
Setelah makan siang, semua keluarga berkumpul bersama di ruang tamu.
"Zahra, gue mau siap siap untuk pulang ya, kata mama nggak boleh pulang kesorean soalnya"
"Yahhh... sepi lagi dong"
"Nggak, masih banyak orang kok. Ada bi Sari, Pak Johan dan pak Hanan"
"Iya udah, nggak papa. Gue nggak bisa larang lo juga."
"Ya udah aku beres-beres dulu ya"
"Iya"
"Om, Tante dan semua saya permisi"
"Iya nak silahkan" ucap mama Hana mewakili semua orang yang ada di sana"
"Mama dan papa juga pamit ya. Baik-baik kalian di rumah" ucap mama Hana.
"Zahra, besok harus semangat ya tesnya. Papa si ngga berharap banyak, yang terpenting kamu jangan lengah dan jangan mengecewakan kami"
"Iya pah, doain Zahra agar semuanya lancar"
"Pasti nak, mama sama papa pamit ya. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam" ucap Zahra, Hanan dan Alvero.
"Lo nggak pulang Al?" ucap Zahra.
"Ngusir nih tandanya"
"Nggak, maksud gue lo mau nginep sini atau gimana"
"Gue pulang nanti bareng sama Fany sekalian. Dia nggak ada yang jemput kan"
"Nggak, dia nggak bilang apa-apa ke gue. Lo kalo suka ngomong dong"
"Nggak Zahra, kalau lo di posisi Fany, pasti gue juga lakuin itu. Lagipula arah rumah gue sama dia sama kan"
"Iya si, aahh.. terserah lah. Tapi jangan di kemanain loh, di anter pulang sampe rumah, kalau perlu lo foto depan rumah dia dan kirim ke gue sebagai bukti"
"Gampang lah, gue kan cowo baik-baik ya nggak mungkin lah"
"Yang terpenting antar dia sampai di rumah, ingat itu" ucap Hanan.
"Iya pak siap. Bapak juga Zahranya di jaga, jangan buat dia nangis. Dia kan adik bapak"
"Itu pasti, bukan hanya adik, dia lebih dari seorang adik"
__ADS_1
"Maksud bapak"
"Pak Hanan, Zahra, saya pamit pulang dulu ya pak" ucap Fany yang tiba-tiba menyelinap di antara mereka.
"Gue yang anter"
"Alhamdulillah ada ojek gratis" ucap Fany sambil menggadahkan kedua tangannya.
"Kami pamit, Assalamualaikum"
"Wa'alaikumasalam" ucap Hanan dan Zahra bersamaan.
Rumah besar itu kembali sepi seperti sebelumnya. Zahra terdiam di kamarnya. Televisi yang dia biarkan menyala namun bukan televisi yang ia pandangi, tetapi televisi yang memandangi Zahra yang sedang melamunkan perkataan Hanan tadi.
"Lebih dari seorang adik".
Benar, kata-kata itu kembali terngiang-ngiang di telinga dan pikirannya. Sungguh membuatnya gundah.
"Apa benar pak Hanan mulai mencintai gue? Apa maksudnya lebih dari seorang adik, memang benar gue bukanlah adik tetapi istrinya. Tetapi jika benar dia mencintaiku, sejak kapan. Bahkan hingga hari ini dan detik ini pun dia dingin sama gue. Aaarrggghhhh.. pusing gue. Apakah gue harus menanyakan soal itu kepadanya?" gumamnya sambil memegangi kepalanya yang bersender di sofa kamarnya.
Bukan Zahra namanya jika dia tetap diam dan menunggu hingga waktunya tiba, dia memilih untuk bertanya langsung tanpa harus menunggu dan menunda-nunda.
Dia sudah berada di depan pintu kamar Hanan dan sudah memegang gagang pintu kamar Hanan, namun dia menghentikan aksinya.
"Oiya, masa gue masuk gitu aja kaya mau nggrebek orang si. Jam berapa ya sekarang? Bikinin kopi aja lah" gumamnya.
Dia berbalik badan dan hendak melangkahkan kakinya dari depan pintu tersebut, namun panggilan Hanan membuatnya menghentikan langkah kakinya.
Zahra membuka matanya lebar dan langsung membalikkan badannya.
"Iya pak"
"Kenapa kamu ada di depan kamar saya"
"Sa-saya mau menawarkan bapak kopi sekalian saya kebawah begitu pak."
"Ya boleh, terimakasih banyak ya. Saya juga tadinya mau ke bawah buat kopi, udah kamu tawarkan ya sudah. Saya titip ya"
"Iya pak"
"Terimakasih banyak"
"Iya pak, terimakasihnya simpen dulu kalau kopinya enak nanti"
Zahra meninggalkannya setelah berkata seperti itu, Hanan hanya memandanginya hingga menghilang dari arah tangga.
Sekitar 10 menit Zahra pun tiba di kamar Hanan. Tanpa mengetuk pintu Zahra langsung memasuki kamar Hanan.
"Pak Hanan ini kopinya... Astagfirullah bapak, pakai baju napa jangan cuma pakai kaos dalam gitu"
__ADS_1
"Yang penting sedikit tertutup. Memangnya kenapa"
"Bapak gimana si, sayanya yang jadinya nggak nyaman, lagian kenapa si pak nggak pake baju segala"
"Ac saya sedikit rusak, lagian kenapa harus malu, kamu kan istri saya"
"Maksud bapak apa, walaupun saya istri bapak seharusnya bapak juga harus ngerti dong. Ini pak kopinya saya balik ke kamar aja" ucapnya sambil meletakkan kopinya dengan kasar hingga berantakan di sekitar gelas.
"Nyebelin banget si" gerutunya sambil membanting pintu.
Zahra kembali ke kamarnya dan membanting tubuhnya di atas kasur.
*****
"Non Zahra.. makan malam sudah siap non" teriak bi Sari dari luar kamar Zahra.
Hening, itulah jawabannya. Berkali-kali Bi Sari mengetuk dan berteriak, hanya keheningan yang ia dapat. Tidak ada jawaban satupun.
"Ada apa bi, kok cuma di luar pintu. Masuk saja" ucap Hanan saat akan menuruni tangga yang tak sengaja melihat Bi Sari terdiam di depan pintu.
"Iya tuan"
Bi Sari pun menurutinya dan mendapati Zahra sudah tertidur dengan pulas. Bi Sari memperbaiki selimut Zahra hingga ke pundak.
....Di meja makan.
"Bi, Zahranya mana"
"Nona Zahranya sudah tidur Tuan"
"Biarkanlah, Bibi ayo makan"
"Tidak tuan, Tuan saja"
"Peraturan sekarang berbeda Bi, ayo makanlah, saya nggak enak kalau Zahra sampai marah lagi nanti. Panggil pak Johan sekalian"
"Iya tuan"
Mereka bertiga makan bersama dan hanya suara piring dan sendok yang saling berdentuman. Setelah makan malam selesai Hanan tidak ke kamarnya, dia memutuskan untuk melihat Zahra di kamarnya.
Hanan membuka perlahan pintu kamar Zahra dan berjalan perlahan menuju ke ranjangnya dan mengelus kepalanya. Hanan melihat beberapa buku yang berantakan di meja belajarnya dan memutuskan untuk membereskannya.
"Giat sekali ternyata. Semoga usaha mu akan memuahkan hasil yang baik. Aku akan berdoa dan menyemangatimu secara tidak langsung" gumamnya.
Hanan merapikan buku Zahra dengan sangat rapi di tempatnya. Dia kembali menghampiri Zahra yang tertidur pulas di kasur empuknya.
"Sampai kapanpun dan hingga aku tiada pun, aku akan tetap menunggu mu untuk menerimaku seutuhnya. Aku akan menunggunya dengan sabar sesuai dengan jalan Allah yang sudah di tentukan. Doaku adalah aku ingin membuatmu tersenyum dan tertawa serta menjagamu sebisaku. Oiya dan untuk kopi buatanmu, aku sangat berterima kasih, kopinya pas dan enak, besok pagi aku akan minta lagi. Tidurlah dengan nyenyak dan bermimpilah yang indah. Selamat malam.. murid dan adik kesayangan ku, sampai jumpa besok pagi." ucapnya sambil mengelus-elus kepala Zahra.
Hanan meninggalkan kamarnya dan meninggalkan senyum untuk Zahra. Entah apa yang membuatnya tersenyum, namun kebahagiaan sedang terpancar di wajahnya.
__ADS_1
//**//