My Baby CEO

My Baby CEO
CCTV


__ADS_3

Setelah tiga minggu Shea mual dan muntah, pagi ini dia tidak mual dan muntah lagi. Perutnya serasa tahu jika obat penawarnya ada disebelahnya. Semua itu berkat adanya Bryan yang berada disampingnya. Tidur Shea yang sudah beberapa minggu tidak nyenyak pun kali ini lebih terasa nyenyak bahkan sangat nyenyak.


Ingin rasanya Shea menikmati pagi ini dalam pelukan Bryan, tapi rasanya tidak mungkin, dia harus berkerja pagi ini, karena kemarin dia sudah izin. Memindahkan perlahan tangan Bryan, dia bangun dari tidurnya.


Lepas dari pelukan Bryan, Shea menuju ke kamar mandi. Dirinya bersiap untuk ke kantor pagi ini.


"Apa kamu masih akan berkerja?" Pertanyaan Bryan terdengar saat Shea keluar dari kamar.


"Iya." Shea melangkah ke meja rias, dan mendudukkan tubuhnya di atas kursi. Menatap wajahnya di depan cermin, dia mulai memoles wajahnya.


"Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Kak Regan." Bryan sadar walaupun hanya sebuah salah paham, tapi ada ketakutan sendiri saat istrinya itu bertemu dengan kakak iparnya.


Shea yang sedang memoles wajahnya, menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada Bryan. "Aku akan berhenti berkerja setelah semua perkerjaan aku berikan pada Jessie." Shea sudah memutuskan untuk berhenti berkerja. Dia sadar kedekatannya dengan Regan akan menimbulkan masalah suatu hari nanti, dan Shea tidak menginginkan itu terjadi.


"Benarkah?" Wajah Bryan berbinar saat mendengar ucapan Shea. Dia tidak menyangka jika istrinya akan memutuskan hal itu.


"Juga setelah kamu bisa membuktikan, jika kamu tidak melakukan apa-apa di apartemen."


Bryan langsung meloncat dari tempat tidur dan memeluk Shea. Mendaratkam kecupan bertubi-tubi di wajah Shea, dia berjanji. "Aku akan buktikan padamu, kalau aku tidak melakukan apa-apa."


Mendapati ciuman bertubi-tubi, Shea tidak bisa mengelak sama sekali. Dia tahu Bryan teramat senang dengan keputusannya.


"Aku akan mandi, dan kita akan berangkat ke kantor." Dengan semangat Bryan menuju ke kamar mandi. Dia benar-benar senang saat Shea memutuskan untuk berhenti berkerja.


Shea hanya mengeleng melihat seberapa senangnya Bryan. Semoga keputusanku tidak salah. Dalam hati kecilnya ada ketakutan dengan nasibnya kelak jika Bryan melukainya. Akan tetapi, Shea berusaha untuk tetap berbaik sangka. Apapun yang akan terjadi nanti, semua akan baik pada akhirnya.


***


Setelah tadi menyempatkan sarapan dahulu, Bryan dan Shea berangkat ke kantor.


"Yang pintar ya, Sayang," ucap Bryan seraya mendaratkan kecupan di perut Shea, saat sudah sampai di depan kantor Shea.


"Sudah! Aku sudah terlambat." Tangan Shea membelai rambut Bryan yang masih sibuk di depan perutnya.


"Iya." Bryan menegakkan tubuhnya dan mendaratkan kecupan di pipi Shea. "Jangan terlalu dekat dengan Kak Regan! Selesaikan cepat semuanya agar kamu bisa cepat mengundurkan diri."


"Kamu cerewet sekali," ucap Shea malas.


Bryan hanya tersenyum saat istrinya itu protes. "Pergilah, aku akan menjemputmu untuk makan siang nanti."


Shea mengangguk dan keluar dari mobil. Setelah Shea keluar, dan memastikan dia sudah masuk, Bryan melajukan kembali mobilnya ke kantornya.


Sesampainya di kantor, Bryan langsung memanggil Felix untuk ke ruangnya. Dia ingin meminta tolong Felix menyelidiki siapa yang membawanya pulang sewaktu di club.


"Ada apa? Apa Shea belum ditemukan?" Felix yang baru saja masuk langsung mececar Bryan dengan pertanyaan.


"Shea sudah pulang. Aku hanya ingin kamu mencari tahu siapa yang mengantarku pulang sewaktu aku di club?"


Mata Felix langsung mendelik, saat mendengar ucapan Bryan. "Untuk apa?"


"Untuk membuktikan jika aku tidak melakukan apa-apa?"


"Memang apa yang kamu lakukan?" Rasanya Felix ingin tahu apa yang terjadi lagi pada temannya itu.


"Ternyata Shea sempat ke apartemen, dan dia menemukan diriku tanpa baju, tapi bukan itu saja, dia juga melihat kamar mandi di kamar sebelah basah dan aroma parfum wanita tercium."


"Dia marah?" tanya Felix memastikan pada Bryan.


"Bukan hanya marah, tapi dia tidak mengizinkan aku menyentuhnya." Bryan yang mengingat penolakan Shea begitu amat tersiksa.


Tawa Felix seketika membalas ucapan Bryan. "Jadi kamu gagal lagi untuk melakukannya?" ledek Felix. Dia tahu benar, jika Bryan mendambakan tubuh Shea.


"Bisakah kamu tidak meledekku? Bryan malas sekali saat Felix hanya meledeknya.


"Aku hanya tidak bisa bayangkan seperti apa rasanya selalu tertunda."


Bryan malas sekali menanggapi ledekan Felix. "Aku harus membuktikan jika aku tidak melakukan apa-apa, karena pelayan club mengatakan aku di jemput seorang pria dan wanita."


"Apa kamu ke club untuk bertanya siapa yang mengantarkanmu?"


"Iya, dan aku kesana bersama dengan Shea, karena Shea tidak mau sampai aku berbohong dengan apa yang di katakan pelayan club."


Felix kembali tergelak, dia tidak tahu harus mengungkapkan apa lagi, untuk perasaan tidak percayanya terhadap apa yang dilakukan Bryan hanya untuk menghabiskan malam dengan istrinya sendiri.


"Berhentilah tertawa dan bantu aku mencari siapa orangnya!"


"Hai, Bryan Adion, CEO yang bodoh saat dihadapkan dengan cinta, apa dirimu di apartemen tidak punya CCTV? Kenapa dirimu harus susah-susah datang ke club hanya untuk menanyakan hal itu?" Felix masih berucap dengan masih tertawa.


Bryan terkesiap, dia menyadari jika terkadang di tidak berpikir jerni saat bersama Shea. "Iya, aku lupa." Bryan langsung mengambil ponselnya dan melihat CCTV dari ponselnya.


Dengan seksama Bryan melihat CCTV. Sampai akhirnya dia menemukan siapa oranganya. "Sial! umpat Bryan seraya melempar kertas yang diremasnya.


Suara tawa Felix semakin kencang, saat melihat Bryan tahu siapa yang membawanya.


"Kenapa kamu kemarin tidak bilang, jika kamu dan Angel yang mengantar?"

__ADS_1


"Kemarin bukannya kamu sibuk mencari Shea dan memintaku menghubungi Chika, jadi mana sempat aku membahas." Felix memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.


"Iya, tapi kalau kamu jelaskan kemarin, paling tidak tadi malam aku sudah menikmati malamku bersama Shea." Bryan kesal sekali dengan Felix.


"Ayolah, aku pun tidak tahu jika ternyata Shea mencium aroma parfum Angel."


"Aku tidak mau tahu, hubungi Angel untuk menjelaskan pada Shea siang nanti."


"Tidak mau!"


"Kenapa?"


"Aku mau melihatmu tersiksa lebih lama," ucap Felix tertawa.


"Baiklah, silakan, tapi gaji dan bonus bulan depan aku akan potong!"


Felix membulatkan matanya saat mendengar ancaman Bryan. "Ancamanmu benar-benar mengerikan," jawab Felix malas.


"Terserah." Bryan menghiraukan Felix begitu saja.


"Iya, nanti aku hubungi Angel."


"Bagus." Bryan merasa lega karena bisa membuktikan pada Shea, jika dirinya tidak melakukan apa-apa.


***


"Maaf lama," ucap Shea saat masuk ke dalam mobil. Shea yang harus menyelesaikan perkerjaan pun harus meminta Bryan menunggu sebentar.


"Tidak apa-apa." Bryan melajukan mobilnya menuju ke restauran di dekat kantor Shea.


Sesampainya, di restoran Bryan dan Shea masuk ke dalam. Namun, baru saja Bryan dan Shea datang dari arah belakang seorang wanita memangil Bryan. Bryan pun berhenti dan menoleh untuk tahu siapa wanita yang memanggilnya.


"Hai, Bry," ucap Angel seraya menautkan pipinya pada pipi Bryan.


Mata Shea langsung membulat saat seorang wanita menautkan pipinya pada pipi Bryan. Namun, fokus Shea bukan itu, tapi karena parfum yang dipakai oleh wanita itu. Parfum yang sama dengan yang berada di apartemen.


Angel yang melepas tautan pipinya langsung beralih pada Shea. "Hai, apa ini wanitamu lagi? Wah kali ini aku harus akui wanitamu cantik."


Bryan menelan ludahnya saat Angel tiba-tiba menautkan pipi dan setelah itu mengomentari Shea yang berada di sebelahnya. "Sayang aku bisa jelaskan," ucap Bryan seraya menarik lembut tangan Shea.


"Ayo kembali," ucap Shea. Shea sudah tidak berselera untuk makan lagi, saat melihat wanita dihadaapannya. Walaupun kesal, Shea tidak mau bertengkar dengan Bryan di depan orang-orang.


"Sayang dengar, Angel ini kekasih Felix." Bryan mencoba menjelaskan.


"Sayang, dengarkan aku." Bryan masih menarik lembut tangan Shea.


Shea masih mengabaikan Bryan begitu saja dan terus melangkah. Namun, baru saja Shea keluar, dia bertemu dengan Felix.


Felix yang melihat Shea dan Bryan tarik menarik, tahu apa yang membuat mereka berdua seperti itu.


"Se, tunggu biar aku jelaskan." Felix yang melihat kondisi semakin tidak kondusifpun akhirnya ikut membujuk Shea.


"Felix! Aku akan benar-benar akan memotong gajimu!" Bryan menatap tajam pada Felix. Dia tahu ini adalah ide gila Felix, yang mengizinkan Angel untuk menautkan pipi padanya.


Felix terkesiap saat mendengar ancaman Bryan yang menakutkan. "Se, dengarkan! Angel adalah kekasihku, dan tadi aku yang sengaja mengerjai Bryan saja dengan menyuruhnya untuk menautkan pipi pada Bryan." Dia ikut menjelaskan pada Shea agar istri atasannya itu tidak marah.


Shea berhenti tapi matanya masih menatap tajam pada Felix, dan menelisik dalam bola mata Felix, mencari kebohongan apa yang diucapkan Felix.


"Aku tidak berbohong, Se, ini memang ideku."


"Shea, maafkan aku, aku hanya menuruti ide gilanya saja," timpal Angel seraya mendorong tubuh Felix.


Shea melihat Felix, Angel dan terutama Bryan secara bergantian. Shea paling malas berdebat dengan siapapun di depan umum, karena itu dia memilih pergi. Namun, melihat ketiganya menjelaskan hal yang sama, Shea berpikir untuk mendengarkan.


"Sayang ... kita masuk dulu ya, kita bicara di dalam," ajak Bryan.


Akhirnya Shea menuruti ajakan Bryan. Dia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Melangkah ke dalam restoran Shea, Bryan, Felix, dan Angel berjalan bersama-sama


"Jelaskan padaku?" ucap Shea saat sudah duduk di kursi restoran.


"Felix jelaskan!" Bryan benar-benar kesal dengan Felix.


"Se, tadi aku yang sengaja menyuruh Angel untuk menautkan pipi." Felix mengulang kembali ucapannya. "Aku hanya ingin mengerjai Bryan, jadi aku mohon jangan marah."


"Apa benar Angel kekasihmu?" tanyanya kembali memastikan.


"Iya, dia kekasihku."


"Apa parfum yang aku cium di apartemen milik Angel?"


"Iya, benar itu milik Angel, karena waktu itu aku dan Angel yang menjemput Bryan. Karena itu sudah dini hari, akhirnya kami menginap di apartemen dan pergi saat pagi untuk berkerja."


Shea baru mengerti sekarang bagaimana wangi parfum wanita bisa di kamar apartemen, dan lantai kamar mandi yang basah, pastinya karena Felix dan Angel baru saja memakainya.


"Maafkan aku Shea, sudah membuatmu salah paham." Angel pun ikut berbicara.

__ADS_1


"Iya, maafkan ku juga karena tadi sempat mengira kamu salah satu wanita Bryan," ucap Shea seraya melirik pada Bryan.


Bryan hanya menelan ludahnya saat mendengar ucapan Shea. Dia tidak bisa menyalahkan pikirkan Shea, karena memang dia dulu dikelilingi wanita.


"Sayang, tapi sekarang hanya ada kamu wanita dihidup aku."


Felix dan Angel hanya saling pandang, mereka berdua sudah mengenal Bryan cukup lama, tapi baru kali ini melihat Bryan merayu.


Shea malu saat Bryan mencoba merayu di depan orang lain. "Iya."


"Kamu sudah dengarkan bukan, jika aku pulang bersama mereka berdua."


"Iya aku dengar."


"Jadi nanti malam-"


Belum sempat Bryan melanjutkan ucapannya, Shea sudah mencubit tangan Bryan. "Auch ... kenapa kamu mencubitku?"


Shea merasa malu saat Bryan membahas hal intim di depan Felix dan Angel.


"Tenang, Se, kami paham." Felix tersenyum mendengar perbincangan Shea dan Bryan.


"Sudah ... sudah sebaiknya kita makan dulu." Angel mengalihkan pembicaraan.


Mereka pun melanjutkan makan siang mereka. Diselipi dengan obrolan singkat perkenalan Shea dan Angel.


Dalam obrolan mereka, Shea baru tahu jika Angel dulu teman kuliah Bryan dan Felix. Sesekali mereka menyelipkan cerita tentang bagaimana seorang Bryan yang tidak pernah berpacaran. Shea pun hanya menanggapi dengan senyuman.


Shea sadar, banyak yang Shea belum tahu tentang Bryan, dan saat disekitar temannya, dia tahu sedikit tetang Bryan.


Karena jam istirahat tidak terlalu lama, akhirnya Shea harus izin untuk segera kembali ke kantor. Dia tidak mau sampai melebihi jam istirahat, apa lagi dia beristirahat di luar kantor.


"Sekarang sudah jelas bukan, aku tidak membawa wanita ke apartemen." Suara Bryan memecah keheningan di dalam mobil saat dia mengantarkan Shea ke kantornya.


"Iya, semua sudah jelas."


Jarak kantor yang tidak terlalu jauh membuat perjalanan mereka hanya di tempuh dengan waktu singkat.


"Berarti nanti malam kita bisa?" tanya Bryan saat memberhentikan mobilnya di depan lobby kantor.


Wajah Shea merona saat mendengar ucapan Bryan. "Bisakah kita bahas di rumah," ucap Shea.


"Di rumah bukan dibahas lagi, Sayang, tapi dikerjakan."


"Ketemu nanti pulang kerja," ucap Shea seraya mengecup pipi Bryan.


"Kamu mau menghindar?" Tangan Bryan langsung menarik lembut tangan Shea. Dia tahu istrinya sedang menghindarinya.


"Iya," jawab Shea.


"Iya apa? Iya menghindar atau iya untuk nanti malam?" goda Bryan.


Shea menarik senyum diujung bibirnya saat Bryan mengodanya. "Aku sudah terlambat untuk masuk." Shea masih berusaha menolak dan melepas genggaman Bryan.


Bryan langsung melepas tangan Shea yang di pegangnya. "Baiklah, kali ini aku akan melepaskanmu."


"Iya, aku mau," ucap Shea seraya keluar dari mobil dan menutup mobil Bryan cepat-cepat.


Mendengar jawaban Shea seraya pergi pun Bryan hanya mengeleng. Dia tahu istrinya itu sangat malu, saat membahas hal-hal intim dengannya.


Aku akan menunggumu malam ini.


Senyum mengembang di wajah Bryan saat membayangkan malam ini dirinya akan merasakan kenikmatan yang sudah lama dia sudah tunggu. Terakhir kali dirinya melakukan hal itu di malam pertamanya, tapi baru saja dirinya memulai, tidak ada kenikmatan di sana. Sejak saat itu dia tidak pernah lagi melakukannya dengan wanita mana pun.


Kini dia akan menunggu kenikmatan yang sesungguhnya, karena kali ini semua di lakukan dengan cinta.


.


.


.


.


.


Up jam 12 WIB.


Sekali lagi ya kalau mau masuk GC (grup chat) pastikan kalian meninggalkan jejak koment juga di novel Myafa, tapi jejak komentnya jangan promo aja ya. Di minta ninggalin jejak, tapi promo novel yang ditinggalin. Koment juga jalan ceritanya, jadi aku tahu kalau kalian benar-benar baca cerita aku ga numpang promo aja.


Jangan lupa like dan vote


Mampir ke IG Myafa16


Karena aku lebih aktif disana.

__ADS_1


__ADS_2