Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Sleep With Baby Indri


__ADS_3

"Assalamualaikum" ucap Zahra saat sudah sampai di depan kamarnya.


Hanan saat ini sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur. Zahra mendudukan Indri di sampingnya nya.


"Indri, coba bangunin kak Hanan, bisa nggak"


"Ma..ma..ma..ma"


Indri merangkak ke atas tubuh Hanan. Hanan yang merasa ada yang menindihi perutnya pun terbangun.


"Loh Indri, kamu ke sini sama siapa?"


"Ya sama aku lah mas, masa iya Indri naik sendiri ke sini"


Hanan menidurkan Indri di sampingnya, namun Indri menolak dan ingin menghampiri Zahra yang sedang menyisir rambutnya. Zahra mengawasi Indri dari kaca.


"Mas.. Itu Indrinya kayaknya mau turun, bantuin napa"


Hanan segera membantu Indri turun dari ranjangnya dan membiarkan nya merangkak ke arah Zahra.


"Indri, jangan ke sini dulu ya, kakak masih belum selesai ngerapiin rambut kakak"


Namun Indri menolak dan malah menarik lutut nya. Dengan terpaksa Zahra membiarkan rambutnya yang panjang tergerai. Dia pun membopong tubuh mungil Indri.


"Indri kangen sama kakak ya, betah banget"


Indri sibuk memainkan rambut Zahra, beberapa kali Zahra menyingkirkan nya, namun tangan jahil Indri masih bisa menggapai nya.


"Mas Hanan, aku minta tolong"


"Kenapa"


"Ini, Indri mainin rambut aku, tolong iketin. Iketnya di meja tuh"


Hanan berjalan menuju ke meja rias Zahra dan mengambil ikat rambutnya. Dan segera mengikat rambut Zahra.


"Indri nggak boleh nakal sama kak Zahra, kasian kak Zahra, yuk sama kak Hanan yuk"


"Sama kak Hanan ya, kakak mau bantuin mama di dapur nyiapin makan malam.. Muachh"


Zahra mencium pipi Indri dia pun meninggalkan Hanan dan berbalik kembali.


"Kenapa Zahra"


"Aahhh.. Anu... Aku mau ambil kerudung.. Hehehehe"


"Oohh.. "


Zahra mengambil kerudung nya dan segera turun ke dapur untuk membantu mama Hana. Setelah makan malam bersama, mereka pun memutuskan untuk beristirahat di kamar masing-masing.


"Indri mau ikut mama atau kakak Zahra"


"Ya.. Ya.. Ya.. Ya"


"Hm..kak Zahra, sama mama aja yuk"


Bukannya mau, tetapi Indri merangkak ke arah Zahra. Zahra pun membopong nya.


"Yuk sama mama aja yuk, kasian kak Zahra nya"


"Udah mbak ngga papa, malam ini Indri biarkan tidur di kamar aku, mbak jangan khawatir"


"Masih remaja udah bisa ngurus anak kecil, apalagi nanti kalau udah dewasa, bisa lebih hebat" puji Hendra.


"Dulu juga begitu kak, anak tetangga aku sering aku yang urusin waktu di tinggal ke sawah, ya sekalian aku main"

__ADS_1


"Oohh, pernah nginep juga"


"Pernah, waktu itu nggak di bolehin pulang, akhirnya nginep di sana. Walaupun malam hari suka ke bangun karena anak itu nangis, tapi nggak masalah, aku udah anggap dia adik sendiri"


"Nanti malam kalau Indri nangis atau rewel kamu ke kamar kakak aja ya"


"Iya kak, ya udah aku sama Indri ke kamar duluan"


Di kamarnya sendiri, dia bermain dengan boneka milik Zahra.


"Mas udah mandi"


"Udah"


"Aku mandi dulu ya mas, tolong jaga Indri nya. Oiya, malam ini dia tidur di sini"


"Kamu nggak papa kalau nanti malam ke bangun"


"Ya nggak papa, aku udah biasa. Mas kok nggak pake baju yang dari mas Thomi"


"Iya nanti mas pake"


Di saat Zahra mandi, Wina masuk ke kamar Zahra dan Hanan.


"Nan, nggak papa kalau Indri tidur di sini, takut ngganggu kalian"


"Nggak papa mbak, selagi Zahra nya nyaman nggak papa"


"Ya udah, ini botol susu sama susunya kalau dia nangis kasih ini aja. Biar nggak perlu ke dapur, bawa aja termos kecil ke sini"


"Iya mbak"


"Ya udah mbak titip Indri nya. Zahra nya mana"


"Lagi mandi"


Hanan hanya tersenyum lalu bermain lagi dengan Indri. Tak lama Zahra pun keluar dan juga sudah memakai baju yang di berikan Thomi.


"Alhamdulillah, nggak ke besaran mas"


"Syukurlah, mas ganti baju dulu. Sekarang Indri sama kak Zahra ya. Muaachh.. Muaachh"


Dia tidak hanya mencium pipi Indri, melainkan juga kepada pipi Zahra. Zahra terpaku dan wajahnya langsung memerah seketika.


"Lliiihh.. Mass"


"Nanti iri lagi"


Hanan pergi tanpa memikirkan jantung Zahra yang kini sedang ingin melompat dari tempatnya. Namun dia acuh dan kembali bermain dengan Indri.


Setelah Hanan selesai berganti baju, Zahra sedang mencoba menidurkan Indri. Zahra memberi isyarat untuk tidak berisik kepada Hanan.


Hanan pun mengangguk dan mengambil botol susu dan meraciknya di dapur, sekaligus membawa termos kecil ke kamarnya.


"Nih susu buat Indri"


"Oohh.. Makasih mas"


"Dah.. Tidur yang nyenyak ya"


Zahra menepuk nepuk paha kecil Indri. Hanan mematikan lampu utama. Masih ada lampu tidur yang sedikit terang. Tak lama mereka bertiga pun terlelap.


Sekitar pukul 11 malam, Indri terbangun dan menangis, Zahra langsung menggendongnya.


"Ssttt.. Cup.. Cup.. Mau susu ya Indri ya.. Atau mau main... "

__ADS_1


Tak di gubris oleh Indri dan masih tetap menangis. Hanan yang merasa terganggu pun bangun.


"Eh mas.. Maaf ya"


"Nggak papa kok, mas udah duga ini terjadi. Mas buatin susu sebentar"


"Iya"


Zahra mencoba menenangkan Indri selagi Hanan membuat kan susu. Tak butuh waktu 5 menit, susu pun siap di buat, namun Indri malah membuangnya.


"Kalau gini mas juga bingung, mas ke bawah buat panggil Bang Hendra dulu"


"Tapi kan mas, ini masih larut nanti"


"Udah nggak papa"


Hanan turun ke lantai bawah dan menuju ke kamar kayaknya.


"Bang Hendra, mbak Wina... "


Teriaknya sambil mengetuk pintu. Saat pintunya di ketuk, pintu pun terbuka dengan sendirinya karena tak di tutup dengan benar. Hanan pun masuk, namun dia mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke kamarnya.


" Astagfirullah... " ucap nya lirih.


Hanan kembali ke kamarnya dan sudah mendapati Indri kembali terlelap di gendongan Zahra. Hanan menghembuskan nafasnya kasar dan kembali tidur si samping kiri Indri.


" Mas, jangan di matiin ya lampunya. Kayaknya tadi Indri takut"


"Dia berhenti kapan"


"Belum lama"


Hanan duduk sambil menunduk.


"Mas tidur lagi aja"


"Kamu si"


"Bentar lagi lah. Eh.. Mas.. Kok keringetan gitu. Mas lari-lari atau gimana"


"E-enggak kok, mas panik aja karena Indri nya nangis"


"Terus bang Hendra sama mbak Wina nya gimana"


Hanan menggaruk dahinya.


"Mereka masih tidur"


"Ya udah deh biarin, yang penting Indri nya udah diem. Tidur lagi yuk mas, bantuin rapiin tuh bantal"


Hanan mengangguk. Zahra meletakkan tubuh Indri pelan, di saat Zahra sudah berhasil menurunkan nya, Indri langsung membalikkan badannya dan menghadap ke arah Hanan dan tertidur di lengannya. Zahra yang melihat nya tersenyum dan menarik tangan Hanan untuk memeluk Indri.


Hanan memandang Zahra yang sedang merapikan selimut untuk menutupi tubuh mereka. Zahra hanya fokus kepada Indri dan mengelus kepalanya.


Hanan mengikuti arah pandang Zahra, lalu ia juga mencium kening Indri dan diikuti oleh Zahra.


"Zahra sini sebentar"


"Hmm.."


"Itu di rambut kamu"


Zahra merabanya, namun Hanan menarik nya dan mencuri kesempatan untuk mencium kening Zahra.


"Lailatuka Saidah"

__ADS_1


"Too"


//**//


__ADS_2