Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Memasak bersama dan ke kantor Hanan


__ADS_3

"Zahra" panggil Hanan ketika Zahra mau duduk.


"Kenapa mas"


"Buatkan mas kopi dua gelas"


"Hah.. Yang bener mas, aku nggak suka kopi loh"


"Mas yang minta berarti buat mas"


"Masa minum dua gelas sekaligus mas, tadi siang di kantor nggak ngopi"


"Ngopi tapi mas kangen kopi buatan kamu"


"Ooohhh..bentar ya mas"


"Buatan kopiku ternyata berbahaya buat mas Hanan. Hehehe... Bikin nyandu nih" batin.


"Kenapa bengong ra"


"E-nggak papa mas, tunggu bentar"


Zahra turun dan segera menuju ke dapur. Hanan sendiri memutuskan untuk mandi. Zahra lebih dulu datang dengan membawa gelas dan kopi di termos kecil. Dia pun meletakkannya di atas meja.


"Udah... Mana"


"Ini"


Zahra mengangkat termos kecil dan gelas dari tempat duduknya. Hanan pun meletakkan handuknya yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya dan segera bergegas meminum kopi buatan Zahra.


"Kok buatnya banyak banget"


"Biar aku nggak repot-repot bolak balik ke dapur ketika mas minta kopi"


"Terimakasih banyak, muuaahh"


Zahra di cium lagi di bagian kening nya.


"Cium lagi, cium lagi.. Mas nih"


"Namanya juga sayang"


"Heleh.. Bucin"


"Udang rebus siap di santap.. Aauupp"


"Isshh.. Mass"


Hanan dan Zahra berlarian di dalam kamar nya. Tak mendengar suara panggilan dari luar kamar mereka.


"Hanan.. Zahra.... "


Wina berjalan menuju ke kamar Hanan dan Zahra. Wina sudah mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban, dan akhirnya Wina membuka pintu dan melihat Hanan dan Zahra berlarian hingga kamar mereka kacau.


Wina hanya melihat mereka dengan menggelengkan kepalanya dan menaruh kedua tangannya di depan dada.


"Em.. Em.. Emm.. Pantesan aja di panggil nggak keluar"


"Hah.. Mbak Wina"


"Kami sudah menunggu di bawah, kalian cepat turun lah"


"I-iya mbak" jawab mereka kompak.


Hanan dan Zahra pun turun.


"Kalian lama banget si" gerutunya Hendra.


"Maaf"


"Tadi mereka lari-larian kaya anak kecil du kamar"


"Oohh kirain"


"Hanan, Zahra, kami akan pamit hari ini. Kalian baik-baik ya di rumah"


"Mama, papa, bang Hendra sama mbak Wina akan sering mampir ke sini kan"


"Iya, kami akan sering mampir ke sini" jawab Wina.


"Kamu jaga diri baik-baik ya di sini, belajar yang rajin biar meningkat prestasi kamu"


"Iya pa"


"Hanan, jaga Zahra baik-baik"


"Iya pa, aku akan jaga Zahra baik-baik"

__ADS_1


"Iya udah, Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Hanan dan Zahra kembali ke kamar setelah keluarga besar nya meninggalkan pekarangan rumahnya.


Setelahnya Hanan dan Zahra kembali ke kamar untuk merapikan kekacauan yang mereka buat. Merasa Zahra kelelahan dia pun langsung tidur.


*****


Keesokan harinya, Zahra bangun lebih awal dan melaksanakan sholat subuh seperti biasa. Setelah itu, Zahra pun turun ke dapur untuk memasak sesuatu.


"Apa yang harus aku lakukan. Masak aja nggak bisa. Duh gimana ini, cari di google tapi aku takut ada yang kurang... Aduuhhh... Gimana ini"


"Zahra"


Panggil Hanan yang sudah ada di belakangnya membuatnya tambah linglung sekarang.


"Mas Hanan"


"Kamu ngapain di sini, udah sholat"


"Udah dong"


"Kenapa nggak bangunin mas"


"Maaf mas, aku bangun duluan karena pengin masak buat mas"


"Kamu bisa masak"


Zahra menggeleng.


"Ya sudah, kamu bantu mas potong bumbu, nas yang siapin semuanya"


"Nggak papa mas"


"Iya nggak papa. Sini celemeknya"


Zahra memberikan satu celemeknya dan Zahra juga memakai nya. Zahra ke sulitan mengikat tali di belakangnya, Hanan yang melihatnya langsung turun tangan membantunya.


"Terimakasih"


"Sama-sama, yuk mulai... Kamu potong bawang putih, bawang merah, Cabai jangan kebanyakan ya"


"Iya mas"


Sementara Zahra memotong bumbu, Hanan memotong sayuran lalu mencucinya. Beberapa masakan mereka buat.


Hanan mempraktekan dengan teliti kepada Zahra. Zahra memperhatikan nya secara seksama dan fokus.


"Ini coba"


Zahra memegang spatula yang Hanan berikan dan mulai mengaduknya perlahan.


"Begini mas"


Merasa tangan Zahra masih kaku, dia juga memegang spatula tersebut dan mengaduknya bersama. Zahra tersenyum sekilas.


Tak terasa bahwa makanan sudah siap. Mereka pun membawanya ke meja makan. Mereka pun makan bersama.


"Wah lezat sekali"


"Alhamdulillah, kokinya aja Hanan dan Zahra"


"Hehehehe"


Zahra pun melahap lagi makanan yang ada di depannya. Tiba-tiba Hanan memanggil nya.


"Zahra"


"Hmm.. Kenapa mas"


"Hari ini kamu ikut mas ke kantor ya"


"Lahh kenapa mas. Ntar kalau karyawan mas tanya gimana"


"Itu gampang, ikut ya"


"Kenapa mas tumben, mas sering kangen ya sama aku"


"Iya"


"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.. "


"Pelan-pelan Zahra"


"Ya masa mas kangen aku mulu"

__ADS_1


"Memang nya nggak boleh ya"


"Bukan gitu mas, ya udah aku ikut. Tapi Alasannya ntar mas yang cari tau sendiri"


"Iya Zahra"


"Tunggu mas, kalau di pikir-pikir mas kok kayaknya manja ya sama aku"


"Masa si, kan mas cuma minta kamu ke kantor buat temenin mas, lagipula kamu nggak ada temen di rumah. Jadi, mas bawa kamu aja"


"Oohh... "


"Bukan cuma itu mas, mas juga sering minta di buatin kopi sama aku. Memang rasa kopi yang mas bikin sama bikinan aku beda"


"Beda banget, karena di buat oleh orang yang spesial"


"Aahhh.. Udah lah mas, semakin ke sini semakin bucin jawabannya. Makanan nya di habisin dulu"


"Iya, iya"


Setelah sarapan, mereka berdua pun bersiap untuk ke kantor Hanan. Jujur, Zahra merasa gugup karena ini pertama kalinya dia menginjak gedung mewah milik suaminya.


"Mas aku takut"


"Nggak papa, nggak usah takut, kita kan ke bangunan tinggi dan apik, bukan ke rumah hantu, kamu tenang aja"


Tak lama kemudian mereka pun sampai. Zahra sungguh tertegun melihat bangunan menjulang tinggi yang ada di depannya. Zahra menelan salivanya kasar saat melihat bangunan mewah yang dilihat nya secara langsung.


"Luarnya aja bagus apalagi dalamnya" batin.


"Ayo masuk, kamu nggak usah khawatir"


Zahra mengangguk dan membuka pintu mobil sendiri. Dia pun bergegas berjalan di samping Hanan. Hanan menggandengnya. Zahra melihat Hanan dan menghela nafas panjang. Dan mereka berdua pun masuk.


Para penjaga yang ada di depan lobi Hanan mengangguk kepada mereka dan mereka berduapun membalasnya.


"Selamat pagi pak"


"Selamat pagi"


Dari kejauhan, banyak yang berbisik ke pada karyawan lain.


"Eh.. Siapa dia"


"Nggak tau, nanti juga pak Hanan ngasih tau"


"Patah hati dong gue"


"Ssssstttt"


Zahra hanya tersenyum kaku dan tak karuan. Rasanya dia ingin segera sampai di ruangan Hanan.


"Yuk lewat sini yang nggak rame"


Zahra mengangguk ragu. Zahra semakin mempererat genggaman tangannya kepada Hanan.


"Kamu kenapa"


"E-enggak papa mas, ayo cepetan, ke buru malu ini"


Hanan mengangguk dan memencet lift yang sudah ada di depannya. Mereka menggunakan lift yang di khusus kan untuk atasan sehingga jarang yang memakai nya.


Zahra bernafas lega dan bersandar kepada dinding lift.


"Kamu kenapa? Sakit? "


"Nggak mas, aku gugup banget tadi"


"Pantesan"


"Ini ada berapa lantai si mas"


"25"


"Hhhaaahhhh, yang bener mas"


"Iya"


"Tinggi banget"


"Ini belum apa-apa, kalau kamu ke kantor papa lebih besar dan lebih tinggi dari ini"


"Memang berapa lantai"


"30 lebih"


"Ya Allah, mimpi apa aku bisa nikah sama mas yang orang tuanya punya perusahaan tinggi-tinggi" batin.

__ADS_1


"Ya udah yuk kita ke ruangan mas sekarang"


//**//


__ADS_2