Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Kehilangan


__ADS_3

Zahra memasuki kelasnya dengan memegang bagian kepalanya yang sakit. Dia menuju ke tempat duduk nya. Teman-teman nya hanya keheranan melihat dia memegangi kepalanya.


"Uuuhhh, nyebelin banget si" gerutunya.


"Kamu kenapa Ra" tanya Fany.


"Ini nih, biasa.. Duuhhh.. Guru menyebalkan itu"


"Pak Hanan?"


"Iya lah, siapa lagi."


"Sampe biru gitu, emang kejeduk berapa kali"


"2 kali"


"Oohh.."


"Ra" panggil Alvero.


"Apa"


"Pala lo kenapa, kok biru gitu kayak habis berantem" tanya Alvero sambil memegang bagian yang membiru.


"Awwwww... Sakit b*go"


"Biasalah, berantem sama guru yang tu itu" ucap Fany


"Oohh"


"Oiya Ra, kamu ketemu sama ka Leon ngapain" tanya Fany penasaran.


"Kencan"


"WWHHAATT" ucap Fany kaget.


Alvero yang sedang minum langsung menyemburkannya.


"Yang bener Ra" ucap Alvero.


"Wooyyy, kalo minum itu di masukin bukan di keluarin.. Jorok banget si kaya mbah dukun lagi nyantet" ucap salah satu siswa yang terkena semburan Alvero.


"Emang kamu pernah dukun ya"


"Itu di lagu"


"Oohh, maap ya"


"Emm.. Aduh kok baju gue jadi bau si, ahh lu si Al, mulut ko bau nih. Habis makan jengkol ya" sambil mencium bekas semburan Alvero.


"Ya kaga lah, ya kali gue suka ma jengkol"


"Parfum-parfum, ada yg bawa parfum kagaaa"


"Dih berisik Egaa" teriak salah satu siswi.


"Ya maap, bawa parfum kaga, pada di tanyain juga"


Kelas menjadi ribut karena ulah Alvero dan Ega. Zahra dan Fany kembali melanjutkan percakapan mereka.


"Terus.. Terus... Apa lagi" tanya Fany penasaran.


"Gue di ajak pulang bareng sama dia"


"Terus, kalo dia tau kalau kamu bukan anak orang kaya gimana, nanti di putusin gimana"


"Lahh.. Itu mah gampang kali Fan, kan cuma sampe ke gang"


"Terus kalau dia tau"


"Ngga papa lah"


"Tapi bo'ong itu dosa loh Ra"


"Sekali-kali lah"


"Ntar jadi kebiasaan loh"


"Nggak lah"


"Ra.. "


Ucapan Fany terpotong karena guru Bahasa Inggris datang.


"Assalamu'alaikum. Good morning every one"

__ADS_1


"Morning miss"


"Untung datang tepat waktu. Makasih ibu" gumamnya.


*****


Pulang sekolah pun tiba, Zahra segera menuju ke parkiran untuk menemui Leon.


"Kak" panggil Zahra.


"Hmm.. Wa'alaikumsalam"


"Oohh.. Assalamu'alaikum"


"Nah gitu dong, ayo naik"


Zahra mengangguk lalu menaiki motor yang di bawa Leon.


"Pegangan dong"


"Ngga lah kak, aku malu juga jaga batas"


"Baiklah, hati-hati ya"


"Kok dahi kamu bisa biru gitu" ucap Leon kemudian.


"Iya, tadi kejeduk lagi sama pak Hanan"


"Pake sikutnya lagi"


"Pake buku"


"Kasiaaann"


Tak lama mereka sampai di dekat gang Zahra.


"Udah di sini aja"


"Kenapa"


"Ngga papa si, nggak enak di liat tetangga. Mulut tetangga kan pada kaya comberan"


"Ssstttt.. Ngga boleh ngomong gitu. Ya udah kakak pulang ya.. "


"Bentar"


"Kenapa kak"


"Aku minta nomer hp kamu"


"Iya kak ini"


Zahra memberikan nomornya dan di catat di handphone Leon.


"Ya sudah, Assalamualaikum".


"Wa'alaikumsalam "


Zahra berjalan ke rumahnya. Dia masuk ke kamarnya dan mengganti bajunya, tiba-tiba tetangganya menggedor pintunya dengan keras.


"Assalamualaikum.. Zahra.. Zahra.."


"Iya sebentar"


Zahra bergegas keluar dari kamarnya dan membuka pintu nya.


"Mama sama bapak kamu Ra"


"Iya ada apa bu"


"Kecelakaan dengan mobilnya pak lurah di kota waktu mau pulang "


"Apa bu!!" ucapnya kaget.


"Iya, suami saya juga kecelakaan Ra, mau ke sana"


"Iya bu, iya.. Sebentar"


Zahra masuk ke kamarnya dan memakai jilbab nya lalu mengambil tasnya dan keluar. Zahra dan para tetangganya yang ingin menjenguk para korban masuk ke sebuah mobil menuju ke rumah sakit yang ada di kota. Butuh waktu 1 jam untuk sampai di kota.


Zahra begitu cemas dia menggenggam tangannya erat. Melihat ke depan dengan perasaan penuh kekhawatiran. Setelah 1 jam, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Zahra langsung turun dan mengikuti arah tetangganya berjalan.


Melihat semua korban baik-baik saja di ruang tunggu, para tetangga nya langsung berlari menuju ke keluarga nya. Zahra masih melihat ke sana dan kemari. Dia melihat mamanya dari kejauhan lalu memeluk nya.


"Zahra... Hiks.. "

__ADS_1


" Mama.. Mama ngga papa"


"Mama ngga papa, tapi bapak.. "


" Bapak kenapa?? " ucap Zahra khawatir.


"Bapak udah nggak ada"


Zahra langsung menetes kan air mata nya.


"Sekarang bapak di mana mah.. Hiks.. Bapak mana.. "


"Bapak kamu akan segera dipulangkan, yang sabar ya bu, Zahra. Saya juga minta maaf atas semua kejadian ini. Saya akan membantu kalian nanti"


"Terimakasih pak, tapi tidak apa, saya akan bekerja keras" ucap ibu Kirana.


"Tidak perlu mah, gara-gara bapak, saya jadi anak yatim. Jadi memang bapak harus bertanggung jawab atas semua ini"


"Iya, saya memang salah, maafkan bapak. Bapak akan bertanggung jawab atas segala kesalahan bapak kepada keluarga ibu"


"Zahra tidak boleh seperti itu" ucap ibu Kirana.


"Bu, ingat.. Kita ngontrak dan nggak sepenuhnya kita akan bekerja keras sendiri. Zahra tau, Zahra sudah tidak punya bapak, tapi seorang ibu tetaplah ibu dan bapak tetaplah bapak. Tidak ada kata ibu dan bapak dalam satu bagian . Jika ada seorang anak maka anaklah yang harus bekerja keras demi orang tuanya. Jadi mama harus memilih, aku yang bekerja keras atau seseorang yang sudah menyebabkan kejadian ini" ucap Zahra panjang lebar.


"Sudah jangan ribut, biar bapak saja yang membantu kalian" ucap pak Lurah.


"Bagus kalau begitu"


Mereka pulang dan mempersiapkan pemakaman bapak Nanto. Zahra sangat terpukul karena harus kehilangan ayah tercinta nya. Teman-teman Zahra dan para gurunya juga menemani pemakaman ayah Zahra hingga selesai.


"Zahra, kamu yang sabar ya. Tenang saja, SAP sekolah kami gratis kan"


"Terimakasih pak, bu."


"Iya, kami permisi"


Teman-teman dan para gurunya pun pamit. Leon yang mendengar bahwa ayah Zahra meninggal, juga mengunjungi rumah Zahra.


"Kak Leon, kakak bisa ada di sini"


"Bisa, kamu yang sabar ya. Jangan bersedih terus. Aku di sini sekarang"


"Kak, maaf ya. Aku belum beritau kalau aku ini ngontrak dan aku juga orang miskin. Kakak masih menerima aku"


"Kamu nggak usah khawatir, tentu akan selalu menerima kamu. Besok kakak jemput ya biar kamu rileks"


"Iya Kak"


Setelah berbincang cukup lama, Leon memutuskan untuk pulang. Sore harinya, di rumah Zahra mengadakan acara tahlilan. Pak Hanan juga datang dalam acara tahlilan tersebut.


"Pak Hanan, kenapa repot-repot kemari" ucap Zahra.


"Saya kebetulan lewat sini, jadi saya memutuskan untuk ikut tahlilan di sini" ucapnya.


"Terimakasih banyak pak" ucap mama Kirana.


Mereka melaksanakan acara tahlilan dengan khitmat. Setelah selesai para tetangga pulang.


"Terimakasih banyak pak"


"Sama-sama bu"


"Bu Kirana!! " teriak pemilik kontrakan rumah Zahra.


"Kenapa bu"


"Ini sudah telat 3 bulan loh bu. Pasti kan ibu sudah banyak dapat sumbangan, sebaiknya cepetan di lunasin dong bu"


"Iya bu sebentar"


Mama Kirana mengambil uang dari sumbangan dan memberikan seperlunya kepada pemilik kos kosan.


"Nah gitu dong, jangan telat lagi ya bu, apalagi sekarang kan udah di bantu sama pak lurah. Saya permisi. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


"Bu, Zahra, saya pamit ya bu"


"Iya, hati-hati pak"


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


//**//

__ADS_1


__ADS_2