
Setelah tadi dibangunkan oleh istrinya, Bryan langsung bersiap untuk menuju ke proyek pembangunan hotel.
"Kamu hati-hati di jalan, ya," ucap Shea pada Bryan.
"Aku yang harusnya mengatakan itu, karena kamu sedang hamil." Bryan tersenyum mendengar pesan istrinya.
"Kamu akan melakukan perjalanan jadi wajar aku berpesan."
"Iya, aku akan baik-baik saja." Bryan memberikan kecupan di bibir Shea. Dia langsung beralih ke perut Shea dan mendaratkan juga satu kecupan. "Daddy pergi dulu ya, Sayang."
Shea membelai lembut kepala Bryan yang berada di perutnya.
"Aku pergi dulu." Bryan kembali berpamitan dan menuju ke mobilnya sesaat setelah itu.
Dia menyetir sendiri ke proyek pembangunan hotel.
Pembangunan hotel milik Helena terletak di daerah pegunungan. Jarak dari rumah Bryan menuju ke tempat pembangunan sekitar tiga jam.
Bryan yang berangkat dari rumah jam enam pagi, membuatnya sampai di proyek sekitar jam sembilan pagi. Jalanan pagi yang masih begitu lengang membuat perjalanan terasa lebih cepat.
Sampai di proyek hotel, dia langsung disambut manager bagian pelaksana yang bertugas mengawasi proyek. Mereka pergi bersama-sama menuju proyek pembangunan.
Dengan memakai alat pelindung, Bryan meninjau proyek pembangunan. Terlihat pembangunan masih tahap awal, dilihat dari para pekerja yang sedang membuat fondasi awal.
"Kami sudah mengerahkan cukup banyak pekerja, Pak," ucap manager pada Bryan.
"Iya, aku mau pembangunan ini secepatnya bisa selesai. Jadi bisa sesuai target yang sudah kita janjikan pada Davis Company." Bryan benar-benar berharap kerjasamanya bisa berjalan dengan baik, dan tidak meleset dari perencanaan awal.
"Baik, Pak."
Bryan pun melanjutkan melihat proses pembangunan yang sedang berjalan. Namun, matanya mencari sesuatu. "Apa pihak Davis belum datang?" tanya Bryan pada managernya.
"Belum, Pak."
"Kita tunggu mereka dulu." Bryan tidak mau kerja dua kali, meninjau proyek. Jika dia bersama pihak Davis, sudah jelas dia akan hanya sekali berkeliling untuk mengecek proyek.
Seraya menunggu Bryan mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi Shea untuk memberitahu jika dia sudah sampai. Namun, saat melihat layar ponselnya, Bryan dibuat heran karena ternyata tidak ada sinyal di ponselnya. "Apa di sini tidak ada sinyal?" tanyanya pada manager.
"Tidak, Pak, memang di sini sulit sekali sinyalnya."
Mendengar penjelasan manager, Bryan hanya bisa mendengus kesal. Dia berpikir bagaimana menghubungi istrinya jika tidak ada sinyal.
Sebaiknya aku cepat menyelesaikan urusanku di sini.
Bryan hanya bisa berusaha secepatnya menyelesaikan urusannya di proyek pembangunan hotel. Dia tidak mau membuat istrinya di rumah cemas, karena tidak ada kabar darinya.
Saat Bryan sedang sibuk dengan ponselnya. Suara Helena terdengar memanggil. "Bryan."
Mendengar namanya di panggil, Bryan menoleh. Dia mendapati Helena yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Namun, Bryan hanya melihat Helena saja yang datang, sedangkan Alex tidak tampak berada bersamanya.
"Kamu sudah datang?" tanyanya pada Helena.
__ADS_1
"Alex di mana?" Bryan tidak menjawab pertanyaan Helena. Dia justru bertanya hal lain pada Helena.
Helena sedikit kesal saat Bryan bukannya menjawab pertanyaannya, tapi justru menanyakan asistennya itu. "Alex sedang dalam perjalanan kemari." Helena menjelaskan pada Bryan keberadaan Alex.
Bryan hanya sedikit berpikir kenapa Helena tidak menunggu Alex untuk berangkat bersama. Namun, Bryan buru-buru menghilangkan pikirannya itu. Baginya itu adalah urusan Helena, dan dirinya tidak mau ikut campur.
"Kenapa mobilmu meninggalkanmu?" Bryan heran melihat mobil Helena pergi dari lokasi proyek, padahal pemiliknya masih berada di sini.
"Aku akan pulang dengan Alex nanti, jadi aku meminta supirku untuk kembali."
"Oh .... " Bryan mengerti penjelasan Helena.
"Jika kita menunggu Alex akan lama, bagaimana jika kita melihat proyeknya saja dan kamu bisa jelaskan padaku tentang semuanya." Helena memberikan ide pada Bryan untuk mulai meninjau proyek.
Bryan tampak berpikir apa yang dikatakan Helena ada benarnya. Dia yang ingin segera pulang, tidak mungkin harus menunggu Alex untuk meninjau proyek. "Baiklah, ayo!" Akhirnya Bryan menerima ide Helena.
Manager memberikan alat pelindung pada Helena, dan melanjutkan bersama-sama meninjau proyek. Bryan juga menjelaskan pada Helena sampai tahap apa pembangunan hotel miliknya itu.
Cukup lama mereka berkeliling seraya Bryan menjelaskan detail pembangunan proyek. Namun, sampai Bryan selesai meninjau proyek dan menjelaskan pada Helena, Alex tak kunjung tiba.
"Aku sudah menjelaskan semua, semoga kamu bisa mengerti." Sebenarnya Bryan tidak yakin menjelaskan pada Helena, tapi dia tidak bisa menunggu Alex yang begitu lama.
"Aku mengerti, tenanglah!"
"Kenapa Alex tidak kunjung datang?" Bryan yang merasa tidak Alex tak kunjung datang pun bertanya.
"Iya, kemana dia?" Helena pun meraih ponselnya yang berada di dalam tasnya. Mencoba menghubungi Alex. Namun, saat melihat ponselnya dia melihat tidak ada sinyal. "Di sini tidak ada sinyal?" gumamnya, tapi masih terdengar oleh Bryan.
"Lalu bagaimana aku bisa menghubunginya."
"Kita tunggu saja kalau begitu." Bryan tidak punya pilihan. Dia tidak mau harus pulang dengan Helena, dan akan membuat dirinya dan Shea salahpaham.
"Jika mau menunggu, bapak bisa menunggu di restoran kecil di dekat sini, Pak." Manager pelaksana yang dari tadi mendengar percakapan Bryan dan Helena memberikan ide untuk menunggu di tempat yang lebih nyaman.
"Baiklah, kita menunggu saja di sana." Bryan berjalan menuju ke arah mobilnya di ikuti Helena yang berada di belakangnya.
Tunggu saja sampai Alex datang.
Helena tertawa dalam hatinya membayangkan akan menunggu Alex yang sebenarnya tidak akan pernah datang. Dia mengingat kejadian kemarin saat di kantor.
Saat sedang melintasi ruangan Alex, Helena mendengar suara telepon di meja kerja Alex berdering. Karena tidak mau sampai ternyata itu klien penting, akhirnya Helena sendiri yang mengangkat sambungan teleponnya.
"Halo selamat siang, dengan Davis Company," sapa Helena di sambungan telepon.
"Maaf, Bu, saya Felix dari Adion Company, ingin memberitahu jika besok ada jadwal kunjungan ke proyek pembangunan hotel bersama Pak Bryan."
Senyum langsung tertarik di bibir Helena, saat mendengar suara dari sambungan telepon yang memberitahu jika ternyata besok dirinya dan Alex akan bertemu dengan Bryan. "Baiklah, nanti saya akan sampaikan pada Pak Alex dan Bu Helena."
"Baiklah, terima kasih."
Helena menutup teleponnya. Dia begitu senang membayangkan jika besok dirinya kan bertemu dengan Bryan. Namun, senyumnya langsung surut saat mengingat jika dia akan pergi dengan Alex.
__ADS_1
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Alex pada Helena.
Helena yang sedang sibuk dengan pikirannya mendengar suara asistennya yang begitu sangat menjengkelkan itu. "Aku tadi lewat dan mendengar telepon berbunyi, jadi aku kemari untuk mengangkatnya." Helena menjelaskan dengan Alex.
"Lalu siapa yang menghubungi?" tanya Alex.
"Pihak Adion, mereka bilang kalau kunjungan proyek di tunda Minggu depan." Dengan sinis Helena menjelaskan pada Alex.
"Baiklah, aku akan catat, dan siapkan jadwalmu minggu depan."
Helena berlalu dan meninggalkan Alex. Dia malas menjawab ucapan Alex, yang terus mengaturnya. Sejak papanya menyuruhnya menjadi CEO, dia harus berhadapan dengan Alex yang begitu menyebalkan.
"Apa kamu akan diam saja di situ dan tidak masuk!"
Suara Bryan seketika menyadarkan Helena yang sedang memikirkan apa yang membuat Alex tidak akan datang ke proyek pembangunan hotel. "Iya." Helena pun langsung masuk ke dalam mobil Bryan, dan Bryan melajukan mobilnya menuju ke restoran di dekat proyek pembangunan hotel.
Di dalam mobil Bryan memilih diam. Dia malas sekali membuka mulutnya. Lagipula masalah proyek sudah dia jelaskan pada Helena, jadi tidak ada hal penting lagi yang membuat mulutnya harus terbuka.
"Bry, aku tahu kamu sudah tidak mau membahas masalah dulu lagi, tapi aku mohon jangan membenciku karena aku dulu menolakmu." Suara Helena akhirnya memecah keheningan di dalam mobil.
Bryan tetap fokus pada jalanan, dan mengabaikan Helena yang berbicara.
"Dulu aku lebih suka dengan pria matang seperti-"
"Seperti Farhan," potong Bryan. Awalnya dia tidak mau menjawab ucapan Helena tapi ternyata dirinya terpancing juga. "Berhentilah menilai seseorang dari luar, karena terkadang cover tidak sesuai dengan isinya. Kamu menilai Farhan lebih hebat di ranjang, tapi siap yang tahu jika ternyata dia hanya bertahan beberapa menit saja."
Helena begitu malu, saat Bryan tau jika dirinya menyukai Farhan dan menganggap Farhan akan lebih hebat di ranjang. Namun, sayangnya setelah dia mendengar gosip jika Farhan memiliki kelamin ganda, Helena mundur dan mengurungkan niatnya mendekati Farhan.
"Aku sudah menikah, jadi berhentilah mencoba mendekati aku." Suara Bryan terdengar tegas saat mengatakan pada Helena.
Helena hanya diam saja, dan tidak menjawab.
"Sekali pun kamu berusaha, aku tidak akan berpaling dari istriku, karena aku begitu mencintainya."
Rasanya dada Helena terasa sesak. Andai aku dulu tidak menolakmu, mungkin sekarang cinta yang begitu besar itu adalah milikku. Tidak ada salahnya bukan, jika aku berusaha mendapatkannya dulu. Helena masih dengan pendiriannya jika dia akan berusaha mendapatkan Bryan.
Tidak terasa mereka sampai di restoran. Bryan dan Helena keluar dari mobil dan menuju ke restoran untuk menunggu Alex, yang sebenarnya tidak akan pernah datang.
.
.
.
.
.
...Jangan lupa Like, koment dan Vote....
...Tunggu kejutannya ya...
__ADS_1