
Bryan merebahkan tubuhnya tepat di samping Shea, dan mengatur deru napasnya yang masih tidak beraturan. Dia mengingat jika dulu dia berada di atas Shea saat selesai melalukannya penyatuan dengan Shea, tapi kali ini dia harus segera menyingkirkan tubuhnya agar tidak menekan anaknya dalam kandungan istrinya.
"Mau aku bantu ke kamar mandi untuk membersihkan diri?" tanya Bryan.
Shea hanya mengangguk dan mengiringi dengan senyuman, saat mendapat tawaran Bryan. Mendapati jika Shea menerima tawarannya, Bryan langsung bangkit dari tempat tidur. Tangannya menangkup tubuh Shea, dan membawanya ke kamar mandi.
"Turunkan aku dan kamu bisa keluar, aku akan membersihkan diriku sendiri," ucap Shea.
"Kenapa aku harus keluar?"
Rona merah di pipi Shea menjawab jika dia teramat malu harus berbagi kamar mandi dengan Bryan.
"Aku akan membersihkan tubuhmu." Tangan Bryan menarik lembut tubuh Shea.
Shea seolah tak mampu menolak permintaan Bryan. Dia hanya pasrah dan membiarkan Bryan melakukan yang dia inginkan.
Setelah selesai, Bryan membawa Shea kembali ke kamar, dan menurunkan Shea di tepi tempat tidur. "Apa kamu akan memakai gaunmu lagi?"
Shea melihat gaun yang tergeletak di lantai. Dia berpikir, jika dirinya tidak mungkin memakai gaun saat tidur. Pastinya akan sangat tidak leluasa saat tidur memakai gaun.
"Atau tak perlu pakai baju?" Senyum tipis terlihat di wajah Bryan. Dia akan lebih senang saat Shea memilih tidak memakai baju.
"Tidak perlu, aku akan memakai kemejamu saja." Tangan Shea pun meraih kemeja putih milik Bryan. Dia berpikir, lebih baik dirinya memakai kemeja Bryan dari pada harus tidur tanpa baju.
Bryan mengangguk dan membiarkan istrinya untuk memakai kemejanya. Dia pun memilih memakai celana boxer dan membiarkan dadanya terekspos.
Tubuh kecil Shea membuat kemeja miliknya seperti gaun pendek, dan itu tampak sexi di mata Bryan. Namun, dia sadar jika dirinya tidak bisa melakukan lagi pada Shea. Dalam kondisi hamil, bisa saja Shea kelelahan jika dia mengajaknya mengulang penyatuan mereka.
"Tidurlah!" Melihat Shea yang sudah mengancingkan kemejanya, Bryan pun memintanya istirahat.
Tubuh Shea yang lemas, memang membuatnya ingin segera beristirahat. Merebahkan tubunya dia memejamkan matanya sesaat kemudian.
Bryan hanya tersenyum saat melihat istrinya yang cepat sekali tidur. Meraih ponselnya dia mengirim pesan pada beberapa orang. Setelah mendapatkan balasan pesan, Bryan menyusul Shea yang sudah terlelap tidur. Mendekap erat Shea, Bryan memberikan kehangatan malam ini pada Shea.
***
Pelukan yang terasa begitu menghangatkan membuat sepasang suami istri yang baru saja melakukan ritualnya tadi malam, masih menikmati tidur indahnya.
Suara alarm yang rutin berbunyi setiap pagi pun mengusik mimpi indah mereka. "Berisik sekali," gumam Shea saat mendengar suara bising. Tangannya meraih ponsel yang berada di atas nakas.
Berniat untuk mematikan alarm, dia mengingat jika itu adalah bunyi alarm yang membangunkannya untuk berangkat berkerja. Membuka matanya, dia melihat ke arah ponsel yang berada di tangannya. Matanya membulat sempurna saat melihat jam menunjukan pukul tujuh, dan ternyata dia sudah membiarkan alarm berbunyi dari satu yang lalu. "Ach ... " teriak Shea. Dia langsung bangun dari tidurnya.
Suara Shea yang berteriak, membuat Bryan terperanjat dan terbangun dari tidurnya. "Kenapa sayang?" tanya Bryan yang mendengar teriakan Shea. Dia benar-benar panik saat mendengar istrinya itu berteriak.
"Aku terlambat ke kantor," ucapnya panik, "kita harus cepat pulang, karena aku harus segera berangkat ke kantor?" Shea mengoyang-goyangkan tubuh Bryan dan berusaha mengajak suaminya itu pulang. Dia begitu panik saat menyadari jika dirinya terlambat bangun, dan akan membuatnya terlambat untuk ke kantor.
Bryan mendengus kesal saat tahu alasan Shea berteriak. Dia pun kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Sayang, ayo pulang, aku bisa terlambat." Tangan Shea terus mengoyang-goyangkan tubuh Bryan. Dia tidak habis pikir kenapa Bryan justru kembali tidur.
"Aku sudah mengirim pesan jika kamu tidak masuk hari ini, jadi ayo kita lanjutkan tidur." Bryan menarik tubuh Shea untuk masuk ke dalam pelukannya lagi.
"Kapan kamu mengirim pesan?" Tubuh Shea yang berada di dekapan membuatnya sulit melihat wajah Bryan.
"Semalam setelah kita membersihkan diri," ucap Bryan seraya mengeratkan pelukannya.
Shea mengingat semalam setelah pergulatan malamnya dengan Bryan dan berlanjut membersihkan diri sebelum tidur, dia memang melihat Bryan masih tidur. "Kenapa kamu tidak bertanya dulu padaku?" Shea berusaha untuk melepas pelukannya dari Bryan.
"Untuk apa bertanya, kamu pasti lelah semalam, jadi aku tidak akan membiarkanmu berkerja hari ini?"
__ADS_1
"Kata siapa aku lelah, aku tidak lelah." Shea masih terus berusaha melepaskan diri Bryan.
"Oh ya ... kamu tidak lelah?" Bryan sedikit melonggarkan dekapannya dan melihat ke arah wajah Shea. Senyuman penuh arti, tertarik di ujung bibir Bryan saat bertanya.
Melihat senyum Bryan yang nampak aneh membuat Shea mengerti kemana maksud tujuan Bryan. "Aku tidak lelah jika berkerja," elak Shea.
"Sayangnya, aku sudah izin jika kamu tidak masuk berkerja, jadi dari pada tubuhmu yang tidak lelah dibuang sia-sia, ayo kita ulang lagi seperti tadi malam." Bryan kembali mendekat tubuh Shea, dan tak memberi celah pada Shea untuk lari darinya.
"Sayang." Shea berusaha lepas dari pelukan Bryan. Namun sayangnya, tubuh Bryan terlalu kuat mendekap tubuh Shea.
"Jangan banyak bergerak, lihatlah kamu membangunkannya," ucap Bryan seraya mendekatkan tubuh bagian bawahnya.
Seketika Shea menghentikan aksinya untuk melepaskan diri. Namun, sayangnya dia terlambat, karena ternyata dia telah membangunkan singa yang sedang tertidur.
"Kamu harus tangung jawab," ucap Bryan. Dia membenamkan bibirnya pada bibir Shea. Mencium lembut bibir tipis yang selalu dia damba. Tangannya pun mulai bergrilya, membuka satu persatu kancing kemejanya yang di pakai Shea, dan tanpa penolakan, Shea mengikuti alur yang dibuat oleh Bryan.
Penyatuan mereka pun kembali terulang menyambut pagi yang indah. Menciptakan suara indah dikamar yang hanya akan didengar oleh mereka berdua.
***
Sinar matahari yang sudah terlampau bersinar terang, menembus celah jendela, seolah meminta penghuni kamar untuk segera bangun. Jam yang menunjukan sudah pukul sepuluh pun membuat perut Shea berdendang.
"Sayang," panggil Shea. Namun tampaknya suara Shea tidak bisa menembus indahnya mimpi Bryan. Shea yang berada didekapan Bryan pun tidak bisa melepaskan diri dari dekepan erat suaminya. "Sayang." Shea memanggil kembali.
Karena tidak ada jawaban dari Bryan, akhirnya Shea memilih bermain-main di dada bidang milik suaminya. Mengambar abstrak di dada Bryan, dia menuliskan 'aku lapar'.
"Astaga, maaf sayang," ucap Bryan seraya melepas pelukannya. Sebenarnya dia sudah bangun saat Shea memanggilnya yang kedua kali, tapi dia ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh Shea saat dirinya tidur.
Bryan benar-benar merasa bersalah saat tahu istrinya melewatkan jam sarapan. Melepaskan pelukannya, tangannya langsung meraih telepon di atas nakas. Dia menghubungi pihak hotel untuk memesan makanan untuknya.
Beralih kembali pada Shea, wajah Bryan masih diliputi rasa bersalah. Dia benar-benar merutuki dirinya yang membuat istri dan anaknya kelaparan. "Maafkan aku ya," ucapnya kembali.
Tatapan mata mereka pun saling beradu dan saling mengunci. "Aku merasa bahagia bersama mu," ucap Bryan membelai wajah Shea. Bryan mendekatkan wajahnya pada Shea. Tempat yang dituju adalah bibir indahnya.
Namun, belum sempat bibirnya sampai di bibir Shea, suara ketukan ketukan pintu terdengar dan menghentikan aksinya. "Bukannya aku baru memesan makanan, apa mereka sudah siap secepat itu?"
"Sudah sana buka dulu!"
"Ich ... menganggu saja," grutu Bryan. "Diam disini! Jangan kemana-kemana, aku tadi belum selesai," ucap Bryan memperingatkan Shea.
Shea hanya tersenyum.
Bryan bangkit dari tempat tidurnya, dan melangkah menuju ke pintu, tapi tangannya meraih handuk kimono untuk menutupi tubuh polosnya.
Sebelum membuka pintu, Bryan melihat dari lubang kecil yang terdapat di pintu. Dia ingin melihat, siapa yang datang. "Felix," ucapnya saat melihat temannya di depan pintu. Sebenarnya dia kesal saat temannya itu datang di saat dirinya sedang akan mencium Shea, tapi dia sadar jika kedatangan Felix atas permintaanya.
Tanpa lama lagi, Bryan pun meraih handle pintu dan membukanya. "Hai," sapa Bryan saat membuka pintu.
"Wah, pengantin baru, kenapa wajahmu kusam begitu?" goda Felix. Felix bis menebak pasti ada yang tertunda saat kedatanganya.
"Sudah berikan bajunya dan cepatlah pergi!"
"Berapa kali?" Felix menaikan sedikit dagunya dan menghiasi wajahnya dengan senyum.
"Berisik!"
"Dengar, Shea sedang hamil, jangan terlalu memaksakan."
"Tanpa kamu beritahu, aku sudah tahu," jawab Bryan malas.
__ADS_1
Felix hanya mengangguk-angguk saat mendengar ucapan Bryan. "Ini pesananmu." Dia menyerahkan pesanan Bryan.
Bryan menerima pesanan baju yang di minta pada Felix. Semalam, selain mengirim pesan pada Regan untuk memberitahu jika Shea hari ini tidak masuk, dia juga mengirim pesan pada Felix untuk membelikannya baju. "Terimakasih."
"Sama-sama."
"Bukankah kamu ada pertemuan dengan klien kita?" Bryan yang ingat jadwal hari ini pun bertanya.
"Iya, setelah ini aku akan bertemu dengan klien kita."
"Baik, sampaikan maafku, tidak bisa menemuinya."
"Baiklah, akan aku sampaikan. Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Felix. "Apa kamu ajari Shea membuat kissmark?" tanya Felix tertawa, dan berlalu pergi.
Bryan terkesiap saat mendengar jika Shea membuat kissmark padanya. Menutup pintu, Bryan langsung masuk ke dalam. Satu tempat yang ingin ditujunya adalah cermin. Dia ingin melihat seperti apa Shea membuat kissmark padanya.
Matanya menerawan lehernya saat berada di depan cermin, dan senyum tipis mengembang di wajahnya saat melihat jejak kemerahan yang dibuat oleh Shea. "Dia selalu minta untuk tidak meninggalkan jejak di leher, tapi dia sendiri yang meninggalkan jejak di leher."
"Siapa tadi?" tanya Shea yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Bryan yang melihat Shea dari pantulan cermin, melihat leher Shea dengan tetesan-tetesan air yang begitu tampak sexi.
"Felix, dia mengantarkan baju untuk kita."
"Mana biar aku ganti baju," pinta Shea.
Bryan berbalik dan memberikan paper bag berisi baju pada Shea, tapi dia menyempatkan merengkuh pinggang Shea terlebih dahulu. "Kenapa leher putih ini tidak ada tanda kemerahan," ucapnya seraya menyusuri leher Shea.
"Sayang, jangan macam-macam, aku tidak mau sampai orang melihat warna merah di leherku." Shea berusaha mendorong tubuh Bryan.
"Kamu tidak mau ada tanda merah di lehermu, tapi kamu membuat tanda merah di leherku."
Dahi Shea langsung berkerut saat mendengarkan ucapan Bryan. "Mana?" Shea menyibak handuk kimono yang di pakai oleh Bryan. Melihat warna merah di sekitar leher Bryan, dia menelan salivanya.
"Ternyata kamu ganas juga," bisik Bryan.
Shea benar-benar merasa malu dengan apa yang dilakukannya. Serasa semua berbanding terbalik dengan yang dia ucapkan. "Aku hanya terbawa suasana," ucap lirih.
"Aku suka jika kamu ikut menikmati penyatuan kita, tapi besok buatlah di tempat yang tidak di lihat orang." Bisikian Bryan terdengar lembut di telinga Shea.
Wajah Shea menghangat, dan memunculkan rona pipi alaminya. Rasanya dirinya malu saat ternyata dirinya begitu menikmati pemainan Bryan semalam dan tadi pagi.
Bryan mendaratkan satu kecupan di pipi Shea. "Jika setelah melakukan kamu malu, aku tidak masalah, tapi aku harap saat melakukannya kamu tidak akan malu-malu seperti ini." Bryan mencubit lembut pipi Shea dan mengedipkan matanya. Bryan melangkah meninggalkan Shea yang masih mendinginkan wajahnya.
Melihat Bryan berlalu, Shea menutupi wajahnya. Aku benar-benar sudah gila sampai membuat kissmark begitu banyak. Memutar ingatannya semalam, dia merasa sangat malu, dirinya yang terbawa suasana yang diciptakan Bryan, benar-benar tidak sadar dengan apa yang di perbuat.
.
.
.
.
.
Up jam 12 WIB
Kalau bab keluar sebelum jam 12, jangan di tunggguin ada bab lagi di jam 12.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan rate