
Hari terus berlanjut. Hubungan Hanan dan Zahra juga semakin dekat walaupun Zahra masih belum memiliki kepastian bahwa dia mencintai Hanan ataukah belum.
Kini Zahra berdiri di depan kelas sambil menatap parkiran guru yang hanya ada mobil Hanan. Sekolah saat itu masih sepi hanya ada beberapa murid dan juga penjaga sekolah.
"Zahra.. Tumben loh berangkat, kalau udah ngga ada mapel kan lo biasanya bolos" ucap Fany.
"Apaan si, lo nggak inget ya, gue ini bukan Zahra yang dulu lagi, dan inget hari rabu kita kan mau kunjungan industri, pastinya kan ada bimbingan kan"
"Kira-kira kita kemana ya"
"Kata pak Hanan cuma di daerah Jakarta doang, soalnya kan tau sendiri ini sekolah swasta. Lagipula jurusan yang berkaitan dengan sekolah kita kebanyakan di Jakarta kan"
"Gue harapannya ke Bali"
"Emang lo mampu, kebanyakan pasti kan nggak. Di sekolah kita bayar bulanan aja di cicil kan, nggak ada yang ludes"
"Ada kok, Lo kan udah lunas sampe kelas 12, ya otomatis lo aman"
"Kan cuma gue, gimana si"
"Ya iya lah, namanya juga adik guru. Pastinya semuanya lunas dong" ucap Rena.
"Eh Ren, bisa nggak si nggak ikut nyambung omongan kita, lagipula di sini kan kaga ada tiang listrik"
"Lo iri atau gimana si sama gue, setiap hari lo selalu maki gue, selalu nyalain gue, selalu fitnah gue. Lo sadar nggak, Lo tuh udah kebanyakan dosa tau nggak. Sebenci-bencinya Lo sama gue, inget!! Lo nggak bakal pernah bisa ngebuat gue lemah, dan semua makian Lo ke gue, itu adalah semangat buat gue dan tanpa Lo sadar Lo ngrendahin diri Lo sendiri. Inget itu baik-baik"
"Gue nggak peduli, tapi yang pasti, di sini tuh Lo yang paling di benci"
__ADS_1
"Inget Ren, di depan Lo mereka baik, selalu muji Lo, selalu deketin Lo, tapi nggak semua orang itu suka sama Lo, pasti ada yang nggak suka sama Lo, dan berhenti membanggakan diri sendiri apalagi yang berlebihan."
"Justru Lo yang nggak punya harga diri, Lo inget nggak, sebelumnya Lo tuh nggak berkerudung."
"Iya gue inget, tapi itu ada alasannya. Gue itu miskin beli beras aja susah. Almarhum orang tua gue petani dan Lo pasti tau itu. Gue itu ngontrak, itu bukan rumah gue yang sebenarnya. Lo udah pernah kan ke rumah gue waktu orang tua gue meninggal. Gue mau di bilang pemalas, ya bener gue pemalas. Emang gue suka kabur dari pelajaran juga ada alasannya. Gue selalu nggak fokus karena hampir setiap hari terus di tagih bayaran hingga membuat pikiran gue kalut dan untuk nenangin diri gue, gue milih buat pergi dari kelas, paham" ucapnya dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"Nah berarti Fany nggak sepenuhnya baik dong sama Lo karena sifat Lo yang bergajulan dan miskin itu. "
"Iya emang, gue juga kadang nggerundelin dia, namun nggak gue sebar ke siapapun karena menurut gue itu sama aja dengan gibah. Namun justru gue malah suka berteman dengan dia karena dia orang yang sederhana" jujur Fany.
"Nah kan dia jujur, gue sama juga kok kaya Fany, selalu nggerundelin dia, tapi apa kami sama-sama bisa di andelin satu sama lain, nggak setengah-setengah. Selalu ada sama-sama ketika sedang di landa masalah. Nggak kaya Lo yang bisanya cuma dateng saat butuhnya doang. Mereka susah emang Lo peduli, enggak kan. Menurut gue satu temen aja itu cukup, buat apa gonta ganti temen tapi sama aja munafik. Maka dari itu temen setia gue cuma Fany yang menerima keadaan gue, selalu nasihatin gue padahal gue bandel, tapi dia berusaha buat gue berubah dan nggak malu punya temen kaya gue"
"Sebenarnya dia malu, cuma karena kasihan akhirnya dia ngedeketin lo biar lo nggak kesepian... Hahahaha... Bener-bener ya.. "
Zahra yang sudah tidak tahan pergi dari hadapan kerumunan teman-teman nya sambil menangis, dan Hanan yang sedang membuka pintu laboratorium komputer menghampiri mereka dan memegang pundak Zahra untuk menghentikan langkahnya dan memeluknya sebentar.
Semuanya hanya terdiam sambil menatap teman-teman mereka masing-masing.
"Zahra, sebaiknya kamu pulang saja, mereka biar bapak yang urus, Fany, tolong jaga dia"
"Iya pak"
"Rasain kalian, kalian nggak tau sih, sekarang Zahra udah jadi sultan... Mampussss kalian" gumamnya sambil menuntun Zahra.
"Kalian semua masuk sekarang juga!! " bentak Hanan.
Tanpa butuh waktu lama mereka pun masuk dan duduk di tempat mereka masing-masing. Di sisi lain, Zahra masih menangis. Fany mencoba menenangkan nya.
__ADS_1
" Pulang yuk"
"Gue mau ke taman belakang sekolah, lo aja yang pulang"
"Nggak Ra, gue nggak mau lo kenapa napa".
"Jujur sama gue Fan, lo malu kan punya temen kayak gue"
"Nggak kok, justru malu ada Reni yang terus membuat masalah di kelas"
"Tapi yang di katakan Reni itu benar"
"Nggak Ra, yang di omongin dia itu salah. Dia belum tau siapa kamu sekarang. Inget Lo nggak sendiri dan inget kata-kata lo tadi. Lo bukan Zahra yang dulu lagi. Lo udah sukses dan memiliki kakak serta orang tua yang baik, walaupun bukan keluarga kandung lo, tapi mereka jaga lo dengan baik dan berusaha membuat lo bahagia. Lo patutnya itu bersyukur dan jangan salahin diri lo. Lo harus tetap tersenyum, jangan lengah begini. Nanti malah lo yang tambah di manfaatkan sama si Rena"
Zahra hanya terdiam sambil mengusap air matanya.
"Sudah ya sayangku... Kita pulang yuk. Kalau ketinggalan pengumuman, pasti pak Hanan ngasih tau."
Zahra mengangguk dan menuju ke pintu gerbang untuk menaiki angkot ke rumah Zahra. Di kelas sendiri, Hanan masih terduduk di kursi guru dengan menahan amarah menatap muridnya yang tertunduk.
"Apa yang kalian lakukan? , apa dia ada salah sama kalian? Kalian sadar, kalian itu sedang membulinya benar. Dan siapa yang memulai semua ini"
Semua murid masih terdiam, tak ada yang berani menatap nya.
"Kenapa kalian diam? Takut? Jika kalian takut kepada saya, apakah kalian tidak takut dengan Allah swt penguasa alam semesta dan segalanya isinya. Kalian itu seharusnya menghargai dan menghormati orang lain, bukan malah merundungnya seperti ini. Bagaimana bapak tau Zahra sedang di rundung? Pasti itu kan yang kalian pikirkan, karena jelas dari tatapannya. Hanya kalian yang tidak mengerti perasaan nya. Coba kalian ingat, bagaimana jika kalian ada di posisi dia, pasti akan melakukan hal yang sama bukan? Sebagai hukumannya bapak akan laporkan kalian ke wakil kepala sekolah dan memberi kalian poin 75, jika kalian melakukan hal ini lagi, kalian akan angkat kaki dari sekolah ini. Besok, orang tua kalian harus datang ke sekolah untuk di beri pernyataan, jika tidak kalian akan tau akibatnya"
//**//
__ADS_1