
Pagi harinya, Hanan pun sampai di Bandung dan memilih menginap di kantornya sendiri. Dia juga ke Bandung karena untuk membantu istrinya menjadi mak comblang antara Fany dan Alvero.
Sekitar pukul 11 siang Alvero datang setelah kelas paginya dan langsung menaruh tasnya di ruangannya. Dia kaget saat ada orang yang duduk di kursinya dan tak lain adalah Hanan.
"Pak Hanan."
"Alvero, bagaimana perkembangan kantor ini sekarang. Meningkat bukan?"
"Iya pak."
Hanan melihatnya yang sedikit canggung pun akhirnya bangun dari duduknya dan merangkul pundak Alvero untuk duduk di kursi.
"Bapak mau minum? Saya buatkan."
Hanan menggeleng dan menekan bahu Alvero untuk tetap duduk.
"Saya mau bicara dengan kamu."
"Bicara apa pak?"
"Dari dulu kamu selalu canggung saat dengan saya. Coba rilekskan bahu kamu."
Alvero pun menggerakkan pundaknya ke depan dan ke belakang.
"Sudah pak."
"Benar, kamu ada salah paham sama Fany?"
"Iya pak."
"Bagaimana ceritanya?"
"Fany melihat saat saya menggendong Alexa saat di Korsel. Alexa waktu itu sedang mabuk dan saya pun akhirnya membawanya ke hotel, lalu saya memesan kamar lain dan langsung meninggalkannya untuk menemui Fany di restoran."
"Kamu melihat Fany saat menggendong Alexa."
"Tidak pak, kalau saya melihat, pasti saya akan meminta bantuannya."
"Baiklah kalau begitu. Semoga cepat membaik."
Tanpa sepengetahuan Alvero, Hanan merekamnya dan mengirimkannya kepada Fany. Dan selanjutnya Hanan hanya memasrahkan bagaimana mereka nantinya saat berbaikan.
Hanan pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya dan memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.
"Bagaimana pak Hanan bisa tau. Pasti dari Zahra." batin.
Alvero pun terduduk lemas di kursinya sambil meminum kopi.
Di sisi lain, Fany sedang berada di sebuah kafe bersama dengan teman-temannya. Tiba-tiba dia mendapatkan sebuah pesan dari Hanan. Dia mengerutkan dahinya bingung dan langsung membuka pesanya.
"Pesan audio." batin.
Dia pun meminta ijin kepada teman-temannya menuju ke kamar mandi untuk mendengar pesan yang dikirim oleh Hanan. Dia terkejut saat mendengarkan percakapan antara Hanan dan Alvero mengenai kejadian pada saat di Korsel. Dia pun bergegas keluar dari kamar mandi dan menuju ke kantor Hanan.
"Maaf teman-teman. Gue ada urusan mendadak. Gue pamit duluan ya."
"Oiya Fan, nggak papa."
"Ya udah aku pamit ya."
__ADS_1
Fany langsung menuju ke parkiran dan mengendarai mobilnya menuju ke kantor Hanan dan menyempatkan membeli makan siang untuk Alvero.
Sekitar pukul satu siang, Fany pun sampai di kantor Hanan dan langsung ke ruangan Alvero. Begitu dia sampai, dia langsung memeluk Alvero sambil menangis. Alvero hanya bingung dengan perubahan sikap Fany dan dia pun ikut memeluk Fany.
"Maafkan aku, aku tak percaya kata-katamu waktu itu."
"Fany, kenapa?"
"Pak Hanan mengirimkanku sebuah rekaman saat kau berbicara dengannya. Aku minta maaf."
"Tak apa Fany. Aku tau kamu salah paham. Apa yang kamu bawa?"
"Aku bawa makan siang untuk kamu."
"Hanya untukku. Kalau hanya untukku kita beli lagi di luar."
"Tidak kok. Untukku juga."
"Kalau begitu kita makan siang dulu."
Fany pun mengangguk dan makan siang bersama. Setelahnya dia pun menemui Hanan untuk berterima kasih atas yang dia lakukan agar hubungan mereka kembali membaik.
*****
Zahra sudah di rumah sambil beberes ruang tamu setelah pulang dari kampusnya dan dibantu oleh kedua pembantunya.
"Non sebaiknya istirahat dulu. Pasti non cape."
"Tak apa bi. Nggak cape banget kok."
"Tamu istimewa ya Non?"
"Iya bi Fitri. Dia teman dekat Zahra waktu masuk ke kampus."
Tak lama teman Zahra yang bernama Linda pun datang sambil membawa buah-buahan. Linda adalah teman kampus Zahra yang memasuki jurusan kedokteran. Mereka pertama kali kenal saat memasuki kampus bersama, dan memutuskan untuk dekat walaupun tidak satu kelas.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Linda langsung diajak masuk dan duduk di ruang tamu. Linda melihat sekeliling dan memandang foto pernikahan Zahra dan Hanan yang terpajang di dinding.
"Masih sepi aja ni rumah. Nggak kepengin punya anak."
"Ck.. Ya pengen lah. Belum waktunya aja di kasih."
"Oohh.. Begitu. Berapa hari suami kamu di Bandung?"
"Sekitar dua atau tiga hari."
"Oohh.."
"Eh.. Iya, sekarang tanggal 2 kan ya. Bulan Juli?"
"Iya kenapa?"
"Tanggal 6 mas Hanan ulang tahun. Kamu mau bantu aku?"
"Bantuin buat kejutan kan? Boleh kok."
__ADS_1
"Aku akan menghubungimu lebih sering besok-besok."
"Iya, aku juga akan membawa kenalan ku untuk membantumu juga."
Mereka pun terus berbincang hingga sore hari tiba. Dan Linda pun memutuskan untuk pulang dari rumah Zahra. Zahra pun menutup pintunya setelah mobil Linda keluar dari pekarangan rumahnya. Tiba-tiba dia mendapatkan telepon dari Hanan.
"Assalamualaikum mas. Ada apa?"
"Wa'alaikumsalam. Mas ada kabar baik buat kamu?"
"Iya, apa mas. Jangan bikin aku penasaran."
"Masalah Fany sama Alvero kamu jangan khawatir. Mereka udah baikan."
"Secepat itu? Padahal mereka selalunya marah sampe berminggu-minggu loh mas."
"Mereka itu udah dewasa, setidaknya bisa memperbaiki hubungan mereka. Jadi kamu nggak usah khawatirkan mereka di sini."
"Syukurlah kalau begitu. Zahra lega dengernya. Ada lagi?"
"Mas rindu kamu. Jadi besok mas pulang."
"Rindu terus. Baiklah. Mas hati-hati ya."
"Iya."
"Oiya mas, nginep di hotel mana?"
"Mas nggak nginep di hotel. Mas milih nginep di Kantor."
"Oohh begitu. Ya sudah, mas istirahat biar besok bisa pulang cepat."
"Iya, mas tutup ya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Telepon mereka pun bersambung. Zahra beralih panggilan dan menelepon Fany setelah mengetahui kabar tersebut.
"Assalamualaikum, Fany. Udah baikan ya."
"Wa'alaikumsalam, iya Ra. Ini semua berkat bantuan suami kamu. Terimakasih banyak ya. Ini juga pasti rencana kamu."
"Aku nggak ngelakuin apapun Fan. Emang apa yang mas Hanan lakukan kepada kalian? Menasihati kalian?"
"Nggak, suami kamu ngirim pesan audio percakapan suami kamu sama Alvero. Aku kaget dan langsung merasa bersalah. Jadi, aku langsung ke kantor suami kamu dan berbaikan dengan Alvero."
"Syukurlah kalau sudah baikan. Oiya, tanggal 5 sampai tanggal 6 kalian ke rumah aku ya."
"Memangnya ada acara apa?"
"Mas Hanan ultah dan aku mau kasih surprise. Kamu bantuin aku ya."
"Kamu tenang aja. Aku sama Alvero bakal bantu kok, sekaligus sebagai rasa terimakasih karena sudah membantu kami memperbaiki kesalahpahaman."
"Itu nggak usah terlalu di pikirkan Fan. Ya udah dulu ya. Kamu pasti lelah hari ini."
"Iya baiklah. Kamu juga. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Setelah itu pun dia menuju ke kamarnya dan langsung menulis perlengkapan yang harus dipersiapkan untuk ulang tahun. Dia terlalu bersemangat, sehingga Zahra memilih untuk cepat-cepat mencatatnya agar tidak ada kekurangan saat acara mendatang.
//**//