Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Kecurigaan -1


__ADS_3

Zahra bangun lebih awal dari Hanan. Masih dalam posisi yang sama, saling berhadapan dan tangan yang bergandengan. Waktu yang masih malam dan hanya ada cahaya lampu tidur yang menerangi mereka. Zahra sesekali tersenyum ke arahnya sambil mengingat waktu bagaimana dia bisa bersama Hanan hingga saat ini. Mengusap wajahnya menggunakan tangan kirinya dengan lembut.


Hanan yang merasakan sentuhan lembut tangan Zahra, seketika langsung mengerjapkan matanya dan melihat ke arahnya, tersenyum kepada Zahra dan tak lupa mengucapkan...


"Good morning my wife.."


Zahra tersenyum tanpa mengubah posisi dan tangan yang masih di pipi Hanan.


"Good morning too.. "


"Sekarang sholat subuh yuk"


"Tentu" ucap Zahra semangat.


Zahra berwudhu di kamarnya sendiri dan begitu pula Hanan untuk mempercepat waktu mereka. Pukul 5 baru mereka selesai sholat dan Zahra tidak kembali ke kamarnya namun menetap di sana sambil menonton tv.


"Kamu nggak mandi"


"Nanti lah mas, lagian baru jam 5. Sarapan juga belum di buat kan di bawah"


"Iya terserah"


"Mas mau mandi ya, ya udah aku balik ke kamar"


"Mas nanti, masih terlalu pagi"


"Oiya mas, di lemari mas masih ada ruang kan"


"Memang nya kenapa, kamu mau pindah ke sini"


"Ya kalau boleh"


"Kalau mau pindah, besok besok ya, mas mau make over dulu kalau kamu pindah sini. Pasti kamu bosen kan liat semua kamar yang hampir sama cuma warna perpaduan hitam, abu dan putih"


"Kok di make over dulu, nggak usah juga nggak papa kok"


"Mas mau memulai semua awal yang baru dengan kamu, mas mikirnya waktu kamu tidur sendiri itu mas anggap kamu sebagai adik mas. Karena kamu udah mau tidur di sini jadi mas anggap kamu sebagai istri mas seutuhnya. Jadi... "


" Jadi" ucap Zahra heran.


"Kamu mau di make over gimana kamar nya"


"Terserah mas"


"Kamu suka warna apa"


"Pink, mas sendiri"


"Ya seperti yang kamu lihat di kamar ini"


"Oohh, udah mau setengah enam mas, aku mandi dulu"


"Iya"


*****


Tak ada percakapan di dalam mobil, seperti biasa mereka hanya diam, enggan untuk mengatakan sesuatu hingga akhirnya mereka pun sampai di sekolah. Masih sepi dan belum ada seorang pun.


"Mas Hanan, aku buka pintu lab"


"Ini kuncinya"


"Aku duluan mas, Assalamualaikum. Eh tunggu mas, itu di pipinya ada apa mas. Coba deh ngadep sana dulu"


Hanan pun menurutinya dan tiba-tiba Zahra menciumnya dan langsung berlari keluar dari mobil Hanan. Hanan memegang pipinya sambil tersenyum. Dia pun menatap kepergian Zahra yang sudah menuju ke arah tangga.


Hanan pun turun dari mobilnya dan menuju ke ruangannya sendiri yang berada di lantai 3. Sekitar 15 menit, Zahra pun tiba di ruangan Hanan.

__ADS_1


"Ini mas kuncinya, aku numpang sebentar ya mas, soalnya belum ada yang datang"


"Lama juga nggak papa"


"Nggak papa"


"Mas kok keliatannya sibuk banget, ada apa mas"


"Biasa dari kantor"


"Kenapa, ada masalah. Akhir-akhir ini kok mas kayaknya sibuk banget gitu loh"


"Ya namanya juga orang kerja, cari nafkah pasti sibuk"


"Mas nggak ada yang di sembuyiin kan dari aku"


"Nggak ada kok. Sana ke bawah nanti kak Leon datang"


"Iya mas, ini juga mau ke bawah. Apel kan?"


"Ini juga lagi apel"


"Ih mas, maksudnya itu di bawah"


"Iya, udah kamu ke bawah, udah mulai rame"


"Iya mas, Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Di saat dia turun dari tangga lantai 3,Zahra berpapasan dengan Fany dan kedua teman akrabnya.


"Bener kan, pasti di ruangan nya pak Hanan" ~Erina.


"Sebenarnya gue udah tau, tapi buat nemenin gue ke sini"


"Bilang dong, pasti gue temenin" ~Intan.


"Kamu kan udah ngapel duluan"~Erina.


"Dia kan kakak aku, masa iya di apelin. Udah yuk turun"


Mereka berempat turun dan langsung menata diri mereka di lapangan tengah dan apel langsung di mulai beberapa saat setelahnya.


Tak ada percakapan dalam apel, apa daya kelas 10 yang hanya sebagai Junior yang hanya bisa di tindas oleh OSIS. Apa lagi sekarang yang berjaga di belakang kelasnya adalah Sella, bergerak sedikit saja langsung ia tarik dan di bawa ke depan apel. Sungguh menyebalkan bukan, namun demi Zahra menjaga nama baiknya yang kali ini di hadapan para murid dan gurunya, dia terpaksa diam dan bersenandung di dalam hati.


Tibalah waktunya Zahra di panggil sebagai juara ke dua lomba Badminton lalu setelah nya Sella juga di panggil. Hanan yang memberikan hadiah tersebut. Pertama ia memberikan nya kepada Fany kemudian kepada Zahra tidak lupa sambil di foto sebagai dokumentasi.


Setelah apel selesai, mereka kembali ke kelas dan melanjutkan bersih-bersih untuk persiapan besok.


"Fany, Alvero.. Sini" ucap Zahra.


"Kenapa" jawab mereka berbarengan.


"Kalian cepet cepet ijin sama orang tua kalian ya"


"Kenapa, kita jadi diajak ke Bali" ucap Fany semangat.


"Iya jadi"


"Beneran, kaga bohong kan lo" ucap Alvero tak percaya.


"Kapan Ra"


"Entahlah, nanti gue tanya sama mas Hanan"


"Tapi jujur nih, gue nggak enak sama pak Hanan" ucap Alvero.

__ADS_1


"Gue juga nggak enak, tapi gimana ya.. Ya gitu lah.. " ucap Zahra.


"Alhamdulillah di ajak ke Bali Ra, sekali-kali"


"Iya Fany, alhamdulillah"


"Cuma di ajak Bali bangga, nih gue mau Jepang" ucap Rena sambil memamerkan tiket nya.


"Cuma di miniatur Jepang kan" ucap Alvero.


"Kagak lah ya, asli dong, mending tunggu aja di instagram aku..."


Sari pergi dari hadapan mereka dan Zahra lebih memilih untuk tidak menghiraukannya.


"Bukankah Rena terlihat aneh. Dari lagaknya dia sepertinya melakukan sesuatu hal yang tidak di lakukan oleh orang lain"


"Maksud kamu Al" ucap Zahra bingung.


"Ih Ra, masa lo nggak maksud si, kelihatannya dia merencanakan sesuatu yang berbahaya atau membahayakan orang lain"


"Sepertinya begitu, oiya... Kalian sore ini datang ke rumah gue ya, gue mau ngomong sama kalian mengenai hal tentang Rena"


"Kenapa nggak ngomong sekarang aja" ucap Fany.


"Bentar lagi pulang, nggak ada waktu buat cerita panjang mengenai apa yang aku katakan sekarang"


"Oke Ra, gue gas ke rumah lu sore ini"


Zahra lebih memilih menuju ke parkiran sambil menunggu Hanan. Sedangkan Hanan sendiri masih mondar mandir mengunci pintu laboratorium. Setelah itu dia pun bergegas menuju ke parkiran.


"Maaf lama"


"Ngga papa mas."


Zahra pun masuk ke mobil begitu juga Hanan dan langsung meluncur keluar dari sekolahnya.


"Mas, aku ingin secepatnya memberi tahu tentang hubungan kita yang sebenarnya kepada Fany dan Alvero, apakah boleh"


"Itu terserah kamu, yang terpenting mereka bisa menjaga rahasia terbesar kita saat ini"


"Mereka bisa di percaya kok mas. Mereka kan sahabat aku. Karena takutnya mereka tau dari orang lain dan menjadi lebih kecewa kepada kita"


"Coba nanti, kita hanya bisa merencanakan, belum tentu Allah menyetujui nya."


"Aku ngajak Alvero dan Fany sore ini nggak papa"


"Nggak papa kok, emang nya mau nanti memberi tahunya"


"Belum tau mas, dan satu lagi"


"Apa.. "


"Aku udah ngasih tau Fany dan Alvero tentang liburan ke Bali, nggak papa"


"Iya nggak papa, mas udah beli kok tiketnya. Mas juga mau ngasih tau kamu supaya kamu beritahu kedua teman kamu, syukur lah kalau kamu sudah memberi tahu mereka"


"Mas mau bawa kapan"


"Senin besok, mereka selama 3 hari, kita selama 1 minggu"


"Lama amat mas"


"Mas kebetulan juga ada bisnis di sana, kamu mau 1 minggu di rumah nggak ada mas, pasti bosen kan. Jadi mas ajak ke bali"


"Pasti cuma alasan mas"


"Ya nggak lah, beneran Zahra. Ya sudah mau beli apa buat camilan di rumah"

__ADS_1


"Terserah mas."


//**//


__ADS_2