
Setelah makanan datang, Shea dan Bryan memulai sarapan yang sudah terlalu siang. Dengan sangat lahap, Shea memakan makanan yang ada di hadapannya. Perutnya yang sangat lapar, ingin segera minta di isi.
Bryan yang melihat Shea makan dengan lahap, benar-benar merasa sangat menyesal. Dia baru saja membuat istrinya itu kelaparan. Padahal Bryan ingat dengan jelas, jika Shea sempat pingsan saat kemarin karena belum makan.
"Apa habis ini kita pulang?" tanya Shea dengan mulut penuh dengan makanan.
"Jangan bicara saat makan," tegur Bryan. Tangan Bryan menyendok makanan yang berada di piringnya dan memasukkannya ke dalam mulut. "Kita akan pulang malam."
Mendengar ucapan Bryan, Shea langsung tersedak. Bryan langsung memberikan minuman pada Shea. "Pelan-pelan," tegur Bryan. Bryan tidak habis pikir, Shea seceroboh itu.
Tangan Shea meraih minum yang diberikan oleh Bryan. Meminum air dari gelas, dia meredakan tenggorokannya. "Kenapa malam? Memang apa yang akan kita kerjakan lagi di sini?" tanya Shea setelah rasa sakit di tenggorokannya reda.
"Terserah, mau apa saja juga boleh." Bryan tersenyum penuh arti.
Jangan bilang dia akan melakukannya lagi. Apa dia tidak lelah? batin Shea bergejolak memikirkan apa yang akan dilakukan Bryan di kamar hotel hingga malam hari.
"Kenapa? Pasti kamu berpikir aku akan melakukannya lagi?"
Kenapa dia bisa tahu?
Tawa Bryan langsung mengisi keheningan kamar hotel, saat melihat wajah Shea yang begitu takut dirinya akan melakukannya lagi. "Aku tidak akan menyiksamu dan memintamu melakukannya lagi," elak Bryan.
Shea merasa lega saat ternyata Bryan tidak akan melakuknnya lagi. Sebenarnya dia hanya takut, jika kondisinya lelah, akan berpengaruh pada kondisi bayinya. "Lalu kita mau apa?"
"Aku mau menghabiskan waktu bersamamu, menceritakan banyak hal yang belum kita tahu masing-masing. Kamu tahu aku tidak mau kejadian buku diary terulang. Aku mau tahu semua tentang dirimu dan itu dari mulutmu."
Shea menyadari, jika yang dikatakan Bryan adalah benar. Kesalahpahaman antara dirinya dan Bryan kemarin, disebabkan karena mereka belum saling mengenal lebih dalam, dan itu membuat sedikit masalah dalam hubungannya. "Baiklah."
Bryan merasa senang saat Shea mau menerima idenya. Dari awal memang dia berniat untuk menghabiskan waktu bersama Shea. Dirinya sadar, jika di rumah, pasti akan ada halangan yang menganggunya.
Selesai makan, Bryan menghubungi petugas hotel untuk membersihkan sisa makan mereka. Melanjutkan rencananya untuk saling mengenal Bryan dan Shea duduk di sofa saling berpelukan. "Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?" tanya Shea lebih dulu pada Bryan.
"Emm .... " Bryan memikirkan apa yang akan dia tanyakan. "Oh ya ... masalah buku diary, aku mau penjelasanmu sekarang."
Shea menelan salivanya saat Bryan meminta dirinya untuk menjelaskan perihal buku diary. Dia ingat sekali yang ditulisnya. "Yang mana yang aku harus jelaskan? Aku tidak tahu kamu baca yang mana saja."
"Aku baca semua, dari awal dirimu yang baru pertama kali masuk kuliah."
"Kamu baca dari depan?" Shea yang berada didekapan Bryan, menengadah saat bertanya.
"Aku membaca dari saat kamu memperhatikan para pria-pria tampan di kampusmu."
Shea tersenyum memamerkan deretan giginya saat ketahuan jika dulu dirinya suka memperhatikan para pria di kampusnya. "Itu hanya keisengan saja, aku rasa semua wanita mengalaminya," elak Shea.
"Ich .... " Bryan yang gemas mencubit pipi Shea lembut. "Tetap saja, aku cemburu." Dia mencebikkan bibirnya saat mengingat Shea suka memuja para pria tampan.
__ADS_1
"Jangan marah," ucap Shea mendaratkan kecupan di pipi Bryan. "Sekarang aku hanya akan memuja ketampananmu," bujuknya.
"Sejak kapan kamu pandai merayu," ucap Bryan memeluk Shea, dan memberikan ciuman bertubi-tubi pada Shea. Dia benar-benar gemas melihat istrinya yang bisa membuat kekesalannya menguap.
"Sayang, hentikan!"
Tangan Shea terus saja mendorong tubuh Bryan, dan berusaha menghentikan aksinya yang menciuminya. Mendengar permohonan Shea, Bryan menghentikan aksinya, dan melihat Shea yang mengatur deru napasnya karena berusah menghidarinya.
"Sekarang jelaskan tentang Alex?" Bryan melanjutkan pertanyaan yang masih menganjal di hatinya.
"Bukankah waktu itu aku sudah jelaskan?"
"Iya, tapi aku masih ragu jika kamu tidak pernah menyukainya, secara di buku diary milikmu, kamu menceritakan tentang kebaikannya." Masih ada terbesit rasa cemburu di hati Bryan, saat Shea merasa senang saat mendapat kebaikan pria lain.
"Aku sudah menganggap Alex itu kakak. Aku sudah mengenalnya cukup lama, dan dia yang ada saat kedua orang tuaku tidak ada." Shea menjelaksan pada Bryan. "Aku tahu, jika kamu pasti akan cemburu, tapi aku mohon, dia salah satu orang yang berjasa dalam hidupku, karena tanpa dia aku hanya sendiri saat kedua orang tuaku meninggal."
Shea mengeratkan pelukannya pada Bryan. "Aku tahu batasanku, walaupun aku menganggapnya kakak, dia tetap orang lain."
Ada kelegaan di hati Bryan saat istrinya tanpa diminta, sudah tahu apa yang harus dia lakukan. "Kalau kamu menganggapnya kakak, kenapa saat kita menikah kamu tidak memanggilmu untuk menjadi walimu?"
"Kita menikah secara mendadak jadi aku belum sempat mengabari dia, dan karena dia tahu aku tidak punya kekasih, pasti dia akan mendesakku mengatakan apa alasan aku menikah, padahal saat itu aku masih amat membencimu."
"Apa kamu menghindari kemungkinan apa yang terjadi di hidupmu?"
"Tidak juga, tapi waktu itu yang aku pikirkan jika aku tidak mau memberitahu siapa pun," ucap Shea, " buktinya, kamu bisa bebas sebulan bukan?" tanyanya menatap Bryan.
"Bohong sekali, waktu itu kamu-"
"Aku tahu, aku salah waktu malam pertama kita, aku hanya frustrasi saat itu," potong Bryan.
"Sudahlah, aku paham itu, biarkan itu jadi kenangan kita saja." Tidak mudah bagi Shea menerima hal itu tapi dirinya tidak mau hubunganya selalu membahas masa lalu kelam Bryan.
"Kamu tahu, hubungan kita akan kehadiran beberapa wanitaku yang mungkin kedepan akan kita temui tanpa sengaja. Apa kamu akan meninggalkan aku jika tiba-tiba mereka datang dengan alasan apa pun?" Ada ketakutan di hati Bryan saat nanti ada wanita yang datang di pernikahannya.
"Buatlah aku percaya dan tidak ada alasan aku meninggalkanmu. Jika cintamu saja bisa membuat aku yang keras bisa luluh, kenapa tidak cintamu membuat aku bertahan."
Bryan mengeratkan pelukannya, tak ada kata yang mampu dia ucapkan. Baginya Shea adalah satu keberuntungan yang didapatnya, walaupun mungkin dirinya tidak pantas.
"Masih ada yang kamu ingin tanyakan?" Shea menatap lekat wajah Bryan.
"Emm ... Kak Regan?" Satu nama yang masih menganjal di hati Bryan adalah kakak iparnya.
Shea sedikit kesulitan kata saat menjelaksan kenapa dirinya menjabarkan Regan dalam buku diarynya. "Pertama kali aku melihatnya jujur aku terpesona." Shea menjelaskan perlahan pada Bryan.
Bryan berusaha tenang saat mendengarkan Shea menjelaskan. Dia tahu setiap wanita akan terpesona pada kakak iparnya, seperti yang dibilang oleh Felix.
__ADS_1
"Awalnya perasaan itu biasa saja, tapi saat dia memberikan aku perhatian saat aku hamil, kekagumanku bertambah."
Bryan ingat jika semua itu juga tertulis di buku diary Shea, dan itu sama dengan yang di ucapkan oleh Shea. Walaupun ada rasa cemburu, tapi dia berusah tenang mendengarkan penjelasan Shea.
"Sampai akhirnya aku memutuskan menjauh. Aku tidak mau sampai perasaan kagum itu berubah." Shea melanjutkan ceritanya. "Apa kamu ingat, waktu aku meminta menjemputmu pertama kali? Di waktu itulah aku berusaha menghindar."
"Waktu itu," ucap Bryan saat mengingat. Waktu itu juga, waktu dimana Bryan mulai dekat dengan Shea, dan mulai memiliki sedikit perasaan pada Shea.
"Iya, dan mungkin itu cara Tuhan mendekatkan kita."
"Apa perasaan kagummu pada Kak Regan masih ada?" tanya Bryan ragu-ragu.
"Aku tidak lagi mengaguminya, tapi aku merasa berhutang budi padanya. Karena Kak Regn, kita bisa menikah, dan Karena Kak Regan juga sekarang aku bersamamu."
Bryan sadar, jika kakak iparnya yang berusaha membuatnya bertanggung jawab dengan perbuatannya. "Iya, kamu benar, jika tidak ada Kak Regan, aku tidak akan bisa mendapatkanmu."
Bryan mendaratkan satu kecupan di dahi Shea. Namun, tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Aku lupa," ucap Bryan. Dia pun melepas pelukannya dari tubuh Shea, dan berdiri mengambil tas miliknya
Shea merasa bingung apa yang di lupakan Bryan. Melihat Bryan yang mengambil sebuah tas, Bryan mengambil sesuatu di dalamnya. "Kamu mengambil apa?" tanya Shea.
Melangkah kembali membawa tasnya, Bryan duduk kembali di samping Shea. Tangannya mengambil sesuatu di dalam tas. "Ini, surat asli pembatalan perjanjian pernikahan kontrak kita." Bryan menyerahkannya pada Shea.
Senyum tertarik di wajah Shea. Dia membaca surat yang isinya sama dengan yang dilihatnya semalam.
"Tanda tanganlah, dan kita mulai semua tanpa perjanjian apa-apa." Bryan menyerahkan bolpoin pada Shea.
Menerima bolpoin yang diberikan Bryan, Shea mengarahkan tangannya untuk di atas surat perjanjiannya. Debaran jantungnya begitu terasa saat akan menandatangani surat pembatalan pernikahan kontraknya. Perasaan ini sama seperti saat dia menandatangani surat penjanjian pernikahannya dulu.
"Aku berdoa, ini akan menjadi awal untuk kita," ucap Shea seraya menandatangani surat pembatalan pernikahan kontraknya.
"Terimakasih." Bryan memeluk Shea saat melihat istrinya itu sudah menandatangani surat pembatalan itu.
"Harusnya aku dapat setengah saham," goda Shea mencubit dada Bryan.
Bryan bertawa mendengar ucapan Shea. "Jangankan setengah, semua seluruh sahamku akan aku berikan padamu."
Shea dan Bryan pun berbalas tawa. Kini kebahagiaan adalah milik mereka. Tidak ada perjanjian dan semua murni cinta. Walaupun dengan awal buruk, kini mereka menuju akhir baik.
.
.
.
.
__ADS_1
Aku up dua sekaligus, tapi jangan lupa like keduanya. Scrol lagi takut tadi lupa ya😊
Ketemu besok jam 12 WIB