My Baby CEO

My Baby CEO
Juga merasakan


__ADS_3

Shea yang sedang mengerjakan tugasnya, mendengar suara telepon di mejanya yang berdering.


"Pagi, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Shea. Shea sudah tahu jika yang menghubungi dirinya adalah Regan.


"Buatkan aku secangkir kopi," ucap Regan dari sambungan telepon.


"Baik, Pak," ucap Shea. Shea langsung menutup telepon.


"Pak Regan?" tanya Jessie pada Shea.


"Iya, Pak Regan minta aku membuatkan kopi." Shea pun menjelaskan pada Jessie. Setelah menjelaskan, Shea berdiri, dan menuju ke pantry untuk membuat kopi pesanan Regan.


Setelah selesai membuat kopi, Shea masuk ke dalam ruangan Regan. Mengetuk pintu ruangan Regan, Shea masuk setelah mendengar seruan Regan untuk masuk ke dalam ruangan Regan.


Melangkah masuk ke dalam ruangan Regan, Shea meletakkan secangkir kopi setelah sampai di depan meja Regan. "Silakan, Pak."


"Terimakasih, Se."


"Sama-sama, Pak, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Shea setelah dirinya menyerahkan kopi pesanan Regan.


Shea pun berbalik dan keluar dari ruangan Regan.


"Se," panggil Regan.


Suara Regan yang memanggil Shea, membuat Shea berhenti dan berbalik.


"Apa Bryan baik-baik saja?" tanya Regan saat Shea berbalik.


Mendengar Regan yang menanyakan Bryan, Shea menarik senyum di wajahnya. "Bryan baik-baik saja." Shea menjelaskan pada Regan.


"Syukurlah." Regan menghela napasnya saat mendengar penjelasan Shea.


Shea mengangguk, dan melanjutkan langkahnya untuk kembali ke meja kerjanya.


***


Saat jam istirahat, Shea bersiap untuk makan siang. Menuju ke lobby, Shea berniat menunggu Bryan. Bryan tadi sudah mengabari Shea, jika akan menjemput untuk makan siang.


Menunggu di depan lobby, Shea menoleh saat seseorang memanggilnya. "Chika," panggil Shea saat tahu siapa yang memanggilnya.


"Mau kemana?"


"Mau makan siang."


"Wah, kebetulan sekali, aku juga mau makan siang," ucap Chika, "ayo, kita makan siang bersama," lanjut Chika.


Shea yang mendapat ajakan Chika merasa bingung harus menolak apa. Tapi sebelum menjawab ajakan Chika, mobil Bryan berhenti di depan Shea dan Chika.


Bryan menurunkan kaca mobilnya, dan menatap ke arah Shea. "Ayo," ajaknya.


Saat Bryan mengajaknya, Shea melihat jika Bryan tidak sendiri, ada Felix yang duduk di kursi kemudi mengemudikan mobil Bryan. Sejenak Shea berpikir, untuk mengajak Chika sekaligus. Jadi dirinya tidak perlu menolak ajakan Chika.


"Chika ayo, ikut denganku dan Bryan makan siang bersama," ajak Shea pada Chika.


Chika yang mendapat ajakan Shea merasa tidak enak.


"Ada Felix juga, jadi tidak hanya aku dan Bryan saja." Shea tahu jika Chika merasa tidak enak dengan dirinya dan Bryan.


"Felix?" Chika bingung siapa Felix yang dimaksud oleh Shea.


Shea baru ingat jika Chika belum berkenalan dengan Felix, karena Felix pergi membawa wanita yang tiba-tiba menautkan pipi pada Bryan. "Dia asisten Bryan."


"Se, ayo," panggil Bryan saat melihat Shea belum masuk ke dalam mobil.


Mendengar panggilan Bryan, akhirnya Shea menarik lembut tangan Chika. Shea merasa, Chika terlalu lama saat memikirkan ajakannya. Masuk ke dalam mobil Shea dan Chika duduk di kursi belakang.


"Hai, Chika," sapa Bryan pada Chika.


"Hai, Bryan," jawab Chika membalas sapaan Bryan, "maaf aku menganggu kalian makan siang," lanjut Chika.


"Tidak, kamu tidak menganggu," jawab Bryan.


Felix yang berada di samping Bryan hanya bisa melirik tajam.


Tadi saat aku mau ikut, dia bilang aku menganggu, sekarang dia bilang pada wanita itu dia tidak menganggu.


Felix hanya merasa ketidakadilan merasa harus ditegakakkan. "Bukan...."


"Sudah ayo cepat jalan!" potong Bryan saat melihat Felix ingin berbicara. Bryan tahu Felix ingin melayangkan protes pada dirinya, yang mengatakan jika Chika tidak menganggu. Bryan ingat betul bagaimana dirinya tadi melarang Felix untuk ikut makan siang dengan dirinya dan Shea.


Felix hanya bisa pasrah, dan melajukan mobilnya menuju restoran terdekat.


***


Jam makan siang membuat restoran cukup penuh. Tapi beruntungnya, Shea sudah memesan meja untuk makan siang.


"Untung kamu sudah pesan," keluh Bryan seraya menarik kursi, dan mendudukkan tubuhnya di atas kursi.


"Aku sudah tahu, di jam istirahat seperti ini akan sangat penuh." Shea yang tadi dikabari oleh Bryan, langsung berinisiatif untuk memesan terlebih dahulu.


Bryan duduk di samping Shea, sedangkan di hadapan mereka ada Felix dan Chika yang saling duduk bersebelahan.


"Chika, Felix, kalian belum berkenalan." Shea baru ingat jika Chika dan Shea belum saling berkenalan.


"Oh iya," jawab Felix, "Felix," lanjut Felix memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya pada Chika.


"Chika." Chika pun menerima uluran tangan Felix, dan menyebutkan namanya.


Saat Felix menerima uluran tangannya, Felix sempat menoleh. Tempat duduknya yang dekat, membuat Felix bisa melihat wajah Chika dari dekat.

__ADS_1


Cantik, batin Felix.


"Oh ya, Chika, waktu selepas pesta, aku mellihat kamu bersama dokter Erik." Shea dan Bryan yang waktu itu melihat Chika dan Erik masuk ke dalam mobil.


"Iya, waktu itu Erik mengantarkan aku pulang," jelas Chika.


"Kamu juga kenal Erix?" tanya Felix ingin tahu.


"Aku berkenalan saat di pesta, Shea yang mengenalkan."


"Iya, aku yang mengenalkan," timpal Shea, "waktu itu kamu sedang pergi dengan wanita...." Shea berhenti saat mengingat wanita yang menautkan pipi pada Bryan.


Bryan tersenyum seraya menopang dagunya di atas meja, dan menatap Shea. Bryan menunggu Shea, akan menyebut wanita yang tiba-tiba menautkan pipi itu, dengan sebutan apa.


"Wanita semut," lanjut Shea.


Bryan yang mendengar sebutan yang disematkan Shea, hanya bisa mengerutkan dahinya. "Apa itu wanita semut?" tanya Bryan ingin tahu.


"Iya, apa pernah lihat semut ketika berpapasan dengan semut lain, mereka akan saling menyapa dan saling mencium. Jadi wanita itu seperti semut. Karena saat dia berpapasan denganmu, dia langsung saja menautkan pipi denganmu."


Bryan hanya mengeleng mendengar penjelasan Shea.


"Teori dari mana itu?" ledek Felix, "saat saling berpapasan, semut memang saling mencium, tapi mereka lakukan untuk memastikan jika yang mereka temui adalah koloninya," jelas Felix.


"Ya berarti Bryan koloninya," jawab Shea ketus.


"Kenapa bisa aku jadi koloninya?" tanya Bryan tidak terima.


"Iya, karena kamu juga pasti melakukan hal yang sama dengan wanita itu."


Shea bisa menebak, jika Bryan juga sering melakukan hal itu jika berpapasan dengan wanita-wanitanya.


Bryan tidak menampik apa yang di ucapkan Shea, kalau dirinya dulu suka sekali mencium pipi para wanita, entah itu temannya, saudara, atau bahkan teman kencannya.


Felix yang mendengar tidak bisa melakukan pembelaan apa-apa. Felix tahu pasti, jika yang di katakan Shea semuanya adalah benar.


"Tapi itu dulu," elak Bryan.


Shea tidak tahu kenapa seketika merasa kesal, saat membahas wanita-wanita yang bersama Bryan.


"Aku janji itu tidak akan terulang." Bryan menatap Shea, berharap Shea percaya padanya.


Shea menyadari jika itu adalah masa lalu Bryan, dan jika dirinya terus terfokus pada masa lalu, berarti dirinya tidak memberi kesampatan Bryan untuk berubah. "Iya," jawab Shea seraya mengangguk.


Mendengar jawaban Shea, Bryan merasa senang. "Terimakasih," ucap Bryan, langsung mendaratkan kecupan di pipi Shea.


Shea yang mendapatkan kecupan tiba-tiba hanya bisa membulatkan matanya. Sebenarnya Shea sudah tidak mempermasalahkan Bryan yang suka mengecupnya. Tapi kali ini Shea merasa malu saat di hadapannya ada Chika dan Felix. Rona merah di pipi Shea pun mulai terlihat sesaat setelah mendapatkan kecupan dari Bryan.


"Apa kalian tidak kasihan pada kami?" tanya Felix. Felix malas sekali melilhat kemesraan Bryan dan Shea.


Shea begitu malu mendengar pertanyaan Felix.


"Anggap saja kita sedang menoton film romantis," timpal Chika tersenyum.


Felix hanya memutar bola matanya malas, mendengar Bryan dan Chika saling mendukung. "Terserah kalian saja," ucap Felix.


Perdebatan mereka berakhir saat makanan pesanan mereka datang. Bryan, Shea, Felix, dan Chika pun memulai acara makan siang mereka.


Mereka menikmati makan siang dengan hikmat. Tak ada pembicaraan saat makan, karena mereka tidak mau membuang waktu. Jam makan siang yang tidak terlalu banyak, membuat mereka harus cepat untuk makan siang.


Setelah makan siang selesai, Bryan dan Felix mengantarkan Shea dan Chika kembali ke kantor.


"Se, sore nanti aku sudah buatkan jadwal untuk ke dokter," ucap Bryan saat perjalanan ke kantor.


Shea sedikit kaget saat Bryan sudah membuat janji dengan dokter kandungan. Memutar ingatannya, dirinya baru saja dua minggu yang lalu memeriksakan kandungan. "Bukankah kita baru saja periksa?" tanya Shea memastikan.


"Iya, tapi tidak ada salahnya bukan, kalau kita periksakan lagi?" Bryan merasa bingung memberikan alasan apa pada Shea, dan hanya alasan itu yang ada di kepalanya.


Shea menimbang ajakan Bryan. "Baiklah, kalau begitu," jawab Shea.


Bryan tersenyum puas saat Shea menima ajakannya. Bryan bersyukur, Shea menerima ajakannya.


Sesampainya di kantor Shea dan Chika pun langsung turun dari mobil, sedangkan Bryan dan Felix kembali melajukan mobilnya menuju ke kantornya.


"Sepertinya kamu sudah memulai hubungan baru dengan Bryan," ucap Chika, saat masuk ke dalam kantor.


Hubungan baru? Shea hanya bisa bertanya dalam hatinya.


"Aku tidak tahu, hubungan apa yang sedang kami jalani." Shea sendiri masih bingung mengartinya semuanya.


Chika mengerutkan dahinya, mendapati jawaban Shea. "Apa Bryan mengatakan cinta padamu?" tanya Chika memastikan.


"Iya," jawab Shea seraya mengangguk.


"Lalu kamu, apa kamu juga sudah mengatakan cinta juga?"


"Aku...." Shea sadar jika sampai saat ini dirinya belum mengatakan cinta pada Bryan.


"Aku, apa?" tanya Chika, "jangan bilang kamu belum mengatakan cinta?" lanjut Chika bertanya.


Shea menggelang.


"Apa kamu tidak mencintainya?" tanya Chika memastikan kembali.


"Aku tidak tahu," jawab Shea.


Chika hanya mendengus kesal saat mendengar ucapan Shea. "Bagaimana kamu bisa tidak tahu kamu mencintainya atau tidak?"


"Memang seperti apa jatuh cinta?"

__ADS_1


Chika yang mendengar ucapan Shea pun juga merasa bingung. Dirinya juga tidak tahu seperti apa jatuh cinta, karena dirinya tidak pernah berpacaran.


"Coba kamu tanyakan pada yang sudah pernah jatuh cinta saja, soalnya aku juga tidak tahu," ucap Chika.


Shea yang mendengar jawab Chika, memikirkan siapa yang akan dia tanyai. "Baiklah, aku akan tanyakan pada yang lain saja."


Shea dan Chika yang masuk ke dalam lift, berpisah saat Chika keluar lebih dulu.


Sesampainya di ruangannya, Shea bertemu dengan Jessi di meja kerjanya.


"Kamu sudah kembali, Se?" tanya Jessie.


"Iya, maaf ya tidak bisa makan denganmu." Biasanya Shea akan makan siang dengan Jessi saat Bryan tidak bisa makan siang dengannya.


"Iya, tenang saja."


Shea pun tersenyum mendapati jawaban Jessie. Saat melihat Jessie, Shea teringat dengan ucapan Chika, tentang siapa yang bisa dia tanyai tentang jatuh cinta.


"Jessi, apa kamu punya pacar?" tanya Shea.


"Punya," jawab Jessie tersenyum.


Shea bersyukur saat Jessie menjelaskan jika dirinya sudah punya pacar. "Apa yang kamu rasa saat jatuh cinta pertama kali dengan pacarmu?"


Jessie memutar kembali ingatannya, saat dirinya jatuh cinta dengan pacarnya. "Aku merasa sangat berdebar saat bertemu dengannya." Jessie menjelaskan pada Shea. Senyum mengembang di wajah Jessie saat menjelaskan pada Shea.


Melihat wajah Jessie yang tersenyum bahagia, Shea hanya bisa tersenyum juga.


Aku pun merasakan itu pada Bryan. Aku selalu saja berdebar saat bersama dengan Bryan. Apa lagi, saat jarak kami dekat.


Shea hanya bisa mengingat apa yang terjadi padanya, saat bersama dengan Bryan.


"Lalu, aku merasakan bahagia saat aku bersamanya." Jessie kembali menjelaskan pada Shea.


Aku juga merasa bahagia saat aku bersama Bryan.


"Emm ... aku juga merasakan nyaman dalam dekapannya."


"Dekapan?" tanya Shea, "atau sama dengan pelukan?" tanya Shea kembali memastikan pada Jessie.


"Iya," jawab Jessie dengan anggukan.


Mendengar kata 'pelukan', Shea mengingat pelukannya semalam dengan Bryan.


Aku juga merasakan rasa nyaman saat di peluk Bryan semalam.


Shea ingat betul jika dirinya justru mengeratkan pelukannya, saat merasakan kenyamanan dalam dekapan Bryan.


"Aku juga rindu saat dia jauh dariku."


Jauh? tanya Shea dalam hatinya. Sepertinya aku tidak merasakan itu, batin Shea yang tidak menemukan rasa itu dalam dirinya


"Lalu, apa lagi yang kamu rasakan saat jatuh cinta?"


"Emm...." Jessie tampak berpikir apa lagi yang dirasakan olehnya saat dirinya jatuh cinta.


"Kamu akan merasa, hanya namanya yang ada di hati dan pikiranmu." Suara bass milik Regan terdengar menjawab pertanyaan Shea pada Jessie.


Shea dan Jessie yang mendengar ada suara, langsung menoleh ke arah sumber suara. Shea dan Jessie hanya bisa menelan salivanya kasar saat melihat Regan berdiri di depan pintu ruangannya.


"Pak," sapa Shea dan Jessie bersamaan.


"Apa kamu tidak bisa merasakan perasaanmu sendiri, hingga bertanya perasaan orang lain?" tanya Regan datar.


Regan yang sedang ingin meminta berkas pada Shea dan Jessie, mendengar percakapan mereka. Regan mendengar jelas, saat Shea menanyakan bagaimana perasaan Jessie jatuh cinta.


Shea benar-benar malu saat ternyata Regan mendengarkan pembicaraan dirinya dan Jessie. "Apa Pak Regan butuh bantuan?" tanya Shea mengalihkan pembicaraan.


"Aku minta berkas Global Company."


Shea yang mendengar ucapan Regan pun mencarikan berkas yang di minta oleh Regan.


Saat mendapatkan berkas yang diminta oleh Regan, Shea berdiri dan menyerahkan berkas pada Regan. "Ini, Pak," ucap Shea.


"Terimkasih," ucap Regan. Regan pun berbalik dan masuk ke dalam ruangannya. Tapi sebelum dirinya masuk ke dalam ruangannya, Regan kembali memutar tubuhnya. "Pahami hatimu sendiri," ucap Regan pada Shea.


Shea hanya bisa memaksakan diri untuk mengangguk saat mendengar ucapan Regan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan vote


Up jam 12 WIB.


Kalau ada tambahan up aku akan infokan di

__ADS_1


IG Myafa16.


Terimakasih😉


__ADS_2