
Akhirnya, pesta berakhir pada pukul 9 malam. Teman-teman Zahra, kakak dan kedua orang tua mereka memutuskan untuk pulang. Zahra dan Hanan sudah memaksa mereka untuk menginap, namun mereka tidak mau.
"Mas, ke kamar dulu aja. Zahra mau buat kopi sebentar"
"Iya, yang enak ya."
Zahra pun pergi ke dapur dan Hanan menuruti perintah istrinya untuk ke kamar. Hanan masuk ke kamarnya lalu menyalakan lampu kamar tersebut dan pandangannya langsung terfokus pada bungkus kado yang tergeletak di tengah-tengah ranjangnya.
Dia pun melepas jas nya dan kemudian dia berjalan mendekati kado tersebut. Kado tersebut langsung di pangkunya dan dia melihat secarik kertas yang tertulis diantara pita-pita yang berada di tutup kado tersebut.
...Dari istri mu tercinta...
...Zahra Zanira :)...
Dia pun lekas membukanya dan kemudian dia mendapati obat yang mirip seperti Linda berikan beberapa hari yang lalu. Di botol tersebut terdapat pesan dari Zahra.
...Maaf merepotkan mu, jika terus mual makan ini. Jangan lupa ya.....
Dia pun beralih pada amplop putih yang berada di bawah botol tersebut dan dengan cepat dia membukanya. Dia mengerutkan dahinya begitu dia melihat kepala surat tersebut yang bertuliskan rumah sakit Kusuma yang tak lain adalah rumah sakit Linda.
"Apakah dia sakit?" gumamnya.
Dengan segera dia membacanya hingga akhir dan dia membelalakan matanya lebar dan terdapat tulisan positif di sana. Di pojok kertas tersebut juga ada tulisan tangan Zahra lagi.
...Ini hadiah untuk suamiku tercinta. Selamat yaa.. Kamu mau menjadi papa :)...
Rasa haru menghampirinya. Pelupuk matanya tak di sadarinya menetes. Dia pun melihat ke kotak lagi dan kemudian mendapat sebuah foto USG. Hanan memandangnya penuh haru.
Tanpa di sadarinya, Zahra sedang melihatnya dari pintu yang terbuka lebarnya. Dia melangkahkan kakinya dan kemudian meletakkan kopinya di meja.
Hanan yang melihatnya langsung bangkit dari duduk nya dan memeluk Zahra dengan erat. Tangis Hanan pecah seketika. Zahra juga terharu dan mengusap air matanya yang keluar.
"Ih.. Masa papanya nangis si. Harusnya yang moodnya naik turun kan aku. Masa mas si. Mas nggak malu sama baby nya."
Zahra melepaskan pelukannya dan kemudian mengusap air mata Hanan.
"Mas kalau nangis jelek tau. Jangan sampe babynya ketularan. Udah nangis nya, senyumnya mana?"
Zahra menarik pipi Hanan dengan gemas. Dan Hanan pun tersenyum lebar.
"Nah gitu dong. Kan seneng liatnya. Kalau baby nya ketularan nangisnya mas gimana? Kan nggak baik."
__ADS_1
Hanan tersenyum lebar dan kemudian memeluk Zahra lagi.
"Terimakasih sayang, hadiah mu adalah yang terbaik."
"Hadiah dariku adalah hanya rencana saja mas. Ini adalah hadiah dari Allah Swt karena mas sudah menjagaku selama ini. Sudah merawat Zahra menjadi wanita yang mandiri dan kuat. Menjadi wanita yang Sholehah dan kaya akan ilmu dari mas yang ajarkan kepada Zahra. Di sini Zahra hanya berperan merencanakan dan Alhamdulillah, Allah pun merestuinya dan membuat rencananya berjalan dengan lancar. Mas belum sholat isya kan? Kita sholat isya dulu yuk, sekaligus mengucapkan syukur tentang anugerah yang telah diberikan kepada kita."
Lagi-lagi air mata Hanan lolos setelah mendengar perkataan Zahra yang begitu sempurna. Zahra yang mendengar isak tangisnya hanya bisa mengelus punggung suaminya tersebut.
"Udah mas ih.. Berhenti nangisnya. Aku cape."
Hanan yang mendengarnya pun melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya. Dia mencium kening Zahra dan kemudian menggendongnya ke kasur. Hanan menatap bantalnya dan kemudian menyuruh Zahra untuk duduk bersandarkan bantal.
Hanan pun menidurkan kepalanya di pangkuan Zahra dan melihat ke perut Zahra dan mengelusnya. Entah mengapa mood Hanan yang menjadi naik turun. Lagi-lagi dia menangis lalu mendekatkan kepalanya di perut Zahra dan tangannya memeluk pinggangnya.
"Mas, ya ampun. Jangan nangis lah. Aku bingung jadinya mau apa. Udah gitu nangis di depan baby lagi. Nggak malu kamu mas.. Isshh... Udah mas, nangisnya simpen dulu ya, mas mandi habis itu kita sholat isya."
Hanan hanya menggeleng dan membuat Zahra merasa geli.
"Jangan gitu mas.. Ayo sholat isya dulu. Mas boleh nangis tapi jangan lama-lama. Awas aja kalau nanti tau-tau udah tidur."
Hanan pun bangkit dan kemudian mengusap air matanya.
"Iya, mas bangun ini. Terimakasih banyak sayang. Rencanamu dan hadiah dari Allah adalah yang terbaik. Aku mencintaimu."
"Iya mas mandi."
Dia melihat ke arah perut Zahra lagi dan mengelusnya.
"Baik-baik ya di dalam perut mama. Jangan buat mama kesakitan, biar ke papa aja ya. Hmm.. Kamu mengerti.. Cup"
Hanan pun bangkit dan segera berlalu ke kamar mandi. Zahra tersenyum lebar sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Tuh lihat. Betapa bahagianya papa kamu saat mengetahui mama ada kamu di perut mama. Sehat-sehat ya nak."
Beberapa menit, merekapun melaksanakan sholat isya sekaligus untuk mengucapkan terimakasih atas hadiah yang di berikan oleh Allah. Setelah tuntas menyelesaikan sholat, Zahra pun melipat mukenah tersebut namun langsung di rebut oleh Hanan.
"Biar mas aja. Kamu sana berbaring dan istirahat ya."
"Kan cuma lipat mukenah doang mas. Nggak sampe lima menit kok."
"Udah sana nurut sama suami."
__ADS_1
"Iya udah deh iya."
Zahra mengalah dan kemudian berbaring di kasurnya, dia pun memainkan game yang ada di ponselnya. Hanan yang sudah selesai pun ikut berbaring di sampingnya.
"Main apa sayang."
"Masak-masakan." jawabnya enteng.
"Baby nya perempuan ya."
"Ya nggak tau lah, baru aja umur 4 minggu. Kalau perempuan masa iya kemaren aku main mobil-mobilan."
"Mungkin kembar."
"Isshh mas, kalau kembar janinnya ada dua. Kan itu ada satu. Udah lah mas jangan ngadi-ngadi dulu. Oiya mas, ini juga bisa main bareng loh mas. Mas download ya, nanti main masak-masakan online bareng."
"Lahh.. Masa mas di suruh main masak-masakan."
"Mas.. Ayo.. Buruan download." pintanya manja.
Dan dengan pasrah pun Hanan mendownloadnya dan kemudian memainkannya hingga larut malam.
"Ini mas harus gimana?"
"Mas layanin gih pelayannya, biar aku yang masak. Ini baru level satu, level-level selanjutnya pelanggannya nambah banyak loh mas. Nanti minta Fany sama Alvero juga buat main ya."
"Kamu kaya anak kecil aja."
"Udah mas diem. Itu tuh, ada yang belum di layanin."
Hanan hanya bisa pasrah dan mendengarkan apa yang dimau oleh Zahra.
"Ini sebenarnya baby yang minta atau kamu yang pengen main ini."
"Nggak tau juga mas. Dulu-dulu aku nggak suka game, tapi akhir-akhir ini sering download permainan terus main. Hampir semua game aku download mas. Kalau udah bosen copot cari lagi."
Hanan hanya menggelengkan kepalanya dan mereka pun bermain hingga pukul 12 malam.
"Mas, udah lah. Aku ngantuk restorannya tutup dulu. Besok main lagi."
"Iya udah. Sekarang tidur. Good night sayang dan good night baby. Jangan nakal ya di dalem perut mama. Cup.."
__ADS_1
Mereka pun tertidur dengan posisi tangan Hanan yang berada di atas perut Zahra sambil mengelusnya.
//**//