Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
S2. Itu Fany / Alvero?


__ADS_3

Mereka masih di tempat yang sama seperti sebelumnya. Mereka duduk di bangku yang tersedia sambil minum kopi dan bernostalgia tentang masa lalu mereka.


"Kita sudah 2 jam di sini. Ayo kita pulang."


"Hmm.. "


Mereka berdua memilih berjalan kaki dan tanpa sengaja mereka berdua melihat Fany bersama dengan seorang lelaki.


"Itu Fany bukan si mas?"


"Mana?"


"Itu tuh.." ucapnya sambil menunjuk.


"Kayaknya bukan deh"


"Masa si."


"Coba aja panggil."


"Ini di negeri orang, nggak sopan kali mas."


"Coba kita dekati."


Merekapun mendekat, dan Fany malah pergi menjauh dari mereka. Karena lampu lalu lintas yang tidak di pihak mereka , membuat mereka berdua kehilangan jejak Fany.


Zahra sendiri masih mencari-cari keberadaan Fany, namun panggilan Hanan mengalihkan perhatiannya.


"Zahra, kayaknya bukan deh, masa iya Fany di sini."


"Iya mas, tadi kayaknya Fany koh."


"Kamu salah lihat kali. Yuk mending kita pulang, kamu tanya aja nanti waktu di hotel."


"Iya deh mas. Mas nanti waktu di jalan kalau ada jajanan kita beli ya mas."


"Emang kamu tau makanan khas sini."


"Ya aku nggak tau, tapi kan aku lagi pengen jajan."


"Iya iya."


Mereka pun berjalan dan membeli beberapa camilan. Setelah merasa cukup mereka kembali ke hotel. Lagi-lagi pandangan Fiya tertuju pada seseorang yang tadi dia lihat. Dia membelalakan matanya bulat-bulat lalu memberikan semua makanan yang di pegangnya kepada Hanan. Hanan hanya kebingungan, namun tak Zahra hiraukan dan dia pun segera berlari menuju lift. Lift menunjukkan angka 5. Zahra memencet berkali-kali tombol lift namun lift tidak kunjung turun. Hanan yang melihatnya bergegas memegang tangan Zahra erat.


"Ada apa?"


"Tadi Fany mas."


"Kamu kangen sama Fany?"


"Bukan mas, tadi beneran Fany. Aku tau persis mata, hidung, mulut, pipi, semuanya."


"Ke lantai berapa?"


"5"


"Sabar, bentar lagi turun itu."


Dan benar lift pun terbuka, dan dia benar mendapati Fany bersama temannya.


"Fany.. "


"Hah.. Zahra.."


"Kamu lagi ngapain di sini."


"Aku mau nonton konser sama temen-temen. Kok kamu di sini juga."


"Lagi liburan aja sama mas Hanan."


"Oohh, ya udah sana lanjutin. Aku pergi dulu ya. Mau aku ajak pasti kamu nggak mau."


"Iya udah sana."


"Iya.. Dah Ra..."


Zahra melambaikan tangannya dan Hanan hanya memperhatikan Zahra.


"Tuh kan mas bener.."

__ADS_1


"Iya, iya, kita ke atas sekarang?"


"Iya mas ayo."


Mereka berdua pun pergi ke kamar mereka yang berada di lantai 4.


*****


Pagi hari di negeri gingseng menembus kamar Hanan dan Zahra. Zahra bangun lebih dulu dari Hanan. Hanan membuka matanya dan melihat Zahra berdandan di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya. Hanan pun bangun dari tidurnya dan menghampiri Zahra. Dia membantu Zahra menggunakan hairdryer.


"Cantik."


"Yang lain ngapa, cantik mulu cantik mulu."


"Beautiful."


Zahra mengambil hairdyer yang di pegang Hanan lalu mengeringkan rambutnya sendiri.


"Besok pulang ya mas."


"Pulang lusa."


"Di sini mau kemana lagi."


"Masih banyak tempat yang belum di kunjungi."


Dia pun membalikkan kursinya menghadap Hanan, dan Hanan pun berjongkok di depannya.


"Mas, kalau keliling se Korea, nggak bakalan selesai dalam satu hari."


"Mas ada kerjaan juga di sini."


"Kalau itu ya udah nggak papa."


"Masalah kerjaan boleh, tapi kalau liburan nggak boleh."


"Ya kan buat sehari-hari mas. Belum belanja bulanan, listrik, WIFI, dan lain-lain nggak cukup seratus ribu mas."


"Emang duit dari mas kurang."


"Nggak mas."


Hanan mengeluarkan ponselnya dan segera mentransfer uangnya ke rekening Zahra.


"Dihhhh.. Nggak usah mas."


Tak lama ponsel Zahra pun berbunyi. Zahra segera mengecek ponselnya yang tergeletak di meja riasnya dan itu notifikasi dari Hanan yang mentransferkan uang ke rekeningnya.


"Kebiasaan banget. Tapi alhamdulillah dan terimakasih."


"Udah kewajiban mas."


"Mau kemana kita hari ini mas."


"Terserah kamu aja."


"Jalan lagi yuk mas, kayaknya di luar lagi bagus cuacanya."


"Tadi nggak mau."


"Aku tarik kata-kata tadi. Aku ganti baju dulu, mas mandi sana bau."


"Bau apa, wangi kan."


"Bau iler, sana mas isshh.. "


"Iya iya.."


Hanan pun berdiri dan mengelus rambutnya dan tak lupa mencium singkat keningnya. Setelah mereka bersiap merekapun pergi keluar bersama.


"Mas, kita mau kemana?"


"Pantai."


"Baiklah."


Mereka pun menuju ke pantai, sesampainya mereka di sana, mereka melepaskan sepatu mereka dan bermain di pinggir pantai. Pandangan Hanan sekarang teralihkan kepada seseorang yang ia kenal.


"Mas, liat apa si."

__ADS_1


"Itu Alvero bukan si?" ucapnya sambil menunjuk, namun tidak mendapati siapapun.


"Mana mas."


"Lahh, tadi di sana."


"Bukan kali."


"Ya siapa tau aja kayak kamu sama Fany."


"Ya kali sama mas."


Merekapun berjalan kembali. Zahra menepuk pundak Hanan saat melihat kerang kosong terdampar di pesisir pantai.


"Ada apa?"


"Itu."


Zahra pun berlari kecil dan mengambilnya. Hanan juga mengikutinya.


"Cantik mas, bawa pulang ya."


"Terserah kamu aja."


"Oiya mas, tempat ini mirip sama yang ada di drakor waktu aku sama Fany nonton bareng."


"Iya memang. Mas brosing dulu di google."


"Pantesan si."


Mereka pun berjalan lagi, tak lupa mengambil foto bersama. Setelah merasa cukup, mereka pergi ke restoran. Dan kini Zahra yang melihat Alvero saat memasuki salah satu restoran ternama yang ada di sana.


"Mas, itu Alvero kan?"


Hanan mengikuti arah yang di tunjuk Zahra dan Hanan pun terkejut lalu mengangguk pada Zahra. Akhirnya mereka berdua pun menghampirinya.


"Alvero kan?"


"Zahra, Hanan. Kok kalian di sini."


"Kalau kami si wajar, kamu ngapain di sini?" ucap Hanan.


"Aku.. Aku.. Cuma main."


"Oohh main. Fany gimana?" tanya Zahra.


"Fany, di Indonesia. Memangnya kenapa?"


"Oohh, iya iya.. Sendirian kan, kami ikut gabung ya."


"Kalau kalian gabung aku yang jadi tikus. Jadi, aku pergi aja. Kalian kalau mau makan silahkan aku udah. Ya udah ya, aku tinggal. Yu Nan."


Dia meninggalkan Hanan dan Zahra begitu saja. Mereka berdua hanya keheranan dengan sikapnya yang mendadak aneh. Zahra melirik ke arah Hanan dan Hanan hanya mengangkat kedua bahunya, kemudian mereka pun duduk di tempat terdekat mereka.


"Mas, kayaknya sikap Alvero sama Fany kok beda banget ya. Biasanya kan mereka pergi berdua."


"Mungkin mereka lagi ada masalah."


"Alhamdulillah, kita berdua dari dulu nggak ada masalah yang serius ya mas, walaupun nggak melewati masa pacaran dulu."


"Iya, mas juga bersyukur bisa melewati masa-masa bersama kamu."


"Eh.. Mas.. Aku penasaran, apa yang terjadi sama Fany dan Alvero? Kenapa sikap mereka kok berubah kaya gitu ya? Kira-kira Alvero tau nggak Fany disini? Kenapa mereka berdua bisa ada di sini?"


"Udah tanyanya, intinya mas nggak tau."


"Tapi aku penasaran mas."


"Kamu nggak boleh ikut campur masalah mereka."


"Ya setidaknya kita bantu lah mas kalau mereka ada masalah."


"Mas yakin si nggak. Mas udah lapar, mau makan apa?"


"Teobokki."


"Baiklah."


Hanan sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak mau memperpanjang pertanyaan.

__ADS_1


//**//


__ADS_2