Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
S2. Dede bayi Hanan dan Zahra


__ADS_3

Dua bulan berlalu...


Sore Hari setelah Ashar.


Zahra sudah berada di ruang bersalin bersama dengan mamanya dan suaminya. Hanan terus berada di sampingnya dan sesekali menyeka keringat yang keluar dari dahi Zahra.


"Sakit mah.."


"Sabar sayang."


Mama Hana dan Hanan mencoba untuk terus menyemangati Zahra. Di luar ruang bersalin ada papa Nanda dan keluarga Fany yang sedang menunggu di luar. Perasaan gelisah terus menyelimuti mereka.


Hingga sekitar 3 jam kemudian suara tangisan bayi terdengar dari dalam ruangan bersalin. Zahra melahirkan dengan normal. Semua yang mendengarnya langsung berpelukan.


"Alhamdulillah." ucap papa Nanda.


Sementara itu di dalam ruangan, bayi mungil berjenis kelamin laki-laki tengah berada di dada Hanan. Hanan mengumandangkan Azan di telinga jagoan kecilnya sesekali menyeka air matanya yang keluar. Senyum dan tangis bahagia terpancar di wajah keduanya.


Setelahnya bayi itu pun di berikan kepada suster untuk di pakaikan baju. Setelah semuanya selesai, bayi tersebut dan Zahra di pindahkan ke ruang inap biasa setelah keduanya selesai di bersihkan.


Zahra dengan sangat senang, menggendong bayinya di temani Hanan yang di sampingnya. Hanan terus memandangi putranya sambil mengelus kepalanya dan tak lupa menyeka air matanya.


"Mas, kenapa nangis? Malu ih sama babynya. Babynya aja nggak nangis kok, masa papanya nangis. Udah mas.."


Hanan menyembunyikan wajahnya di pundak Zahra. Orang-orang yang di sekelilingnya hanya tersenyum dengan kebahagiaan Hanan yang begitu menyentuh.


"Sini Zahra, mama mau gendong cucu mama."


Dengan senang hati, Zahra memberikan baby kecilnya kepada mama Hana. Papa Nanda yang melihatnya pun langsung mendekatinya.


"Gantian papa dong mah."


"Ini juga baru 5 detik, ya nanti dong."


"Mama, papa bisa gantian di rumah."


Papa Nanda dan Mama Hana tersenyum sambil melihatnya dan menatap cucu mereka kembali. Tak lama kemudian Hendra dan Wina juga datang bersama dengan Indri.


"Wah.. Itu baby mah?" tanya anak berusia 6 tahun yang tak lain adalah Indri kagum saat melihat bayi yang sedang di timang oleh mama Hana.


"Iya Indri, Indri mau cium." tanya mama Hana.


Dengan sedikit berlari dia pun menghampirinya. Mama Hana yang melihatnya langsung sedikit membungkuk untuk diciumkan oleh Indri.


"Babynya ganteng banget. Kalau udah gede pasti kaya papa Hanan."


Semuanya tersenyum kecuali Hanan yang masih betah di pundak Zahra. Indri menghampirinya dan melihatnya.


"Papa Hanan kenapa? Kok nangis bukannya seneng. Papa Hanan nggak malu ya sama dede bayi. Dede bayinya aja nggak nangis, masa papa Hanan nangis si. Papa Hanan udah gede loh, aku aja nggak suka nangis. Papa kalah sama Indri loh."

__ADS_1


"Tuh mas, di ledek sama Indri, kamu nggak malu mas. Banyak orang loh."


Hanan menggeleng dan membuat semua pasrah dengan tingkahnya. Kini jagoan Hanan tengah di gendong oleh Wina. Dan Indri lekas menemuinya.


"Mama, cara buat dede bayi gimana si?"


Semua orang hanya saling menatap satu sama lain. Dan Indri hanya di buat bingung olehnya.


"Dedenya tumbuh dalam perut sayang. Harus makan yang banyak dan memiliki badan yang sehat."


"Kenapa harus di perut mama bukan di perut papa."


Semua tertawa dengan pertanyaan polos dari Indri.


"Ya nggak jadi sayang. Indri mau dede bayi." Tanya Hendra sambil mengelus kepala putrinya.


"Nggak pah, nanti kasih sayang ke Indri ke bagi dong. Kan udah ada dede bayinya papa Hanan sama mama Zahra, jadi nggak usah. Ada dede bayi aja udah di buat iri, sekarang Indri udah jarang di gendong sama mama dan papa."


Semua orang tertawa, dan Hendra pun lekas membopongnya.


"Udah kan. Seperti dede bayi.. Cup.. Cup.. Cup.."


"He.. He.. He.. Papa... Hehehe."


Suasana menjadi sedikit ramai dan membuat jagoan Hanan dan Zahra menangis, dengan segera Wina memberikannya kepada Zahra.


"Sssssttt... Sayang... Sstt.."


"Iya mah, kalian semua hati-hati."


"Selamat Zahra, udah jadi mama muda." ucap Fany.


"Kapan nyusul."


"Belum tau. Duh.. Manisnya. Ini buat dede bayi. Kami pulang ya."


Alvero dan Fany keluar, begitu juga dengan keluarganya. Begitu mereka keluar, Zahra segera memberikan ASI kepada babynya. Zahra menggerakkan pundak kanan yang sedari tadi basah karena ulah Hanan yang terus menangis.


"Mas iihh.. Pundak Zahra berat."


Hanan pun menyeka air matanya dan melihat babynya sambil mengelus kepalanya.


"Kenapa mas nangis?"


"Kagum sama kamu, udah berjuang keras jadi seorang istri yang baik dan sekarang tugas kamu nambah menjadi seorang ibu. Kamu hebat."


"Semua wanita juga pasti merasakannya mas. Udah siapin nama kan buat baby?"


"Namanya Reyhan Naufal Purnama."

__ADS_1


"Artinya mas?"


"Artinya, pemberian dari Tuhan yang dermawan seperti bulan Purnama."


"Memangnya bulan purnama dermawannya apa mas?"


"Dermawan menunjukkan keindahan walaupun tak sering menampakkan jati dirinya namun selalu di kenang."


Tiba-tiba saja Zahra teringat oleh kedua almarhum orang tuanya dan airmatanya pun mulai terjatuh.


"Kamu kenapa?"


"Nggak papa mas, cuma ke lilipan aja."


"Jangan bohong, apalagi sama suami sendiri, dosa loh."


Tanpa pikir panjang, Zahra langsung mengutarakan apa isi hatinya yang membuatnya berlinang air mata.


"Aku jadi ke inget sama almarhum mas. Andai mereka masih hidup, pasti mereka seneng banget liat cucu pertamanya."


Hanan pun mengerti dengan maksud Zahra dan mengelus pundaknya.


" Mas mau gendong?"


"Boleh."


Hanan pun menggendongnya dan menyakikan lagu sholawatan. Zahra tersenyum mendengarnya sehingga dia tertidur. Hanan yang melihat Zahra tertidur pun meletakkan bayinya di box, dan dia juga memutuskan untuk tidur di sofa karena waktu yang sudah larut.


Pukul setengah 12 malam, mereka kembali terbangun karena baby Reyhan menangis. Zahra dengan cepat bangun dan memeriksa pokoknya yang basah. Dengan penuh hati-hati Zahra menggantinya.


"Cup.. Cup.. Cup.. Sayang, pokoknya basah ya. Bentar ya mama gantiin. Anak gantengnya mama berhenti dong nangisnya, ntar papa kamu bangun, kasian dia cape."


Baby Reyhan tak merespon dan menangis. Hanan yang mendengarnya pun lekas terbangun dan menghampirinya.


"Kenapa sayang?"


"Popoknya basah."


Hanan pun ikut menenangkannya. Setelah Zahra selesai mengganti popoknya, Zahra lekas menggendongnya. Namun tetap tidak berhenti walaupun sudah di kasih ASI.


"Coba mas yang gendong."


Hanan menggendongnya dan menyanyikan kembali sholawat nabi, dan tak lama bayi itu pun tenang dan mulai tertidur.


"Sudah diam, lebih baik kamu tidur saja dulu, biar mas yang gendong. Kayaknya babynya ngerti mamanya kecapean."


"Nggak papa mas."


"Iya nggak papa, nunggu babynya lelap dulu baru mas tidurin di box."

__ADS_1


Zahra mengangguk dan kembali berbaring di ranjangnya dan mulai memejamkan matanya. Hanan juga meletakkan baby Reyhan di box nya dan tertidur kembali di sofa.


//**//


__ADS_2