Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Kotak


__ADS_3

"Happy Wedding Z & H? , pegawai sini salah alamat kali ya, masa hadiah pernikahan di kasih ke kamar berisi 2 cowok, ngaco nih pegawainya. Mending gue ajak Fany buat nganterin ke pegawai sini. Gue ganti baju dulu"


Setelah berganti baju, dia langsung ke kamar Fany dan sudah mendapati nya sedan menunggu di ruang depan.


"Lama lo, gue laper tau nggak. Eh.. Itu kotak apa, buat gue"


"Buat lo lagi, ini nyasar ke kamar gue. Hadiah Wedding kayaknya buat pasangan penganten baru"


"Hah, penganten baru, kok bisa masuk kamar lo hahahaha... "


" Jangan ketawa lo, mending ayo makan terus turun, anter ini ke pegawai"


"Cari pak Hanan sama Zahra dulu yuk"


"Lahh tadi katanya laper"


"Nggak laper, gue lebih penasaran sama tuh kotak isinya apa"


"Bilang aja gue pengen buka, gitu aja ribet"


"Ya udah yuk buka"


"Yang kepo siapa"


"Lo tadi bilang, alvero pengen buka"


"Diem lo, nggak sopan tau buka barang orang."


"Iya juga si, mending nanti aja dah. Kita cari dulu tuh dua saudara itu dulu"


"Kita turun sekalian aja bawa ini"


"Ya udah ayo"


Fany dan Alvero turun lalu memberikan ke resepsionis hotel. Lalu mereka berdua pun keluar untuk mencari Hanan dan Zahra.


"Tuh pak Hanan, tapi Zahra nya mana"


"Kita samperin dulu ayo"


Fany menarik tangan Alvero, dan tanpa permisi dia langsung mengagetkan Hanan.


"Pak Hanan"


Zahra langsung melepaskan dirinya dari dekapan Hanan, dan tingkah mereka berdua langsung gelagapan.


"Hmm.. Kakak adek kok mesra mesraan" ucap Alvero.


"Iya, bapak sama Zahra saling suka ya. Jugaan kan nggak mungkin sampai kayak gitu tadi di tempat umum seperti ini"


"Fany, menurut lo mereka cocok nggak si kalau mereka nggak jadi kakak adek"


"Menurut gue cocok banget malah. Gue mencium bau-bau cinta di sini"


"Kaya si peramal Roy kimochi aja"


"Kiyoshi" jawab Fany.


"Kalau benar bagaimana?" ucap Hanan di tengah perdebatan mereka.


"Maksud bapak, bapak suka sama Zahra. Sudah ku duga"

__ADS_1


"Bapak nih bercanda nya nggak lucu tau nggak" ucap Fany


"Bapak lagi nggak bercanda, saya serius"


"Eh nggak kok, mas Hanan bercanda, ta-tapi mukanya aja yang di buat serius.. He-he-he" ucap Zahra dengan tawa garing.


"Saya nggak bercanda, lagi pula ini mau kamu bukan untuk memberi tau mereka. Dan lagipula mas udah janji ngasih tau mereka di Bali , udah kepergok bisa apa"


"Jadi, tunangan bapak Zahra" ucap Fany dan Alvero kompak.


Tiba-tiba Hanan menarik pinggang Zahra sambil menjawab "Iya"


"Serius pak, terus cincin Zahra mana, kok nggak di pake, terus kenapa kamu Zahra, nggak beritahu kami"


"Zahra memakai nya sebagai kalung, jika dia pakai di jari manisnya semua akan tau"


"Jadi kalian tunangan secara diam-diam"


"Bukan hanya tunangan, kami juga sudah menikah"


"Serius pak, hubungan sakral itu loh pak"


"Saya serius, coba lepas kalung kamu, bisa nggak Ra"


"Ha-ah.. Bi-bi-bisa"


Zahra melepaskan kalung yang terhalang hijab nya dan memasang cincin itu di jari manisnya.


"Wah, udah pas ternyata"


Fany dan Alvero di buat melongo. Fany dan yang penasaran langsung menarik tangan Hanan dan Zahra yang terpasang cincin, dan bentuk serta ukirannya sama persis membuat mereka berdua tak percaya.


Alvero hanya di buat melongo dengan dua sejoli itu dan menatap mereka secara bergantian. Sedangkan Fany, sama seperti dulu saat mengetahui rumah besar Hanan, dia jatuh pingsan.


"Udah gue duga, pasti si Fany bakal nggak kuat dan nggak bakal percaya" gumamnya.


Tak seperti dulu, kini Fany harus di bawa ke rumah sakit karena pingsan nya sudah lebih dari 30 menit, jadi mereka membawa nya ke rumah sakit terdekat.


Butuh waktu satu jam hingga Fany sadar karena terlalu shock. Setelah mendengar bahwa Fany sudah sadar, Alvero dan kedua sejoli itu masuk ke ruangan rawat inap.


"Zahra, kamu tuh ya suka banget bikin orang pingsan. Lo mau bikin gue gila ya, parah lo Ra"


"Maafin aku, aku belum bilang ke kamu buat siapin mental, tapi itu nggak mungkin. Sungguh... Tadi aku nggak duga mas Hanan bakal langsung bilang tanpa basa basi, jadi otomatis tubuh aku kaya kaku semua, duh gimana ya.. Gimana ya.. Aku ngeblenk saat itu juga"


"Kok bisa kalian nikah dadakan"


"Ceritanya panjang, kami akan cerita nanti waktu kamu udah pulang"


"Tumben Al diam"


"Aku mau bilang apa, yang aku mau tanyain udah kamu tanyain masa iya aku tanya lagi. Karena kalian kawin nggak bilang, kalian berdua traktir kami"


"Kalau soal itu maaf Al, aku bakal nolak. Lain kali aja"


"Nggak papa kok, bentar lagi juga Fany pulang. Nanti mas traktir"


"Jadi kalian ke sini buat bulan madu tapi kami ngganggu ya pak" tanya Alvero.


"Nggak, bapak sengaja ke sini buat ajak liburan. Karena kan Zahra masih sekolah jadi saya harus ngerti dia"


"Tapi bapak sama Zahra udah sekamar kan"

__ADS_1


"Udah baru Kemaren belum lama"


"Maaf ya kami ganggu"


"Kalian nggak ganggu kok. Lagian aku yang minta mas Hanan supaya kalian ikut. Emm.. Kalian udah tau semuanya.. Kalian masih mau berteman sama aku kan"


"Tentu saja, kamu kan sahabat kami. Kamu juga masih siswa kali Ra, jadi kami nggak bakal ragu ke kalian. Tapi kalian kalau mesra mesra an jangan di depan kami, kami masih bocil" ucap Alvero.


"Jujur si Ra, aku kecewa karena lo nikah kaga undang gue, tapi pasti semua ini ada sangkut pautnya sama sesuatu bukan, nggak bakal mungkin kamu sama pak Hanan baru deket terus "Brekk" kita nikah sekarang kan nggak mungkin." ucap Fany panjang lebar.


"Terimakasih yaa, kalian udah mau setia sama aku. Mau nerima aku, dan semuanya. Jujur, sebelumnya aku takut kalian bakal ngejauhin aku, ninggalin aku"


"Nggak kok ra, karena lo udah jujur sama kita, kita janji bakal jaga rahasia ini sampai waktu untuk di umum kan pada dunia tiba"


"Lebay loh Fan"


"Namanya juga cewek, ya lebay lah, dari pada lo lebay ntar di kira banci"


Semuanya tertawa, begitu juga Zahra. Dia lega karena semuanya baik, tak seperti yang di perkirakannya.


"Jujur itu justru lebih baik, apa yang aku kira salah selama ini. Semoga kedepannya lebih baik dari sekarang. Terimakasih Ya Allah" gumamnya.


*****


Pukul 9 pagi akhirnya mereka pun pulang dan sampai ke sebuah restoran.


"Nggak papa nih pak"


"Nggak papa, kalian santai aja. Kalian mau pesan apa"


"Pak, tadi pagi juga pegawai hotel udah kirim makanan ke kamar kita. Tadinya kita mau ke panggil kalian berdua, tapi malah saya pingsan. Maaf sudah membuat kalian kelaparan"


"Kenapa kalian malah jadi formal ngomong nya, biasa aja napa si"


"Kita kan nggak enak, ya nggak Fany, jadi ganggu kalian"


"Kalian ini, udah jangan sungkan gitu, kalau kalian sungkan, persahabatan kita jadi renggang nantinya"


"Insyaallah ya Ra"


"Bicaranya nanti lagi, kita makan dulu dan bersikap lah seperti biasa"


"Oke pak siap."


"Pak, tadi pagi di kamar ada paket di meja, saya pikir itu salah alamat, ternyata milik bapak, saya kasih ke resepsionis bagaimana pak"


"Tak apa, lagian barang itu masih di sana kan."


"Mungkin si pak, kalau nggak ada kami bersedia nyari"


"Lo aja Al, gue sama Zahra si duduk tenang aja, buat apa cari tuh kotak"


"Ya kan milik mereka"


"Sudah, kalian ini debat mulu. Makannya nggak selesai selesai"


"Iya nyonya" ucap mereka berdua kompak.


"Kalian ini" ucap Hanan membuat mereka terpaku.


"Eh.... Yayaya, cepetan di makan hayo..." ucap Fany kepada Alvero.

__ADS_1


"Oiya, habis dari sini kita berbenah di hotel. Kita akan pulang hari ini"


//**//


__ADS_2