
Waktu lomba Zahra pun tiba dan tibalah waktunya dia bertanding. Dia bertanding dengan kelas 11 PBS di babak final ini. Tak salah lagi, yang bertanding saat ini adalah orang yang dimana pernah mengoloknya waktu itu, siapa lagi kalau bukan Sella.
Teriakan demi teriakan terus memenuhi lapangan tengah sekolah. Para siswa yang melihat pertandingan meniup balon dan estafet tepung berpindah ke lapangan tengah untuk menyaksikan pertandingan sengit tersebut.
Hanan menjadi wasit di sana. Hanan memberikan semangat kepada Zahra dengan menganggukan kepalanya, Zahra membalasnya juga dengan menganggukkan kepalanya. Sungguh pertandingan yang menegangkan. Nilai selalu berselisihan di antara mereka.
"Ini adalah 2 angka terakhir dan kelas PBS teringgal 2 poin. Yuk semangat semua" ucap guru olahraga yang menjadi moderator pertandingan.
Zahra memegang kok sekarang dan bersiap mengancang anang untuk menyervis kok dan setelah peluit di tiup, Zahra mulai permainannya. Mereka masih terus beradu dengan ketatnya. Hingga kata "Aww" membuyarkan ketegangan mereka.
"Aww.. "
"Fany" teriak Zahra.
"Fany" teriak Alvero juga.
Secara bersamaan orang yang mengenalnya juga menyebutkan namanya dan langsung bergegas menuju ke arah Fany yang terduduk lemah di atas tanah. Tanpa pikir panjang Alvero juga langsung membopong Fany dan membawanya ke UKS.
"2 banding satu, bagaimana ini pak Hanan" ucap sang guru bagaimana.
"Pertandingan belum selesai hanya tinggal 1 angka saja dan ini babak penentuan bagi mereka berdua" lanjut nya.
"Kita ubah menjadi satu banding satu saja, tidak mungkin untuk melanjutkan nya besok. Besok akan ada pembagian hadiah dan persiapan pengambilan rapot untuk lusa"
Guru olahraga pun mengangguk dan memanggil semuanya untuk tenang.
"Baik untuk kelas 11 PBS, siapa yang akan bertanding dengan Zahra"
"Biar saya aja pak" Ucap Sella.
"Baiklah kalau begitu, bersiaplah"
"Gue akan kalahin lo Ra, lihat aja" gumam Sella.
"Dengan bismillah, semoga aku bisa memenangkan pertandingan ini" gumamnya Zahra.
Begitu Sella melemparkan koknya, Zahra dengan tenang dan fokus menerimanya. Kok terpental ke arah Sella dan melambung tinggi hingga Zahra tidak bisa melihatnya, setelah itu kok pun mendekat dan dengan cepat dia menghadangnya. Dan tak dia sangka, kok itu terjatuh di daerah nya dan artinya Sella yang memenangkan pertandingan tersebut.
"Yes.. " ucap Sella
Sorak sorai terus memenuhi lapangan tengah tersebut, sedangkan Zahra hanya tertunduk lesu karena tidak berhasil mengalahkan kelas 11 PBS tersebut. Kemudian dia pun bersalaman dengan Sella seperti arahan guru.
"Selamat Zahra, lo nggak bisa menandingi gue dalam hal apapun, dan pasti pak Hanan kecewa sama lo karena udah gagal dalam permainan ini. Dia akan kecewa karena usahanya sia-sia telah mengajarkan nya kepadamu"
"Tidak apa, setidaknya Alvero sudah menang dalam tunggal putra"
"Hmm.. Mungkin gue nggak bisa menindas lo di depan semua orang , Namun gue bisa ngehancurin lo secara perlahan"
"Gue nggak peduli" ucap Zahra dan melepaskan tangannya.
__ADS_1
Zahra pun meletakkan raketnya dan menuju ke UKS untuk menemui Fany.
"Fan, lo nggak papa kan"
"Gue nggak papa kok"
"Maaf ya Fan, gue nggak menang"
"Nggak papa Ra, mungkin belum rejeki, masih ada 2 tahun lagi kan"
"Tapi Fan, gue takut mas Hanan kecewa"
"Pak Hanan nggak bakalan kecewa kok, lagipula ini kan bukan pertandingan antar negara jadi santai aja"
"Iya Ra, lo tenang aja pak Hanan nggak kan marah kok. Daripada lo nggak tenang coba ngomong sama dia" ucap Alvero.
"Iya, gue temuin mas Hanan dulu"
Zahra keluar dari ruangan UKS dan menemui Hanan.
"Pak Hanan maaf mengganggu"
"Nan, ada rapat penting sekarang" ucap pak Agus.
"Aku ke sana, maaf Zahra bapak tinggal sebentar" ucapnya dan meninggalkan Zahra begitu saja.
"Apa benar mas Hanan kecewa dengan ku" gumam Zahra.
Zahra menatap kepergian Hanan yang sudah melalui nya dan tiba-tiba seseorang mengagetkan lamunannya.
"Zahra.. "
"Astagfirullah, kak Leon"
"Lo tadi hebat banget loh, ajarin gue ya lain kali"
"Kenapa kakak di sini, mending kakak gabung sama yang lain, gue cape. Gue permisi"
"Sampai kapan lo menghindari gue Zahra, memangnya siapa yang sudah ada di hati lo sehingga lo ngejauh dari gue"
Zahra memandang ke dalam UKS takut kedua sahabatnya dengar. Dia pun membalikkan badannya dan menarik Leon ke arah tangga yang sedang di renovasi.
"Zahra awas... " ucap Leon dan menarik Zahra dan memegangi tubuh Zahra.
Mereka berdua bertatapan lekat, dan Zahra yang masih sadar dia langsung bangun dan mendorong tubuh Leon.
"Jangan pegang-pegang gue"
"Kenapa, apakah dia di sini? Apakah dia melihat kita, dimana dia"
__ADS_1
"Sudah gue katakan, kakak jangan ikut campur masalah gue."
"Katakan Zahra, siapa dia dan kenapa lo nggak mau memberi tau gue"
"Memangnya apa yang akan kakak dapatkan setelah mengetahuinya, apakah kakak akan memanfaatkan nya dan melukainya seperti yang kak Zeon lakukan kepada ku"
"Mana mungkin gue akan melukai orang yang sudah membuat lo bahagia dan nyaman. Mana bisa gue ngelukain orang yang udah buat lo tersenyum dan berubah kayak gini. Gue akan dukung lo jika orang itu membuat lo bahagia. Selagi lo bahagia, gue nggak akan ngelukain apa-apa ke dia, jadi siapa yang udah membuat lo sebahagia ini sekarang, tolong beritahu gue agar gue tenang kedepannya"
"Maksud kaka"
"Bukan apa-apa, tapi tolong katakan kepada kaka siapa dia agar kakak bisa tenang setelah mengetahui nya, apakah kakak kenal dengannya"
"Sangat kenal kak, oke akan gue beritau, dia di sekolah ini dan kakak bisa cari tau sendiri tentang nya. Dan jika sudah mengetahui nya, jangan sebar kepada siapapun termasuk Fany dan Alvero"
"Jadi mereka berdua belum mengetahui nya"
Zahra menggeleng.
"Baiklah, aku akan segera mengetahuinya dan aku berjanji tidak akan memberi tahu kedua temanmu itu, Alvero dan Fany"
"Apa yang kalian sembunyikan dari kami" ucap Alvero.
"Kalian jadian, waah benarkah... Kenapa kalian tutupi dari kami" ucap Fany semangat.
"Se-se-sebenarnya... " ucap Zahra gugup.
"Kami nggak jadian, kami hanya akan makan malam bersama nanti. Dan gue nggak mau kalian ikut"
"Oohh...kalau urusan kencan gue kaga ikut, oiya Ra, lo udah di jemput tuh sama pak Johan, gue pulang dulu ya" ucap Fany.
"Pak Johan" ucap Zahra bingung.
"Udah ya, kami pulang dulu" ucap Alvero.
"Lo tumben nggak sama pak Hanan, ada masalah"
"Nggak kok kak, kalau begitu gue pulang dulu, kasian pak Johan nunggu"
Leon hanya mengangguk kecil. Sedangkan Zahra berjalan terburu-buru ke kelasnya dan mengambil tasnya kemudian dia langsung menuju ke mobil.
"Pak ko tumben bapak yang jemput, mas Hanan kemana"
"Saya nggak tau non, memangnya nggak ngasih tau non"
"Nggak pak"
"Non nggak usah khawatir, mungkin karena tuan sibuk di kantornya dan ada urusan mendadak"
Zahra mengangguk sambil menampakkan senyum terpaksa nya lalu memilih untuk mendengarkan lagu agar pikiran nya tetap positif.
__ADS_1