
Pintu lift pun terbuka. Zahra di buat melongo dengan adanya ruangan yang hanya di khusus kan untuk para atasan. Mereka masuk ke ruangan yang bertuliskan "Chief Excecutive Officer". Zahra meneguk salivanya kasar dan masih menggenggam tangan Hanan.
"Mas, aku tutup mata aja ya"
"Loh kenapa, kamu liat hantu"
"Nggak mas isshh"
"Kamu tenang aja, bismillah dulu"
"Bismillah" batin
Mereka berdua pun akhirnya masuk. Zahra di buat melongo karena ruangan Hanan yang begitu luas dan rapi.
"Subhanallah"
"Kenapa"
"Indah, luas dan besar. Oiya, aku mau tanya sama mas"
"Bicara saja"
"Kita duduk di sofa itu"
Hanan mengikuti nya lalu duduk di sampingnya.
"Mas nggak ke ganggu kan pekerjaan nya"
"Nggak ko, kan mas CEO nya"
"Biasanya kan CEO itu sibuk"
"Ini lagi ada waktu luang, kamu mau ngomong apa"
"Emang CEO sama dengan pemilik perusahaan"
"Bisa di bilang gitu, karena CEO itu angkatan tertinggi di perusahaan"
"Kalau di bawah mas"
"Ada banyak, kamu nggak akan paham. Ada yang namanya COO, CFO dan CMO"
"Lahh apa lagi itu"
"COO itu Chief Operating Officer adalah pimpinan yang bertanggung jawab pada pembuatan keputusan operasional perusahaan. Misal nya, mas mau ambil sebuah argumen atau pendapat mengenai pembangunan hotel, misalnya di pinggir pantai atau dekat gunung, nah itu juga harus ada masukan dari COO apa yang baik dan tidak."
"COO nya siapa mas"
"Gavin"
"Oohh.. Bang Gavin"
"Lanjut?"
"Boleh"
"CFO atau Chief Financial Officer adalah pimpinan perusahaan yang bertanggung jawab terhadap segala hal di bidang keuangan. Ibarat kan seperti Bendahara gitu"
"Satu lagi, apa itu namanya.."
"CMO atau Chief Marketing Officer adalah posisi eksekutif atau pimpinan perusahaan yang bertanggung jawab dalam urusan marketing atau pemasaran. Ada yang ingin ditanyakan lebih jauh lagi"
"Nggak mas, jangan-jangan... Udah cukup, aku aja pusing dengernya, apalagi soal bawah-bawahan yang lain"
"Ya sudah. Zahra mas mau bilang penting sama kamu"
"Kenapa mas"
"Mungkin saat masuk semester dua mas nggak bisa ngajar kamu lagi"
__ADS_1
"Ya maklum lah mas, namanya sekarang juga udah naik pangkat kan"
"Kamu merasa nggak kesepian nggak ada mas"
"Jujur ya mas, kesepian banget lah pastinya. Waktu pelajaran mas bukan mas lagi yang ngajar, mesti aku bakal kangen. Mas juga pastinya jarang di rumah kan, apalagi ini belum ada pembantu. Bakalan kaya kuburan tuh rumah. Terus mas pasti nggak bisa antar jemput Zahra karena arah kantor sama sekolah berbeda"
"Kamu tenang saja, mas pastinya akan tetep antar jemput kamu, sesibuk apapun mas"
"Aku nggak yakin mas. Mas mungkin bisa antar aku, kalau jemput, pasti waktu mas tuh lagi sibuk-sibuknya"
"Insyaallah kalau Allah memberi waktu, mas akan jemput kamu sebisa mas. Kamu jangan khawatir"
Hanan mengelus kepala Zahra yang terlihat gelisah. Zahra hanya tersenyum kecil
"Mas, perusahaan mas, papa sama bang Hendra membahas tentang apa"
"Maksudnya bergerak untuk bidang apa gitu"
"Iya"
"Perusahaan mas, papa sama bang Hendra bergerak di bidang perdagangan dan properti"
"Perdagangan dan Properti? Misalnya mas? "
"Iya maksudnya misal kalau di bidang perdagangan itu kaya membuat mall, restoran dan cafe, kalau di bidang properti itu seperti tanah dan bangunan semisal hotel atau vila"
"Selain di bidang perdagangan dan properti, mas ngga ada niatan buat nambahin bidang lagi gitu"
"Mas lagi memikirkan itu. Kok kamu jadi kayak me wawancarai mas"
"Namanya juga pengen tau... Emm... Itu ruangan buat apa mas"
"Itu ruangan buat sekretaris"
"Sekretaris nya kok belum berangkat mas"
"Boleh asal yang laki-laki jangan perempuan"
"Iya kalau itu mas paham, tapi mas mesih pengen bekerja keras sendiri kan ada Gavin"
"Mas nggak kerepotan"
"Tentu saja nggak."
"Aku mau kerja di mana ya nanti nya"
"Di sini saja"
"Maksud mas"
Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan nya.
"Masuk"
"Selamat pagi pak bos, eh ada bu bos, Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Bang Gavin, nggak usah panggil saya bu, saya masih muda"
"Iya maaf"
"Ada kepentingan apa kamu kemari"
"Aku dapet info kemarin dari Jepang, katanya di sana ada lahan yang akan di jual sekitar luas 15 hektare. Tempatnya cocok untuk pembuatan hotel, karena tempat yang strategis dan di kelilingi dengan pohon sakura dan sungai yang mengalir melintasi nya. Besok aku akan ke sana untuk memastikan, aku harap kamu juga ikut, karena masalah ini tergantung kamu"
"Besok aku juga akan ikut, buat berkas pengajuan pembelian lahan tersebut, kira-kira berapa harga yang mereka jual"
"Sekitar 2,4 miliar per meter persegi"
__ADS_1
"Ya sudah, kita rapat satu jam lagi untuk memikirkan hal ini"
"Baik, kalau begitu saya permisi."
Gavin pun keluar dari ruangan tersebut. Hanan pun menyalakan laptopnya yang sedari tadi tidak di nyalakan.
"Yah mas Hanan mulai sibuk"
"Besok kamu ikut mas"
"Hah.. Ikut mas ke Jepang"
"Iya, paling cuma beberapa hari"
"Insyaallah. Eh iya Zahra, ini kado dari Gavin kemarin lupa mas bawa, coba kamu buka"
"Iya mas. Mas, perusahaan nasib perusahaan DE gimana"
"Itu akan mas urus nanti bersama dengan papa dan bang Hendra."
"Baik mas, semangat ya. Aku buka kado dulu"
Zahra pun membuka kado yang berukuran tidak besar di tangannya. Ternyata isi di dalam tas tersebut adalah sebuah tas selempang kecil yang mewah dan anggun beserta dompet laki-laki.
"Mas ini ada dompet, sepertinya cocok buat mas. Di sini ada kaca nggak mas"
"Kenapa"
"Ini tasnya cantik banget, pasti mahal. Cocok nggak mas"
"Cocok banget dan kelihatan cantik"
"Terimakasih mas"
"Kalau kamu mau istirahat, istirahat saja di kamar"
"Di sini mana ada kamar mas"
"Ada"
"Di mana"
Zahra melihat sekeliling kamar tersebut, tak ada pintu selain pintu keluar. Hanan pun menggandeng tangan Zahra.
"Ikut mas"
Hanan memencet sesuatu di lemari lalu pintu pun terbuka.
"Loh kenapa pake pintu rahasia gini"
"Kalau nggak di buat seperti ini, kalau mas pengin istirahat pasti di ganggu. Mas kan juga butuh istirahat biar tambah vit kalau kerja"
"Ya tapi jangan di tumpuk juga pekerjaan mas"
"Mas nggak numpuk pekerjaan. Justru malah setelah istirahat terus bangun itu badan terasa fresh dan pekerjaan yang begitu berat bisa di kerjakan dengan pikiran kita yang fresh gitu"
"Oohh.. Gitu, ya udah sekarang kan mas sibuk aku di sini aja ya biar nggak ganggu mas."
"Terserah kamu saja, yang terpenting kamu nyaman. Ya udah mas mulai kerja ya. Kalau butuh sesuatu panggil mas"
"Iya mas, semangat kerjanya. Muuaahh"
"Alhamdulillah, energi mas tambah, terimakasih"
"Emm.. "
Zahra tersenyum sumringah, Hanan pun membalasnya dan mengusap kepalanya lembut. Dia pun keluar dari ruangan tersebut dan mulai bekerja.
//**//
__ADS_1