Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Jalan


__ADS_3

Zahra pun mengikuti Chandra dan ke ruang guru. Sesampainya di sana, Zahra meletakkan map pemberian dari Hanan di meja Chandra.


"Ah.. Rese banget si pake acara sendirian segala." ucapnya di sepanjang perjalanan ke ruang guru.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam" jawab para guru yang ada di ruangan tersebut.


Zahra langsung menuju ke meja Chandra dan meletakkan map nya di mejanya.


"Sudah sampai mana materi yang kamu berikan"


Zahra mengeluarkan 3 buku yang ada di dalamnya dan menjelaskan pembagian materi dari masing-masing kelas.


"Untuk semua kelas sudah sampai pada bab 3, karena baru satu minggu jadi hanya materi itu yang dapat disampaikan"


"Bab nya sudah sampai apa saja"


"Untuk kelas 10, bab sudah sampai di bab Iman kepada Malaikat, di kelas 11 sudah sampai di bab menghormati orang tua dan guru, sedangkan kelas 12 sendiri sudah sampai pada bab Iman kepada Qada dan Qadar."


"Bagus-bagus, apakah kamu yakin semua lengkap"


"Kalau itu saya kurang tau pak, soalnya kan setiap anak berbeda sifat, pasti ada yang sudah nulis ataupun belum. Ada lagi yang perlu ditanyakan pak"


"Sudah, sekarang kamu boleh kembali. Map ini bapak yang pegang"


"Oohh iya pak. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Zahra pun kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran.


"Gimana Ra"


"Gimana apanya"


"Galak nggak?"


"Biasa aja"


"Laahhhh"


"Kenapa?"


"Nggak papa, hehehehe. Udah duduk nanti dimarahin."


*****


Istirahat....


Di kantin sekolah...


"Ra, lo jadi orang penting para guru sekarang ya" tanya Intan.


"Nggak tau deh"


"Menurut kamu nih Ra, pak Chandra galak nggak"


"Nggak tau"


"Waktu kamu bicara sama dia gimana? Mana mungkin lo langsung pergi kan"


"Dari pandangan gue si, jutek lah pasti, mungkin, ya nggak tau lah. Udah makan, gibah mulu"


*****


Sepulang sekolah, Zahra menelepon Hanan di depan kelasnya.


"Assalamualaikum, Mas Hanan"


"Wa'alaikumsalam, mas udah di bawah"


"Hah, udah di bawah. Ya udah aku ke bawah sekarang"


Zahra menutup telepon nya. Dan terburu-buru menuruni tangga. Saat di tangga dia berpapasan dengan Chandra. Dia ke kanan, Chandra juga ke kanan dan sebaliknya membuat waktu Zahra terbuang. Zahra tak menatap matanya dan mencengkeram pegangan tangga.


"Bapak bisa ke kanan, saya sedang terburu-buru"


"Silahkan"


Zahra dengan cepat turun dan menggerutu kesal.


"Ada-ada saja guru itu Isshh..."


Dia pun berlari menuju ke depan sekolah.


"Mas Hanan, mas nggak kerja"


"Nggak, yuk pulang"


"Iya ayo"


Mereka berdua pulang dengan cepat.


"Zahra, kamu mandi, kita makan siang di luar sekaligus jalan-jalan"


"Jalan?"


"Iya"


"Ya udah, aku siap-siap dulu"

__ADS_1


Zahra tersenyum saat berada di kamarnya.


"Aku mau kencan? Wahhh... Baiklah, tunggu aku"


Zahra menuju ke kamar mandi, dan hanya mandi dalam 5 menit. setelah itu, dia menuju ke ruang ganti dan memakai baju sweeter berwarna biru dan jelana jeans hitam dan dipadukan dengan kerudung berwarna hitam . Tak lupa juga membawa tas pemberian dari Gavin.


Dia berdiri di depan cermin sambil berputar di depannya. Dia mendekatkan wajahnya memegang pipinya yang natural.


"Kayaknya, rias dikit boleh lah ya"


Zahra memolesi wajah nya dengan bedak ringan dan gincu berwarna merah muda. Tak lupa memberikan sedikit celak di kedua buku matanya. Lalu ia pun turun untuk menemui Hanan.


"Bi, mas Hanan mana"


"Ya Allah non, ini non Zahra kan. Cantik banget non." ucap bi Fitri.


"Iya ini Zahra. Masa si bi, padahal cuma aku kasih bedak sama gincu dikit bi"


"Iya non, bener. Non cantik banget. Pas nggak pake riasan aja cantik non. Non udah di tunggu sama tuan di depan"


"Ya udah bi, aku sama mas Hanan keluar bentar. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam, hati-hati non"


"Iya bi"


Hanan melihatnya dari atas sampai bawah badan Zahra lalu menatap wajahnya.


"Cantik sekali" batin.


"Bengong, cantik ya mas. Alhamdulillah.. Yuk, mau kemana"


"Huh..Gr nya..."


"Ya nggak Gr, kan mas ngomong di dalam hati, makanya jadi nggak kedengeran." ucapnya sambil menaiki motor yang sedang ditumpaki Hanan.


"Tapi kok kamu tau."


"Nah berarti bener kan. Udah, ayo mas jalan"


Hanan melajukan motornya dan berjalan dengan perlahan.


"Kamu belajar dandan dari mana"


"Mas kan nggak di rumah. Kalau aku gabut ya belajar dandan, kadang juga belajar masak bareng sama bi Fitri"


"Dari dulu belajar masak aja nggak bisa-bisa sekali dandan langsung bisa"


"Iya mas iya, belajar masaknya aku usahakan bisa bulan depan"


"Kenapa nggak sekarang"


"Iya lah"


"Emang kita mau kemana mas"


"Udah ikut aja"


Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah rumah makan. Dan kali ini bukan ikan bakar yang mereka pesan, melainkan nasi padang.


"Mas, aku nggak suka terlalu pedes. Ini sambalnya pedes banget"


"Ya sudah, di pinggirin aja"


"Mas suka pedes nggak"


"Nggak terlalu juga"


"Oohh. Selain makanan pedes, apalagi yang mas nggak suka"


"Terlalu manis, apalagi pahit"


"Oohh"


"Kamu sendiri"


"Paling cuma pedes, tapi yang pake banget. Soalnya kasihan badan sendiri. Setelah ke sini kita kemana mas"


"Nanti ikut aja"


"Mas bener nih nggak ada kerjaan kantor"


"Kamu tenang aja, nggak kok"


"Pasti pas mas berangkat udah numpuk"


"Waktu kamu berangkat sekolah, mas ngerjainnya di rumah, jadi tenang aja"


"Syukurlah kalau begitu. Eh mas, aku udah ada guru baru, namanya pak Chandra"


"Terus"


"Nggak papa mas, sedikit aneh aja."


"Kamu harus hati-hati loh, banyak yang suka sama kamu di sekolah. Guru sebenarnya juga ada"


"Iya emang ada malah udah halalin duluan"


"Ini bukan mas loh, memang sebenarnya ada namun dia diam-diam nyukainnya. Karena dia ibaratnya junior jadi lebih baik di pendam, gitu"


"Oohh, siapa mas"

__ADS_1


"Suatu saat nanti juga kamu tau."


"Nggak boleh rahasia-rahasiaan loh mas"


"Itu pak, Saeful"


"Oohh, pak yang kalem itu..."


"Kalem apanya, sebenarnya nggak kok. Kamu harus hati-hati"


"Iya mas iya, khawatir banget si"


"Mana mungkin nggak khawatir"


"Iya mas iya, kalau bicara terus kapan selesai nya."


Hanan pun melihatnya dengan tersenyum. Zahra hanya kesal karena tingkah Hanan. Setelah mereka makan siang, mereka pun pergi ke sebuah gedung bioskop.


"Ini bioskop mas"


"Iya, memangnya kamu belum pernah ke sini"


"Mau ke sini sama siapa mas, terus duit dari mana. Aku tuh anak yang nggak pernah keluyuran sama sekali kecuali kalau belajar bareng pun harus ada bukti"


"Orang tua mu sangat menjagamu. Baiklah, aku juga akan menjaga mu sampai aku tiada." batin .


"Kenapa melihat ku seperti itu?"


"Nggak kok, yuk masuk. Mau beli popcorn"


"Boleh deh, sekali-kali"


Hanan membeli yang ukuran jumbo. Mereka memutuskan untuk menonton film horor. Zahra sampai ketakutan dan bahkan menangis. Zahra bahkan sampai memeluk Hanan. Hanan mencoba menenangkannya namun dia sangat ketakutan dan akhirnya mereka pun keluar.


"Kamu takut, kenapa minta yang horor"


"Kirain aku nggak horor banget"


"Ganti yang lain"


"Terserah, tapi jangan yang horor"


"Komedi romantis aja, mau"


"Boleh deh"


Sekarang hanya tawa yang mereka dapatkan. Sesekali Hanan juga melihatnya tertawa terbahak-bahak.


Tak terasa 2 jam sudah mereka menonton, dan kebetulan ada Fany dan Alvero.


"Loh kalian" ucap Hanan.


"Pak Hanan, Zahra. Kencan nih" jawab Fany.


"Kalian sendiri" tanya Hanan.


"Ya kencan lah pak, namanya juga pasangan" jawab Alvero jujur.


"Fan, bareng yuk"


Hanan dan Alvero menarik tangan masing-masing pasangan mereka. Fany dan Zahra menatap mereka bingung.


"Kenapa" tanya nya kompak.


"Kalian nggak boleh bareng" jawab Hanan.


"Iya, nggak boleh, kalau kalian bareng nanti aku dicuekin"


Zahra dan Fany memegang dahinya secara bersamaan.


"Punya pasangan gini amat, masa sama temen sendiri nggak boleh bareng" ucap Zahra dan Fany berbarengan lagi.


"Kalian kok kompak banget. Gimana ceritanya." tanya Alvero heran.


"Kamu mau ikut mas atau mereka berdua"


"Lahh kok mas gini"


"Udah ra udah, sekali-kali cewe ngalah. Kita bisa bareng lagi kok di sekolah. Kami duluan, sampai bertemu di sekolah"


Fany menarik Alvero dan Zahra menatap Hanan kesal.


"Mas si"


"Mas kenapa"


"Kan jadinya kita nggak ngedate doble"


"Doble date"


"Nah itu"


"Lain kali. Sekarang kita kemana"


"Pulang"


"Secepat ini"


"Aku udah lelah ketawa terus dari tadi. Udah yuk lah"


//**//

__ADS_1


__ADS_2