
Seorang anak perempuan yang sedang ikut ayahnya ke rumah rekan bisnisnya, dengan percaya diri ikut masuk ke dalam rumah.
"Halo, siapa namamu gadis kecil?" tanya Andrew Maxton-pemilik Maxton Company. Pria keturunan Inggris ini bertanya pada gadis kecil di hadapannya.
"Selena Selly Adion," ucap Selly kecil yang begitu lancar.
Selly kecil yang berusia sepuluh tahun, adalah gadis centil dan ceria. Pembawaanya yang ramah membuat orang disekitar begitu menyukainya. Namun, sebagai anak pertama dari keluarga Adion, Selly tumbuh sebagai gadis kecil yang manja.
"Wah, Pak Daniel, putri Anda begitu cantik," puji Andrew Maxton.
"Biasa saja, Pak Andrew, putra Anda pun tidak kalah tampan."
"Terimakasih, Pak." Daniel yang melihat anak perempuan di hadapannya menduga jika dia berumuran dengan anaknya. "Pergilah ke taman! Di sana ada seorang teman." Andrew memberitahu pada Selly.
Mendengar kata 'teman', wajah Selly berbinar. Dia memang sangat suka berteman, jadi dirinya selalu senang saat mendengar ada teman.
Dengan langkah semangat Selly menuju ke taman. Dari kejauhan, dia melihat seorang anak laki-laki duduk di taman yang sibuk dengan tumpukan buku di sampingnya.
Dengan langkah centil, dia menghampiri anak laki-laki itu. "Hai, aku Selly." Selly mengulurkan tangan pada anak laki-laki yang sedang sibuk membaca itu.
Tidak ada tanggapan dari anak laki-laki di hadapan Selly. Dia masih sibuk membaca bukunya.
"Apa kamu tidak dengar aku mengajakmu bicara!" Tangan kecil Selly mengambil buku yang sedang dibaca oleh anak laki-laki itu. Dia merasa kesal saat diabaikan.
Merasa bukunya diambil, mata anak laki-laki itu pun beralih menatap anak perempuan dihadapannya. Mata kecil berwarna biru itu pun tampak indah saat menatap tajam. "Apa kamu tidak lihat aku sedang membaca!" serunya tidak kalah kesal.
"Apa kamu tidak pernah membaca dongeng yang menceritakan tentang cara menghargai seseorang!" Selly yang biasa dibacakan dongeng oleh mamanya selalu dijelaskan tentang hal-hal baik tentang isi cerita.
Mendengar jika anak perempuan di hadapannya ini mengambil inti sebuah cerita, dia menyimpulkan bila anak perempuan di hadapannya ini pendengar yang baik atau mungkin pembaca yang baik.
"Aku, Regan Alvaro Maxton, anak dari Andrew dan Lana Maxton, calon CEO di Maxton Company."
Selly yang mendengar temannya memperkenalkan diri, tertawa tawa terbahak. "Kamu masih kecil, kenapa sudah bercita-cita ingin menjadi CEO?"
"Cita-cita harus ditanamkan dari kecil, dan aku ingin menjadi CEO seperti papa."
"Apa kita harus punya cita-cita?" tanya Selly polos.
"Iya," jawab Regan, "memang cita-cita kamu apa?"
"Aku mau menikah dengan seorang pangeran." Senyum menghiasi wajah Selly saat mengatakan cita-citanya.
"Cita-cita apa itu, mana bisa di wujudkan," cibir Regan. Regan berpikir cita-cita seperti itu tidak akan bisa diwujudkan, seperti cita-citanya yang ingin menjadi CEO. Logika Regan tidak menemukan ilmu apa yang dipakai untuk mewujudkan cita-cita seperti itu.
"Selly, ayo pulang," teriak Daniel pada putrinya.
"Kalau begitu bantu aku mewujudkannya," jawab Selly.
"Caranya?" tanya Regan bingung.
__ADS_1
"Maukah kamu jadi pangeranku?"
Alis tipis milik Regan bertautan saat mendengar ucapan aneh Selly. Dia mencerna ucapan anak perempuan di hadapannya.
"Selly." Daniel kembali memanggil.
"Cepat jawab!" Selly mendesak saat mendengar terikan papanya.
"Iya, aku akan menjadi pangeranmu." Akhirnya Regan menjawab permintaan Selly, karena papa Selly sudah menghampiri Selly.
"Terimakasih," ucap Selly tersenyum.
Daniel yang lama menunggu menghampiri Selly dan menarik lembut tangan Selly. Mata Selly, tetap menatap Regan. Anak laki-laki itu mampu menghipnotisnya dengan tatapan bola mata berwarna biru.
Regan yang melihat Selly berlalu, hanya mengelengkan kepalanya. Dirinya tidak sadar jika janjinya itu telah dipegang teguh oleh Selly kecil.
***
Pagi ini Selly diantar oleh mamanya ke sekolah baru. Sekolah elit di ibu kota ini akan menjadi tempat baru. Dulu Selly tinggal di kota kecil, karena perusahaan papanya semakin maju pesat, akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal di ibu kota.
Bersama gurunya, Selly masuk ke dalam kelasnya. Kelas yang tadinya riuh, tiba-tiba hening saat guru datang. Semua mata para siswa langsung tertuju pada siswa baru yang datang bersama dengan guru mereka.
"Teman-teman kita kedatangan teman baru," ucap Ibu guru menjelaskan. "Perkenalkan namamu!" Ibu guru beralih pada Selly.
"Perkenalkan, namaku Selena Selly Adion." Selly memperkenalkan dirinya.
Matanya menatap tajam saat yang dilihatnya adalah anak peremupuan yang datang kemarin ke rumahnya. Dia sekolah di sini juga? tanyanya dalam hati.
Selly yang melihat Regan langsung berbinar. Dia seolah menemukan harta karun diantara bebatuan, saat Regan ada di kelas yang sama dengannya. Senangnya ada pangeranku, batin Selly.
"Selly, kamu bisa duduk dengan Regan," ucap Ibu guru.
Melangkah menuju kursi yang ditunjuk gurunya, senyum tertarik di bibir Selly saat mendapati bisa duduk di samping Regan. "Hai, Pangeran," ucap Selly saat duduk di samping Regan.
Regan memutar bola matanya malas mendengar panggilan Selly yang mengingatkannya dengan janjinya kemarin.
"Aku bersyukur bisa satu sekolah denganmu, apalagi bisa duduk di sampingmu." Selly mengungkapkan rasa senangnya pada Regan.
Mendengar anak perempuan yang di sampingnya berceloteh, membuatnya tersenyum.
"Kamu bisa tersenyum!" seru Selly berbinar.
Regan kembali memasang wajah dingin saat mendengar ucapan Selly. Dia memang jarang menampilkan senyumnya.
Saat jam istirahat, Selly mengikuti Regan untuk pergi ke kantin. Regan yang melihat Selly mengikutinya, hanya bisa menggeleng.
"Jangan melihatku seperti itu, kamu tahu bukan? Kalau aku belum punya teman." Dari pandangan Regan, Selly sudah bisa menebak.
"Bukankah aku temanmu?"
__ADS_1
"Kamu tahu? Saat mendengarmu bicara, aku benar-benar senang seperti sedang mendapat hadiah." Selly bukan menjawab pertanyaan dari Regan, tapi dia malah bicara tidak jelas.
Regan mendengus kesal, dan akhirnya mengabaikan Selly yang berbicara tidak jelas.
"Baiklah, aku akan jawab," ucap Selly yang melihat Regan begitu kesal. "Kamu itu bukan temanku, tapi pengeranku," ucap Selly malu-malu.
Regan kembali lemas saat mengingat akan janjinya menjadi pengeran untuk Selly. Mengabaikan ucapan Selly, dia meninggalkan menuju ke kantin. Wajah dinginnya tak lupa dia tampilkan saat meninggalkan Selly.
Selly sudah mulai terbiasa melihat wajah Regan yang dingin. Rasanya itu adalah hal yang sangat menarik.
***
"Wah ... jadi kak Regan itu memang pendiam dari kecil?" tanya Shea setelah mendengarkan bagaimana pertama kali Selly dan Regan bertemu.
"Iya," jawab Selly tertawa kecil.
"Lalu bagiamana kisah cinta kalian? Apa dari biasa bertemu terus kalian akhirnya jatuh cinta?" tanya Shea penasaran. Dia berpikir Selly dan Regan seperti dirinya dan Bryan.
"Tidak."
"Lalu?" Shea sungguh ingin tahu kisah cerita Selly dan Regan.
"Jadi sejak pertemuan pertama itu, aku dan Regan berteman. Namun, jangan bayangkan berteman seperti kamu dan Chika, karena antara aku dan Regan hanya aku yang aktif."
Shea mengangguk-angguk mendengar cerita Selly. Sampai sekarang pun sepertinya kak Selly yang tetap aktif. Shea bertawa dalam hatinya saat menyimpulkan sesuatu.
"Sampai sekarang pun aku tetap aktif dan Regan pasif," ucap Selly tertawa.
Ternyata Selly mengatakan hal yang sama dengan yang dipikir Shea dalam hatinya. "Lalu, bagiamana kalian bersatu?" Shea kembali menanyakan kisah cinta Selly dan Regan.
"Emm .... " Selly memikirkan kembali dari mana dia akan bercerita.
.
.
.
.
.
...Hai, Bryshe loverš„°...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...(minggu terakhir, yuk vote lagi, biar tambah semangat aku nulisnya)...
...Up jam 12 WIB...
__ADS_1