Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Map tugas sementara


__ADS_3

Tak terasa sudah 2 minggu berlalu. Rumah Zahra juga sudah ada pembantu saran dari mama Hana dan tentu saja kepercayaan nya. Kini Zahra tengah bersiap untuk berangkat ke sekolah nya.


"Mas Hanan, ayo turun"


"Sebentar, ayo"


"Isshh, nih mas pasang dasinya tuh yang bener."


Zahra membenarkan dasi Hanan dan kemudian turun untuk sarapan bersama.


"Bi Fitri mari sarapan bersama"


"Iya non, terimakasih"


"Nggak perlu terimakasih bi, bibi jangan sungkan ya bi"


"Iya non"


Setelah sarapan, Zahra dan Hanan pun berangkat. Hanan mengantarkan Zahra ke sekolah sekaligus untuk mengundurkan diri dari sekolah yang Zahra tempati.


"Mas, nggak ada yang perlu di titipin kan"


"Ada dong, sebentar"


Hanan mengambil map berwarna merah yang berisikan buku yang di jilid beserta jadwal kelas pelajaran agama yang harus ia antar sebelum sekolah mendapatkan guru baru.


"Ini agenda pelajaran agama. Mungkin cukup hingga satu bulan. Di sini juga udah ada jadwal kelas mana saja yang kamu harus hantarkan."


"Kok aku mas, kan ada guru lain"


"Ujungnya nanti juga bakalan kamu yang di perintah sama guru lain karena kamu adik mas"


"Yayaya, ya udah mas, ada lagi"


"Udah nggak kok, yuk turun. Insyaallah mas jemput kamu nanti"


"Iya mas, Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Zahra keluar dari mobil Hanan, begitu juga dengannya. Hanan langsung menuju ruang guru yang sudah lumayan ramai. Kebetulan, Zahra juga berpapasan dengan Fany.


"Hai Ra, lo bawa map apaan? Ada tugas ya, tugas apa kok gue nggak di kasih tau"


"Nggak Fan, mas Hanan mau out dari sini"


"Out? Kok bisa gitu"


"Mas Hanan di angkat jadi CEO di salah satu perusahaan papa, dan mas Hanan bakal pusing karena pasti sulit membagi waktu, jadinya mas Hanan out"


"Ooh, bakal ada guru baru dong"


"Iya, ehh.. Lo berangkat bareng Al kan"


"Iya, dia ke parkiran siswa lah masa iya mau di sini"


"Kenapa nggak bareng"


"Ini sekolah bukan taman Ra"


"Biasanya kan pasangan lebih sering bareng kemana-mana, juga biar mereka tau gitu"


"Ra, hubungan itu nggak perlu di umbar-umbar, yang penting langgeng sampe ke pelaminan."


"Jadi rahasia gitu"


"Biarlah waktu yang menentukan"


"Berarti sama kaya gue"


Tak terasa, mereka sampai di kelas mereka.


"Pagi Ra" ucap Intan.


"Pagi juga


"Eh Ra, itu apa"


"Tugas agama sementara"

__ADS_1


"Maksudnya Ra"


"Pak Hanan out"


"Alasannya"


"Karena, karena... "


"Pak Hanan jadi CEO" sambung Fany.


"Hahhhhh...yang bener"


"Duh.. Gue lupa bilang ke Fany kalau jangan bilang ke siapa-siapa"


"Fan, lo sok tau banget si. Nggak ko teman-teman, pak Hanan jadi karyawan perkantoran"


"Oohhhh.. Fany lo bikin jantungan kita si"


"Tapi tadi lo bilang Ra"


"Bentar ya teman-teman"


Zahra menarik tangan Fany untuk keluar dari kelas.


"Fan, jangan bilang siapa-siapa dulu, kau ini... "


"Maaf Ra, kamu nggak bilang tadi"


"Aku kelupaan karena kita udah sampe di kelas"


"Maafin gue ya"


"Iya, nggak papa kok. Yuk taro nih tas, kita nggak sempet taro tadi kan"


"Iya"


Mereka pun berbalik dan masuk ke kelas, namun Rena sengaja menabrak Zahra hingga terjatuh.


"Kalau jalan pake mata dong bukan pake jidat"


"Kan lo sendiri yang pake jidat, lo sengaja buat Zahra jatuh kan"


"Eh Ren, lo jangan mulai lagi deh. Lo nggak kapok kapoknya ya ngebully Zahra melulu, emak lo ngidam apa si anaknya jahat banget" ucap Randi.


"Jadi, jika kalau ortu lo tau bahwa anaknya tukang rundung gimana? Mereka bakal malu atau gimana? Anak yang selama ini mereka banggakan, tukang ngerundung orang lain. Udah pinter tapi tukang rundung, menjijikan" ucap Fany.


"Eh, diem ya kalau ngomong. Oiya, siapa yang sudah melebihi nilai gue"


Semuanya terdiam. Tiba-tiba seseorang menyela.


"Aku"


"Sudah berani ternyata"


"Mengapa jika gue berani, apakah lo takut."


Rena pun mendekat kan wajahnya ke arah Zahra.


"Gue nggak takut, buat apa gue takut sama anak kelas rendahan kek lo, nggak level banget"


"Gue peringatin deh Ren, daripada lo ribut sama gue dan gue yang kecipratan dosanya juga karena harus berdebat dengan lo, gue peringatin menjauh dari gue sebelum lo malu sendiri dengan perbuatan lo"


"Kalo lo takut dengan gue, mending lo yang pergi"


"Gue nggak takut sama lo, gue cuma takut sama Allah. Dan semoga lo nggak nyesel udah maki dan hina gue. Allah akan membalas nya"


Zahra mengambil map yang terjatuh dan membawanya ke dalam kelas. Semua siswa juga ikut masuk dengan menatap Rena dengan tatapan tak suka nya dan mengikuti Zahra ke kelas.


"Apa ini, berani sekalu dia sekarang"


"Hati-hati Ren, dia jenius sekarang"


"Haha.. Jenius apanya. Dia tak sebanding denganku"


"Sedang apa kalian di depan, ayo masuk kelas"


"I-iya pak"


Mereka pun masuk.

__ADS_1


"Permisi pak"


"Oiya Zahra, silahkan"


"Fan temenin gue ayo"


Zahra menarik paksa tangan Fany tanpa aba-aba dan tidak lupa membawa map yang di berikan Zahra.


"Kemana dia" ucap Rena bingung.


"Seperti biasa, pasti memberikan pelajaran agama kepada kelas lain"


"Ooohhh"


Sementara itu di luar kelas Zahra mencari sebuah kertas berisikan agenda kelas agama.


"Pegang ini"


Zahra memberikan map kepada Fany dan Fany pun melihat secarik kertas di sampingnya.


"Jam pertama di hari senin adalah kelas.... "


"12 mm 1"


"Di mana kelasnya"


"Biasanya di lab"


"uhhh semangat"


"Fighting Zahra"


"Apa itu"


"Semangat"


"Oohh"


Mereka pun berjalan ke lantai 3. Setelah mengantarkan nya, dia kembali ke kelas. Bel pelajaran ke tiga, Zahra kembali ijin untuk kelas selanjutnya.


"Kemana sekarang"


Zahra mengecek agenda Hanan kembali dan Fany menemukan terlebih dahulu.


"11 tbsm 2"


"Di bengkel? "


Fany mengangguk


"Ya Allah, suamiku tega sekali..."


"Kenapa"


"Nggak papa"


"Cape? Kalau cape nanti aja"


"Nggak cape kok, ini kan amanah yuk"


"Tadi pagi gue heran, kok lo berani banget"


"Nggak ada waktu buat cerita, mending nanti aja oke. Kita antar dulu"


"Iya deh"


Mereka pun mengantar hingga semua selesai. Tak terasa waktu bel pulang berbunyi. Zahra menunggu Hanan di depan gerbang. Gerbang sudah di tutup, akhirnya dia tidak bisa menunggu di lobi. Cuaca sangat panas, tiba-tiba ada yang meneduhinya dengan jaket.


"Kau sedang menunggu siapa"


"Kak Leon."


"Pak Hanan kan"


Zahra menyingkirkan tangan Leon.


"Menjauh dari gue"


Leon pun mundur dan Zahra berdiri meninggalkan Leon untuk menjaga jarak dengan nya.

__ADS_1


"Gue kasian sama lo, tega banget suami lo membiarkan istrinya menunggu di bawah teriknya matahari ini"


//**//


__ADS_2