Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Gulung tikar


__ADS_3

Hanan sampai di kantornya sekitar setengah jam dari rumahnya. Lagi-lagi meeting mendadak. Entah apa yang terjadi dengan kantor papanya sekarang.


Namun, bukan meeting yang saat ini terjadi. Saat Hanan sampai di perusahaan tersebut, papa Nanda dan Hendra di usir dari perusahaan tersebut dan perusahaan yang sudah bertuliskan "PERUSAHAAN INI DISITA"


"Maaf pa, saya telat"


Papa Nanda hanya tersenyum kecut kepada Hanan sambil menepuk bahu Hanan.


"Sekarang mari kita pulang"


Papa Hendra masih berusaha tetap tersenyum kepada kedua putranya. Mereka pulang ke rumah papa Hendra terlebih dahulu, dan sesampainya di sana, bank juga menempelkan tulisan


"RUMAH INI DISITA"


Pada saat papa Nanda turun, mama Hana memeluk tubuh nya sambil terisak.


"Bagaimana ini bisa terjadi, apa yang terjadi dengan kantor papa"


"Perusahaan papa gulung tikar karena terjerat hutang 50 miliar kepada bank"


"Untuk apa papa meminjam uang di bak pa"


"Papa nggak melakukan nya, papa juga tidak tau kenapa ini bisa terjadi"


"Mas Hendra" teriak Wina yang turun dari taksi.


"Kenapa kamu di sini"


"Hiks.. Rumah hiks.. Di sita Bank"


Mama Hana yang sudah tak kuat langsung pingsan dan dengan cepat tanggap, papa Nanda membawanya ke mobil Hanan yang masih tersisa.


"Hanan, dan kamu sayang, sekarang pergi lah ke rumah Hanan yang masih tersisa. Karena satu satunya rumah yang tak ada sangkut pautnya dengan perusahaan itu jadi kalian pulang saja biar mama, papa dan aku yang urus. Hanan tolong jaga istri dan anakku"


Hanan mengangguk dan membawa koper orang tuanya ke taksi yang masih terdiam di sana. Sang sopir yang akan menurunkan barang yang di bawa Wina memasukkan kembali ke bagasi lalu menuju ke rumah Hanan.


"Hanan, apakah istri mu sudah di beri tau"


"Belum mba"


"Apa kah dia akan menerima kita di rumah kamu"


"Percayalah mba, Zahra pasti akan senang jika kalian tinggal di sana, namun yang aku takut kan adalah dia akan shok jika mengetahui perusahaan papa bangkrut"


"Tenang, dia adalah wanita yang kuat dan pemberani, jadi ngga mungkin dia shok"


"Juga... Aku takut dia akan sedih dan membatalkan liburan kami ke Bali besok"


"Kalian mau liburan?"


"Iya, bersama dengan kedua temennya"


"Sebaiknya, jangan beritahu soal ini dulu sama Zahra, dia akan sedih dan pasti jika mengetahui ini, liburan nya akan batal"


Hanan mengangguk dan tak lama mereka pun sampai di kediaman rumah Hanan. Zahra yang sedang menyiram bunga di depan rumah bersama bi Tuti kaget dengan kedatangan taksi di pelataran rumahnya.


Setelah mobil terhenti persis di depan mereka Hanan keluar dari mobil tersebut, begitu juga Wina.


"Mas Hanan, mbak Wina. Kenapa kalian naik taksi, mobil mas Hanan di mana"


"Ini mobil Hanan di bawa sama suami mba, katanya mau kontrol gula darah mama dan papa"

__ADS_1


"Loh mas, itu koper siapa aja? Gede gede banyak lagi, mba mau tinggal di sini ya" ucap nya semangat.


"Bukan cuma mba, bersama mama dan papa juga. Katanya betah di sini. Nggak papa kan"


"Ya nggak papa dong mba, aku seneng malah, ya udah masuk yuk mba. Sini Indri biar aku yang gendong, aku kangen.. "


Hanan tersenyum melihat Zahra yang menerima dengan hati. Hanan membawa 4 koper yang di bantu oleh pak Johan.


"Ra, bagaimana kalau koper mama sama papa taruh di atas aja"


"Bukannya itu kamar kamu Ra"


"Sekarang nggak lagi, aku tidur di kamar mas Hanan sekarang"


"Oohh... Bagus deh"


Hanan mengangguk dan membawa koper kedua orang tuanya ke atas.


"Mba di bawah nggak papa kan"


"Nggak papa Ra, kamu tenang aja"


"Iya mba, kalau mba mau tidur di atas, aku sama mas Hanan bisa tukeran di bawah"


"Nggak ra, nggak papa, sebaiknya kamu bersiap, katanya kamu mau ke bali kan"


"Kok mba bisa tau"


"Iya kata Hanan buat hadiah kamu"


"Oohh.. Nanti aja deh mba, aku masih kangen sama Indri"


Di tengah perbincangan Zahra dan Wina, tiba-tiba Hendra menelepon nya.


" Iya mba, aku bawa ke kamar dede Indri nya ngga papa mba"


"Iya nggak papa"


Zahra membawa Indri ke kamarnya dan mendapati Hanan sedang duduk di balkon kamarnya. Zahra membuka pintu balkon dan memanggil nya.


"Mas Hanan, sini ngapain di situ"


Hanan pun berjalan ke arahnya kemudian menggendong indri. Hanan membawanya dan di tidurkan di atas kasurnya.


"Mas Hanan"


"Kenapa" ucap nya yang masih sibuk bermain dengan indri.


"Kita tunda ke Balinya. Aku pengen di rumah sama semuanya"


"Tapi semua sudah siap dan tinggal berangkat aja, mubazir kalau ngga segera di pakai"


"Yah mas tapi.... "


" Udah nggak papa"


"Tapi jangan 1 minggu, kelamaan"


"Ya coba nanti"


"Ih mas, tuh kan aku di cuekin lagi, ahh.. Udah laahh"

__ADS_1


Hanan menarik tangan Zahra.


"Duduk sini bareng sama indri. Kamu juga sama kalau udah sama indri kamu cuekin mas"


"Balas dendam namanya"


"Ya nggak lah, makannya sini main bareng"


Di saat mereka berdua asik bermain dengan Indri, Wina menyusul nya ke kamar mereka.


"Healah di sini toh, mba cariin ke mana-mana taunya di sini"


"Kan aku udah bilang sama mba tadi"


"Oiya mba lupa. Hanan, mba mau bicara sebentar, Zahra... Mba pinjem Hanan nya bentar dan mba titip Indri lagi ya"


"Iya mba"


Sekitar setengah jam, Hanan pun kembali ke kamarnya dan mendapati Zahra tertidur dengan Indri.


"Lagi tidur mba, gimana"


"Ya sudah, biarin saja mereka tidur, lagi pula Indri belakangan ini susah di ajak tidur siang. Kalau di pindah nanti Indri jadi rewel kalau ke bangun. Mba ke bawah dulu ya, mau bicara sama bi Tuti dan bi Yeni."


"Iya mba. Aku serahkan ke mba aja tentang itu"


Hanan masuk ke kamarnya dan menutup pintunya, menyusul Zahra yang terlelap bersama Indri.


"Mungkin begini di masa depan nanti kalau kami sudah dikaruniai keturunan"


Hanan bergumam sambil mengelus Indri. Melihat mereka berdua tertidur rasa mengantuk nya juga datang menyerang nya hingga dia akhirnya ikut tertidur di samping kiri Indri.


Pukul 4 sore, Zahra terbangun dan mendapati Hanan yang tengah bermain dengan Indri.


"Indri sudah bangun mas, udah jam berapa sekarang"


"Jam 4"


"Mama sama papa udah ke sini"


"Katanya besok"


FLASHBACK


"Ada apa mba"


"Mama katanya di rawat di RS, ke sini besok sore"


"Ya sudah, aku sama Zahra berangkat besok sore aja"


"Jangan Nan, nanti Zahra tau semuanya dan rencana liburan kalian batal. Oiya nan, karena kamu sama mas Hendra nggak ada penghasilan, pasti pengeluaran akan lebih banyak sekarang, sebaiknya kamu mengurangi ART kamu"


"Nggak mba, aku yang nggak enak hati"


"Eh, ngga papa Tuan, kami sudah mengerti. Lagi pula kami berdua juga mau pamit"


"Bagaimana dengan Zahra, jika Zahra tau kalian keluar pasti dia sedih"


"Tenang tuan, kalau nona Zahra tanya, kami akan jawab nggak di bolehin sama suami, pasti nona paham"


"Iya bi, saya percaya. Terimakasih ya bi"

__ADS_1


FLASHBACK OFF


__ADS_2