Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Keputusan


__ADS_3

Zahra keluar dari ruangan nya dan tanpa pikir panjang langsung menarik tangan pak Hanan ke dalam ruangan.


"Tu-tu-tunggu, ada apa Zahra"ucap pak Hanan panik.


Zahra hanya terdiam hingga di depan mama Kirana.


"Aku akan menuruti keinginan mama, untuk yang terakhir kalinya dan... "


Zahra menghela nafas nya panjang.


"Aku bersedia menikah dengan pak Hanan apapun risikonya"


Mama Kirana tersenyum sambil berlinang air mata bahagia. Zahra memeluk mamanya dengan erat. Pak Hanan hanya terdiam dengan pengakuan Zahra.


"Nak Hanan, tolong segera kan bawa penghulu ke sini" ucap mama Kirana yang semakin melemah.


"Kenapa wajah mama kelihatannya pucat"


"Mama nggak papa kok"


Pak Hanan hanya terdiam bingung dan segera menelepon Gavin. Dia sungguh tidak percaya dengan hal yang akan dia lakukan hari ini.


"Apa, gila lo Nan, mana bisa gue bawa penghulu secepat ini"


"Jangan buat aku tambah pusing."


"Akan aku usahakan"


Pak Hanan duduk di depan ruangan VIP Zahra. Termenung memikirkan semua yang akan terjadi kedepannya.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan kepada orang tua ku nanti? Bagaimana reaksi mereka? Apakah mereka bisa menerima Zahra? Apa yang harus aku lakukan ya Allah?"


Pak Hanan melamun memikirkan banyak hal, hingga panggilan keras Zahra membangunkan nya dari lamunannya.


"Pak Hanan, saya mau bicara serius dengan bapak"


"Pak, saya meminta 3 syarat. Setelah pernikahan nanti jangan sampai kabar ini keluar dari urusan pribadi kita, lalu tolong izinkan saya untuk tetap tinggal di rumah saya agar tidak ada yang curiga dengan saya, untuk syarat yang terakhir saya akan katakan setelah pernikahan nanti"


"Terserah kamu saja, saya akan menurut dengan kamu."


"Satu hal lagi pak, saya mau bertanya satu hal penting ini dengan bapak"


"Katakan"


"Bagaimana dengan orang tua bapak, apa mereka sudah tau"


"Tentu saja masih belum, kamu jangan khawatir. Aku akan memperkenalkan kamu secara perlahan"


Zahra mengangguk lalu tersenyum dengan paksanya.

__ADS_1


"Ada lagi"


"Seperti nya tidak pak, saya permisi"


Setelah Zahra masuk ke ruangannya, pikiran dan jantung mereka berkalang kabut tidak karuan. Memikirkan kedepannya yang masih hanya sebagai angan belaka. Pak Hanan yang terduduk lemah sambil bersandar di dinding hanya bisa pasrah.


Tanpa pikir panjang akhirnya dia pergi ke mushola yang tersedia dan melangsungkan sholat tahajud. Setelah nya dia juga membaca Al-Qur'an dengan suara merdunya hingga mengundang banyak perhatian dari semua yang ada di dalam mushola tersebut.


Zahra sendiri juga ikut cemas dan merasa kalang kabut, hingga akhirnya dia meminta salah satu suster di rumah sakit untuk menjaga mamanya, sedangkan dia sendiri pergi ke mushola untuk menenangkan pikiran nya.


"Di saat terpuruk dan merasa sendiri, tempat yang terbaik adalah mencurahkan semua ini kepada Allah, tidak ada yang bisa mengerti hati ini selain dari dirinya. " gumamnya saat akan mengambil air wudhu.


Dia pun masuk ke dalam mushola dan mulai melakukan shalat tahajudnya. Di saat selesai dia melupakan semua keluh kesahnya sambil menangis, sungguh tangisan nya begitu dalam dan hanya bisa menyeruak di dalam hatinya.


Setelah berdoa dia terduduk dan baru menyadari bahwa ada lantunan indah seseorang yang membuat hati Zahra menjadi tenang dan akhirnya memutuskan untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang di baca kan seseorang. Zahra juga melihat ke sekeliling nya dan tidak mengetahui siapa yang sedang membacakan ayat suci itu, karena banyak yang sedang sholat tahajud juga.


"Permisi nak" ucap seseorang.


"Ahh.. Iya bu silahkan"


Zahra hendak berdiri dan melepaskan mukena nya.


"Kenapa di lepas nak, saya mau bicara dengan kamu"


"Sa-saya, ada apa ya bu"


"Tenang kamu jangan takut, saya bertanya, kamu kenapa kok matanya sembab begitu nak"


"Jangan di tutupin begitu, saya tau kok pasti ada yang menyeruak di hati kamu, cerita saja"


"Begini bu, saya akan menikah dalam waktu dekat ini dan entahlah bu, saya tidak tau dengan perasaan saya saat ini. Saya tidak mencintai nya bu"


"Kamu di jodoh kan" tanya ibu tersebut.


"Karena wasiat bu, kalau tidak pasti saya akan memberontak"


"Kalau karena wasiat pasti ada alasannya, tenang pasti cinta itu akan segera mengalir, mana mungkin kedua orang tua kamu menjodohkan anak cantik ini dengan pria sembarangan, itu tidak mungkin. Namun sekeras kamu mencoba menghindari nya, Allah pasti akan tetap menyatukan kalian dan mulai membuat cinta dan di saat itulah juga cinta mu akan di uji."


"Mengapa bisa begitu bu"


"Kamu belum punya pacar kan? Jika belum punya di jodoh kan itu hal wajar karena kamu belum memiliki pasangan, kecuali kamu sudah memiliki nya, kamu bisa menghindari perjodohan itu"


"Iya bu, namun ini berbeda bu, kalau di jodohkan pun saya tak apa,masalah nya yakni saya masih sekolah dan yang akan menikahi saya adalah guru agama saya, saya ingin menggapai cita-cita saya dulu ibu, mana mungkin saya bersekolah sekaligus menyandang status istri, apa yang akan di pikirkan teman-teman saya nanti "


" Biarkan itu berjalan sesuai dengan alur sang kuasa, kamu harus kuat dan tabah ya nak. Bagaimana pun itu adalah takdir"


"Iya bu, terimakasih sarannya. ibu, boleh tau nama ibu" Zahra mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oiya saya lupa, nama saya Arum nak, kamu sendiri"

__ADS_1


"Saya Zahra bu, maaf ya bu, sepertinya saya harus kembali. "


"Iya nak, hati-hati"


Zahra pun meninggalkan mushola. Di sisi lain, pak Hanan menyelesaikan membaca ayat suci Al-Qur'an setelah merasa dirinya tenang.


"Kenapa berhenti nak, lanjut kan" ucap pak Ustad yang kebetulan sedang berada di sana untuk menjaga anaknya yang sedang sakit.


"Pak Ustad, bapak kok bisa di sini."


"Saya sedang menjaga anak saya di sini, kamu sendiri ngapain di sini"


"Tidak ada pak, saya harus ke ruangan sekarang. Saya permisi, Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh"


Pak Hanan pun bergegas keluar dari mushola. Pak Hanan tidak sengaja melihat Zahra duduk di sebuah bangku taman. Pak Hanan pun menghampiri nya tanpa ragu lalu duduk di sebelah nya.


"Kenapa kamu di sini" ucap pak Hanan.


"E-eh... Pak Hanan, nggak papa pak, saya ingin mencari udara segar saja"


"Ini sudah tengah malam Zahra, nanti kamu bisa sakit lagi. Lagipula keadaan kamu belum begitu pulih"


"Bapak sendiri ngapain di sini"


"Saya habis sholat tahajud tadi"


"Saya juga barusan sholat tahajud tapi kok nggak liat bapak"


"Saya ada di barisan depan tadi dan mungkin tidak kelihatan karena ramai. Sudah jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, sebaiknya kita masuk sekarang"


"Ki-kita?" ucap Zahra bingung.


"Iya kita, memang nya kenapa"


"E-enggak papa pak. Mari"


Zahra berjalan di samping pak Hanan dengan perasaan canggung. Tiba-tiba tubuhnya merasa lemas dan ambruk. Pak Hanan pun membopongnya dan membawanya ke ruangan nya.


"Benar bukan, keadaan mu masih belum pulih. Sayangnya aku tidak membawa jaket tadi."


Pak Hanan menidurkannya di ranjangnya dan memanggil dokter dengan segera.


//**//


Hayokkk yang bayangin siang bolong siapa 😂😂. Terimakasih ya yang sudah baca karya aku ini..


Salamku

__ADS_1


Dewi M


__ADS_2