
"Rasa ini, tak salah lagi, sudah aku letak kan hati ini kepada mu, semoga kedepannya kau tidak akan mengecewakan ku" ucap nya di dalam kamar nya.
Zahra bergegas mandi dan kemudian sarapan. Tak mendapati Hanan di meja makan hingga akhir nya dia memutuskan untuk kembali ke kamar bawah tak lupa membawa kan piring untuk Hanan.
"Haisshh tidur lagi"ucap nya lirih saat membuka pintu.
"Mas bangun kenapa tidur lagi, ini udah hampir jam 8 loh mas"
"Hmm... Kamu udah bangun"
"Udah bangun dari tadi loh mas, aku aja udah sarapan. Maaf ya mas tinggal soalnya aku udah laper"
"Ya udah istirahat atau ngapain aja lah"
"Ih mas bangun, suami aku kok pemalas banget si"
"Apa kamu bilang" ucap Hanan yang langsung membuka matanya dan duduk di hadapan nya.
"Pemalas"
"Bukan"
"Suami"
Hanan seketika memegang kening Zahra dan Zahra mengerutkan dahinya heran.
"Ngapain si mas, aku nggak sakit" ucap nya sambil menaruh tangan Hanan pelan.
"Soalnya mas mimpi indah banget"
"Mimpi apa"
"Kamu nyatain cinta ke mas"
Seketika Zahra kaget dan menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa" tanya Hanan heran.
"Itu bukan mimpi mas, itu beneran Isshh.. Udah lah aku mau makan camilan"
"Benarkah, coba katakan"
"Aku mencintai dan menyayangi mas Hanan, sudah?"
"Ini bukan mimpi kan"
"Makanya bangun dulu"
Hanan bangun dari tidurnya dan memegang makanan Zahra.
"Cuci muka dulu Isshh.. Sekalian mandi sana" sambil merebut piring yang sudah di tangannya.
"Tadi di suruh makan, lagi pula baju mas di atas"
"Ya udah sana ke atas"
Hanan mengangguk dan berjalan ke kamarnya sambil sempoyongan. Sementara itu Zahra membereskan kamar itu dan memutuskan untuk ke kamar Hanan.
"Wihhh, udah rapi, mau kemana"
"Kerja"
" Tapi bukannya mas di suruh libur"
"Bukan ke sekolah, tetapi ke kantor. Hari ini ada rapat penting bareng papa"
"Oohh, ini mas sarapan nya. Oiya mas besok libur kan"
"Memangnya kenapa"
"Besok Alvero sama Fany mau ke sini latihan badminton, mas bisa kan ajarin kami"
__ADS_1
"Buat lomba ya"
Zahra mengangguk.
"Insyaallah ya.. "
" Iya mas, makan dulu mas biar semangat kerjanya"
"Iya, terimakasih ya"
*****
Makan siang sudah berlalu, dan Zahra benar-benar sangat bosan sekarang. Dia tengah duduk di ayunan di belakang rumahnya. Dia menghela nafas berkali-kali sambil melihat sekeliling.
"Mama, mbak Wina... Kalian ke sini" ucap Zahra semangat.
"Apa kabar kamu nak"
"Alhamdulillah sehat mah, mama sama mbak Wina apa kabar"
"Alhamdulillah, kami juga sehat"
"Dede Indri ikut, sini sama kakak yuk. Kakak kangen sama Indri, oiya, kakak ada hadiah buat Indri, mama, mbak, masuk yuk"
"Yuk"
Mama Hana merangkul kedua menantunya dan masuk ke dalam rumah.
"Mama sama mbak Wina ada perlu apa sampai repot repot datang ke sini"
"Mama sama mbak Wina cuma nengok keadaan kamu aja. Mama sebenarnya juga bosen di rumah, untung Wina datang bersama Indri dan mengajak mama ke sini"
"Oohh begitu mah"
"Oiya Zahra, bagaimana perkembangan hubungan kamu sama Hanan, sudah lebih baik bukan, nggak kaya dulu" tanya Wina
"Insyaallah mbak"
Mereka semua pun berbincang hingga menjelang makan malam. Tiga mobil dengan merek yang berbeda memasuki pekarangan Hanan. Agak canggung bagi Zahra, namun entah mengapa itu terjadi, dia tidak tau.
"Iya pah benar, terasa lebih hidup"
"Bagaimana kalau malam ini kita menginap di sini" ujar nya.
"Terserah yang punya rumah ini dong pah" ucap Hendra.
"Boleh aja, tergantung sama Zahra nya nyaman atau nggak" ucap Hanan.
"Mas gimana si, ya tentu boleh banget, Zahra malah suka ramai begini. Rumah ini berasa hidup"
"Ya sudah malam ini kita menginap di sini" ucap papa Nanda.
"Kenapa hanya malam ini, setiap hari juga Zahra nggak masalah kok."
"Kami nggak bisa lama-lama di sini, karena takut mengganggu kalian berdua"
"Nggak kok bang Hendra, Zahra seneng kok, banget malah. Oiya Zahra pamit dulu ya, mau nyiapin makan malam"
*****
Keesokan paginya, Zahra bangun lebih awal dan sholat subuh. Setelah subuh dia pun memutuskan untuk menyiapkan makan pagi dan di bantu oleh bi Sari.
Harum yang sangat menyengat di sekitar dapur. Hanan yang merasa haus membawa dirinya ke dapur karena persediaan air di kamarnya habis.
"Zahra, kamu bangun pukul berapa "
"Sehabis subuh, sebentar lagi makanan siap, mas mandi kemudian sarapan dengan yang lain"
"Iya"
Tak lama mama Hana datang dan menantunya. Setelah makanan siap, keluarga itu langsung berkumpul di meja makan.
__ADS_1
Setelah sarapan, mereka semua berkumpul di belakang rumah sambil bermain dan berolahraga bersama.
"Assalamualaikum" ucap Alvero dan Fany.
"Wa'alaikumsalam"
"Lagi rame banget ternyata, wah udah di siapin pak semuanya"
"Sudah, sebelum di mulai, kalian pemanasan dulu biar nggak cedera"
"Wah bakalan seru hari ini" ucap Hendra sambil memangku Indri.
"Yuk Zahra, Fany, semangat ya kalian" ucap Wina.
Semuanya bersemangat untuk menyaksikan latihan badminton antara Zahra dan kedua temannya. Dengan telaten Hanan menjelaskan sebuah taktik dan teknik agar bisa mengalahkan lawan.
Mereka semua pun bertanding. Hanan berpasangan dengan Alvero dan Fany dengan Zahra. Semua orang di sana bersorak bersama ketika masing masing kelompok mendapatkan poin.Sekitar setengah jam main, mereka pun beristirahat sejenak.
"Ra, enak ya di kelilingin orang baik"
"Iya bener, nggak semua orang bisa ngerasain sebahagia dan seberuntung diriku"
" Semoga saja, suatu saat nanti calon mertua gue sebaik orang tua kamu Ra"
"Aminnn, gue doain yang terbaik buat lo"
"Lo tau nggak Ra, terkadang gue berfikir, jika suatu saat nanti lo sama pak Hanan saling mencintai bagaimana? Apa yang lo lakuin?"
"Deg" Jantung Zahra langsung berdetak kencang.
"Menurut lo gimana"
"Ya kalau udah sama-sama suka ya nggak papa, kan udah tau sifat masing-masing"
"Kalau benar adanya begitu gimana"
"Maksudnya ra"
"Aahhh.. Lupain, dan jika itu terjadi, biar lah takdir yang menentukan, dan kau pasti akan tau apa maksud ku"
"Apaan Ra, kalau ngomong yang jelas dong"
"Kan tau sendiri gue kalau ngomong terbelit belit"
"Iya lah gue maklumin, pak lanjut yuk"
"Nggak lah, gue masih cape"
"Ayo lah Ra"
Zahra berdiri dan tanpa sebab, kakinya kamu dan Hanan yang di samping nya dengan cepat menangkap Zahra.
"Astagfirullah Zahra" ucap mama Hana panik.
"Aduh, mas, sepertinya kaki aku kram"
"Mas antar ke kamar, kalian lanjutkan saja latihannya"
Hanan membopong tubuh Zahra dan meletakkan nya di ranjangnya dengan pelan. Dia pun mengambil minyak urut dan mengoleskannya di kaki Zahra sambil memijatnya.
"Hhiissttt.. Mass.. Sakit tau jangan di tekan dong"
"Kalau nggak di tekan nggak di pijat dong namanya"
"Ya pelan-pelan"
"Zahra, lihat tuh kupu-kupunya masuk ke dalam"
Zahra seketika mendongak ke atas dan mencari kupu-kupu yang Hanan katakan, dengan cepat Hanan menekan kaki Zahra dengan keras. Zahra yang merasakan kesakitan langsung menjerit dengan keras.
" aaaaaaaaaaa..... Aaa.. Aa.. Aa.. Udah nggak sakit mas"
__ADS_1
"Makan nya jangan bawel, istirahat dulu ya, nanti sambung lagi"
//**//