Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
S2. Ngidam


__ADS_3

Kembali kepada Hanan.


Hanan sampai di kantornya yang tak jauh dari kampus Zahra. Saat dia turun dia langsung berjalan cepat dan menuju ke belakang pos. Petugas pon yang melihatnya bingung dan langsung menemuinya.


"Pak Hanan, bapak kenapa?"


Hanan terus mual-mual dan setelahnya di dudukan di dalam pos.


"Ini pak minum dulu. Bapak sakit?"


Hanan mengeluarkan obat di dalam sakunya lalu meminumnya.


"Begitulah."


"Saya antar ke dalam pak?"


"Tidak usah pak terimakasih. Saya sudah mendingan."


"Terimakasih banyak pak."


"Iya pak."


Hanan pun masuk ke kantornya dan di sambut baik oleh Gavin temannya yang kebetulan juga baru masuk bersamanya.


"Pagi Nan. Sudah sehat?"


"Alhamdulillah mendingan."


Merekapun menaiki lift dan kemudian masuk ke ruangannya masing-masing. Hanan langsung membuka laptopnya dan beberapa berkas yang sudah menumpuk di mejanya. Tiba-tiba perutnya berbunyi seperti orang yang sedang kelaparan. Tanpa pikir panjang dia menelepon Gavin.


"Hallo Vin. Ke ruangan saya sebentar."


Hanya itu saja yang ia katakan. Gavin yang baru saja duduk harus kembali bangkit dan menuju ke ruangan Hanan.


"Ada apa nan. Baru aja duduk satu detik udah di suruh ke sini."


"Beliin es doger sana sama soto ayam."


"Kamu belum sarapan?"


"Udah, tapi akhir-akhir ini sering lapar."


"Jangan lupa bonus ya."


"Iya-iya, cepetan sana."


Gavin langsung melangkahkan kakinya ke luar dan Hanan kembali berkutik pada berkas-berkasnya. Tak butuh waktu lama Gavin membawa dua es doger dan dua porsi soto ayam.


Gavin meletakkan kantong kresek tersebut lalu beralih ke dapur yang ada di ruangan Hanan dan mengambil 4 buah mangkuk.


"Wah, kayaknya seger banget nih. Makasih ya Vin."


"Tumben banget pak bos minta beliin makanan. Pak bos nggak dimasakin istri di rumah?"


"Tadi pagi udah makan."


"Ngidam ya bos."


"Hmm.. Aminnn.."


Setelah soto itu di tuangkan Hanan langsung memakannya. Setelahnya dia membiarkan tempat soto tersebut dan meninggalkannya.


"Vin, bereskan sekaligus cuci. Aku kasih bonus."


"Siap bos."


Dengan telaten Gavin membersihkannya dan kembali ke ruangannya kembali.


*****


Sepulang dari kampusnya, Zahra kedatangan tamu yang tak lain adalah mama Hana.


"Mama, mama kapan ke sini?"


"Tadi belum lama kok."


Zahra pun duduk di samping mamanya. Dan hidungnya mencium sesuatu yang menyengat. Dia langsung merasakan perutnya yang mual dan kemudian dia langsung menuju ke kamar mandi. Mama Hana panik dan kemudian menyusulnya.


"Ra.. Zahra.. Ra.. Kamu kenapa nak?..Ra.."


Mama Hana menggedor pintu kamar mandi dan tak lama kemudian Zahra pun keluar sambil menutup hidungnya.


"Itu bau apaan mah?"

__ADS_1


"Itu bau durian, masa lupa si. Dulu aja waktu lagi musim durian kamu suka banget makan."


"Kayaknya jangan dulu deh mah. Baunya, nyengat banget.. Hueekk.."


Zahra kembali ke kamar mandi, dan tanpa pikir panjang mama Hana menyingkirkan durian tersebut ke luar rumah


"Sudah nak, sudah. Kamu bisa keluar sekarang."


Zahra pun keluar dengan lemas. Mama Hana mendudukannya di kursi di dekatnya dan memberinya minum. Matanya teralihkan kepada kardus berisi susu ibu hamil. Mama Hana pun membawanya.


"Kamu hamil Ra?"


Zahra dengan pasrah pun mengangguk. Mama Hana meletakkan susu itu dan langsung memeluk Zahra.


"Alhamdulillah.. Selamat sayang. Kalau gini mama harus sering-sering ke sini. Udah berapa minggu?"


"Udah 4 minggu mah."


"Kamu tau sejak kapan? Terus kenapa nggak kasih tau mama sama papa?"


"Maaf mah sebelumnya, Zahra tau sejak 5 hari yang lalu, dan rencananya Zahra mau kasih tau setelah umur kandungannya 3 bulan, karena dulu Zahra pernah di wanti-wanti sama almarhum mama buat nggak ngumbarin dulu sama orang-orang gitu."


"Iya nak, mama tau, tapi itu untuk selain keluarga. Keluarga kamu yang harus tau dulu soal kehamilan kamu supaya ada yang ngurus kamu dan buatin makanan yang sehat buat kamu."


"Iya mah, maaf."


Mama Hana menghela nafasnya dan kemudian mengelus pundaknya.


"Ya sudah, mama akan sering-sering nginep sini dan datang berkunjung. Kebetulan mama juga bawakan jeruk."


"Jeruk? Lebih baik jangan dulu deh mah, denger buahnya aja udah bikin nek."


"Tapi kamu harus makan banyak buah dan sayur biar babynya sehat."


"Biar mas Hanan nanti yang wakilkan."


"Tapi kan baby nya ada di perut kamu, mana bisa di wakilkan sayang."


"Maaf mah, jangan dulu ya."


"Ya sudah, mama nggak bisa maksa. Tapi harus sempet-sempet makan buah dan sayur loh ya."


"Iya mah."


"Ya sudah, kamu lebih baik istirahat. Mama pulang dulu, besok mama ke sini lagi."


*****


Di sore harinya, Zahra menunggu di ruang tamu sambil memakan camilan. Hanan tak di sambut dan Zahra hanya sibuk menonton televisi sambil tertawa. Hanan yang melihatnya langsung duduk di sampingnya.


"Eh.. Mas pulang." Zahra mencium tangan Hanan.


"Mas mandi sana, Zahra mau bikinin kopi."


"Iya."


Hanan beranjak dari tempat duduknya dan Zahra membuatkan kopi untuknya. Setelahnya dia pun pergi ke kamar atas.


"Mas, tadi mama ke sini bawa durian sama jeruk."


"Jeruk sama durian. Dimana?"


"Di bawah mas."


"Mas mau jeruknya. Jeruknya dimana?"


"Di kulkas kayaknya."


Hanan turun ke bawah dan kemudian mengambil beberapa jeruk. Zahra yang menyadarinya pun langsung menutup hidungnya.


"Mas mau makan jeruk lebih baik di luar ya, jangan di sini."


"Lah, mas mau makannya di sini."


"Ya udah, malam ini aku tidur di bawah."


"Iya-iya."


Hanan mengalah dan menuju ke ruang televisi. Zahra sendiri memilih untuk mandi.


Setelah Hanan menyelesaikan memakan buahnya, dia kembali ke kamar. Semenjak Zahra hamil, hidungnya sangat sensitif terhadap bau dan saat kedatangan Hanan, dia langsung menutup hidungnya.


"Mas jangan masuk!"

__ADS_1


"Kenapa lagi?"


"Bau jeruk sana keluar."


"Nggak kok tuh."


Kini Zahra tak tahan lagi dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Hanan yang melihatnya panik dan bergegas mengikutinya ke kamar mandi, namun pintunya segera di kunci.


"Mas, mendingan keluar deh. Kayaknya morning sickness nya pindah ke aku jadi ada bau sedikit yang sekiranya aku nggak suka, aku mual."


Hanan pun mengerti dan mengangguk ngangguk di luar kamar mandi.


"Ya sudah, mas tidur di kamar sebelah. Kalau ada apa-apa bangunin mas."


Setelah Hanan pergi, Zahra pun keluar dan memutuskan untuk tidur begitu juga Hanan.


*****


Pukul 12 malam, Hanan merasa tubuhnya digoncang dan akhirnya dia pun terbangun.


"Mas.."


"Hmm.. Kenapa?"


Zahra terdiam dan kemudian Hanan pun duduk sambil mengucek matanya. Dia meraih handphone yang ada di meja dan memeriksa jam.


"Kenapa tengah malem bangun?"


"Kerak telor."


Hanan menganga dan kembali melihat jam yang ada di handphonenya lalu mengusap wajahnya kasar.


"Jam segini mana ada kerak telor yang buka Zahra."


"Tapi bilangnya jangan ke aku dong. Babynya nih.."


Hanan menghela nafas panjang dan mengelus perut Zahra.


"Babynya yang mau? Kamu nakal banget sih nak, jangan buat mama sakit dengan permintaanmu itu loh ya. Papa akan carikan malam ini. Kamu tunggu di sini."


"Aku tunggu di ruang keluarga aja mas."


"Ya sudah."


Hanan pun keluar menggunakan motornya. Pak Johan yang sedang tertidur di dalam pos, langsung terbangun saat ada yang mengetuk pintunya.


"Pak Johan, buka pintunya."


"Loh, Tuan mau kemana tengah malam begini?"


"Saya mau nyari kerak telor pak. Tapi kira-kira dimana ya yang jual."


"Nona Zahra ngidam Tuan. Nggak usah jauh-jauh. Saya bisa kok tuan."


"Pak Johan bisa?"


"Iya Tuan bisa."


"Alhamdulillah hi rabbil'alamin. Mari pak buat. Di taman belakang saja. Bapak ambil bumbunya di dapur, saya yang menyiapkan peralatan."


"Iya Tuan."


"Terimakasih pak Johan, saya akan kasih bonus kepada bapak besok waktu gajian."


"Tidak usah pak. Ini kan juga buat Nyonya Zahra, saya juga nggak enak kalau Tuan harus keluar tengah malam buat nyari kerak telor."


"Iya sudah, saya nyimpen motor dulu."


Setelah menyimpan motornya, dia kembali masuk ke dalam rumahnya. Zahra bingung dengan kedatangan Hanan.


"Loh mas, kok balik lagi?"


"Pak Johan mau buatin. Pak Johan bisa katanya. Kita buat di taman belakang."


"Syukur deh kalau gitu, aku ikut ke belakang ya mas."


"Jangan, angin malam itu nggak baik."


"Isshh.."


"Pake baju yang tebel, nanti mas ijinin."


Zahra menurut dan dengan sigap dia memakai jaket kaos kaki dan sarung tangan untuk menuruti suaminya.

__ADS_1


Dan malam itu Zahra memakan kerak telor buatan Pak Johan hingga puas. Setelahnya dia pamit dan menuju ke kamar untuk kembali beristirahat.


//**//


__ADS_2