
"Papa nggak nemuin Zahra, tapi kamu"
"Deg" Jantung Zahra langsung berpacu dengan cepat dan jari-jari tangannya yang mulai mendingin.
"Apa ada sesuatu yang penting pah" ucap nya dengan berusaha tidak ragu.
"Papa mendapatkan kabar bahwa kamu di intimidasi di sekolah apakah benar"
Benar saja dengan dugaan Zahra dan dia hanya melirikan matanya ke segala arah dan menggenggam tangannya sendiri dengan erat.
"Jangan ragu putriku, mereka harus di beri balasan. Jika tidak, mereka akan terus membully orang lain lagi"
"Iya pah benar"
"Anak dari pak Rudi, yang bernama Reni benar"
"Bagaimana papa bisa tau" ucap batinnya heran.
"Kenapa kamu diam"
"Papa tau dari mana"
"Dari Hanan"
"Mas Hanan? Kapan memberitahu ke papa"
"Tadi siang, kamu tenang saja, papa akan membalas kan sesuatu kepada mereka, karena kebanyakan orang tua mereka bekerja di perusahaan papa dan salah satunya adalah orang tua Reni itu bekerja di perusahaan papa. Dan apakah kamu tau, ayah Reni itu bekerja sebagai office boy di sana"
"Office boy? Tapi katanya dia, papanya jadi karyawan"
"Bukan Zahra, karena papa lihat kamu sudah lebih baik, papa pergi dulu. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Zahra hanya terheran-heran dengan kedatangan papanya yang hanya mempertanyakan masalah itu dan kemudian pergi begitu saja. "Bukankah aneh..."
"Bi, saya mau tanya, kalau papa Nanda tau bahwa orang yang di sekitarnya di sakiti apa yang dia lakukan"
"Dia akan menghukum nya"ucap bi Reni.
"Maksudnya bi"
"Dulu pernah ada yang mengancam keluarga nya, dan karena Tuan besar sangat waspada jadi mereka dia hukum hingga di penjara selama bertaun taun" ucap bi Sari
"Dan hingga sekarang"
"Iya non."
"Tapi mas Hanan kan anaknya papa, tapi kok nggak sebegitu terkenal nya di sekolah ya"
"Karena tuan Hanan nggak mau di kejar, maunya dia mengejar seseorang" ucap bi Reni sambil menggoda Zahra.
"Kenapa bibi liatin saya begitu, Bibiiii.. " ucap nya dengan muka yang sudah memerah.
"Wajah non Zahra kalau udah merah tambah cantik" tambah bi Tuti.
"Bibi aahhhh.. Jangan goda Zahra kaya gitu"
Semua para pembantu nya tertawa melihat wajah Zahra.
"Eh non, tuan datang. Kami permisi dulu" ucap bi Tuti.
"Lahh di tinggal"
"Ngomongin apa si, kayaknya asik banget"
"Bukan urusan mas, mas katanya ke kantor"
__ADS_1
"Tiba-tiba mas kangen kamu"
"Eeehhh jantung tenang dong.. "Gumamnya
"Iiihhh mas waras kan, kesambet apa kamu mas. Jauh-jauh deh aku takut"
"Handphone mas ketinggalan, jadi mas mutusin pulang aja sekalian, lagian juga udah sore. Kamu udah beres-beres buat lusa"
"Belum"
"Mendingan beres-beres sekarang biar nggak keburu-buru, besok kamu akan sibuk di sekolah dan pastinya kamu akan lelah nanti"
"Ngapain mas"
"Besok juga tau"
"Apaan koh mas, mas selalu aja bikin penasaran"
"Mas mau beres-beres barang, mas ke atas dulu"
"Aku nggak di ajak"
"Yuk ke atas"
"Gitu dong"
"Di gendong"
"Nggak lah aku bisa jalan"
"Atau gandeng"
"Boleh juga"
Hanan menggandeng Zahra, tak ada rasa canggung lagi, karena mereka sudah terbiasa. Hanan sibuk di kamarnya sambil memasukkan beberapa baju seragam guru dan baju biasa, sedangkan Zahra sendiri.. Pasti kalian tau lah.. Yang namanya cewek ribet kan...
Zahra memporak porandakan kamarnya sendiri hingga beberapa baju berserakan di seluruh ruangan.
Hanan yang sudah selesai sedari tadi memutuskan untuk mengajak Zahra makan malam. Dan betapa kagetnya saat Hanan melihat kamar Zahra seperti kapal perang.
"Astagfirullah Zahra" ucap Hanan.
"Haahh.. Mas Hanan.. Mas ngapain ke sini" ucapnya sambil menghalangi nya masuk.
"Mas mau ngajak kamu makan malam"
"Hah, sudah waktunya makan malam"
"Kamu baru sadar"
Zahra mengangguk.
"Pakaian sudah siap"
Zahra menggeleng.
"Sedari tadi kamu ngapain"
"Nyari baju"
"Lanjutkan nanti biar di bantu bi Sari, sekarang ayo kita makan dulu"
"I-iya mas"
Setelah makan malam....
"Ya allah non, kenapa sampai berantakan gini"
__ADS_1
" Iya bi soalnya Zahra bingung mau bawa baju yang mana"
"Bawa secukupnya aja non jangan banyak banyak, saya bantuin sambil beres beres baju non ya"
"Iya bi, apa yang harus saya lakuin bi"
"Pertama non harus nyiapin baju seragam yang harus di bawa"
"Oiya bi, baru inget, saya ambil hp dulu"
Zahra mulai mengambil handphone nya dan melihat perlengkapan yang wajib di bawa saat kunjungan industri nya lalu meminta bantuan bi Sari untuk membantu nya.
"Sudah semua bi, tinggal baju bebas nya ada 2 bi, satu buat di hotelnya dan satunya buat jalan-jalan nanti"
"Jadi non kunjungan industri berapa hari"
"3 hari 2 malam bi, hari jumat pulang"
"Ya udah non, di hotel non pakai baju tidur kalau jalan-jalan menurut bibi pakai baju kuning itu. Oiya non, non juga harus bawa selimut kecil supaya non tetap hangat di dalam bus. Bus kan acnya tetap menyala, nanti non masuk angin. "
"Ah ya bener bi, ide bagus, makasih ya bi. "
"Iya non, sama-sama. Peralatan mandinya sudah di siapkan non"
"Ah iya, tolong ya bi, saya mau taruh ini dulu"
"Iya non"
Setelah acara beres beres selesai, Zahra merebahkan tubuhnya di ranjangnya dan mulai tertidur. Saat dia ingin memejamkan matanya tiba-tiba pintunya terbuka.
"Mas Hanan, kebiasaan banget kalau mau tidur mesti ke sini"
"Cuma mastiin aja, biasanya kamu tidur di sofa, kalau mas biarin ntar badan kamu pegel di pagi hari"
"Mas pernah ya"
"Sering banget"
"Kan sekarang aku udah di kasur, mas balik gih ke kamar"
"Kalau mas nggak mau"
"Ih mas lah, aku belum siap berbagi kamar , sana balik"
"Iya mas balik, selamat malam"
"Selamat malam"
*****
Keesokan harinya, Zahra bersiap untuk ke sekolah. Namun, ada yang aneh pada dirinya hari ini. Entah mengapa jantung nya sering berdetak tidak karuan.
"Mas, aku koh deg deg gan mulu, kenapa ya. Jantung aku normal kan" ucap Zahra sambil melihat Hanan yang sedang menyetir di sebelah nya.
"Sebelum nya pernah atau nggak"
"Sering, namun setelah itu nggak terjadi apa-apa, wajar kah?"
"Mungkin karena kamu di dekat saya"
"Tiap hari aja deket mas, gimana si"
"Jantung nya normal"
"Normal aja"
"Mungkin karena kamu gugup akan kejadian kemarin, udah jangan di pikirin" ucapnya sambil mengelus kepalanya.
__ADS_1
Zahra mengangguk sambil tersenyum kecil ke arah nya.
//**//