Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Sepeda


__ADS_3

"Udah, sana taro aja di garasi biar nggak kepanasan" ucap Zahra di saat mereka berhenti di depan pintu gerbang rumah Hanan.


"Parkir di sini? Jangan ngaco lo, ini rumah orang nggak boleh asal masuk aja"


"Ini rumah Hanan b*go"


"Hah, jangan pada ngaco kalian, ini rumah orang kalau kalian mau di tuntut silahkan aja, gue mah ogah. Yuk jalan."


"Pak Johan, tolong bukaiin gerbang" teriak Zahra


"Iya non"


Pak Johan yang sedang mencuci mobil pun keluar dan segera membukakan pintu gerbang.


"Mari non"


"Terimakasih pak"


"Non? maksud bapak nongkrong atau nonton?"


"Tuan temannya non Zahra"


"Lah kok bapak tau"


"Kan udah di bilangin, ini rumah pak Hanan"


"Apa benar pak"


"Iya tuan, benar"


"Kerja apa tuh orang"


"Udah diem, ntar keburu siang. Sono simpan dulu motor lo"


"Pak Johan, minta tolong taruh motor saya ya pak"


"Iya tuan, masuk dulu"


"Iya pak, tergantung Zahra"


"Iya udah ayo masuk dulu, kamu ganti baju, gue minta bi Sari" ucap Zahra.


"Yuk"


Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah Hanan. Alvero yang baru pertama kali masuk ternganga tak percaya.


"Gede amat dah kaya istana. Pak Hanan mana?"


"Di atas kayaknya"


"Ooh"


"Kalian tunggu di ruang keluarga ya, gue ke belakang dulu sebentar"


"Santai Ra" ucap Fany.


Zahra mencari bi Sari di belakang namun tidak ketemu, hingga akhirnya dia bertemu dengan bi Tuti.


"Bi Tuti, ada baju traning nggak bi buat temen saya Alvero"


"Saya ngga punya nona, paling tuan, non"


"Bi, bisa tolong mintain nggak"


"Kan non is..."


"Ssstttt... jangan keras keras bi, inget bi adik..ADIK" ucap Zahra sambil menekan kata adik.


"Iya non, kan non adiknya tuan Hanan, masa saya yang minta non"


"Harus bi"


"Kalau non nggak mau ya udah nggak usah minta non, lagian temen non udah pakai baju kan? memangnya buat apa si non"


"Itu bi, kita mau olahraga, terus teman saya satu nggak pake baju olahraga jadi bingung"


"Ya udah non, minta aja sama tuan Hanan, pasti di kasih."


"Iya bi, bi sekalian tolong ambilkan camilan dan minuman dua untuk Alvero sama Fany ya bi"


"Siap non"


Zahra tergesa gesa menuju ke kamar pak Hanan. Zahra hendak mengetuk pintu, namun bukan pintu yang ia ketuk tetapi jidat Hanan.


"Astagfirullah hal'adzim, maaf pak, saya nggak sengaja"

__ADS_1


"Nggak papa, ada apa kamu ke sini, bukannya kamu mau sepedaan tadi"


"Itu pak anu, Alvero mau pinjam baju bapak"


"Kenapa, Alvero nggak pake baju"


"Bukan pak, Alvero pake celana jeans sama kemeja, masa iya olahraga pakai baju begitu"


"Kamu tunggu di bawah saja, akan saya carikan sebentar"


"Iya pak"


*****


Di ruang keluarga..


"Pekerjaan pak Hanan apaan" tanya Alvero tanpa basa basi karena saking penasarannya.


"Orang kantor jadi general manager"


"Widih, udah gue duga"


"Emang lo tau darimana?"


"Lo, barusan"


"Orang tua pak Hanan ke mana"


"Ini rumah pak Hanan sendiri. Pak Hanan tinggal sendiri agar jarak ke sekolahnya lebih deket katanya, jadinya Zahra ikut pak Hanan"


"Jadi nona dong di sini. Hebat tuh anak dateng dateng main jadi nona aja"


"Diem lo, kalau Zahra dateng lo bisa di gampar sama dia"


"Lagi ngomongin gue ya" ucap Zahra.


"Iya lah, siapa lagi selain lo. Ini kan rumah lo" ucap Alvero apa adanya.


"Lanjut aja ngomongin gue, gue nggak papa kok, kan gue juga yang kecipratan pahala nya"


"Udah nggak bisa lah, kan udah ada lo"


"Ra, mana bajunya? bukannya lo ambilin baju buat Al kan" ucap Fany


"Iya, lagi di ambilin sama pak Hanan tadi"


"Ya udah ayok, sekalian ajarin gue ya"


"Tungguin gue napa"


"Lo tinggal ke belakang aja repot, lagian lo nggak bakal di tinggal kok. Kalau lo bingung tanya aja sama pembantu di sini. Yuk Fan"


Zahra menggandeng tangan Fany dan meninggalkan Alvero sendirian di ruang keluarga. Alvero menghembuskan nafasnya kasar sambil menatap kedua temannya keluar dari rumah besar itu.


"Alvero, ini pakai saja"


"Eh pak"


Alvero bersalaman' dengan Hanan.


"Maaf pak merepotkan"


"Tidak, sekarang kamu pakai saja"


"Bapak sekalian ikut olahraga saja yuk pak, nggak enak kalau di suruh jaga 2 cewe. Bapak kan paling tua, sekalian jaga kami. Kalau kami kenapa-kenapa gimana pak" ucap Alvero.


"Ya kalau itu yang kamu mau ya sudah, namun kalian jangan canggung"


"Nggak kok pak, baju ini makasih ya pak"


"Iya"


...Di belakang rumah.


"Eh Fan, ini gimana"


"Masa nggak bisa si, gampang gini juga"


"Ya ajarinnya yang bener dong"


"Gue pegangin lo gayuh ya sepedanya"


"Seimbangin tangan lo, jangan belak belok, santai aja. Pandangan lurus ke depan jangan liat kaki"


"Eehhh..."

__ADS_1


Zahra hampir terjatuh, beruntung Fany memegangi sepedanya dengan kuat.


"Udah lah, tunggu Alvero aja."


"Terserah lo si, gue muter dulu ya sebentar"


"Lama juga nggak papa"


Zahra duduk sambil memandangi Fany, melamunkan kejadian demi kejadian bersama dengan Hanan, hingga panggilan Alvero membuyarkan lamunannya.


"Ngelamun lagi"


"Loh, lo dapet sepeda dari mana"


"Dari gudang tadi ambil sama pak Hanan, tapi adanya yang gandeng gini"


"Gue bonceng lo aja ya, kalau jatuh kan nggak sendirian."


"Kalau mau bonceng sama abang lo aja sana, gue mah ogah jatuhin anak orang. Bisa kena gampar gue sama abang lo"


"Bapak ikut, bukannya tadi di ajak kita nggak mau" timbrung Fany setelah menghentikan sepedanya.


"Di ajak sama gue pasti mau lah. Nih ra, pegangin bentar sepedanya"


Zahra menerima sepedanya.


"Fan, jalan yuk. Gue ambil ya sepeda lo"


"Eehh.. gue aja belum lancar sepedaanya"


"Belajar sama pak Hanan pasti langsung bisa, gue tinggal ya"


"Fan, Al, kok gue di tinggal si, dasar temen laknat lo pada"


Zahra membalikkan badannya dan ada Hanan di belakangnya.


"Astagfirullah hal'adzim, maaf pak"


"Mau saya bantu, atau ikut mereka jalan"


"Saya nggak bisa sepedaan pak"


"Saya yang di depan, kamu yang di belakang, kamu tinggal pegang kemudi sama gayuh sepedanya, pasti cepet bisa"


"Modus nih orang" gumam Zahra


"Iya pak"


Zahra menaiki sepedanya dan bersiap untuk mengayuh.


"Sudah siap"


"Sudah pak"


Hanan mengayuh sepedanya dengan kompak bersama Zahra. Dengan senang hati pak Johan membukakan pintu gerbang dengan lebar untuk leluasa tuan dan nonanya melewati.


"Mari pak" ucap pak Hanan.


"Semangat tuan, nona" teriak Pak Johan yang hanya mendapat anggukan dari Hanan.


Dari kejauhan Fany dan Alvero terhenti di sebuah toko yang tidak jauh dari sana, Hanan dan Zahra pun juga ikut berhenti.


"Kok kalian berhenti"


"Mau beli minum, mau" ucap Alvero.


"Nitip"


"Sini duitnya"


"Pake duit lo dulu baru gue ganti"


Hanan mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang 50 ribu.


"Ini, pakai saja. Beli yang cukup untuk berempat"


"Iya pak, terimakasih"


Alvero masuk bersama dengan Fany, Hanan dan Zahra menunggunya dari luar. Tidak ada percakapan, hanya suara mesin motor dan mobil yang melalui mereka.


"Sudah, yuk pak jalan"


"Ke sekitar kompleks saja ya, biar nggak terlalu ramai"


"Iya pak" jawab mereke kompak bagaikan patuh terhadap pembimbingnya.

__ADS_1


//**//


__ADS_2