
Zahra terbangun pukul 4 pagi. Dia melihat 2 orang di sampingnya tertidur lelap. Zahra beranjak turun dari ranjang dengan pelan. Tak lupa ia pun memindah bantal nya di samping Indri.
Setelah nya Zahra pun membangun kan Hanan dengan pelan.
"Sstt.. Mas.. Bangun.. Mas.. " ucapnya lirih.
Belum ada gerakan sekali pun. Zahra pun mendekat dan menepuk pelan pipi Hanan.
" Mas Bangun... "
Hanan yang merasa ada yang mengganggu nya pun reflek memeluk Zahra. Spontan Zahra kaget, kemudian Hanan pun membuka matanya.
" Zah..."
"Sstttt"
Zahra membungkam mulut Hanan. Hanan hanya kaget dan jantung mulai tak karuan di tempat nya.
"Mas.. Pelan pelan, nanti Indri bangun."
Hanan mengangguk dan Zahra pun melepaskan tangannya.
"Mas tangannya"
"Upss.. Maaf"
"Mas sebaiknya mas wudhu dulu, aku di sini nungguin Indri. Kita sholat subuh bareng"
Hanan mengangguk dan menyingkirkan selimut dengan pelan dan memindah bantal nya di samping Indri.
Hanan ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah nya Zahra pun mengambil air wudhu dan sholat bersama.
"Mas, aku ke bawah ya, mau ngecek di dapur, mau bantuin mama"
"Nanti kalau Indri nya bangun terus nangis"
"Makanya belajar urusin anak kecil"
Hanan hanya bisa pasrah, memang dia harus belajar mulai dari sekarang. Posisi nya pun kalah dengan Zahra. Zahra yang masih remaja aktif bisa menjaga anak kecil dengan begitu baik, sementara dirinya... Bagaimana nantinya jika dia sudah memiliki anak sendiri...
Zahra yang melihat dapur sedang berisik bergegas menuju ke sana dan membantu mama Hana.
"Aku bantuin ya mah"
"Dengan senang Hati. Emm.. Tadi malam Indri tidur di kamar kamu"
"Iya mah"
"Nangis?"
"Iya, tapi alhamdulillah cuma sebentar"
"Syukurlah. Hanan udah bangun"
"Udah dari tadi mah, sekarang masih nemenin Indri di kamar"
"Oohh.."
Di kamar Hanan sendiri, dia memilih untuk tidur kembali di samping Indri. Tak lama Indri pun bangun dan mulai menangis. Sontak, Hanan langsung bangun dan menggendongnya.
"Sstt.. Cup.. Cup... Kakak bikinin susu ya.. Indri mau"
Indri hanya menangis di gendongan Hanan. Hanan membuat susu tersebut dan memberikan kepada Indri. Dan Indri langsung menerimanya.
Hanan mengajaknya untuk turun, dan kebetulan matahari sudah agak muncul hingga dia memutuskan untuk berjalan-jalan di belakang rumah.
"Nan, gimana, rewel nggak Indrinya"
"Alhamdulillah nggak mbak"
"Syukurlah"
"Aku ajak ke belakang, sekalian jalan-jalan"
"Iya"
Hanan membawa Indri ke halaman belakang. Melatihnya berjalan dengan menggunakan tangannya sebagai tumpuan.
"Pinter banget.."
"Ooyy..Nan.. Seneng banget si mainin anak aku, kalau pengen bikin dong"
"Nggak bang, aku sengaja bawa dia ke sini buat ajak jalan"
__ADS_1
"Nanti ketularan gimana"
"Maksudnya"
"Kamu sama Zahra terus terusan jaga Indri terus nanti ketularan gen anak"
"Itu mitos bang, nih Indri nya pengen di gendong bapaknya"
Hendra pun membopong Indri dan mengajak nya berkeliling.
"Mas Hanan, ini kopinya"
"Terimakasih"
"Ini buat bang Hendra, oiya sarapan bentar lagi siap, mas Hanan sama bang Hendra di suruh ke dalam"
"Iya ra, kami segera ke sana. Terimakasih kopinya.
"Sama-sama mas"
Zahra kembali ke dalam.
"Bang Hendra, ini kopi"
"Buatan istri kamu ya"
"Iya, emang kenapa bang"
"Hebat"
"Bang, sarapan udah siap, sebaiknya kita sarapan dulu"
"Ayo"
Setelah sarapan selesai, Hendra, Hanan dan papa Nanda berkumpul di ruang keluarga, tanpa istri istri mereka.
"Hanan, Hendra, hari ini papa akan mengunjungi dua perusahaan papa yang lain. Di harapkan kalian berdua ikut. Dan Hanan, papa minta, mulai minggu depan kamu hanya fokus di perusahaan papa"
"Iya pah, akan aku usahakan "
"Baguslah, kalian berdua sekarang bersiap lah, kita akan berangkat satu jam lagi"
"Iya pa"
Hanan mendekati nya dan mengambil handuk Zahra.
" Eh mas.. Sini handuk nya"
"Perlu mas bantu"
"Ck.. Nggak usah.. "
" Udah madep sana, jangan bawel, mas bantu biar cepet kering"
Hanan mengeringkan rambut Zahra dengan lembut. Zahra memandangi Hanan melalui kaca besar yang ada di hadapan nya.
"Perlu mas beliin hair dryer"
"Nggak usah mas, aku aja nggak bisa pake."
"Nanti mas ajarin"
"Aku bilang nggak usah ya nggak. Awas aja kalau nanti di beliin aku suruh mas tidur di toilet"
"Jahat banget si"
"Kalau nggak digituin, mas jadi apa-apa beliin Zahra yang menurut Zahra nggak suka"
"Ya sudahlah"
"Udah lumayan kering nih, mas mau mandi. Mas juga nanti mau ikut papa ke kantor"
"Iya mas, terimakasih banyak"
"Sama-sama... Muaaahh"
Hanan mencium puncak kepala Zahra dan langsung menuju ke kamar mandi.
"Di cium lagi dari kemaren. Mas Hanan kenapa si, duh... Muka udah merah lagi"
Zahra beranjak dari kursi meja rias dan menuju ke lemari besar untuk mempersiapkan baju yang akan di pakai oleh Hanan.
Sekitar 5 menit Hanan pun keluar dengan kaos putih dan celana pendek hitam. Begitu dia keluar Zahra sedang mencari sesuatu di lemarinya.
__ADS_1
"Kamu cari apa"
"Cari jas buat mas, tapi cocoknya mana ya. Ahh... Yang ini"
Zahra meletakkan jas tersebut di ranjang yang sudah tersedia celana, kemeja dasi dan sabuk untuk Hanan.
"Sudah mas, udah pas nih, coba pake"
"Iya, mas pake ya, terimakasih"
"Sama-sama"
Hanan membawa baju dan celana beserta sabuk ke dalam kamar mandi. Tak butuh waktu lama, Hanan sudah rapi dengan pakaian nya.
"Ini mas dasinya"
"Kenapa harus pake dasi segala"
"Kan kebanyakan orang kantor, pake jas terus pake dasi"
"Kamu lihat di mana"
"Di tv. Ini mas dasinya"
Hanan memakai nya sendiri.
"Nih mas pake"
Zahra membantu memakaikan jas kepada Hanan.
"Bagaimana"
" Em..."
Zahra memegang dagunya dan melihat pakaian Hanan dari atas sampai ke bawah, lalu ia tersorot pada dasi yang belum rapi. Zahra merapikan dasi Hanan.
"Uuuhhh.. Kaya adegan di film. Pasti mas Hanan sengaja nggak bener pake dasinya"
"Udah perfect"
" Terimakasih... Muaahh"
Hanan mencuri kecupan di kening Zahra.
"Mas Hanan... Isshh"
"Kenapa"
"Nggak papa"
"Mas mau turun"
"Aku juga, tunggu bentar"
Zahra memakai kerudung lalu menghampiri Hanan. Hanan menggandeng tangan Zahra dan mereka pun turun bersama.
"Sudah siap Nan"
"Sudah pa"
"Ayo kita berangkat sekarang. Mama, papa berangkat"
Mereka pun berpamitan, dan terakhir Hanan pamit kepada Zahra tak lupa mencium kening nya.
"Ehm..hmm.."
Deheman Hendra membuat Zahra tersipu.
"Lah langsung merah gitu mukanya" ledek Hendra.
"Eemm.. Mah, mbak aku ke kamar dulu ya"
"Iya sana"
Zahra meninggalkan mereka semua dan sedikit berlari di tangga.
"Isshh.. Kamu si mas"
"Hehehehe.. Lucu liat pasangan masih muda muda"
"Mari kita berangkat. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
__ADS_1
//**//