
Zahra sungguh takjub saat melihat pemandangan pantai berpasir putih dan air laut yang berwarna biru. Zahra melepaskan tangan Hanan dan merentangkan kedua tangannya dan menutup matanya ke arah laut, membiarkan angin menembus dirinya. Hanan yang melihatnya memutuskan untuk memotret Zahra dari segala arah.
Begitu dia memotret dari depan, Hanan ketahuan dan langsung menyimpan ponselnya, Zahra mencoba merebut nya, namun mereka malah terhuyung dan jatuh.
Hanan yang melihat ombak datang menghampiri mereka, langsung menangkup tubuh Zahra dengan erat dan melindungi nya dari terpaan ombak. Tatapan mereka bertemu setelah ombak menyusut. Zahra langsung mendorong Hanan dan membersihkan pasir yang ada di bajunya.
"Yah kan kotor, masa iya aku mandi 3 kali hari ini Isshh.. Mas sih, nyebelin banget pake nyuri kesempatan segala lagi"
"Nyuri kesempatan apa"
"Mas tadi motret aku kan, jangan bo'ong deh"
"Kalau iya, memang nya kenapa"
"Isshh mas, hapus nggak"
"Ntar mas kirim ke kamu"
"Moga aja hpnya rusak"
"Oiya hp"
Hanan memeriksa handphone nya dan untungnya alat elektronik itu kedap air.
"Alhamdulillah nggak"
"Hapus nggak mas"
"Nggak mau"
"Mmaass.... Sini handphone nya"
Zahra berdiri dan mencoba mengambil ponsel Hanan, Hanan menghindari nya dan terjadilah kejar kejaran.
"Lagian Kenapa minta di hapus"
"Aku jelek"
"Kamu Cannttiikkk"
"Mmmaassss..."
"Mukanya merah... "
"Mmmaassss... "
" Hmmm.. "
Suara deheman membuat mereka berhenti saling mengejar. Alvero dan Fany kini tengah menatap mereka penuh kecurigaan.
"Giliran pak Hanan yang ngajak, kamu ke sini" keluh Fany.
"Pak Hanan juga sama, giliran kami yang ngajak malah ngga mau, taunya ke sini sama Zahra"
"Bapak kasihan kalau Zahra nggak di ajak, nanti nyariin waktu kalian udah ke sini terus nyasar gimana"
"Terus kalau kami yang nyasar gimana pak" tanya Fany.
"Ada Alvero yang bisa jaga kamu"
"Zahra, lagian kenapa kamu di ajak kita ngga mau, sekali di ajak pak Hanan mau, gandengan lagi kaya orang mau nyebrang, awaaasss.... Nanti jatuh cinta loh"
"Awaasss...
Nanti jatuh cinta...
Cinta kepada diriku...
Jangan-jangan ku jodohmu..
__ADS_1
Kamu....
Terlalu membenci...
Membenci diriku ini...
Awas nanti jatuh cinta...
Padaku.. "
Fany yang mendengar nya malah bernyanyi dengan suara sumbangnya, dan membuat Alvero dan Zahra menutup kedua telinganya.
" Fany, kalau nggak bisa nyanyi nggak usah nyanyi deh mendingan... Daripada lo buat gendhang telinga kita pecah bisa parah" keluh Alvero.
"Tapi suara kamu tadi merdu kok Fan" puji Hanan.
"Terimakasih pak.. Hehehe, ada juga yang muji gue"
"Yeeehhh.. Jangan kepede en loh, maksud pak Hanan itu merusak dunia"
Ucapan Alvero membuat Hanan dan Zahra tertawa. Fany yang kesal langsung memukul Alvero, namun bukan Alvero yang kena pukul, tetapi orang lain.
"Maaf kak, saya nggak sengaja"
"Nggak papa kok, kalau kamu mau lanjutin gebuk, saya persilahkan"
Fany yang keburu kesal langsung berlari mengejar Alvero. Zahra masih tertawa melihat tingkah mereka berdua, namun Hanan terdiam saat orang itu memanggil nya sehingga tawanya juga terhenti
"Hanan"
"Loh Thomi, kamu di sini juga"
"Iya lagi liburan, kamu apa kabar"
"Alhamdulillah sehat"
"Alhamdulillah sehat juga kok. Geya adik kamu ikut" ucap Hanan sambil menerima uluran tangan Thomi.
"Dia nggak ikut, dia lagi liburan sama teman-temannya ke London. "
"Ohh..."
"Oiya, dia siapa?"
"Perkenalkan, dia istri aku, Zahra "
"Aku di kenalin secara blak blakan sama dia, dia siapa?"
"Saya Thomi, anak mak Sari sama abah Johan"
"Oohh... Anaknya bi Sari sama pak Johan" gumamnya.
Thomi mengulurkan tangannya, Zahra yang mengerti menarik tangan Hanan dan bersalaman mewakili dirinya.
"Oiya Hanan, sebelumnya aku berterima kasih banyak dengan biaya sekolah yang kamu berikan kepada adikku dan sudah mau menjaga kedua orang tua ku"
"Tidak apa Thom"
"Aku dengar perusahaan papa kamu gulung tikar, jadi sebagai balas budi ku aku yang akan membeli perusahaan itu dan akan membantu kamu untuk menyelidiki siapa yang telah membuat perusahaan papa kamu bangkrut"
Zahra kaget dengan omongan Thomi, dan jujur, Zahra belum tau soal itu.
"Apa mas!!!.... BANGKRUT!!! "
"Ma-maaf Zahra, mas nggak beritahu kamu karena mas takut kamu ngebatalin liburan kita ke sini"
"Mas Hanan nyebelin"
Zahra kesal dan memutuskan meninggalkan Hanan di tempat. Dia berlari menuju ke tempat menginap nya.
__ADS_1
"Hah... Jadi, kamu belum beri tau istri kamu. Kamu gimana si Nan, seharusnya kamu jangan egois. Kamu nggak bilang kalau kamu lagi rahasia in. Maaf ya karena aku liburan honeymoon kalian kacau"
"Kami lagi nggak honeymoon, kami cuma liburan, itu teman Zahra"
"Kelihatannya mereka masih anak sekolah"
"Kita bahas itu nanti, aku mau susul Zahra dulu. Alvero.... Fany..... Bapak ke penginapan dulu"
Alvero dan Fany hanya menjawab dengan anggukan. Hanan sendiri berlari secepat mungkin menuju ke penginapan. Thomi juga mengikuti nya.
"Zahra... Zahra... Buka pintunya... Zahra.."
"Mungkin dia lagi mandi dulu. Tunggu aja sekitar setengah jam. Mari kita bicarakan ini di ruangan ku"
"Ruangan ku?"
"Iya, ini hasil jerih payah ku selama di Bali"
"Wah, sudah jadi pengusaha sukses. Aku akan mandi terlebih dahulu"
"Ya sudah aku ikut ke kamar mu"
Sekitar 5 menit Hanan mandi dan sudah siap dengan memakai baju santai nya.
"Jadi, kita mulai dari mana"
"Mulai dari teman-teman Zahra"
"Teman-teman Zahra memang masih sekolah, sama seperti Zahra"
"Apa.. Kamu nikah sama anak sekolah"
"Ceritanya begini"
Hanan menceritakan setiap detail dari kejadian 2 bulan yang lalu dengan singkat.
"Oohh.. Menikah karena wasiat. Mereka nggak curiga gitu"
"Mereka curiga terutama dengan cincin yang tersemat di jari ini"
"Mungkin Geya bisa bantu kamu juga dalam hal ini"
"Maksud kamu"
"Gini, Geya kan umur nya masih di atas Zahra sekitar umur 20 tahunan, jadi mereka nggak bakalan curiga lah. Tapi nggak tau juga di istri kamu setuju atau nggak"
"Kalau kamu mau beli perusahaan DE, kamu juga pindah ke Jakarta kan"
"Iya, sekalian gelar pernikahan di sana"
"Oohh.... Syukurlah jika udah dapat pasangan"
"Aku iri sama kamu, lebih muda dari aku tapi malah udah nikah duluan... Hahahaha... "
" Alhamdulillah, oiya udah setengah jam lebih, aku ke kamar Zahra dulu"
"Aku ikut sekalian minta maaf, aku nggak enak soalnya"
Hanan mengangguk dan menyetujui nya. Mereka berdua pun pergi ke kamar Zahra.
"Zahra... Zahra... Assalamualaikum Zahra... Zahra buka pintu nya mas mau ngomong. Mas minta maaf udah rahasia in ini sama kamu, mas sangat minta maaf, Ra, tolong buka pintu nya"
Zahra membukanya dan setelah membukanya dia langsung duduk di bangku yang tersedia.
"Nan, mending aku nanti aja ya bicaranya, kalian selesaikan dulu masalah kalian baik-baik"
Thomi menutup pintu dengan pelan dan Zahra hanya menangis tanpa memandang Hanan.
//**//
__ADS_1