My Baby CEO

My Baby CEO
Jangan percaya!


__ADS_3

Sampai di rumah Selly, Shea langsung membantu Selly untuk membuat salad.


"Bagaimana keadaan Bryan setelah makan malam waktu itu?" Selly yang sedang memotong buah pun bertanya pada Shea.


Tangan Shea yang sedang sibuk mengupas buah langsung berhenti saat Selly bertanya. Shea mengerti maksud dari pertanyaan Selly, yaitu makan malam dengan mertunya. "Bryan baik-baik saja?"


"Apa dia keluar malam itu?"


"Keluar? Maksudnya?" Shea sedikit bingung dengan pertanyaan Selly.


"Biasanya setelah bertengkar dengan papa, Bryan akan pergi ke club dan .... " Selly tidak melanjutkan ucapannya.


Tanpa Selly melanjutkan ucapannya, Shea tau apa yang dimaksud Selly. Bryan akan mencari wanita dan menghabiskan malam bersama mereka.


"Tidak, dia tidak pergi kemanapun." Shea menjelaskan pada Selly. Dia tahu, sebagai kakak, pasti ada rasa khwatir di hati Selly memikirkan tentang adiknya.


Perasaan lega langsung menyelimuti Selly saat tahu, jika Bryan tidak kemana pun pasca kejadian itu. "Terimakasih kamu membuat Bryan tetap ada di rumah saat seperti itu."


"Jangan berterimakasih, aku tidak melakukan apa pun."


Selly sadar, adanya Shea dalam hidup Bryan, memang memberi dampak baik untuk Bryan. "Sepertinya Bryan sudah banyak berubah saat bersamamu."


Sebenarnya Shea merasakan hal itu. Bryan memang sudah sangat berubah dengan yang dulu pertama kali dia mengenalnya.


"Aku selalu merasa bersalah, karena membuat Bryan seperti dulu." Ada penyesalan di hati Selly saat mengingat seburuk apa adiknya.


"Jangan menyalahkan diri, Kak."


"Adion adalah perusahaan cukup besar, dan tangung jawab memang dipikul Bryan sendiri, karena dia anak laki-laki satu-satunya."


Selly menceritakan keadaan Bryan pada Shea, dan Shea mendengarkan dengan seksama cerita Selly.


"Beda dengan Regan, dari kecil dia memang bercita-cita mengurusi perusahaan, jadi dia tidak merasa terbebani. Sedangkan Bryan dari kecil memang dipaksa oleh papa. Jadi akhirnya, dia melampiaskan semua itu pada hal-hal buruk."


Shea menyadari jika setiap anak-anak berbeda. Mereka tidak bisa dipaksa menjadi seperti apa yang kita minta. Walapun terkadang sebagai orang tua, berharap anaknya bisa meneruskan usaha mereka.


"Apa kita juga akan melakukan hal-hal itu pada anak-anak kita?" Shea menatap Selly dengan senyum tipis.


"Aku rasa kita tidak akan melakukannya." Selly pun tertawa dan berbalas tawa dari Shea.


Belajar dari apa yang terjadi pada Bryan, Selly dan Shea tidak mau itu terjadi pada anak mereka. Mereka berharap bisa memberikan kebebasan pada anak-anak mereka.


Saat tawa terdengar di dapur, di ruang keluarga hanya ada keheningan. Bryan dari tadi sibuk memainkan ponselnya sedangkan Regan sibuk dengan laptopnya.


"Bagaimana proyek kita di luar negeri?" Suara Regan memecah keheningan antara dirinya dan Bryan.


"Aku dengar pembangunannya kurang berjalan," jelas Bryan.


Regan menghela napasnya, saat mengingat proyek besar yang sedang perusahaannya dan perusahaan Bryan tangani tidak berjalan dengan mulus.


"Bisakah kamu mengurusnya? Pembangunan tidak akan berjalan jika kamu tidak mengawasinya."


Sebagai perusahaan kontraktor, Bryan memang harus lebih ekstra saat pembangunan berjalan tidak mulus. "Aku akan pertimbangkan."


Regan pun mengangguk. Dia berharap Bryan bisa mengurusnya.


"Tara ... salad sudah siap," ucap Selly yang tiba-tiba datang.


Regan hanya menggeleng, dia sudah sangat biasa mendengarkan Selly yang begitu heboh.


Bryan pun juga sudah biasa melihat kehebohan yang diciptakan Selly. Dia pun hanya melihat dengan tatapan malas apa yang dilakukan Selly.


Selly pun duduk di samping Regan. "Kamu coba," ucap Selly menyodorkan satu sendok salad yang dia buat ke mulut Regan. "Aaa...." Selly meminta Regan untuk membuka mulutnya.


Tidak punya pilihan, Regan pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Selly.


"Enak?" tanya Selly. Matanya menunggu jawaban Regan. Berharap salad buatannya tidak mengecewakan.


Dengan mulut penuh, Regan memberikan jawaban dengan anggukan.


Selly begitu senang saat mendapati jawaban, jika salad buatanya enak.


Bryan hanya melihat Selly hanya menggeleng. Melihat keromantisan mereka sudah jadi hal biasa untuk Bryan.


Mata Bryan beralih pada Shea yang sedang berdiri diam saja, menyaksikan adegan keromantisan dari Regan dan Selly.


"Apa kamu tidak mau menyuapi ku juga?" tanya Bryan lirih.


"Hah ...." Shea sedikit terperangah saat Bryan bertanya padanya.


Shea langsung duduk di samping Bryan. Melihat Shea duduk, Bryan begitu atusias menanti Shea menyuapinya.


"Ini, makan sendiri!" Shea menyerahkan mangkuk berisi salad pada Bryan.


Perasaan senang Bryan yang sudah melayang tinggi membayangkan akan makan dari suapan Shea, langsung terhemas begitu saja saat Shea memberikan mangkuk berisi salad, dan memintanya untuk makan sendiri.

__ADS_1


Bryan tahu jika istrinya tidak akan romantis sama sekali. Dengan kesal, Bryan menerima mangkuk yang diberikan oleh Shea. Meraih sendok, Bryan memasukan salad ke dalam mulutnya.


Tapi belum sempat salad masuk ke dalam mulutnya, Bryan melihat Shea yang melihat dirinya sedang makan.


Dengan cepat Bryan mengalihkan sendok berisi salad ke dalam mulut Shea. "Aa ...." Bruan meminta Shea untuk membuka mulutnya.


Mata Shea langsung berbinar, saat melihat Bryan menyuapinya salad. Dari tadi sebenarnya Shea sudah tidak sabar untuk memakan salad buatanya, tapi dia merasa tidak dengan Selly kalau makan lebih dulu.


Menerima suapan dari Bryan, Shea mengunyah salad buatannya. Rasa manis asam yang diciptakan mayones bercampur dengan rasa buah segar, begitu memberikan kenikmatan tersendiri di lidah Shea.


Bryan pun tersenyum tipis melihat istrinya begitu senang saat makan salad. Satu hal yang Bryan sadari, jika Shea bertolak belakang dengan kakaknya. Jika kakaknya akan dengan asgresif pada Regan, Shea lebih malu dan pasif saat bersamanya.


Regan dan Selly saling pandang saat melihat aksi Bryan menyuapi Shea. Serasa melihat orang asing saat melihat Bryan, karena tidak pernah mereka berdua bayangkan, Bryan akan menjadi romantis.


Mereka berempat pun menghabiskan salad mereka, sambil saling bercerita.


"Kalian tadi membicarakan apa?" tanya Selly pada Regan.


"Membicarakan pembangunan properti di luar negeri."


"Memangnya kenapa pembangunan properti disana?"


"Ada sedikit masalah."


Selly yang mendengar penjelasan Regan, beralih pada Bryan. "Apa kamu akan ke luar negeri lagi, Bry?"


Bryan menoleh pada Shea. Rasanya Bryan berat kalau dirinya harus meninggalkan Shea. "Aku belum tahu."


"Bry, sebaiknya kamu selesaikan semua sebelum papa mendengar masalah ini." Selly tidak bisa bayangkan akan semarah apa jika papanya tahu jika ada masalah pembangunan properti di luar negeri.


Bryan benar-benar malas saat mendengar papanya disebut dalam pembicaraan. "Iya," jawab Bryan malas.


Selly merasa raut wajah Bryan berubah saat membahas tentang papanya dan perkerjaan. "Sudah, lupakan perkerjaan, sekarang kita lanjutkan liburan kita."


Liburan kita? Bryan hanya bisa bertanya dalam hatinya. Harusnya ini jadi liburanku dan Shea, batin Bryan meronta-ronta saat liburan yang harusnya di isi dengan bermesraan dengan Shea, harus terganggu.


"Bagaimana kalau hari ini kita berbelanja?"


"Tidak," jawab Bryan dan Regan bersama-sama.


Bryan dan Regan saling pandang. Mereka berdua sudah hapal betul bagaimana jika Selly berbelanja. Dia akan membeli banyak barang, dan akan menghabiskan waktu berjam-jam. Belum lagi, mereka harus mengikuti Selly kemanapun Selly melangkah, dan itu sangat melelahkan


"Kalian kenapa tidak mau?" tanya Selly heran.


"Sayang, kita baru kemarin pergi berbelanja, itu pun belum semua kamu buka, lalu untuk apa pergi berbelanja lagi?" Regan memikirkan cara halus untuk membujuk Selly.


"Shea semalam lelah sekali, jadi dia tidak bisa ikut jalan-jalan." Bryan pun tidak kalah memutar otaknya untuk membuat alasan pada Selly.


"Memangnya apa yang kalian lakukan semalam?" Sebenarnya Selly mengerti arah pembicaraan Bryan. Tapi Selly masih belum percaya. Mata Selly menelisik kedua bola Bryan mencari kebohongan yang sedang Bryan lakukan.


"Apa kakak tidak lihat, kenapa Shea memakai turtleneck." Bryan memberikan kode, jika semalam mereka menghabiskan malam bersama.


Shea yang mendengarkan ucapan Bryan langsung membulatkan matanya. Dia tidak menyangka, Bryan membahas hal vulgar dengan kakaknya.


Tapi bukan itu saja yang membuat Shea kaget. Tapi lebih kepada apa yang semalam di lalukan oleh dirinta dan Bryan.


"Jangan percaya, Kak! Kami tidak melakukan apa-apa." Shea yang tidak terima pun mengelak ucapan Bryan.


Tangan Bryan langsung memijat keningnya saat Shea dengan polosnya menyanggah ucapannya.


Selly langsung menatap tajam pada Bryan. "Kamu mencoba membohongiku?"


"Aku malas, ikut dengan kakak berbelanja." Akhirnya Bryan mengungkapkan alasannya.


Dengusan kasar terdengar saat Selly mendengar ucapan Bryan.


"Sayang, lebih baik kamu dan Shea cari kegiatan lagi saja." Regan yang melihat kondisi istrinya kesal mencoba menenangkan.


"Kegiatan lain apa?" tanya Selly kesal.


Regan memutar otaknya untuk mencari kegiatan apa yang bisa dilakukan oleh Selly dan Shea. "Bagaimana kalau kalian pergi ke spa khusus ibu hamil." Akhirnya Regan menemukan ide yang tepat.


"Nah ... itu ide bagus. Agar tubuh kalian lebih relax." Bryan pun menimpali ucapan Regan.


Selly memikirkan apa ucapan Regan dan Bryan. "Oke, sepertinya itu ide yang bagus."


Bryan dan Regan merasa lega, saat ternyata Selly menerima ide untuk ke spa.


"Tapi kalian tetap antar ya, kalian bisa menunggu kami nanti."


Bryan dan Regan hanya menelan salivanya saat ternyata mereka tetap harus ikut.


"Kak, bukannya ke spa, pria tidak boleh masuk?" Suara Shea pun terdengar menjawab ajakan Selly pada Bryan dan Regan.


"Iya juga ya." Selly menimbang ucapan Shea. "Kalau begitu kalian antar saja." Selly menatap Regan dan beralih menatap Bryan.

__ADS_1


"Iya," jawab Regan dan Bryan semangat. Mereka bersyukur karena diminta untuk mengantar saja.


Akhirnya Bryan dan Regan pun mengantar Shea dan Selly untuk ke spa dengan mobil masing-masing.


"Kabari, jika kalian sudah selesai," ucap Bryan setelah menghentikan mobil di depan tempat spa.


"Iya," jawab Shea seraya keluar dari mobil.


Selly pun yang berada di belakang, juga turun dari mobil.


Mereka berdua pun langsung menuju ke dalam tempat spa, sedangkan Regan dan Bryan kembali ke rumah, dan akan kembali setelah menjemput jika Selly dan Shea sudah selesai.


Selly dan Shea masuk ke dalam tempat spa dan langsung mendaftarkan diri. Spa khusus ibu hamil, memang di peruntukam untuk para ibu hamil.


"Kami ingin spa untuk ibu hamil." Selly memberitahu petugas spa.


"Boleh tahu berapa bulan kehamilan, Ibu?"


"Sekitar sembilan minggu."


Petugas pun mencatat usia kandungan Selly dan Shea. "Silakan ini ada beberapa paket spa." Petugas spa memberikan buku berisikan daftar spa.


"Se, kamu mau spa apa?" tanya Selly pada Shea seraya memperlihatkan daftar paket spa ada Shea.


Melihat daftar spa, Shea melihat ada tertulis 'spa coklat'. "Sepertinya spa coklat enak, Kak."


"Iya, sepertinya begitu, aku belum pernah coba spa coklat," jawab Selly, "kita pilih spa coklat aja ya," tanya Selly.


Shea mengangguk mengiyakan pilihan mereka berdua.


"Kami pilih spa coklat ya," ucap Selly pada petugas spa.


"Baik." Petugas pun mencatat di dalam komputer pesanan Selly.


"Mari, Bu," ucap petugas spa lain menghampiri Selly dan Shea.


Selly dan Shea pun mengikuti petugas spa ke sebuah ruangan.


"Silakan ganti pakaian Ibu dengan pakaian yang kami sediakan." Petugas mempersilakan Selly dan Shea untuk berganti.


Selly dan Shea mengangguk dan masuk ke dalam ruangan untuk menganti pakaian. Mereka berdua menganti pakaiannya dengan pakaian spa yang hanya melilit sampai dada mereka saja. Menutupi pakaian minim dengan kimono, Selly dan Shea keluar menuju ruangan spa.


Saat sampai di ruang spa Selly dan Shea sudah disambut dan di persilakan berbaring di ranjang spa.


Selly dan Shea yang siap untuk melakukan spa membuka kimononya.


Saat membuka kimono, Selly melihat tanda merah di leher Shea.


Wah ternyata mereka sudah sejauh itu.


Selly tersenyum, dan berkata dalam hatinya. Selly merasa bersyukur saat melihat hubungan Bryan dan Shea cukup baik.


Karena ini adalah spa ibu hamil, pemijatan pun dilakukan oleh trapis profesional, dan pemijatan hanya di tangan, kaki, dan pundak. Trapis menghindari pungung, dada dan perut saat spa dikhususkan untuk ibu hamil.


Selly dan Shea pun tidak melakukan sauna karena ibu hamil tidak di sarankan untuk ibu hamil.


Saat petugas memulai pijatan, aroma coklat alami, langsung menyeruak. Rasa manis begitu tercium di indra penciuman Shea dan Selly. Rasanya sangat menenangkan saat menikmati aroma coklat, dan pijatan lembut.


Selly dan Shea sangat menikmati spa hingga tidak terasa jika satu jam mereka sudah dipijit. Pijatan dari trapis profesional, membuat Selly dan Shea lebih tenang, apa lagi kondisi hamil muda memang sedikit lebih harus berhati-hati saat melakukan pemijatan.


Setelah menyelesaikan kegiatan spa pun, akhirnya Selly dan Shea menunggu Regan dan Bryan untuk menjemput.


"Sejauh apa kejadian semalam?" tanya Selly pada Shea.


"Malam?" Shea merasa bingung dengan pertanyaan Selly.


"Kissmark." Selly memberik kode pada Shea.


Shea baru mengerti apa yang dimaksud oleh Selly. "Itu tidak seperti yang kakak pikirkan."


Melihat Shea yang salah tingkah, Selly pun tersenyum. Walaupun sebenarnya Selly tahu, jika Shea tidak melakukan hubungan suami istri dengan Bryan. Tapi melihat kissmark di leher Shea, Selly melihat kemajuan yang begitu pesat.


Saat Bryan dan Regan datang, Selly dan Shea berpisah dan masuk ke dalam mobil masing-masing untuk pulang ke rumah masing-masing.


.


.


.


.


Up jam 12 WIB


jika kalian menemukan up ini sebelum jam 12, berarti review cepat.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote


__ADS_2