
Pak Hanan selalu berfikir di sepanjang perjalanan. Pikirannya benar-benar kacau hingga ia terngiang-ngiang ucapan Zahra. Pak Hanan memutuskan untuk menenangkan dirinya di sebuah cafe.
Pak Hanan hanya memesan Coffee panas. Pertanyaan Zahra masih terngiang di telinganya. Sungguh menggejolak hatinya.
"Assalamualaikum" ucap seseorang sambil menepuk pundak.
"Wa'alaikumsalam.. Astaghfirullah Gavin" sambil mengelus dadanya.
"Maafkan aku bro"
Gavin duduk di kursi yang kosong. Gavin merupakan kerabat sekaligus sahabatnya. Gavin adalah orang yang paling mengerti dengan sikap dari Pak Hanan.
"Nan, kok surem gitu, kenapa? ada masalah? Atau... lagi mikirin cewe ya"
"Ngga"
"Dingin banget jadi cowo mentang-mentang ganteng terus jadi guru agama"
Hanan hanya menyesap kopinya untuk menenangkan pikirannya.
"Ngga usah bohong deh Nan, aku adalah satu-satunya orang yang tau sikap kamu walaupun kamu dingin. Jujur aja deh Nan, percuma nyembunyiin, dosa loh kalo bohong"
Pak Hanan menghela nafasnya panjang. Dia meletakkan cangkir coffee nya dan mulai berbicara.
"Apakah mungkin kalau aku suka sama murid sendiri?" tanya Pak Hanan terus terang.
"Ya mungkin lah bro. Jaman sekarang kan banyak yang suka sama murid. Emang siapa bro namanya? Kelas berapa? 11,12 kah?"
"10" jawabnya singkat.
"Kelas 10 bro, cinta pandangan pertama ya Bro."
Pak Hanan mengangkat kedua bahunya ragu.
"Eh tapi kan bro, kelas 10 baru masuk sekitar 1 bulan belum sampe tengah semester. Kok bisa suka sama junior bro, gimana ceritanya"
"Sebenarnya aku ingin melihat dia berhijab. Dia adalah anak satu-satunya di sekolah yang tidak berhijab. Sebagai guru agama, aku harus bisa membuatnya berhijab. Kalau tidak aku merasa gagal menjadi guru agama"
"Oohh, cuma itu alasannya"
"Ngga, Aku juga ngga mau mereka nyalahin aku. Pasti kan semua orang bertanya, siapa si guru agamanya, kenapa ngga suruh berhijab atau apapun sebagai bahan gibah"
"Udah lah bro, jangan ngadi-ngadi alasan lain. Maksud aku bukan itu bro. Kamu suka sama dia 'kan"
"Entahlah yang pasti cuma itu yang sekarang aku rasain"
"Jangan lama-lama ya bro, keburu di ambil loh. Aku cabut dulu ya ada urusan penting. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Pak Hanan juga pergi dari kafe setelah menghabiskan kopinya. Dia langsung ke sekolah untuk mengajar.
*****
Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Zahra sungguh bosan di dalam ruangannya itu. Perasaan gelisah juga menghampirinya. Dia tidak pernah bermaksud mengatakan hal yang menurutnya terlalu keterlaluan kepada gurunya hingga membuatnya kesal.
Zahra mengambil ponselnya dan ingin mengirim pesan kepadanya. Dia sungguh ragu. Dia merasa tidak tenang dan berpindah-pindah tempat duduknya di ranjangnya.
Orang tuanya juga bingung melihat tingkah putrinya itu. Dia heran dengan sikap putrinya yang seperti orang kebingungan, atau ketakutan. Mereka tidak tau pasti.
__ADS_1
"Zahra, kamu bisulan" tanya papanya.
"Hah.. e-engga kok pak, kok bapak tanya seperti itu"
"Ya wajar kalau bapak mu bilang begitu, kamu dari tadi pindah sana sini kaya orang bisulan" ucap mamanya.
"Ngga gitu, juga mah, pah"
"Ya terus apa" tanya mamanya kepo.
"Lah kepo amat. Ngga ada kok"
"Yang bener"
"Bener mamaku tercinta dan tersayang dari lubuk hatiku yang paling dalam" goda Zahra meyakinkan.
"Oiya mah, kapan aku pulang"
"Besok"
"Akhirnya bisa bebas"
"Tapi kamu harus berterima kasih sama pak Hanan yang udah biayain rumah sakit ini"
"Tenang tenang, pasti kok"
Zahra kembali berbaring dan memutuskan untuk menonton Youtube setelah makan siang.
"Sudah pukul 3 sore, seharusnya pak Hanan juga sudah pulang semenjak 1 jam yang lalu, tetapi mengapa ia tidak datang" gumam dalam hatinya.
"Eh tapi ngapain juga gue mikirin dia ya. Kan bagus kalau ngga ke sini, ngga perlu debat juga sama dia, biarin aja deh. Eh tapi, duh gue lupa soal tadi pagi. Apa dia ngga dateng karna omongan gue ya" dia bergumam sambil menonton film di handphone yang di pegangnya.
^^^Zahra^^^
^^^Assalamualaikum pak, maaf menggaggu waktunya. Sebelumnya saya berterima kasih kepada bapak sudah menanggung biaya administrasi rumah sakit, dan besok saya di perbolehkan untuk pulang.^^^
Zahra masih menunggu balasan dari chatnya. Memandang ponselnya hingga pak Hanan membalas. "Deg" tiba-tiba jantungnya terasa berhenti saat melihat chatnya di balas.
Guru Menyebalkan😤
Wa'alaikumsalam, sama-sama. Sudah tugas saya membantu kamu. Sekarang sebaiknya kamu beristirahat. Maaf bapak tidak bisa menjenguk kamu
^^^Zahra^^^
^^^Ah.. tidak apa pak, bapak tidak perlu lagi menjenguk saya, Alhamdulillah saya sehat juga karena bapak.^^^
^^^Zahra^^^
^^^Saya juga minta maaf kepada bapak soal tadi pagi. Saya tidak bermaksud berkata seperti itu. Maafkan atas kelancangan saya kepada bapak.^^^
Guru Menyebalkan😤
Tidak apa-apa, tidak usah di pikirkan. Yang terpenting sekarang kamu jaga diri kamu baik-baik dan jaga kesehatan kamu
^^^Zahra^^^
^^^Saya punya satu permintaan kepada bapak, apa bapak bisa mengabulkan nya.^^^
Guru Menyebalkan😤
__ADS_1
Katakan
^^^Zahra^^^
^^^Tolong bimbing saya lagi, saya ingin lebih dekat dengan Allah SWT, bapak mau membantu saya.^^^
Guru Menyebalkan😤
Sebaiknya kamu belajar itu sendiri. Bapak akan membantu jika memang benar-benar di butuhkan. Kamu juga tidak perlu menuruti kata-kata saya. Jadilah diri sendiri selagi masih di jalan yang benar.
Guru Menyebalkan😤
Saya sudahi ya. Assalamualaikum..
^^^Zahra^^^
^^^Wa'alaikumsalam^^^
Zahra menaruh handphone nya di samping bantalnya. Dia terus berfikir dan berfikir tanpa henti.
"Aku melupakan kalimat yang pernah pak Hanan bicarakan kepada ku tadi pagi, "Murid kesayangan", Apa maksudnya itu? Apa mungkin pak Hanan benar-benar menyukai ku. Aahhhhh... itu tidak mungkin, walaupun benar adanya guru menyukai murid atau sebaliknya, tetapi mana mungkin dia menyukai murid badung sepertiku."gumam nya.
Zahra hingga melamun saat memikirkan nya. Orang tuanya memanggilnya namun tidak di gubris olehnya, hingga orang tuanya mengguncangkan tubuhnya.
"Zahra, kamu lagi mikirin apa, di panggil juga. Ini teman-teman kamu datang"
"Assalamualaikum Ra, gimana udah lebih baik" tanya Fany.
"Wa'alaikumsalam, sudah kok"
"Oiya ini tas kamu, kami di suruh ke sini sama pak Hanan tadi siang untuk njenguk kamu."
"Ada salam juga dari dia" tambah Alvero.
"Wa'alaikumsalam" jawab Zahra
"Ciaaaa percaya" goda Alvero.
"Alverooo"
"Ngga kok, dia jujur Ra. Pak Hanan memang menitipkan salam untukmu dan juga ini"
Fany memberikan beberapa helai kerudung. Zahra menerima nya dengan heran.
"Dia menyuruh kami untuk mengatakan kepada mu agar kamu memakainya sesuai dengan seragam di setiap harinya"
"Cieeee diperhatiin" ledek Alvero.
"Apaan si, udah makasih ya"
"Coba pake sekarang Ra"
"Ngga lah Fan, besok aja."
"Ya udah, kami hanya menjenguk mu sebentar. Kami pamit. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Fany dan Alvero berpamitan juga dengan kedua orang tua Zahra. Mereka memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
//**//