My Baby CEO

My Baby CEO
Sayang


__ADS_3

"Makan yang banyak, Se, jangan sampai Bryan mengira aku tidak memberi makan istri kesayangannya," goda Selly pada Shea.


Meja makan yang biasa hanya diisi oleh Selly dan Regan, kini bertambah ramai saat ada Shea yang makan bersama.


"Kalau aku makan banyak, aku rasa Bryan tidak akan mengenali aku saat pulang nanti." Shea membalas godaan Selly.


Selly pun tertawa saat mendengar jawaban dari Shea. Suara tawa di meja makan mengisi keheningan saat makan.


Meja makan yang tadinya sepi, sedikit riuh saat Shea dan Selly tertawa.


Regan yang diam, hanya menyaksikan istrinya dan Shea saling bercanda. Dia memang tidak bisa bercanda, kecuali dengan Selly, dan itu hanya dilakukan jika hanya berdua dengan Selly.


Setelah makan malam, Shea kembali ke kamarnya. Di kamar Shea menunggu telepon dari Bryan, karena sampai jam makan malam selesai, Bryan belum menghubunginya.


Harusnya Bryan sudah sampai.


Mata Shea melihat arah jam yang menujukan pukul delapan malam, dan Shea pikir jika Bryan harusnya sudah sampai.


Saat menunggu Bryan, Shea mendengar suara ketukan pintu. Melangkah menghampiri pintu, Shea membuka pintu. Di depan pintu, dia melihat Regan dengan tangan membawa nampan berisikan dua gelas susu.


Melihat dua gelas susu yang dibawa Regan, Shea bisa menebak jika salah satunya adalah untuk Selly, dan satunya untuk dirinya.


"Kamu belum minum susu," ucap Regan pada Shea seraya menyerahkan segelas susu ibu hamil pada Shea.


"Hah ... terimakasih, Kak," ucap Shea serya menerima susu dari Regan. Shea sebenarnya merasa sangat cangung saat Regan memberikan Shea susu.


"Cepatlah istirahat!" ucap Regan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Shea.


Shea mengangguk, dan menutup pintu kamar. Kembali ke tempat tidur, Shea melihat ke arah ponselnya.


Kenapa aku gelisah saat Bryan tidak menghubungi aku.


Rasanya Shea benar-benar tidak menentu saat memikirkan Bryan yang tidak kunjung menghubungi.


Merebahkan tubuhnya, Shea merasakan kehampaan. Ranjang kosong yang hanya di tempati dirinya begitu terasa sepi.


Rasanya aku sudah tergantung denganmu, Bry.


Shea hanya bisa menarik senyumnya, saat mengingat sekarang ada nama Bryan dalam hidupnya. Kehidupannya yang begitu sepi pun, kini lebih berwarna saat bersama Bryan. Walapun diawali dengan hal buruk, tapi kini semua sudah sangat jauh lebih baik.


Karena sudah menunggu lama telepon dari Bryan, akhirnya Shea mencoba memejamkan matanya. Dirinya tidak mau besok terlambat bangun, jika malam ini dirinya tidak tidur.


Tapi baru saja Shea memejamkan matanya, Shea mendengar teleponnya berdering.


Dengan cekatan Shea mengambil ponselnya. Senyum tertarik di bibir Shea saat nama Bryan tertera di layar poselnya.


Tangan Shea langsung mengusap layar ponselnya, dan wajah Bryan langsung terpampang di layar ponselnya.


"Hai, Se," ucap Bryan. Senyum di wajah Bryan begitu terlihat senang saat melihat wajah Shea.


"Hai, Bry." Shea juga begitu senang saat melihat wajah Bryan dari layar ponselnya. "Apa kamu baru sampai?"


"Iya, aku baru saja sampai di hotel." Saat Bryan sampai di hotel, dia sudah begitu merindukan Shea. Dengan cepat dia langsung mengubungi Shea, karena dia ingin melihat wajah yang sudah menjadi alasannya merindu.


"Apa kamu lelah?"


"Tidak, saat aku melihat wajahmu." Lelah Bryan memang langsung terobati saat wajah Shea terpampang di layar ponselmu.


Kalimat serderhana yang di ucapkan Bryan mampu membuat pipi Shea langsung merona.


Bryan sangat menyukai rona alami yang muncul di pipi Shea, karena Shea berubah menjadi seorang pemalu, saat seperti itu. Berbeda sekali dengan saat dia berdebat dengannya. Wajah garangnya menghiasi wajah cantiknya.


"Apa kamu tadi pulang dengan Kak Regan?"


"Iya," jawab Shea disertai anggukan.


"Apa kamu sudah makan?"


"Sudah."


"Sudah minum susu?"


"Sudah?"


"Sudah merindukan aku?"


"Su ...." Saat ingin menjawab, Shea baru menyadari apa yang ditanyakam Bryan.


"Kenapa berhenti?"


Shea tahu Bryan sedang menjebaknya dengan pertanyaannya. Shea bukan tidak merindukan Bryan, tetapi dirinya belum yakin jika yang dirasa adalah rindu. "Seperti apa hotel yang kamu tempati?" tanya Shea mengalihkan pembicaraan.


Bryan menyadari Shea sedang mengalihkan pembicaraan. Bryan tidak bisa memksakan perasaan rindu seperti yang dirasa olehnya. "Apa kamu mau melihat isi kamar?" tanya Bryan, dan di balas anggukan oleh Shea. "Baiklah, aku akan tujukkan."


Bryan mulai memutar kamera ponselnya, dan menujukan beberapa bagian di dalam kamar, dari mulai sofa yang baru saja dia duduki, beberapa dekor yang berada di kamar, kamar mandi, balkon.


"Apa sudah puas?" tanya Bryan.


"Belum," jawab Shea seraya mengelengkan kepalanya.


"Apa yang ingin kamu lihat?"


"Tempat tidur." Shea ingin tahu apakah tempat ada orang atau tidak.


"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan jika sudah tahu tempat tidur?" Bryan melangkah menuju tempat tidur, dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Tidak melakukan apa-apa."


"Tempat tidur ini hanya ada aku, Se, dan rasanya hampa sekali tanpa dirimu." Bryan menatap lekat pada Shea.


Aku pun merasakan hal yang sama, Bry. Disini aku merasa hampa tanpa dirimu.


Shea tidak berani mengatakan pada Bryan, dia hanya bisa mengatakan di dalam hatinya.


"Apa kamu sudah merindukan aku?" Bryan membahas rindu yang tadi sempat ingin di jawab Shea.

__ADS_1


"Emm ... entah," jawab Shea malu-malu.


"Kenapa entah?" Bryan mengerutkan dahinya.


"Ya, karena aku tidak tahu."


"Baiklah, kalau begitu aku matikan sambungan vidio call-nya."


"Kenapa dimatikan." Shea yang masih ingin melihat Bryan, langsung bertanya.


"Katanya kamu tidak merindukan aku."


"Aku ...."


"Aku apa?"


"Bry ...."


Bryan tahu, jika istrinya memang bukan tipe yang suka mengungkapkan perasaanya. Tapi dari cara Shea menolak saat dirinya mematikan sambungan vidio call, Bryan menebak kalau Shea sudah merindukannya.


"Kalau kamu tidak merindukan aku, biarkan aku saja yang merindukanmu, karena rinduku sudah cukup untuk kita berdua."


Shea tersenyum, mendengar gombalan Bryan. "Apa yang kamu rindukan dari aku?"


"Semuanya, saat berdebat denganmu, saat tidur denganmu, saat memelukmu, dan saat menciummu." Bayangan Bryan kembali mengingat ciuman terakhir mereka, dimana Shea mulai membalas ciumananya.


"Aku benar-benar merindukanmu, Se," imbuh Bryan. Suara lirih menandakan Bryan benar-benar tak berdaya merasakan rindunya.


"Cepatlah selesaikan perkerjaanmu, dan cepatlah pulang."


"Aku janji akan segera pulang." Tanpa Shea minta pun dirinya ingin segera pulang untuk melepas rindunya.


Shea tersenyum mendengar jika Bryan akan pulang. "Bersihkan dirimu, dan pergilah istrahat."


"Baiklah, aku akan istirahat, dan kamu pun juga."


"Iya."


"Arahkan ponselnya ke perutmu, aku mau mencium anakku."


Shea menuruti perintah Bryan. Mengarahkan ponselnya, Shea memberikan ruang untuk Bryan.


"Sudah?" tanya Shea saat mengalihkan layar ponselnya pada dirinya lagi.


"Sekarang giliran mommy-nya."


"Bagaimana caranya?" tanya Shea menahan malu.


"Tempelkan bibirmu di ponsel, aku akan menciumnya dari sini."


Dengan malu-malu Shea menempelkan bibirnya di layar ponselnya. Satu kecupan terdengar sesaat setelah Shea menempelkan bibirnya di layar ponsel, dan itu menandakan jika Bryan baru saja selesai mencium Shea.


"Selamat tidur, Sayang," ucap Bryan.


"Selamat tidur, Bry." Shea mematikan sambungan telepon dari Bryan.


"Sayang buka Bryan!" ucap Bryan tegas.


Shea yang ingin mematikan sambungan telepon langsung terhenti saat Bryan kembali berbicara.


Shea merasa sedikit bingung memanggil Bryan sayang, tapi seolah tidak bisa menolak permintaan Bryan, Shea mengikutinya. "Selamat tidur, Sayang," ucap Shea lirih.


Bryan tersenyum, dan mematikan sambungan telepon.


Achh....


Shea berteriak seraya menutupi wajahnya. Perasaanya begitu senang saat mendapat kecupan dan panggilan 'sayang' dari Bryan.


Sayang. Shea mengatakan dalam hatinya seperti yang Bryan ungkapkan. Menarik selimutnya, dan membenamkan tubuhnya ke dalam selimut, Shea menyembunyikan dirinya yang begitu malu bercampur senang.


Tak ingin tidur larut malam, akhirnya Shea memutuskan untuk tidur. Rasa bahagianya sudah cukup untuk menjadi bekalnya tidur.


***


Shea memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri mencari posisi nyaman saat tidur. Tapi cukup lama dia mencari posisi nyaman, dia tidak menemukannya.


Kenapa aku tidak bisa tidur.


Melihat jam dinding yang menujukan pukul dua pagi, Shea memikirkan kenapa dirinya tidak nyenyak untuk tidur.


Apa karena aku sendiri, jadinya aku tidak bisa tidur.


Shea memikirkan alasannya tidak bisa tidur. Mengambil ponselnya, Shea berpikir untuk membaca novel online atau membaca artikel saja.


Akan tetapi tangannya secara tidak sadar membuka kontak nomer, dan nama 'Bryan' yang ditujunya.


Apa aku merindukanmu?


Senyum tertarik di bibir Shea saat mengingat jika dirinya tidak bisa tidur karena tidak ada Bryan di sampingnya.


Dengan penuh keyakinan akhirnya Shea mengusap layar ponselnya. Cukup lama Shea menunggu, sampai saat wajah Bryan terpampang di layar ponselnya.


Mata Shea melihat wajah Bryan yang tampak segar, sehabis mandi. Dengan rambut basah, Bryan begitu tampak sexy.


Kenapa dia menjadi semakin tampan?


Shea seolah terhipnotis saat melihat wajah Bryan dari sambungan vidio.


"Kenapa, Sayang?"


Suara lembut dari Bryan sudah bagai sihir yang tidak bisa dielakan lagi oleh Shea.


"Aku tidak bisa tidur," ucap Shea lirih.


Bryan tersenyum saat mendengar keluhan Shea. "Kenapa tidak bisa tidur?"

__ADS_1


"Karena tidak ada kamu," jawab Shea ragu-ragu.


"Itu berarti kamu merindukan aku." Dengan percaya diri Bryan memberitahu Shea.


"Benarkah aku merindukamu?"


Shea masih meragukan perasaannya.


"Kalau kamu tidak merindukan aku, tidak mungkin kamu susah tidur saat aku tidak ada."


Shea membenarkan apa yang diucapkan oleh Bryan. Memutar ingatanya, Shea teringat dengan ucapan Jessie yang mengatakan jika dirinya jatuh cinta saat merindukan kekasihnya.


Kalau aku rindu, apa juga berarti aku sudah jatuh cinta?


Shea terdiam mengabungkan dua hal itu. Memikirkan apa yang dirasakan oleh hatinya. Meyakini jika perasaan cinta untuk Bryan itu sudah ada.


"Sayang ..." panggil Bryan lembut.


"Hah ... iya." Shea tersentak kaget saat suara Bryan memanggilnya.


"Kamu memikirkan apa?"


"Tidak," elak Shea.


"Baiklah, aku akan menemanimu tidur sambil mengobrol."


"Apa kamu tidak lelah?" Shea tahu, jika Bryan baru saja sampai dan dia butuh istirahat.


"Tidak, aku justru senang." Bryan yang melihat Shea yang sudah tergantung dengan dirinya merasa sangat senang.


Shea mengangguk dan memiringkan tubuhnya. Meletakkan ponselnya dihadapannya, Shea membuat Bryan seolah dihadapannya.


Cukup lama mereka saling pandang dan tidak membuka suara.


"Sampai kapan kamu diam?"


Shea hanya mendengus diiringi tawa saat Bryan memecah keheningan mereka.


"Lalu, aku harus apa?"


Bryan memikirkan apa yang harus dilakukan oleh Shea. "Aku mau lihat, tanda merah yang aku buat, apa masih ada?" Pertanyaan tiba-tiba datang dari Bryan.


Shea membulatkan matanya dengan ucapan Bryan. "Untuk apa?"


"Aku sudah bilang bukan, untuk mengecek apa masih ada atau tidak."


"Aku tidak mau," ucap Shea menutupi dadanya, seolah dia tidak mau Bryan melihatnya.


"Sedikit saja, aku mau lihat," bujuk Bryan.


"Tidak." Shea dengan tegas menolak menujukan pada Bryan.


Bryan tertawa terbahak saat Shea menolak. Sebenarnya, Bryan hanya ingin mengoda Shea saja. Akan tetapi reaksi takut yang ditunjukan Shea begitu membuatnya tertawa.


Shea mencebikkan bibirnya saat ternyata Bryan hanya mengodanya. Padahal dirinya sudah ketakutan Bryan akan memaksanya untuk melihat dadanya yang berhiaskan kissmark.


"Jangan mencebikkan bibirmu, karena rasanya aku ingin menciummu saat ini juga." Bryan benar-benar tidak tahan, melihat bibir ranum Shea.


Shea langsung menghentikan aksinya, karena dia tidak mau membuat Bryan tidak kuat menahannya.


"Aku ingin sekali langsung pulang hari ini juga, saat melihatmu."


Sejenak Shea teringat ucapan Regan yang mengatakan jika Bryan biasa meninggalkan perkerjaanya demi keinginanya. "Selesaikan perkerjaanmu, aku akan menunggu pulang." Shea mencoba membujuk Bryan.


"Iya, aku akan menyelesaikan perkerjaanku, aku tidak akan pulang sebelum selesai, karena ini cara untuk membuktikan pada papa kalau aku memang bertanggung jawab."


Shea merasa lega saat ternyata Bryan sudah mengesampingkan keinginanya.


Bryan menceritakan pada Shea, bagaimana perjalanannya tadi, dan menceritakan bagaimana rencananya besok.


Mendengarkan Bryan yang terus bercerita, akhirnya membuat Shea memejamkan matanya kembali. Shea merasa tenang saat suara Bryan terdengar olehnya. Seperti dongeng pengantar tidur, cerita Bryan mengantarkan Shea menuju alam mimpi.


Saat melihat Shea sudah tertidur, akhirnya Bryan mematikan sambungan telepon. "Selamat tidur sayang," ucap Bryan.


***


Saat merasakan perutnya bergejolak, Shea membuka matanya. Berlalu ke kamar mandi, Shea memuntahkan isi perutnya.


Hoek ... hoek ....


Menundukan wajahnya ke wastafel, She memuntahkan isi perutnya. Tubuh Shea seketika merasa lemas saat seluruh tenanganya dia pakai untuk muntah.


Bila biasanya ada Bryan yang membantunya. Kini Shea sendiri kembali ke tempat tidur.


Sudah lama sekali aku tidak muntah pagi-pagi.


Shea memutar kembali ingatannya, jika selama dirinya tidur dengan Bryan, dirinya tidak muntah sama sekali.


Apa aku akan mengalami muntah selama Bryan tidak ada?


Tidak bisa berbuat apa-apa, Shea hanya bisa pasrah saat mual dan muntah kembali saat Bryan pergi. Mengistirahatkan tubuhnya sebentar, Shea memulihkan tenaganya sebelum bersiap ke kantor.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan vote

__ADS_1


__ADS_2