My Baby CEO

My Baby CEO
Menarik


__ADS_3

Pagi ini Selly dan Shea pergi untuk mengikuti senam untuk ibu hamil. Sudah semenjak tinggal di rumah Selly, Shea selalu mengikuti Selly untuk pergi berolah raga.


Saat olah raga bersama, Shea lebih bersemangat, karena lebih seru saat dilakukan bersama. Di antar oleh Regan, mereka bersama-sama menuju tempat senam.


Kali ini senam dilakukan di luar ruangan, tepatnya di taman. Udara pagi di taman membuat para ibu hamil lebih rileks.


Saat sampai di tempat senam, sudah tampak ibu-ibu hamil di tempat senam. Para suami pun dengan senang mengantar istri mereka, dan menunggui para istri yang sedang bersenam.


Shea dan Selly pun tampak bersiap untuk memulai mengikuti senam, seperti para ibu-ibu hamil lainnya.


"Kak bisa minta lagi untuk pegangi ponsel aku," lirih Shea pada Regan.


Regan hanya menarik senyum tipis di wajahnya saat harus menuruti permintaan Shea.


Seperti dua kali senam kemarin. Regan kebagian memegangi ponsel Shea, karena Bryan pun ingin ikut melihat istrinya yang sedang senam melalui sambungan vidio.


"Kemarikan ponselmu."


"Sebentar aku akan menghubungi Bryan."


Tangan Shea langsung mengusap layar ponselnya. Cukup lama Shea menunggu tapi ponsel Bryan tidak di angkat. Shea sadar jika di tempat Bryan sedang malam, dan pasti Bryan sedang nyenyak-nyenyaknya tidur.


Akhirnya setelah cukup lama menunggu, Bryan mengangkat sambungan vidio dari Shea. "Halo, Sayang, apa kamu merindukan aku lagi?" Suara serak khas bangun tidur terdengar dari sambungan vidio.


Karena Shea melakukan sambungan vidio, jadi suara Bryan terdengar jelas. Semua orang di sekitar Shea langsung memandang Shea.


Shea merasa sangat tidak enak saat suara Shea memecah kehingan di sekitarnya.


"Apa Bryan tidak tahu hari ini kamu senam?" tanya Selly setengah berbisik.


"Mungkin dia lupa, Kak."


Selly hanya mengeleng mendengar penjelasan Shea. "Ya sudah, aku akan lebih dulu kesana." Selly menunjuk dengan sorot mata menujuk tempat senam.


"Iya."


Shea beralih kembali ke layar ponselnya. "Aku akan senam, kamu bilang mau melihat," ucap Shea pada Bryan.


Tidak ada tangapan dari Bryan sama sekali saat Shea bicara. Tampak dia masih tertidur pulas dan tak menunjukan tanda-tanda kehidupan.


Karena senam segera di mulai, akhirnya Shea tidak punya pilihan untuk segera mengikuti senam.


"Kak, tolong pegangi ponselku, biarkan saja Bryan tidur, yang penting aku sudah menghubunginya." Shea memberikan ponselnya pada Regan dan berlalu menuju ke tempat senam.


Rengan melihat ke arah layar ponsel dan melihat Bryan sedang tertidur.


"Apa itu istri, Bapak?" Seorang pria bertanya pada Regan.


Regan menoleh saat melihat tampilan orang di sebelahnya sedikit aneh. Melihat ke sekitar, Regan bisa membedakan mana suami yang menunggu istrinya atau bukan, dan tampaknya orang yang sedang bertanya pada dirinya bukanlah salah satu dari suami ibu-ibu yang sedang senam.


Pertanyaan yang di lontarkan juga sedikit aneh, karena baru saja Shea menghubungi Bryan, dan suara Bryan memecah keheningan di sekitarnya. Dari ucapan Bryan pun semua orang di sekitar Regan sudah tahu Shea bukan istrinya.


"Permisi," ucap Regan. Regan memilih berlalu meninggalkan orang itu dengan membawa tas milik Shea dan Selly yang berisi air minum mereka.


Tanpa disadari Regan, ada dua telinga yang mendengarkan pembicaraan Regan. Bryan yang sudah bangun, mendengar jika Regan tidak menyangah pertanyaan dari seseorang.


Akhirnya Regan pun memilih untuk pindah mencari tenpat duduk, dirinya malas sekali duduk dengan pria yang tadi bertanya padanya.


Saat duduk, Regan melihat ke arah layar ponsel Shea. "Sejak kapan kamu sudah bangun?" tanya Regan yang melihat Bryan di layar ponsel Shea.


"Baru saja."


Kenapa dia tidak menyanggah, jika Shea bukan istrinya.


Rasanya Bryan sangat geram, saat ternyata Regan diam seolah mengiyakan ucapan orang yang bertanya padanya.


"Baiklah, lihatlah Shea yang sedang senam." Regan mengarahkan layar ponsel milik Shea ke arah Shea yang sedang senam.


Walaupun merasakan kesal dirinya tidak mau kehilangan moment, saat melihat Shea senam. Dari layar ponsel dengan mata yang masih mengantuk, Bryan melihat Shea yang sedang senam.


Tampak Shea sedang mengikuti instruktur senam yang memberikan gerakan untuk para ibu hamil. Keringat kecucuran saat Shea melakukan senam. Belum lagi sinar matahari pagi, menambah kehangatan di dalam tubuh Shea, dan membuat tubuh Shea semakin berkeringat.


Selesai Senam dengan napas yang terengah-engah, Shea dan Selly menghampiri Regan, mereka mengambil botol minum yang dibawa Regan, untuk meredakan tengorokannya.


"Ini ponselmu," ucap Regan seraya menyerahkan ponselnya pada Shea.


"Apa Bryan sudah bangun?" Shea menerima ponselnya.


"Sudah."


Mendengar jika Bryan bangun, Shea langsung melihat ke arah poselnya. Senyum langsung mengembang di wajah Shea saat melihat wajah Bryan.


"Aku kesana sebentar ya, Kak," ucap Shea pada Selly dan Regan seraya menujuk satu kursi di bawah pohon.


"Iya." Selly pun menjawab.


Shea berlalu dan meninggalkan Selly dan Regan, untuk berbicara dengan Bryan.


Seraya berjalan, Shea menatap layar ponselnya. "Apa kamu tadi melihat aku senam?"


"Aku melihat, dan kamu semakin sexy," ucap Bryan seraya mengedipkan matanya pada Shea dan memberikan senyuman manis untuk Shea.


"Kamu...." Bryan selalu saja bisa membuatnya malu.


Saat Shea berjalan, sambil fokus di layar ponselnya, tiba-tiba tangan Shea ditarik oleh Regan. Seketika tubuh Shea pun masuk ke dalam pelukan Regan.


"Kakak," ucap Shea menengadah menatap Regan bingung. Shea merasa sangat kaget dengan apa yang di lakukan Regan.


Tangan Shea yang sedang membawa ponsel pun tanpa sadar mengarahkan layar ponselnya yang masih tersambung dengan Bryan.


Bryan melihat dengan jelas, jika Regan dan Shea saling bertatapan, dan tiba-tiba dadanya pun bergemuruh, melihat pemandangan di depannya. Belum lagi posisi Shea yang berada dipelukan Regan, membuat jarak antara Regan dan Shea begitu dekat.


"Ayo pulang," ucap Regan seraya melepas pelukannya, dan menarik lembut tangan Shea.


Shea masih bingung dengan apa yang terjadi. Dirinya seketika lupa jika sedang melakukan vidio call dengan Bryan.


Bryan yang melihat Shea yang mengabaikannya, langsung mematikan sambungan vidionya. Dia benar-benar kesal, Shea sibuk dengan Regan.


Regan langsung membukakan pintu Shea, dan meminta Shea untuk masuk ke dalam. Memastikan Shea aman, Regan pun masuk ke dalam mobil.


"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi?" Selly yang tadi tiba-tiba diminta untuk masuk ke dalam mobil oleh Regan pun merasa sangat bingung.

__ADS_1


Menatap Selly dan Regan bergantian, Shea juga semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ini yang terakhir kali kalian mengikuti senam di luar ruangan, selanjutnya aku tidak mengizinkan. Kalian bisa mengundang instruktur senam ke rumah saja."


Mendengar ucapan Regan, Shea dan Selly semakin bingung. "Sebenarnya ada apa?" Selly semakin geram.


"Tadi ada orang yang ingin memegang tubuh Shea." Regan mulai menjelaskan.


"Maksudnya?" tanya Shea dan Selly.


"Semacam penjahat yang suka memegangi beberapa area tubuh wanita."


"Memang ada penjahat seperti itu?" Selly tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Regan.


"Tadi saat kalian mulai senam, ada seorang pria aneh yang mengajakku bicara. Tapi dari tampilannya, dia bukan seperti suami yang mengantar istrinya untuk senam."


"Lalu?" tanya Selly penasaran.


"Sewaktu Shea pergi, aku melihatnya dari kejauhan mengendari motornya."


"Apa karena itu kamu tadi menyuruhku masuk ke dalam mobil?" Selly yang sempat bingung kenapa Regan tiba-tiba menyuruhnya masuk ke dalam mobil sebenarnya bingung, tapi karena dia melihat wajah Regan yang begitu khawatir, akhirnya dia mengikuti saja.


"Iya, dan saat aku menyusul Shea, orang itu sudah sangat dekat dengan Shea. Tangannya pun sudah mengarah ke Shea dan siap memegang Shea dari depan."


Selly dan Shea membulatkan matanya saat melihat kejadian aneh yang baru saja akan menimpa Shea.


Jadi itu alasan Kak Regan menarikku dalam pelukkannya.


"Apa sempat tersentuh?" Selly langsung melihat ke arah Shea, dan Shea pun mengeleng.


"Aku menarik Shea, jadi dia belum sempat melakukan aksinya."


"Syukurlah." Selly mendengar pun merasa lega.


"Terimakasih, Kak." Shea merasa beruntung saat Regan datang tepat waktu.


"Kenapa ada orang seperti itu?" Selly merasa geram.


"Sepertinya dia mengincar wanita hamil." Regan menambahi penjelasannya.


"Apa karena dada wanita hamil membesar dan lebih kenyal?" Pertanyaan konyol lolos dari bibir Selly.


Mendengar ucapan Selly, Shea merasa sangat malu. Sedangkan Regan hanya mengeleng mendengar kalimat dari Selly yang terkadang lolos tanpa rem.


"Sudah yang penting lain kali kalian harus lebih hati-hati," ucap Regan.


Shea dan Selly pun mengangguk. Mereka berdua menjadi sangat takut dengan keadaan di luar sana. Terutama Shea, karena kejadian itu baru saja hampir menimpanya.


Melajukan mobilnya, Regan mengajak dua wanita hamil itu untuk pulang.


***


Sesampainya di rumah, Shea langsung membersihkan diri. Tubuhnya yang penuh dengan keringat begitu sangat lengket.


Selesai mandi, Shea teringat dengan Bryan yang dia abaikan begitu saja tadi. Di mobil tadi dirinya sibuk dengan Selly yang tak henti bercerita, jadi akhirnya Shea memasukan ponselnya ke dalam tas.


Mengambil tasnya, Shea mencari ponselnya. Mengusap layar ponselnya, dia mencari nama Bryan di panggilan terakhir.


Cukup lama Shea menunggu Bryan menganggkat sambungan teleponnya, tapi tidak ada suara sambungan telepon sama sekali.


Shea hanya bisa menebak apa yang membuat Bryan tidak mengangkat sambungan telepon.


Sekitar sepuluh kali panggilan, tapi tetap saja tidak diangkat oleh Bryan. Hingga akhirnya Shea pasrah dan menunggu Bryan menghubunginya.


Karena hari ini adalah hari libur, Shea keluar dari kamar. Menuruni anak tangga, Shea melihat Regan dan Selly sedang berbincang disana.


"Se, kemarilah." Selly mengajak Shea untuk duduk bersama.


Shea pun melangkah menghampiri Selly dan duduk di sampingnya.


"Bukannya tadi kamu sedang menghubungi Bryan? Kapan dia pulang?" Selly yang mengingat sebelum kejadian, Shea sedang berbicara dengan Bryan di sambungan telepon.


"Tadi kami belum sempat bercerita banyak, tapi kemarin dia bilang, dia akan pulang minggu depan."


"Syukurlah kalau dia akan segera pulang." Selly merasa lega.


"Apa perkerjaan Bryan sudah selesai?" Regan pun menimpali ucapan Selly.


"Dia bilang sudah, tapi dia masih mengawasi proyek pembangunan dulu."


Regan mengangguk mengerti penjelasan Shea. Akan tetapi Regan masih penasaran masalah apa yang terjadi hingga membuat pembangunan proyek propertinya berhenti.


"Besok aku akan cek kandungan, apa kamu mau mengecek bersama denganku, Se?"


Mendengar ucapan Selly, Shea teringat dengan Bryan yang akan menemaninya. "Tidak, Kak, aku akan menunggu Bryan saja."


"Baiklah, kamu tidak apa-apa besok aku tinggal dulu di rumah sendiri?"


"Iya, Kak."


***


Setelah makan malam, Shea menghubungi Bryan kembali, tapi ternyata tidak di angkat oleh Bryan.


Kenapa tidak di angkat juga?


Shea terus memikirkan kenapa Bryan tidak mengangkat sambungan telepon darinya. Ada rasa khwatir saat Bryan tidak kunjung mengangkat teleponnya.


Saat Shea sudah pasrah, Shea mengakhiri usahanya untuk menghubungi Bryan. Akan tetapi saat dia ingin mematikan sambungan vidionya, Bryan mengangkatnya.


"Kenapa?" tanya Bryan ketus.


Mendengar suara Bryan yang ketus, Shea sadar apa yang membuat Bryan seperti itu.


"Apa kamu marah aku mengabaikanmu?"


"Apa enak dipeluk pria lain?" Bryan yang sudah tidak kuat pun akhirnya meluapkan kekesalannya.


Peluk? Shea sedikit berpikir, tentang pelukan yang dibahas oleh Bryan.


" Apa maksudmu pelukan Kak Regan?" tanya Shea memastikan.

__ADS_1


Bryan hanya memutar bola matanya malas saat Shea memperjelas pertanyaannya.


"Kamu salah paham."


"Salah paham? Aku melihat dengan jelas kamu berada dipelukanya!" Suara Bryan meninggi saat mengingat apa yang dilihatnya tadi dari sambungan vidio.


"Kenapa kamu bicara keras padaku!" Mata Shea menajam, saat mendengar Bryan meninggikan suaranya. Shea tidak suka saat mendengar suara yang meninggi.


"Apa kamu tidak bisa bayangkan jadi aku? Suami mana yang rela istrinya dipeluk orang lain."


"Kak Regan hanya menolongku."


"Semua pria selalu mengunakan alasan untuk membantu atau menolong untuk mendapatkan kesempatan," ucap Bryan, "jadi jangan kamu mudah tertipu."


"Apa itu hasil pengalamanmu," sindir Shea.


Bryan menelan salivanya saat kalimatnya berbalik padanya. Memang itulah yang sering dia lakukan, menolong Shea untuk mengambil kesempatan dari Shea. "Aku mengatakan semua pria, ya ... semua."


"Tapi Kak Regan tidak."


"Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh Kak Regan?" Rasanya Bryan malas mendenga pembelaan Shea.


"Tadi ada pria jahat yang ingin memegang ...." Shea yang ingin menjelaskan pada Bryan berhenti, tidak melanjutkannya.


Pria jahat? Memegang? Pikiran Bryan dihiasi pertanyaan itu.


"Memang apa yang dia pegang?"


"Dada," lirih Shea.


"Apa!" pekik Bryan. "Apa pria itu memegang dadamu?" Hati Bryan kesal saat mendengar tubuh Shea disentuh oleh orang lain.


"Justru itu, tadi Kak Regan-lah yang membantuku. Dia menarikku hingga aku terhindar."


"Jadi kamu masuk kepelukannya karena penjahat itu hendak memegangmu?"


"Iya."


"Kurang ajar, berani-beraninya dia ingin menyentuhmu!" Rasanya Bryan tidak terima jika ada yang menyentuh Shea.


Shea hanya mendengar kekesalan Bryan. Matanya pun melihat ke arah Bryan yang begitu terlihat menahan emosinya.


"Aku benar-benar tidak rela jika dia menyentuhmu!"


"Sudahlah, semua sudah berlalu, yang terpenting aku sudah selamat."


"Tetap saja tidak bisa, aku masih tidak terima. Aku saja baru memegang sekali, orang itu sudah berani-beraninya ingin memegang juga."


Sempat-sempatnya dia mengatakan berapa kali memegang.


Shea terperangah mendengar ucapan sisipan dalam kekesalan yang di ucapkan oleh Bryan. "Bukan sekali, tapi dua kali." Shea pun menimpali, dan memutar bola mata malas.


"Oh... iya dua kali ya." Bryan sedikit tersenyum, saat salah mengingat.


"Aku akan mencari tahu dan mengurusnya. Orang semacam itu sangat berbahaya." Bryan berencana menghubungi temannya, untuk mencari tahu dan menangkap orang yang berniat memegang Shea.


"Apa perlu sampai seperti itu?" tanya Shea ragu-ragu.


"Mungkin kali ini kamu lolos, tapi bayangkan apa yang terjadi pada orang lain jika orang itu melakukan aksinya."


Kali ini Shea tidak menyanggah ucapan Bryan, karena apa yang dikatakan Bryan ada benarnya.


"Tapi aku masih heran kenapa dia mengincar ibu hamil, padahal gadis-gadis muda banyak."


"Apa kamu tidak lihat, jika dada wanita hamil lebih besar, jadi itu lebih mengiurkan."


Tadi pagi Shea sudah mendengar jika Selly mengatakan hal yang sama dengan Bryan.


Apa isi kepala adik dan kakak sama? Shea hanya bisa menebak dalam hatinya.


"Dulu punyamu sebesar ini," ucap Bryan dengan memperlihatkan telapak tangannya dengan posisi mencengkram. "Tapi sekarang punyamu sebesar ini." Bryan melongkarkan cengkramannya dan melebarkan jari jemarinya.


Bryan memperaktekkan sebesar apa dia memegangnya, dan sebesar apa ukuran milik Shea.


Shea mendengus kesal mendengar ucapan Bryan. "Dan saat semakin besar, kamu tidak akan bisa memegangnya," ucap Shea kesal.


"Kata siapa tidak bisa, aku akan mengunakan kedua tanganku jika tidak bisa." Tawa Bryan seketika terdengar dari sambungan telepon.


Melihat tawa Bryan, Shea melihat emosi Bryan suadah mereda. "Kamu sudah tidak marah?"


Bryan menghentikan tawanya. "Aku tidak marah, setelah mendengar semuanya."


Shea lega sekali Bryan mau mendengarkan penjelasnnya tentang pelukan dengan Regan.


"Akan tetapi, aku takut dirimu akan terpesona pada pria lain."


"Maksudmu Kak Regan?"


"Kali ini memang Kak Regan, tapi di luar sana banyak pria baik, yang bisa saja membuatmu jatuh cinta." Bryan sedikit menundukan padangannya.


Dari kata-kata Bryan, Shea tahu sepesimis apa Bryan. "Kalau semua orang baik hanya bertemu orang baik, aku rasa para penjahat dan pendosa akan semakin banyak."


Mata Bryan yang melihat ke arah bawah langsung beralih pada Shea.


"Pada dasarnya semua orang baik, hanya saja mereka lupa jalan kebaikan. Hingga akhirnya mereka bertemu orang-orang baik yang membawanya kembali pada jalannya."


"Apa seperti aku bertemu denganmu?"


"Aku tidak menganggap diriku baik, tapi jika di matamu aku membawamu dalam kebaikan, maka ikutlah denganku."


Ucapan Shea selalu bisa membuat Bryan tenang. Dia merasa dalam diri Shea yang keras, ada kelembutan di dalamnya.


"Aku senang kamu ada di hidupku."


Aku kadang justru takut, saat kamu melihatku terlalu berlebihan. Karena saat aku mengecewakanmu, dirimu pasti akan berlebihan membenciku


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote.


vote terakhir minggu ini ya.


__ADS_2