
Keesokan harinya, Zahra bersiap sangat pagi dan memolesi wajah nya dengan polesan bedak dan sedikit gincu. Setelah bersiap, dia langsung keluar dan sarapan.
"Tumben pagi banget ra"
"Iya mah, ka Leon katanya mau jemput"
"Leon? Pacar kamu"
"Iya mah"
"Tapi mama nggak setuju deh Ra, keliatan dari mukanya dia cuma mau memanfaatkan kamu nak. Mama nggak suka"
"Mama kan belum tau sifatnya. Doain dong biar langgeng. Kapan-kapan Zahra bawa ke rumah"
"Iya lah nak, terserah kamu saja. Kalau di tinggal jangan menangis"
"Iya mah. Sepertinya ka Leon datang. Zahra pamit, Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Mama Kirana mengantar Zahra di depan rumahnya dan sudah ada Leon yang menunggu mereka.
"Kami pamit, Assalamualaikum" ucap Leon sambil mencium punggung tangan mama Kirana.
Zahra menaiki motor Leon, dan tentu saja gosip gosip langsung bertebaran di sekitar tetangganya, namun tidak mereka hiraukan.
"Kok lewat sini, sekolah kan lewat sana kak" ucap Zahra.
"Lewat sana terlalu cepat. Kalau lewat sini kan kita bisa jalan-jalan dulu, sekalian buat nenangin diri kamu"
Zahra mengangguk sambil tersenyum senang. Bukan sekolah tempat tujuan mereka. Mereka berhenti di suatu tempat yang kumuh dan terpencil.
"Kok berhenti si kak"
"Datang juga kamu" ucap seorang preman yang datang dengan kedua preman lain.
"Kakak" ucap Zahra dengan nada takut.
"Iya Bos, bagaimana cantik bukan. Kalau boleh buat aku ya bos"
"Enak aja. Ngga bisa dong. Nanti kami akan bayar kamu dengan uang lebih"
__ADS_1
"Kakak.. " ucap Zahra lirih dan perlahan mundur ke belakang.
Dengan cepat Leon memegang tangan Zahra.
"Jangan mencoba untuk kabur" ancamnya dengan memegang tangan Zahra erat.
"Kakak, lepasin."
Zahra mencoba melepaskan tangannya namun Leon memegang tangannya dengan erat sehingga tenaga Zahra tidak mampu untuk memberontak.
Zahra di bawa ke sebuah ruangan dan di kurung di dalamnya. Tangan dan kakinya di ikat namun mereka biarkan tergeletak di lantai.
"Tolong hiks...kak Leon... " ucap Zahra.
"Berhentilah memanggil nama Leon, karena aku bukanlah Leon"
Mata Zahra terbelalak mendengar ucapannya. Lelaki yang mengaku bukan Leon itul mendekatkan wajahnya di depan Zahra. Zahra memundurkan kepalanya dan dengan cepat memegang dagu Zahra.
"Aku Zeon, kembaran Leon yang terbuang"
Zahra kaget bukan kepalang mendengar perkataan Zeon. Dia sungguh tidak percaya. Zeon membuang wajah Zahra kasar.
"Kau berbohong. Ini tidak mungkin"
Zahra hanya terdiam sambil memandang Zeon dengan aura ketakutan nya.
"Tunggu saja nanti"
"Ini tidak mungkin. Dan bagaimana lo tau lo adalah kembaran Leon. Dan bagaimana bisa kalian terpisah"
"Waktu Gue umur 5 tahun, gue selalu sakit-sakitan. Sakit gue selalu menular kepada Leon hingga akhirnya gue di buang di pinggir jalan. Gue nggak tau jalan pulang hingga akhirnya gue bekerja dengan mereka dan mendapatkan hasil yang besar."
"Namun sekarang kakak baik-baik saja"
"Memang, semenjak gue semakin dewasa penyakit gue hilang dan di saat gue sembuh total gue cari keluarga gue dan gue menemukan kabar bahwa adik gue Leon yang sekarang sangat sakit-sakitan."
"Lalu kenapa lo menangkap gue. Dan apa hubungannya dengan semua ini"
"Bukan cuma lo yang di tangkap di sini, sebenarnya sudah banyak korban yang sudah kami sekap si sini. Gue benci dengan semua wanita"
"Inget kak, mama kakak ngelahirin kakak sekuat tenaga dan mempertaruhkan nyawanya di saat kakak di lahirkan. Kakak juga di jaga di rahim seorang ibu selama kurang lebih 9 bulan kak. "
__ADS_1
"Jika memang ibu gue seperti itu, dia ngga bakal buang gue. Dia akan ngerawat gue sampai gue sembuh. Orang tua gue bahkan nggak memikirkan hal itu, mereka buang gue agar penyakit gue ngga nular sama adik gue. Bukankah itu hal yang tidak adil. Gue capek mendengar kata orang tua."
"Apa salah gue dalam hal ini? Jadi waktu itu bukan kak Leon"
"Bukan, itu gue. Gue sering denger bahwa kau adalah wanita yang mengincar Leon. Jadi tanpa pikir panjang gue temuin lo"
"Lalu apa alasan kakak membawa gue ke sini"
"Bukan cuma lo yang di perlakukan seperti ini. Sudah banyak juga temen-temen lo yang sudah ternodai. Mereka tidak bisa berkutik karena mereka tidak memiliki bukti. Dan sekarang giliran kau"
Zeon memalingkan wajahnya dengan penuh amarah meninggalkan Zahra membanting pintunya dengan keras.
"Laki-laki menjijikan. Ucapan Zahra lirih.
Zahra mencoba melepaskan talinya dengan sekuat tenaganya. Bajunya sudah begitu kotor. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
"Gue harus bisa kabur dari sini. Jangan sampai nasib gue sama seperti wanita murahan. Gue harus kuat. Ya Allah tolong bantulah hambamu. Di saat seperti ini hanya kau yang bisa membantu hamba. Ya Allah tolong kirimkan lah malaikat penolong ku Ya Allah." gumam Zahra sambil berdoa.
Zahra masih sekuat tenaga mencoba melepaskan talinya dan tidak berhenti berdoa. Tiba-tiba sebuah kotak kayu terjatuh. Dan menyisakan potongan-potongan. Zahra melihat sebuah paku di dekat nya dan mengambilnya.
Tiba-tiba pintu terbuka, terdapat preman masuk dan wajah Zahra terlihat begitu ketakutan.
"Apa yang kamu lakukan"
"Sa-saya tidak melakukan apa-apa"
"Cepat bereskan" ucap kepada para temannya. Mereka segera membersihkan pecahan kayu dan membawanya keluar.
Zahra masih menyimpan paku itu dan menggesekkannya di talinya hingga talinya terlepas. Usahanya berhasil dan dia juga melepaskan tali yang mengikat di kakinya. Dia mencoba berkeliling dan mencari pintu keluar yang ada di sana.
Zahra memindahkan kayu, kursi dan lainnya di pintu dan mencari jalan lain untuk keluar. Dia menemukan sebuah cahaya dan mengintip ke arah luar. Dia membuka jendela dengan paku yang masih di pegangnya dan berhasil keluar.
Dia berlari sekencang mungkin. Dia berlari ke sebuah hutan di belakang tempat tersebut. Merasa cukup jauh, dia akhirnya terduduk di bawah pohon sambil menangis.
Merasa tenaganya cukup dia kembali berlari dan mencari jalan keluar dari hutan itu. Melihat ke kanan dan ke kiri hanya pepohonan yang saat ini dia lihat. Zahra memegang perutnya yang merasa lapar. Tenggorokan nya juga begitu kering karena menangis dan berlari.
Namun usahanya yang sudah begitu jauh, kembali tertangkap oleh kawanan preman tadi. Zahra benar-benar tidak bisa berkutik karena tenaga yang sudah terkuras habis.
"Kamu mau kemana, lapar kan, lemes kan. Makanya duduk diem, nggak usah kelayapan ini minum sama makanan"
Zahra memalingkan wajahnya dan kembali menitikkan air matanya. Zahra hanya memandang makanan itu saja tanpa memakan nya. Dia masih berharap agar ada orang yang bisa menemukannya.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa harus aku yang ada di sini. Sekarang apa yang harus aku lakukan ya Allah. Apa kesalahan ku sehingga aku terjebak di sini. Bantulah Aku ya Allah. Mama pasti di rumah khawatir jika tau aku di sekap di sini " gumamnya sambil menangis.
//**//