Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
S2. Bertemu Klien


__ADS_3

Pada pukul 10 siang, Zahra dan Hanan menemui klien di sebuah cafe di luar kota. Butuh waktu kurang lebih 1 jam bila tidak macet, jika macet mereka sampai kurang lebih sampai 1 setengah jam lebih.


Dan benar, mereka terjebak macet. Zahra merasa bosan dan akhirnya menaruh kepalanya di pundak Hanan. Hanan sengaja tidak menyertir sendiri, dia mengutus supir perusahaan untuk mengantarnya.


"Kenapa? Ngantuk?"


"Aku lelah mas, dari tadi macet nggak kelar-kelar."


"Kalau mau tidur juga nggak papa. Pundak mas siap buat menjadi bantal kamu, buat menopang keluh kesah kamu dan bantal kenyamanan kamu, dan buat berbagi kebahagiaan kamu. Pundak mas siap segalanya untuk kamu."


Hati Zahra tersentuh dan dirinya ingin menangis mendengar perkataan Hanan yang begitu lembut dan penuh kepastian. Zahra pun akhirnya menggandeng tangannya dengan erat.


"Makasih ya mas, udah mau bertahan sama Zahra dan mau menopang dan menerima hidup Zahra. Kalau nggak ada mas, pasti aku udah berusaha sendiri, udah kerja keras sendiri. Dan mungkin udah putus sekolah karena nggak ada orang yang selalu ngedukung Zahra."


"Mas yang akan selalu ngedukung kamu dan pasti mas yang akan biayain semua tunjangan kamu."


"Jika mas berbuat itu aku akan pergi sejauh mungkin, aku paling nggak mau merepotkan orang."


"Mas akan mencari kamu."


"Sebegitu besarkah cinta mas kepada Zahra jika waktu itu terjadi?"


"Iya, apapun akan mas lakukan sampai mendapatkan kamu, kecuali jika kamu bahagia bersama orang lain, mas akan mengalah."


"Kenapa?"


"Karena mas tidak bisa memaksakan cinta yang hanya berat sebelah."


"Namun sekarang berbeda, semua yang kita katakan hanya basa basi saja mas. Cerita kita kali ini berbeda. Cinta yang pada awalnya aku panggil menyebalkan, pada akhirnya semakin dekat dan menjadi kata-kata yang paling aku rindukan."


"Bagaimanapun hingga saat ini dan untuk selamanya, mas hanya mencintai mu Zahra, walaupun mas tidak tau arti cinta yang sebenarnya, mas akan berusaha tetap menjaga dan membuatmu bahagia selalu di sisi mas."


"Cukup.. Cukup... Kalau mas terus bilang itu aku nanti nangis mas."


"Menangislah, jika itu membuatmu lega. Pundak mas siap untuk menerimanya."


Zahra menggeplak dada Hanan dan menyeka air matanya.


"Di bilang cukup ya cukup.."


"Hahahaha.."


Hanan tertawa lepas, sedangkan supir yang ada di depan hanya menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh mereka berdua.


Tak lama mereka pun sampai di cafe tempat mereka bertemu dengan klien. Di saat mereka sampai, ternyata klien mereka sudah datang sebelum mereka datang.


Hanan langsung mendatanginya dan diikuti oleh Zahra. Hanan pun mengangguk dan mengulurkan tangannya. Kliennya pun membalasnya dengan senyuman ramah.


"Aksa"


"Hanan, emm.. Dan ini perkenalkan sekretaris saya."


"Zahra." ucapnya sambil menyatukan kedua tangannya.


Orang itu pun juga menyatukan kedua tangannya. Hanan tersenyum dengan sikap Zahra yang menjaga dirinya dari pria lain. Aksa pun juga tersenyum dan membersihkan mereka duduk.


"Pasti kalian lapar, lebih baik kita makan siang saja dulu."


"Baiklah kalau begitu."


Zahra hanya terdiam bingung. Urung-ujung jarinya juga terasa dingin karena merasa grogi dan bingung. Hanan yang melihatnya pun memegang tangannya.


Pelayan datang untuk melayani mereka dan mereka.


"Zahra, mau pesan makanan apa?" tanya Aksa.


"Di samakan saja pak."

__ADS_1


"Hanan?"


"Disamakan saja."


"Kalau begitu steak ukuran sedang 3 porsi."


"Baik tuan. Minumannya?"


"Jus jeruk sama air putih, masing-masing 3."


"Baik Tuan."


Pelayan itu segera pergi, dan sambil menunggu pesanan tiba, mereka berbincang-bincang mengenai perusahaan dan penandatanganan kontrak. Setelah selesai, tak lama makanan pun datang.


Pelayan itu menyajikan makanannya dan kemudian mereka bertiga pun makan dengan pelan.


"Hanan, saya rasa kamu akan jatuh cinta sama sekretaris kamu. Udah cantik, terus sholehah lagi."


"Udah jatuh cinta dari dulu" batin.


"Mungkin saja."


"Rekan rekan saya juga banyak yang menjadikan sekretarisnya menjadi istrinya. Begitulah namanya cinta lokasi."


"Bagaimana dengan anda sendiri?"


"Saya juga menjadikan sekretaris saya sebagai istri ."


"Zahra itu adalah sekretaris sementara saya dan dia juga masih murid. Dia magang di kantor saya."


"Oohh masih sekolah, siapa tau jodoh."


"Mungkin."


"Memang kami sudah menikah tuan." batin.


"Saya sekolah di


"Oohh, kenapa masuk di swasta?"


"Ya pengen aja, kalau masuk di negeri kayaknya terlalu berat."


"Oohh begitu."


"Iya pak."


"Emm.. Saya sudah selesai, dan saya masih ada perlu. Saya pamit duluan dan saya yang akan bayar makan siangnya."


"Tidak perlu Sa, biar saya saja."


"Tak apa nan. Terimakasih atas kerja samanya." ucapnya sambil menyalami Hanan dan Zahra.


"Sama-sama."


"Kalau begitu saya 2w."


Mereka berdua pun mengangguk dan duduk kembali setelah Aksa meninggalkan mereka. Zahra kembali makan dengan tenang.


"Mas, hampir aja kedok kita ke bongkar kalau tuh orang tau kalau kita udah nikah."


"Ya nanti juga ujungnya tau kok, dimakan cepet nanti kita pergi lagi."


"Sibuk banget ya kalau jadi mas."


"Begitulah, namanya juga orang kerja."


Setelah makan, mereka berdua pergi lagi ke suatu tempat, bukan untuk menemui klien tapi mengajak Zahra jalan-jalan.

__ADS_1


"Mas, kapan sampainya, dari tadi cuma muter-muter mulu."


"Kamu pikir kita kemana?"


"Ketemu klien."


"Siapa bilang, sayang... "


"Katanya kita mau pergi lagi."


"Iya kita pergi, tapi bukan ketemu klien. Kita akan jalan-jalan."


"Tapi kan pekerjaan mas banyak."


"Kan mas yang punya pekerjaan, mas juga yang punya kantor kan, jadi jangan khawatir."


"Berarti kalau bukan aku sekretarisnya mas juga gini dong."


"Mas baru kemarin Ra jadi CEO. Mas nggak pernah bawa siapapun jalan-jalan selain kamu. Mas juga ada sekretaris baru kamu. Kamu yang pertama menempati ruangan posisi itu Ra."


"Alhamdulillah kalau begitu, alhamdulillah juga aku mendapatkan mas yang begitu sangat menjaga hati mas untuk Zahra. Terimakasih."


"Posisi di hati mas hanya untuk Zahra."


Pada akhirnya, mereka pun mengunjungi Kota Tua. Mereka berjalan-jalan sambil membeli beberapa cendramata yang ada. Mereka juga sempat menaiki sepeda. Zahra membonceng di belakang dan Hanan yang mengendarai di depan. Siapapun iri melihat mereka berdua.


Mereka juga sempat berfoto berdua. Sekitar 2 jam mereka berada di Kota Tua dan mereka pun memutuskan untuk pulang. Sekitar pukul setengah 5 sore mereka sampai di kantor. Mereka kembali terdiam dan bersikap seperti biasa.


"Pacaran mulu, tugas numpuk tuh."


"Nggak papa lah, kan aku yang punya."


"Terserah lah. Bawa apa kamu Zahra?"


"Bawa oleh-oleh, tadi habis jalan-jalan sebentar. Oiya, ini ada sedikit buat bang Gavin."


"Terimakasih banyak, istrimu memang baik Nan."


"Itulah yang aku suka darinya."


"Mas, aku juga mau ngasih ini ke temen-temen, bentar lagi kan juga mereka pulang, aku titip ini bawa ke ruangan mas."


"Baiklah."


"Aku ke bawah dulu."


Mereka berdua mengangguk, Zahra menuju ke ruangan dimana teman-temannya berada dan membagikan oleh-olehnya yang sempat ia beli ke teman-temannya. Setelahnya dia pun kembali ke ruangan Hanan dan sempat membuatkan kopi untuknya sebelum dia ke atas.


"Mas kopi."


"Terimakasih."


"Sama-sama mas, aku bantuin ya biar cepet selesai."


"Nggak usah nggak papa."


"Mas, kan aku juga sekretaris mas, yayaya.."


"Baiklah, baik. Nih periksa semuanya, kalau ada yang salah bilang ke mas, atau kamu coret saja."


"Siap laksanakan."


Zahra pun mengerjakannya dengan semangat dan penuh ketelitian. Dan pada hari itu pula Zahra dan Hanan pulang terlambat.


FLASHBACK OFF


//**//

__ADS_1


__ADS_2