itu terus terngiang-ngiang di telinga Zahra. Zahra berdiri di depan pintu sambil menepuk nepuk kedua telinganya. Dia mengunci pintu, kemudian berjalan cepat dan menutup wajahnya dengan bantal.


"Tidak mungkin.. tidak mungkin... tidak mungkiiinnnn" gerutunya di bawah bantal.


Tiba-tiba ada yang menarik bantalnya dengan cepat dan menghempaskan nya ke luar kamar.


Lantas Hanan yang membuka batalnya menutup kedua telinganya dengan erat sambil beristigfar di dalam hati.


"Berhenti Zahra. Beristigfarlah"


"Astagfirullah, kenapa bapak masuk kamar saya tanpa mengetuk pintu"


"Tadi kata Fany, kamu tidak membuka pintu saat dia memanggil kamu. Dia juga membuka pintu namun terkunci dan dia khawatir kamu berbuat sesuatu di kamar dan dia memanggil saya di kamar lalu saya dobrak pintu kamu dan lihat kamu sedang menutupi wajah kamu dengan bantal, otomatis saya tarik bantal kamu lah"


"Astagfirullah bapak, saya ini masih memiliki akal sehat, saya tidak akan melakukan sesuatu yang tidak Allah suka pak."


"Berarti bentar lagi lo gila dong, up"


Fany menutup mulutnya dengan rapat lalu mendapat tatapan elang dari Zahra. Perlahan Fany mundur ke ambang pintu.


"Gu-gue...ke-ke-ke kamar dulu ya, sampai ju-jumpa nanti malam" ucap Fany gugup dan langsung lari menuruni tangga.


"Bapak ngapain masih di sini, bapak juga keluar dah. Oiya pak, sekarang tuh kunci rusak kan, gimana pak, saya nggak bisa ngunci pintu lagi dong"


"Akan saya pesankan nanti"


"Iya pak makasih"


Hanan pun keluar dengan perasaan lega. Zahra kemudian menidurkan dirinya dan menghela nafas panjang.


*****

__ADS_1


Setelah makan malam, Zahra, Fany dan Hanan berada di ruang keluarga untuk belajar bersama. Rasanya bukan belajar bersama, Zahra hanya terdiam sambil menyangga kepalanya dengan tangan kirinya dan memutar-mutar bolpoint yang dia pegang dengan tangan kirinya. Hanan yang melihatnya lantas mengibaskan tangannya di depannya untuk membangunkannya dari lamunan yang tidak jelas.


"Apa kah kamu ada kesulitan" ucap Hanan.


"Ada banyak"


"Ceritakan, yang mana saja"


"Hah.."


"Lok kok malah "Hah" pak Hanan lagi tanya mana yang menurut kamu kesulitan" ketus Fany.


"O-oh.. Belum ada pak, masih bisa di pahami sendiri kok"


"Gitu, sekarang gue tanya, tadi pak Hanan bahas apa"


"Kan bilang masih bisa pahami sendiri, ya gue pahami bab lain lah"


"Terus bab apa"


"Bab..Bab..bab..." ucap Zahra sambil mencari halaman.


"Tuhkan, lo itu ngelamun. Nggak usah ngelak deh Ra."


"Nggak kok"


"Bisakah kalian diam, sekarang kita sedang belajar di sini. Kalau kalian mau main-main saya ke kamar sekarang"


"Ja-jangan pak, ganti mapel matematika ya pak"


"Boleh"


"Pak, ini pak soal kombinasi sama permutasi gimana pak" ucap Fany.


Hanan menjelaskannya hingga detail. Fany dan Zahra juga memperhatikannya dengan fokus setelah mendapatkan ungkapan dingin dari Hanan.


"Alhamdulillah.. akhirnya selesai pak, terimakasih banyak pak"


"Sudah paham semua"


"Insyaallah sudah pak. Ra, lo sendiri" ucap Fany sambil menggerakkan bahu kirinya yang disenderi kepala Zahra.


"Yah...dia tidur. Bagaimana ini pak"


"Kamu bereskan semua ini ya, sekalian bukunya Zahra. Saya akan membawanya ke kamar, kasian kalau di bangunin nanti jadi pusing"


"Iya pak"


Hanan membopong tubuh Zahra dengan pelan dan membawanya ke kamarnya. Hanan menidurkannya secara perlahan agar tidak membangunkan tidur Zahra. Tiba-tiba tangan Hanan di tarik dan tanpa sengaja Hanan mencium kening Zahra.


"Ini pak bu..ku... Hah..." Ucap Fany yang langsung menjatuhkan bukunya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


//**//


Maap ya Author gantung lagi, dan lagi-lagi baru up karena author lagi sibuk ngurusin laporan PKL (Praktek Kerja Lapangan) kemungkinan author akan jarang up nih, mohon di maafkan ya..


salamku

__ADS_1


Dewi M


__ADS_2