
Matahari menembus jendela di kamar baru Zahra. Pagi menyambut Zahra sebagai hari yang baru dan juga hari dimana dia menuntunnya ke masa depan.
"Aku pikir mimpi, ini benar-benar terjadi dalam hidup ku. Aku tidak menyangka, sekarang status ku adalah murid dan juga istri dari guru agamaku. Astaghfirullah, aku nggak subuh. Subuh dulu deh.. Jangan banyak ngeluh Zahra, ayo semangat... Ini awal baru bagimu, mulailah pagi mu dengan senyuman dan perbanyak lah berdoa agar semua lancar, aminnn"
Zahra beranjak dari tempat tidur nya dan membersihkan badannya. Dia mengambil air wudhu dan segera melaksanakan sholat subuh nya yang tertunda.
Di sisi lain Hanan sedang bersiap untuk turun dan sarapan. Sebelumnya, Hanan menghampiri kamar Zahra untuk mengajak nya makan.
" tok..tok..tok.." Hanan mengetuk pintu.
"Zahra turun ayo makan"
Tidak ada jawaban.
"Apa dia sakit" ucapnya.
Dia membuka pintu dan melihat Zahra sedang sholat. Dia kembali menutup pintu dan membiarkan Zahra menyelesaikan sholat nya. Dia memutuskan untuk menggantung sebuah surat di gagang pintu. Dan meninggalkan kamar Zahra.
Sekitar pukul 7 lebih , dia baru memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.
"Loh, ada kertas" ucapnya saat melihat kertas tersebut dan saat akan menutup pintunya.
Dia mengambil nya dan langsung membacanya.
"Setelah sholat, turun dan makan. Jaga kesehatan di rumah. Saya ke sekolah dulu, Assalamualaikum"
Zahra tercengang melihat kertas tersebut dan menatapnya dengan lekat.
"Kenapa harus begini, kalau berangkat ya berangkat aja, ngapa mesti gantung surat segala. Heran gue" ucapnya sendiri.
"Non, mari makan" ucap Bi Tuti yang datang entah dari mana.
"Astagfirullah" ucap Zahra kaget sambil mengangkat tangannya seperti orang yang mau di tembak.
"Non, ngga papa. Maaf non, saya nggak sengaja. Tadi non bicara sama siapa"ucap nya kemudian.
"E-enggak bi, bibi siapa? Bi Reni ya"
"Bukan non saya Tuti, Si Reni lagi bersihin halaman belakang non"
"Oohh begitu"
"Itu non pegang kertas apa? Belanjaan ya non, sini biar bibi saja yang beli"
__ADS_1
"Bu-bu-bukan bi, i-ini kertas.. Kertas... Contekan saya buat besok, tapi kalau di pikir-pikir kan dosa jadi saya mau buang"
"Bukanya di kamar non ada tempat sampah ya"
"O-ohh.. Itu bi, anu.. Emm.. Udah penuh bi, jadi tadinya mau saya buang tapi ini masih ke pegang. Emm... Bibi sudah makan, makan yuk bi temenin Zahra"
"Bibi sudah makan, tinggal kamu saja. Ayo non saya antar"
"Nggak bi, nggak usah lagi pula kan cuma dari sini ke ruang makan masa di antar. Em.. Bibi lanjutkan saja tugas bibi"
"Sampah yang di ruangan non bagaimana"
"Emm.. I-itu..nggak usah bi, nggak papa. Biar saya saja. Saya turun ya bi"
Zahra meninggalkan Bi Tuti dengan tergesa-gesa dan karena rasa gugup untuk menutupi surat itu.
"Semoga saja bi Tuti nggak denger apa-apa, nanti malah di kira orang gila lagi" gumamnya Zahra.
Bi Tuti yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah penghuni rumah barunya itu.
"Ternyata begitu toh, dari mukanya kelihatan orangnya periang dan mudah akrab. Benar yang dikatakan bi Sari tadi pagi. Eh tapi apa bener tadi cuma Contekan, masa iya. Pasti nggak mungkin nih. Atau Jangan-jangan surat dari selingkuhan nya. Lah biarin lah, lagi pula mereka menikah karena terpaksa kan. Tapi nggak boleh juga kan udah nikah. Lah nggak tau lah, yang penting bisa langgeng selawase(selamanya)" gumam bi Tuti.
Bi Tuti pun melanjutkan tugas yang sempat tertunda. Zahra sendiri makan di meja makan sendirian tak ada yang menemani seorang pun. Sungguh bosan rasanya bagi Zahra jika dia harus makan sendirian tanpa ada yang menemani dirinya.
Tiba-tiba setetes bening air matanya terjatuh mengingat hal bersama dengan orang tuanya. Dia langsung menyekanya dan melanjutkan makanya dengan terpaksa.
Selesai sudah acara makan sendirian tersebut, dia merapikan barang-barang nya dan membawanya ke dapur untuk di cuci.
"Ehhhhh... Non, biar bibi saja non. Non istirahat saja ya"ucap Bi Reni yang baru saja dari taman belakang dan langsung merebut piring-piring Zahra.
"Bi Reni ya"
"Iya non. Sudah non istirahat saja, biar saya yang lakukan semuanya"
"Tugas bibi kan belum selesai, udah biar saya aja bi."
"Tugas saya sudah tuntas kok non, non duduk santai aja. Mau di buatkan jus atau teh atau kopi"
"Nggak deh bi, masih kenyang. Bibi lanjut saja nyapu atau gimana, saya juga bosen mau ngapain di rumah segede gini"
"Kan enak non, tinggal di rumah orang tajir. Saya aja suka non kerja di sini. Tuan Hanan ramah banget, nggak sombong. Non tau nggak non, kalau lagi baca qur'an, bbeeeuuhhh... Merdunya melebihi burung yang berkicau, enak banget dengernya. Adem banget rasanya non"
"Begitu ya.. Tapi bi, saya lebih suka rumah yang sederhana namun nyaman untuk di tinggali, rasanya adem bi walaupun sendirian. Lagi pula, buat apa rumah gede tapi nggak rame, terus berasa kaya sendian. Kan nggak asik bi. Dulu waktu saya cuma sama mama di rumah rasanya rame bu, ada orang buat cerita, nah sekarang bingung mau cerita sama siapa" ucap Zahra.
__ADS_1
Bi Reni mengambil piring dari tangan Zahra dengan paksa dan cepat lalu menaruhnya di tempat pencuci piring.
"Biar saya aja non, non crita saja sama saya. Non nggak sendiri kok, ada saya, bi Sari, bi Tuti dan pak Johan. Kalau mau tambah rame, jangan nunda punya momongan non"
"Bibi mahhh.. Zahra kan masih sekolah. Semua orang yang ada di sini sudah tau kan. Saya sama pak Hanan cuma nikah diem-diem"
"Iya tau non. Kami akan jaga rahasia tentang ini kok non, kalau sampai ke sebar kami akan di pecat nanti."
"Iya bi, terimakasih. Kalau begitu saya ke ruang tamu dulu ya bi. Kalau bibi semua sudah selesai kumpul bareng saya ya bi. Saya mau tanya banyak sama kalian"
"Iya non siap"
"Bi, camilan dimana"
"Camilan itu di lemari, ambil saja sesuka non"
"Iya bi"
Zahra membawa beberapa camilan sambil menonton film bioskop yang sudah di tayangkan di tv.
Waktu menunjukkan pukul 13.00. Para pelayan pun menghampiri Zahra yang baru selesai sholat Dzuhur yang di tundanya.
"Permisi non"
"Mari bi duduk, jangan sungkan"
Mereka pun duduk di bawah dan Zahra hanya berdecak kesal dan ikut duduk di bawah.
"Loh non, kenapa ikut duduk di bawah"
"Bi, kalau terus seperti ini, hanya akan membuat jarak di antara kita. Bibi tau saya merasa kesepian kalau kalian terus seperti ini. Jujur bi, saya nggak suka"
Tiba-tiba air matanya terjatuh secara tiba-tiba. Entah apa yang membuat nya menjadi lemah seperti ini, namun dia paling tidak suka saat dia merasa kesepian. Hidupnya yang selalu riang, ceria dan murah senyum menjadi Zahra yang cengeng semenjak dia kehilangan kedua orang tuanya.
"Eh.. Non maafkan kami. Kami tau kami salah" ucap bi Tuti.
"Iya non, kami siap menuruti kata nona, tapi nona jangan nangis." tambah bi Reni.
"Kalau begitu kalian jangan sungkan untuk duduk di atas selagi itu masih sopan. Kalian nggak perlu ragu, kalau ada yang mengancam kalian saya yang akan menanggung nya nanti. Tapi saya mohon, bersikap lah seperti biasa ya bi"
"Tapi non, itu udah kodratnya seperti itu. Kami pembantu hanya bisa duduk di bawah" ucap bi Tuti.
"Jujur, kalau kalian seperti ini, hanya akan membuat saya tidak betah untuk tinggal di sini. Semuanya sama di mata Yang Maha Kuasa, tidak peduli yang kaya, miskin, tua, muda, pedagang, petani, pelayan, pengusaha dan lainnya. Semua itu hanya sebuah pekerjaan dan status di mata manusia, namun berbeda dengan Allah, mereka sama saja manusia. Apakah kalian juga seperti ini saat bersama dengan pak Hanan"
__ADS_1
//**//